SATU KISAH SERIBU PETUALANGAN (eps-1)

tn

Pagi itu seperti pagi-pagi yang lain tepat pukul 06.15 ia sudah berdiri di depan rumah. Hanya berdiri dan hanya berdiri dengan memakai seragam kebanggaan kami putih biru tanpa sepatah kata pun memanggil nama saya. Tapi, seperti pagi-pagi yang lainnya pula saya pun sudah mahfum bahwa saya harus segera bergegas menyelesaikan sarapan dan segera berlari mengambil tas dan memakai sepatu kets. Petualangan pagi itu pun dimulailah….

Bersama sang sahabat ini setiap pagi kami menyusuri jalanan yang untunglah meski saat itu baru menginjak pertengahan tahun 1980an sudah diaspal. Sebagaimana daerah tepi gunung, kami pun harus melewati jalanan yang mendaki hingga terkadang cukup membuat kami terengah-engah. Tak mengapa, udara pagi yang dingin membuat badan kami yang kurus ini tetap tangguh tak menghiraukan lelah untuk mencapai sekolah kami yang saat itu cukup bisa dikatakan jauh dari kota. Sesekali, ditengah perjalanan beberapa kawan yang kebetulan bersepeda balap menyapa sambil menuntun sepeda karena tak sanggup mengayuh di jalan yang mendaki. Begitulah, hari-hari kami lalui.

Tapi, bukan lah si bolang kalau lebih suka melewati jalan-jalan mulus yang beraspal. Demi menghemat waktu, kami mencoba menyusuri jalan setapak yang suatu ketika kami pernah mengamati beberapa orang melewatinya. Sepi, bagaikan membelah belukar kami melewati kebun-kebun singkong. Terkadang, kami pun terpaksa merelakan sepatu belepotan tanah liat karena harus mendaki jalan tanah yang jika hujan tiba tinggi badan kami seperti naik beberapa sentimeter karena tebalnya tanah yang menempel di sepatu. Di satu sisi kami cukup senang dengan ‘keberhasilan’ melakukan potong kompas, di sisi lain rasa bersalah atau lebih tepatnya khawatir karena pastilah lantai ruang kelas kami akan penuh dengan tanah liat akibat sepatu ajaib kami.

Siangnya begitu bel tanda pulang berdentang kami pun bergegas mengambil langkah kilat agar segera sampai di rumah. Begitulah hakikat sang petualang, kami selalu mengambil jalan lain meski sedikit memutar. Setidaknya, kami bisa menemukan teman-teman seperjalanan yang berbeda yang membuat kami bisa merasakan nuansa yang beragam. Lagi-lagi, kami pun enggan memilih jalan aspal. Melintasi alang-alang setinggi badan kami rupanya jauh lebih menarik. Sembari berlarian seolah sedang melakukan perlombaan dengan kawan-kawan yang menyusuri jalan biasa kami begitu bersemangat. Satu hal yang selalu kami ingat bahwa dalam perjalanan pulang kami harus melewati sebatang pohon alpukat yang dahannya seolah mengayomi selebar jalan yang kami lintasi dipenuhi ulat-ulat. Hiiiii…

Saat hujan tiba adalah saat yang kami nantikan meski kami mau tidak mau harus melewati jalan aspal. Dengan riang tanpa pelindung hujan dan dengan tubuh yang basah kuyup kami menikmati deras hujan sambil bercanda ria. Namun, canda ria itu terpaksa berhenti menjadi kebencian pada hujan yang telah mengeluarkan entah berapa puluh cacing-cacing tanah berdansa di tengah jalan. Sambil bergidik terpaksa kami harus mempercepat langkah kami.

-0-

Kalaulah ada satu hal yang menjadi memori bersama yang salau kami kenang maka itu adalah kepala sekolah kami tercinta. Tegas dan berwibawa hingga ia sering membuat kemi ketakutan. Hampir semua siswa pernah mempunyai kenangan ‘indah’ bersama beliau. Bagaimana tidak, boleh di bilang beliau melakukan pengawasan melekat bagi seluruh siswa. Sering sekali ia melakukan sidak dengan berjalan dari satu kelas ke kelas lain hingga ia pun kerap kali menangkap kenakalan-kenakalan kami. Sebagaimana layaknya seorang murid, jam kosong adalah saat yang paling ditunggu. Ah…mungkin usia-usia ABG belum bisa membuat kami sadar akan pentingnya sebuah pembelajaran. Di saat itulah keributan di kelas dipastikan terjadi, dari sekedar ngobrol, lempar-lemparan kertas hingga terkadang berbicara cukup keras. Dalam kondisi seperti itu, kalau anda diam sejenak dan mendengarkan celoteh kami pastikan anda akan mendapati suasana pasar yang sangat gaduh. Di saat seperti itu tiba-tiba kami terdiam satu per satu tanpa sepatah kata pun. Bisa dipastikan bahwa saat itu sang kepala sekolah telah berdiri diluar kelas tepatnya dibagian pojok belakang kelas. Kami pun hanya bisa melihat kepala beliau yang selalu ditemani peci hitam. Diam.. dan hanya diam tanpa sepatah kata sambil menatap tajam kami semua.

Terkadang beliau tak hanya diam menatap tajam kami. Justru ketika beliau mendapati kami cukup tenang ketika tidak ada guru di depan kelas belau masuk kelas kami. Cukup ramah sebenarnya. Tapi, tetap saja image kami tentang beliau sungguh menakutkan. Sehingga, setiap kali beliau mendatangi kami sudah bersiap untuk dimarahi. Suatu ketika, saat kelas kami kosong, beliau masuk dan memeriksa isi laci meja kami. Beberapa teman kedapatan laci mejanya pernuh kertas-kertas lusuh yang terlipat-lipat hingga berbentuk seperti bola. Barang kali, kawan kami sedang mengumpulkan senjata saat kami bermain lempar-lemparan. Apes juga buat saya. Dengan penuh keraguan dan mencoba berkelit saya keluarkan berlembar-lembar bungkus permen Pindy Twis yang saat itu cukup populer. Dengan suara menggelegar saya pun kena marah dan ditanyakan buat apa bungkus permen tersebut. Dengan penuh ketakutan saya pun menjawab: bungkus itu untuk ikut sayembara pak. Syukurlah, beliau tidak banyak berkomentar.

Suatu ketika di pertengahan tahun 1987 saat kami telah menginjak kelas 2 sekolah kami mulai berbenah. Di pinggir-pinggir tanah lapang yang memisahkan antara kelas satu dan kelas dua disulap menjadi pemandangan yang indah yang dipinggir-pinggirnya dibangun taman dengan dipenuhi dengan ornamen bebatuan yang membuat nyaman sekolah kami. Di antara kelas satu dan kelas dua dibuatlah jalanan plaster yang membelah tanah lapang tersebut. Sejak saat itu pula dibuatlah aturan baru: seluruh siswa diwajibkan memakai jalan tersebut jika melintasi tanah lapang yang telah ditumbuhi oleh rerumputan yang menghijau. Intinya, kami dilarang menginjak rumput. Bukannya kami senang bermain dengan anak kelas satu, hanya saja letak kantin mengharuskan kami untuk melintasi tanah lapang tersebut. Untuk menghemat waktu terkadang beberapa diantara kami menerabas rerumputan. Sudah bisa diduga mereka pun tertangkap basah oleh sang kepala sekolah dan mendapat tambahan kuliah dari beliau. Kami pun di haruskan membuka alas kaki serta sepatu kami dilempar.

Satu hal yang selalu kami ingat, khususnya saya sendiri, adalah saat dimana kami dikumpulkan bersama sekitar 40 kawan lainnya di ruang kepala sekolah. Beberapa menit sebelumnya kami begitu asyik bermain jepret-jepretan dengan menggunakan karet gelang dengan peluru kertas ukuran sekitar 4 X 4 yang kami lipat sehingga berbentu pipih dan cukup kuat untuk memburu lawan. Tidak terlalu sakit sebenarnya jika peluru tersebut mengenai kulit. Sayang seribu sayang, entah karena apa salah seorang dari kami terkena matanya hingga sedikit menimbulkan kegaduhan. Begitulah hingga akhirnya kami dikumpulkan, termasuk anak sang kepala sekolah. Satu hal yang selalu saya ingat dia pun mempertanyakan kenapa saya dan 5 siswi lainnya ‘terlibat’ dalam kejadian ini. Tentu, ini menjadi suatu ‘keanehan’ dan ‘kenakalan’ bagi siswi yang seharusnya berperilaku penuh kelembutan.

Kali lain kami dipanggil karena dianggap ‘melintasi’ batas sekolah. Hmmmm…bagi kami dan bagi pihak lain sebenarnya tak ada yang dirugikan, bahkan saling menguntungkan. Kebetulan lapangan sekolah kami berbatasan dengan rumah penduduk. Pembatasnya hanyalah tembok. Suatu ketika, salah seorang penduduk membuka warung yang memungkinkan kami untuk berbelanja atau sekedar makan siang karena kami harus mengikuti les hingga jam 3 (?). Wow..saya sendiri masih bisa menikmati lezatnya bihun dan mendoan ‘bulik’ yang selalu menyajikan masakan hangat dan mengundang selera. Sayang seribu sayang, apa yang kami lakukan rupanya menyalahi prosedur. Pintu masuk atau pembatas yang memungkinkan kami untuk keluar masuk warung tersebut ternyata sebuah jendela. Rupanya hal ini lah yang membuat kami dianggap tidak sopan. Alhasil, jendela tersebut akhirnya di tutup dan kami pun harus menahan diri untuk menikmati lezatnya masakan bulik.

Ketegasan beliau juga masih kami ingat ketika beliau memaksa kakak kelas untuk duduk bersama kami mengikuti pelajaran. Aturan ini berlaku buat siapa saja yang dianggap nakal dan prestasi akademiknya dirasa kurang. Mereka akan dipaksa untuk mengikuti pelajaran di kelas satu level dibawahnya. Bagi kami tidak ada masalah. Tapi saya yakin, buat kakak yang diperlakukan demikian mungkin hal itu menjadi suatu hal yang akan terus diingat sepanjang hayatnya.

Tak hanya itu, ketika kami menginjak kelas tiga kami harus selalu waspada jikalau kepala sekolah kami tiba-tiba datang kerumah dan mendapati kami tidak sedang belajar. Sesungguhnya tidak hanya kepada kami, tapi terlebih khusus kepada siswa kelas tiga beliau sering melakukan sidak di malam hari. Tentu, kami menganggap sidak tersebut sebagai beban karena pasti lah kami lebih senang bermain bebas tanpa diawasi. Kalau saat ini difikir kembali, adakah kepala sekolah masa kini yang bersedia meluangkan malam harinya sekedar memastikan bahwa siswanya belajar?

Masih begitu jelas pula kepedulian beliau, atau lebih tepatnya kekhawatiran, ah…atau mungkin lebih tepatnya perhatian beliau pada masa depan kami. Menjelang EBTANAS beliau mengingatkan kami untuk membawa bulu ayam. Mau tau kenapa? Jelas beliau tidak ingin pekerjaan kami sia-sia hanya karena kesalahan lembar jawab yang tidak terbaca komputer akibat kecerobohan kami. Satu lagi, beliau juga berpesan untuk orang tua kami agar mereka berpuasa selama kami menjalani EBTANAS. Sungguh, beliau bisa menjadikan pendidikan sebagai tanggungjawab bersama antara guru dan orang tua.

Aha..masih teringat dalam benak kami bahwa beliau tidak hanya menerapkan punishment, tapi juga reward. Sederhana sekali sebenarnya, tapi dari hadiah yang sederhana itu mampu menyemangati kami untuk meraih yang terbaik. Setiap senin pagi saat istirahat upacara bendera beliau akan mengumumkan siswa yang mendapatkan nilai 10 selama satu minggu yang lalu. Siswa yang dipanggil akan maju ke depan dan mendapat hadiah sebuah buku. Kalau siswa tersebut berhasil mendapatkan nilai sepuluh pada dua ulangan maka ia berhak mendapatkan dua buku. Hebat bukan….

16 thoughts on “SATU KISAH SERIBU PETUALANGAN (eps-1)

  1. kenangan indah ya nur..kebun2 skrg dah jd rmh dan skrg rasanya kt ga kuat bila jalan kaki sampai sekolah kt. iyoe galak banget sampai lulus sma msh terasa pernah digalaki, pernah ngadul adul tasku nemu jongkat hehe…wah aku dibikin malu habis. kmu dulu duduk sama win trus aku diblakangmu persis duduk sama edi rinantyo, ingat?? tp pak war tu berhasil bikin smp kt berjaya nyatanya stlh beliau ga disana smp kt prestasinya makin nurun..

    1. buatku masa SMP itu masa terindah don…masa gila2 an juga sebelum akhirnya insyaf he..he… aku kok lali yo iku pas kejadian oprasi laci iku gak? wis tenanan lucu pol. trus pas iku yen jik kelingan kelas piro lan sopo wae sing ketangkap? aku moco komenmu karo ngekek dewe don hihihihi…btw ini baru episode satu lho mengko kisah ku lan win, ester retno sing ngusilin awakmu tak tulis gak popo ki don?

      1. aku kelingan kejadian sisir kuwi.. hahaa.. nek ra salah warnane abang ya.. (ben dramatis sisan ya ceritane..:)
        Nek aku kelingan banget dibonceng pak war naik sepeda.. hayooo.. kayake cuma aku yg punya pengalaman ini.. (saiki bangga, biyen isin banget..)

  2. iyo ga papa tulis wae, kan asyik inget2 kenangan masa smp. ingat ester ingat kejadian saat mau pelajaran olahraga dia tanding engkol sama markini cuma yg menang sapa aku lupa…hihihi..

    1. aha..ternyata memang kita dari dulu teman sejati. dulu smp hoby buat masalah dan music, sama2 ngefans iwan fals. setelah lama gak ketemu baru tau ternyata kita sama2 mencintai dunia menulis. ok siip…

      1. hahaaa… iyo, dewe ki jane kakak beradik opo sodara kembar tho…? passion kita banyak yg sama ya. eling ra, pas aku pengen latihan gitar tapi dirimu sing lekas2 tuku gitar..? batinku, asem iq, inung malah beli gitar duluan.. btw salamku kanggo komang wis disampeke durung..?

      2. tapi sampe akhire gitar iku rusak gak iso2 maen gitar juga akhire dihibahke sepupuku. awale tka goleki jenenge neng daftar gak nemu tapi ketoke komang ki sing neng IDP yo?

  3. Komang biasane nyekel CLIL.. nung kaos IALF berkerah sing warna merah isih ra yo..? nitip dong.. pas neng jakarta gak kubeli dan aku menyesal..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s