INTERNET CERDAS: BISAKAH MEMBENTUK PNS PROFESIONAL?

Tulisan ini merupakan tulisan yang diikutkan dalam lomba penulisan internal artikel internet cerdas indonesia. http://internetcerdasindonesia.org/internet-cerdas-bisakah-membentuk-pns-profesional/

“Image apa yang terbayang dalam fikiran Anda tentang kinerja PNS?”

Pasti anda sepakat dengan saya: Tidak profesional, malas, lamban, tidak berintegritas, suka mangkir dan lain hal negatif lainnya.

Yang jelas, ketika kita diharuskan untuk berhadapan dengan abdi negara untuk mendapatkan pelayanan publik selalu saja yang terbayang adalah segala kerumitan karena pelayanan yang tidak profesional. Begitulah realitas yang kita hadapi di negeri ini. Buruknya pelayanan publik dan korupsi salah satunya adalah buah dari rendahnya kinerja PNS.

Sayang seribu sayang saya adalah seorang PNS. Bahkan mungkin sudah dianggap cukup uzur karena sudah hampir dua puluh tahun saya menjalani profesi sebagai abdi negara. Saya sendiri tidak menolak cap di atas. Memang benar adanya dan itu pula lah kenyataan yang ada. Namun, tak berarti saya menyesal dilahirkan sebagai PNS.

Banyak hal yang bisa menjadi penyebab ketidakprofesionalan PNS. Pertama masalah rekrutmen yang dari awal sudah bermasalah. Belum lagi, kalau rekrutmen sudah benar belum tentu penempatan dan promosi dilaksanakan secara fair sesuai dengan kompetensi. Tak heran kalau kemudian muncul ketidakpuasan pegawai yang membawa dampak pada menurunnya kinerja.

PNS dan Internet

Internet ibarat sebilah pisau. Ia bisa membunuh tapi juga bisa meracik masakan yang super lezat. Internet memfasilitasi manusia tidak hanya untuk dapat mengakses jutaan informasi yang dapat meningkatan kapasitas keilmuannya. Ia juga menawarkan sebuah pasar baru untuk meningkatkan produktivitas atau bahkan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Terlalu banyak jika harus di sebutkan seluruhnya di sini. Di sisi yang lain internet juga membawa sisi negatif, dari mudahnya akses pornografi hingga penipuan-penipuan online.
Kemudahan akses Internet kini bisa dirasakan oleh seluruh unsur masyarakat termasuk PNS. Saat ini hampir seluruh instansi pemerintah sudah menyediakan fasilitas hot spot. Sehingga, pegawai untuk mendapatkan akses ke dunia maya. Internet kini menjadi keseharian kehidupan PNS.

Tapi, adakah yang berubah dengan kinerja mereka?

Dalam beberapa hal internet sangat bermanfaat buat PNS untuk meningkatkan kinerjanya. Paling tidak fasilitas email memungkinkan pengiriman dokumen kedinasan dengan lebih cepat. Pemerintah daerah pun bisa lebih dekat dengan masyarakat melalui situs yang dibangun oleh para punggawanya. Produk hukum pemerintah pusat juga bisa di download dari berbagai belahan nusantara.

Kehadiran jejaring sosial dalam dunia internet juga tidak dapat dinafikan begitu saja. Sebagaimana dengan internet, jejaring sosial ini pun sama halnya dengan sebilah pisau. Di satu sisi ia bisa menjadi kekuatan komunitas yang mahadahsyat untuk melakukan perubahan. Di sisi lain ia ibarat candu yang mencengkeram seseorang untuk selalu dan selalu menghabisakan waktu didepan layar. Jejaring sosial ini pula lah yang juga dianggap mencerabut seseorang dari pergaulan sosial di alam nyata karena begitu asyik dengan interaksi mereka di dunia yang tak terjamah oleh tangan tersebut. Barangkali tak ada yang salah seandainya internet maupun jejaring sosial tersebut dimanfaatkan sebagaimana menggunakan sebilah pisau untuk meracik masakan istimewa.

Hanya saja, mari kita coba lihat terlebih dahulu bagaimana dengan gambaran PNS negeri ini menggunakan internet?

Jika dianalogikan dengan teori kebutuhan Abraham Maslow maka menurut saya kategori pemanfaatan internet di lingkungan PNS untuk meningkatkan kinerja masih berada pada level 1. Artinya, baru pada tingkat pemenuhan kebutuhan primer yaitu untuk mengirimkan dokumen. Memang benar, interaksi PNS dengan internet tidak hanya sebatas itu bahkan lebih jauh lagi hingga level V atau aktualisasi diri. Bagaimana tidak, saat ini semua orang, termasuk PNS, mulai berlomba mengunggah foto-foto pribadinya di jejaring dunia maya. Makan siang ataupun keberadaan di Bandara saat hendak take off pun menjadi santapan lezat di jejaring ini. PNS ini pun juga mengakses berbagai informasi, dari resep masakan hingga kasus-kasus korupsi di tingkat nasional.

Tapi, adakah pola interaksi ini berpengaruh pada kinerja PNS?

Boleh dibilang yang terjadi saat ini adalah sekularisasi internet. Artinya, ada pemisahan antara pemenuhan kepentingan kedinasan dan kepentingan individu. Internet bisa jadi sudah didayagunakan secara cerdas untuk peningkatan kapasitas individu. Misalnya, untuk memperoleh informasi resep masakan, konsultasi agama, berita terkini, jejaring sosial, dan berbagai urusan individu lainnya. Internet bagi para PNS adalah saluran untuk melepaskan diri sejenak dari urusan kedinasan alias refreshing. Sayangnya, ketika kembali ke wilayah pekerjaan mereka hanya menggunakannya sebatas pada pengiriman dokumen. Lebih tinggi sedikit, mereka menggunakannya untuk mendownload regulasi yang terkait dengan bidang kerja mereka.

Dalam beberapa hal, internet justru menjadi bumerang karena mereka cenderung lebih asyik menikmati dunia maya sementara pekerjaan terabaikan. Apa yang anda saksikan ketika anda mengamati PNS yang sedang mengikuti kegiatan-kegiatan workshop, diklat, bimbingan teknis? Saya yakin sama seperti pengalaman saya. Aktivitas membuat status dan komentar tetap berlangsung meskipun instruktur sedang memberikan penjelasan di depan kelas. Tak heran jika kemudian ada peserta yang tiba-tiba tersenyum-senyum sendiri padahal peserta lain sedang serius mendengarkan. Jejaring sosial dipercaya sebagai penghilang kebosanan dan rasa kantuk selama mengikuti kegiatan-kegiatan seperti di atas. Alhasil, materi yang terserap dijamin tidak sampai delapan puluh persen.

Lalu, bisakah internet cerdas membentuk PNS profesional?

Tentu saja. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas bahwa internet hanyalah sekedar alat. Jika di dayagunakan secara maksimal ia akan melesatkan potensi diri, organisasi, instansi, bahkan suatu bangsa. Percaya? Komunitas Internet Cerdas Indonesia (ICI) adalah salah satu media untuk menggalang kekuatan perubahan melalui pemakaian internet secara tepat guna. Demikian halnya dengan membangun PNS impian yang profesional, berintegritas, berdedikasi demi peningkatan pelayanan publik dan sebagai penopang tata kelola pemerintahan yang baik.

Yakin?

Bisa jadi impian ini terlihat begitu muluk dan mengawang-awang. Profesioanlisme, integritas dan dedikasi PNS tak bisa dilepaskan dari sebuah sistem kepegawaian yang dibangun oleh pemerintah. Kinerja PNS tak bisa dilepaskan dari masalah kebijakan rekrutmen, penempatan pegawai, promosi bahkan sistem penggajian yang belum berbasis pada kinerja. Belum lagi pemilukada yang menghasilkan kepala daerah justru merunyamkan pengelolaan SDM di lingkungan instansi pemerintah. Yang lahir dari sistem ini adalah munculnya pejabat-pejabat di daerah yang kompetensinya dipertanyakan.

Kesemua hal yang saya sebutkan tadi selalu menjadi kambing hitam dalam setiap diskusi tentang kinerja PNS. Dalam kondisi ini yang sering muncul adalah apatisme. Pegwai-pegawai yang awalnya mempunyai dedikasi dan idealisme tinggi lama kelamaan pudar juga. Bagaimana tidak luntur kalau yang rajin dan yang malas penghasilannya sama. Idealnya, perbaikan kinerja PNS harus melalui pembenahan sistem yang melekat pada instansi pemerintah. Termasuk munculnya pejabat-pejabat yang bisa menjadi pemimpin dan teladan para pegawai. Tapi, haruskah PNS pasrah begitu saja?

Berat..sungguh teramat berat ketika hasrat untuk memberikan yang terbaik dari diri pribadi ternyata tidak mendapat dukungan dari atasan. Hal yang demikian sering menjadi keluhan dari para PNS yang pernah saya temui. Sesungguhnya rekan-rekan saya ini punya potensi yang luar biasa. Hanya saja, lagi-lagi mereka dihadapkan pada kondisi yang mengakibatkan seluruh potensi itu musnah ditelan kekecewaan demi kekecewaan.

PNS dan Modal Sosial

PNS pada dasarnya adalah sebuah profesi yang sangat mulia. Secara penghasilan memang tidak bisa dibandingkan dengan mereka yang berkiprah di perusahaan swasta papan atas. Padahal, secara tanggungjawab bisa jadi lebih besar dibanding seorang manajer di bank misalnya. Tak jarang mereka diamanahi sebuah tanggungjawab mengelola kegiatan yang nilainya ratusan juta bahkan hingga milyaran. Namun, insentif untuk itu teramat minim. Tak jarang yang kemudian harus berurusan dengan yang berwajib karena terlalu banyak godaan. Mereka yang bisa menjaga idealisme sungguh adalah seorang PNS yang luar biasa.
Menjadi PNS sesungguhnya hanya satu bagian dari fungsi ke-manusian. Fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi selayaknya menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan. Karena tugas itulah Sang Pencipta memperlengkapi dirinya dengan segala potensi. Tidak profesional adalah salah satu bentuk upaya mengikis potensi tersebut. Sehingga, tentu tak seharusnya PNS merelakan hal ini terjadi.

Nah, kesadaran seperti di atas haruslah di bangkitkan. Bagaimana caranya?

Untuk menjawab masalah ini saya ingin meminjam istilah Robert Putnam tentang Social Capital atau modal sosial yang selama ini kurang digarap secara maksimal oleh pemerintah. Modal sosial menurut Putnam terdiri dari networks, norms (norma) dan trustworthiness (Kepercayaan). Modal sosial inilah yang saat ini justru dianggap sebagai faktor yang sangat penting berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi. Modal sosial sesungguhnya tumbuh lebih subur di negara-negara berkembang dari pada negara-negara maju yang berpaham individualis. Contoh yang paling nyata adalah fakta bahwa Indonesia adalah salah satu anggota jejaring sosial yang terbesar di dunia. Hubungan sosial kemasyarakatan di Indonesia sangat kental. Apalagi, di masa lalu kita kenal istilah gotong royong yang begitu mengakar kuat di masyarakat. Di perkotaan aktivitas yang melibatkan seluruh anggota masyarakat ini mungkin telah hilang. Tapi, di pedesaan gotong royong dalam menyelenggarakan resepsi pernikahan masih terlihat begitu kental.
Modal sosial pada dasarnya adalah sebuah konsep yang mengedepankan kekuatan sebuah komunitas yang jika didayagunakan ia akan menjadi kekuatan perubahan yang maha dahsyat. Sama halnya dengan kisah penggulingan orde baru yang terjadi pada tahun 1998 yang tidak mungkin ada jika seluruh mahasiswa tidak bersatu. Mereka adalah komunitas perubahan yang mempunyai nilai-nilai yang sama yaitu untuk menggulingkan orde baru.

Konsep kekuatan komunitas atau modal sosial ini lah yang saya maksud sebagai sarana untuk melakukan perubahan di dunia maya termasuk membentuk PNS profesional. Prinsip dasarnya sama halnya dengan gagasan internet cerdas Indonesia yang dibangun untuk menciptakan suatu perubahan melalui internet. PNS Profesional pun bisa dibangun dengan membangun suatu komunitas PNS Profesional melalui penggunaan internet secara cerdas. Penggunaan secara cerdas ini salah satunya dengan membangun komunitas yang saya sebutkan tadi. Saya sendiri sebenarnya sudah mulai menginisiasinya dengan membangun blog: http://www.menjadiPNSProfesional.com setahun yang lalu. Sayangnya kesibukan kerja membuat saya membengkalaikan blog yang sudah saya cita-citakan tersebut.

Menjadi Effective Follower

Saya yakin saat ini masih banyak di jumpai PNS yang profesional, berintegritas, berdedikasi dan idealis. Coba lihat di sekitar anda. Pasti anda juga akan menemukan sosok-sosok semacam itu. Saya sendiri banyak berteman dengan rekan-rekan semacam ini. Suatu ketika saya menemukan sesosok guru di suatu daerah yang agak terpencil. Hasil rapel sertifikasi guru yang diterima ia belikan laptop dan LCD demi berjalannya proses belajar mengajar yang lebih efektif. Sungguh saat saya mendengarnya air mata saya hampir menetes karena haru. Atau, seorang lurah teladan yang berhasil membawa wilayahnya memenangkan lomba di tingkat nasional karena ia tidak hanya menjalankan tugas pokok dan fungsi tapi hasrat pengabdian yang tinggi itulah yang menjadi pendorong untuk memberikan kontribusi melintasi batas-batas tugas sebagai PNS. Kisah-kisah seperti ini sebenarnya terserak di mana-mana. Sehingga, perlu dikumpulkan untuk membangkitkan semangat bahwa pengabdian tidak harus terbayar oleh insentif finansial. Totalitas dalam bekerja sesungguhnya akan melahirkan profesionalisme yang pada akhirnya akan melesatkan potensi diri. Hasilnya, secara tidak langsung bisa jadi akan memberikan insentif dalam bentuk lain.

Komunitas yang saya maksudkan adalah sebuah komunitas yang terdiri dari PNS seluruh Indonesia yang darinya akan menjadi penguat jiwa untuk tetap memberikan kontribusi terbaik untuk bangsa. Komunitas ini tidak mungkin terwujud tanpa adanya internet. Dari situ lah perubahan bisa ditularkan dengan sangat cepat bagaikan virus influenza sebagaimana Malcolm Gladwell yang menyebut hal ini dalam The Tipping Point. Komunitas ini lah yang diharapkan akan melahirkan apa yang menurut Robert E. Kelley sebagai effective follower. Kalau pun saat ini pimpinan masih belum mendukung perubahan yang memungkinkan perbaikan kinerja PNS maka selayaknya sebagai effective follower atau pengikut yang effektif harus menginisiasi perubahan. Effective follower adalah pegawai yang menurut Kelley independen, inovatif dan selalu berperan dalam organisasi. Sebaliknya tidak menjadi type ‘the sheep’ atau pun ‘yess sir’ yang kehilangan daya kreatif dan cenderung pasrah menerima keadaan. Barbara Kellerman pun menyatakan bahwa “Good leaders will not able to make good things without good followers…Bad leaders will not be able to do their bad actions without bad followers…”. Saya percayai hal itu sebagaimana meyakini bahwa dinyatakan bahwa pemimpin adalah cerminan dari pengikutnya.

Makanya, membangun komunitas effective follower melalui media Internet adalah keniscayaan untuk membentuk PNS profesional ditengah ketiadaan harapan untuk mendapatkan sosok pemimpin yang baik. PNS yang menjadi effective follower ini lah yang kemudian diharapkan untuk menjadi agent yang menginisiasi perubahan di lingkungan organisasinya, termasuk ‘membisikkan’ perubahan kepada pimpinan. Di dalam komunitas ini lah para agent tersebut bisa saling membagi kisah dan salaing memberikan inspirasi dan semangat untuk terus melakukan perubahan.

Jadi?

Mari kita galang komunitas PNS profesional melalui internet dan menjadi agent perubahan di instansi kita.