ICI dan Saya

Perkenalan saya dengan ICI (internet Cerdas Indonesia) berawal ketika seorang kawan mengunggah kumpulan cerpen yang diterbitkan oleh leutikaprio melalui salah satu situs jejaring sosial. Bagi saya status itu adalah awal dari segala awal saya berinteraksi secara dalam dengan internet. Langsung, saya buka situs tersebut karena saya sendiri menargetkan maksimal lima tahun ke depan berharap bisa menerbitkan juga sebuah buku. Aha…ternyata untuk bisa menerbitkan sebuah buku sangat mudah dan murah sekali. Leutikaprio seolah membuat mimpi saya begitu dekat. Tapi, ada satu hal lagi yang justru akan mengantarkan saya pada ‘dunia lain’. Di saat yang sama saya melihat pengumuman tentang kompetisi penulisan artikel Internet Cerdas Indonesia. Alhamdulillah tulisan yang saya masukkan mendapat penghargaan dari ICI. Namun, lebih dari itu, banyak hal yang saya peroleh dengan mengikuti kompetisi ini.

Tulisan Internet Cerdas: Bisakah membentuk PNS Profesional adalah salah satu wujud dari ketertarikan saya untuk mencoba mencari solusi memperbaiki kinerja PNS dengan pemanfaatan internet secara cerdas. Jadi lah tulisan tersebut dan saya kirimkan ke ICI. Inti tulisan saya sebenarnya adalah bagaimana mewujudkan perubahan atau peningkatan kinerja PNS melalui jalur lain. Memang benar bahwa kondisi PNS kita yang rendah kinerjanya tak bisa dilepaskan dari sistem kepegawaian yang telah dikooptasi oleh sistem perpolitikan. Rekrutmen tidak fair, pola pengembangan karir yang tidak memperhatikan kompetensi, penggajian yang tidak didasarkan kinerja individu dan lain sebagainya adalah penyebab buruknya kinerja PNS. Kondisi tersebut menjadikan PNS apatis hingga akhirnya bekerja seadanya. Saya sendiri mengakui sebenar-benarnya kondisi tersebut. Namun, bukan berarti kondisi tersebut menjadi apologi untuk tidak memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Sebagai PNS saya sendiri bisa merasakan meskipun dalam hal jabatan saya tidak pernah peduli, makanya meski telah belasan tahun berprofesi sebagai PNS pangkat saya baru IIIc bulan April lalu. Terkadang rasa tidak adil sering muncul. Misalnya dalam beberapa penugasan saya mempunyai tanggung jawab lebih besar, berfikir labih banyak, dan bekerja lebih intens tapi penghasilan sama dengan yang kontribusinya relatif lebih sedikit. Sepertinya memang tidak adil karena memang tidak adil jika dilihat dari sisi penghasilan. Kalau hanya mengandalkan dan berfokus pada reward material dari setiap tugas tentulah akan berujung pada apatisme. Tapi ada hal-hal lain yang seharusnya bisa membuat kita tetap bersemangat.

Ketika kita bisa memberikan kontribusi terbaik buat pekerjaan maka pada saat itu pula lah kita tengah mengembangkan fitrah kemanusiaan kita. Makanya, setiap diberikan penugasan sebagai PNS harus selalu mencari value added atau nilai tambah dari setiap pekerjaan. Hal ini pula yang sering saya sampaikan kepada siapa saja bahwa PNS harus bisa melihat pekerjaannya dari sisi yang lebih luas alias makro. Suatu ketika saya pernah membaca tentang seorang staf arsip nasional di sebuah harian yang menyatakan bahwa saat ini arsiparis hanya bekerja sebatas tanggungjawab mengadministrasikan arsip. Padahal, jika arsiparis itu mau ia bisa menggali nilai-nilai sejarah bangsa kita dan banyak hal lagi dengan menggali dan menelaah arsip nasional. Aha…super sekali bukan? Ya..arsiparis seharusnya tak hanya bisa ‘mengarsipkan’ tapi bisa menjadi ahli sejarah, ahli ekonomi, ahli politik, ahli sosial dari arsip-arsip yang dikelolanya. Hal ini juga terjadi pada profesi lain. Ketika seorang PNS bekerja di salah satu Dinas Pendidikan, sekalipun ia hanya seorang staf, seharusnya ia bisa berfikir dan menjadi ahli pendidikan. Atau PNS yang bekerja di Bappeda, selayaknyalah ia bisa menjadi ahli perencanaan pembangunan daerah yang memandang pembangunan dari berbagai sudut pandang. Yang terjadi saat ini adalah PNS hanya menjalankan tugas sebatas melaksanakan instruksi atasan. Lalu, siapa yang ahli dalam hal pendidikan? Dalam hal perencanaan pembangunan? Para ahli itu justru di lahirkan dari kalangan akademisi. Tak heran kalau yang terjadi kemudian adalah ketidaksinkronan antara konsep yang baik dan praktik yang dilaksanakan.

Gagasan saya mewujudkan PNS dengan menggunakan internet cerdas adalah bagaimana PNS, dengan segala kondisi yang ada, bisa mengambil manfaat positif dari internet melalui pembentukan sebuah komunitas. Saya yakin masih banyak PNS yang mempunyai komitmen untuk memberikan yang terbaik untuk masyarakat. PNS seperti ini perlu di galang agar bisa menginspirasi rekan-rekannya di seantero Indonesia. Bentuknya bisa bermacam-macam. Bisa juga dikaitkan dengan profesi yang lebih spesifik. Misal, untuk para perencana maka bisa dibuat forum perencana pembangunan daerah yang di sana bisa dilakukan sharing pengalaman terkait dengan praktik cerdas dalam desain program dan kegiatan. Sehingga, praktik yang baik di satu pemda bisa direplikasi di pemda lain. Atau, untuk para PNS pendidik bisa membuat forum guru yang dapat berbagi masalah kiat-kiat menanamkan jiwa pembelajar bagi para siswa. Forum-forum seperti itu tentu akan meningkatkan pemahaman para PNS dan juga akan menjadi faktor pendorong untuk mempertahankan idealisme yang sering luntur tergerus oleh situasi yang tidak kondusif.
Motivasi awal saya mengikuti kompetisi penulisan artikel Internet Cerdas Indonesia adalah mencoba men-share gagasan saya tersebut yang barangkali ada rekans pembaca yang tertarik untuk bersama-sama membangun kinerja PNS. Jujur, terkadang saya sendiri kehilangan motivasi. Namun, dengan berinteraksi dengan rekans PNS yang selalu bersemangat via Internet membuat hasrat untuk memberikan yang terbaik tetap hidup. Motivasi lainnya tentu ingin mendapatkan hadiah..he…he..he..

Ternyata, banyak hal yang saya peroleh dari mengikuti kompetisi ini. Manfaat pertama karena saya bisa mengenal orang-orang hebat yang mengikuti kompetisi ini. Masayu Amira adalah orang pertama yang menyadarkan saya untuk mengenal para peserta kompetisi penulisan ICI. Darinya lah saya mulai membaca sebagian besar artikel yang dikirim oleh peserta. Ya karena awalnya motivasi saya hanya sekedar share ide dan hadiah makanya saya tidak pernah terfikir untuk menjalin network dengan rekans sesama penulis. Sehingga saya tidak perlu merasa harus mengenal dan membaca artikel-artikel yang dikirimkan ke ICI. Wah…ternyata artikel yang masuk dan diunggah sungguh luar biasa bagus dan sangat inspiratif setelah saya baca artikel-artikel tersebut. Dari situ pula lah saya mencoba mencari siapa dibalik tulisan-tulisan hebat tersebut melalui google dan facebook. Sungguh para peserta kompetisi adalah orang-orang yang luar biasa. Artikel yang cukup berkesan buat saya diantaranya adalah warnet dan game center yang ditulis oleh mas Gunawan Rukmanto. Saya salut dengan mas Gunawan yang mempunyai komitmen yang tinggi untuk ‘mengembalikan’ para gamer untuk memanfaatkan internet secara cerdas dengan membentuk komunitas gamer. Juga dua jempol saya untuk kiprah Pak Iwan Sumantri yang menggalakkan blog di kalangan guru di Kabupaten Sukabumi. Sudah selayaknya guru di Indonesia meningkatkan kualitasnya dengan mengasah kemampuan menulis karena konsekwensi dari menulis tentu dengan membaca berbagai informasi. Salut juga buat Masayu Amira, Muhammad Ali Fikri dan Vini Alfiyah yang masih muda namun punya segudang prestasi. Mereka bertigalah yang memotivasi saya untuk menjadi ibu yang baik agar anak-anak saya kelak bisa seperti mereka.

Oya, manfaat ikutan lainnya adalah saya semakin mengenal para blogger yang juga mengantarkan saya untuk mendapatkan berbagai ragam informasi dan tentu saja network yang semakin luas, termasuk mencoba mengikuti kompetisi2 penulisan lainnya. Ya..meski kemudian saya harus menetapkan prinsip bahwa ‘ngeblog adalah bagian dari upaya peningakatan kapasitas diri dan sebagai media berbagi’ bukan sekedar mengejar ‘hadiah’ dari berbagai kompetisi.

Bagi saya Internet Cerdas Indonesia adalah gerakan yang harus diapresiasi dan didukung. Kondisi yang ada saat ini masyarakat Indonesia justru memanfaatkan internat untuk hal-hal yang kontra-produktif. Saya yakin, pemanfaatan internet secara cerdas tak hanya akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tapi juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi dengan adanya bisnis-bisnis online, internet marketting, bahkan juga turut memperbaiki moralitas bangsa. Saya yakin banyak masyarakat yang mendukung gerakan ini.

Saya yakin Internet Cerdas Indonesia bisa membawa perubahan besar bagi kemajuan bangsa ditengah apatisme masyarakat dengan kondisi birokrasi dan perpolitikan yang semakin suram. ICI adalah bagian dari civil society yang menjadi salah satu pilar tegaknya demokrasi di negeri ini. Jadi, ayo kita dukung pemanfaatan internet secara cerdas.

2 thoughts on “ICI dan Saya

  1. kak ana, maaf ya, aku baru baca tulisan kakak ini, tak terasa aku ada tangis haru kak, makasih ya krn telah menganggap aku sbg motivator kakak untuk anak-anak kakak, makasih atas perkenalan ini…. yg pasti kakak juga adalah motivator bagiku tuk terus berprestasi, amin, makasih kak ana

    1. waktu itu aku mau tag di fbnya amira blum jadi-jadi. Jujur aku banyak belajar dan mendapat pencerahan dari amira yang luar biasa…salut sesalut2nya..dan tentu saja buat mamanya amira.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s