Negeri Para Outliers

Apa yang terbersit dalam benak ketika sepasang mata menangkap sesosok anak tujuh tahun sedang mengorek sampah mencari gelas atau botol air mineral saat melintasi jalanan menuju kantor? Atau, saat sepasang mata menangkap seorang bayi dalam gendongan sang kakak yang berusia delapan tahun mengetuk mobil anda di sebuah perempatan jalan sambil menengadahkan tangan?

Pasti rasa kasihan, iba, miris yang berkecamuk dalam fikiran. Atau bahkan, rasa benci dan jengah melihat kondisi negeri yang katanya kaya akan sumber daya alam ini. Atau, bertanya: kemanakah sang ibu hingga membiarkan anak terpaksa menukar waktu bermainnya demi kepingan-kepingan rupiah. Terlalu menyakitkan.

Tapi, apa kaitannya dengan outliers ya?

Malcolm Gladwell mendefinisikan Outliers dengan orang-orang yang luar biasa. Bill Gates, The Beatles, Tim Hoki Canada, Steve Jobs, Bill Joy dan lain sebagainya adalah para outliers yang mendapatkan seperangkat keberuntungan hingga bisa meretas jalan-jalan kesuksesannya. Keberuntungan itu adalah seperangkat kesempatan hingga mereka mendapatkan lingkungan yang mendukung, moment yang tepat, orang tua yang peduli, bertemu dengan orang yang tepat dan lainnya. Seperangkat kesempatan itu lah yang kemudian melejitkan seluruh potensi yang telah ditanam dan terinternalisasi dalam diri seseorang. Penjelasan ringkas tentang outliers ini dapat anda baca dalam tulisan saya sebelumnya ‘outliers vs negeri lima menara’.

Satu hal yang menarik yang bisa mengaitkan antara outliers dengan anak-anak jalanan yang sering anda temui adalah ‘kesempatan’. Sebagaimana yang dikatakan oleh Gladwell dalam kaidah 10.000 jam-nya bahwa seseorang menjadi luar biasa ketika ia telah menghabiskan 10.000 jam untuk berlatih. Dalam hal apa? Dalam hal apa saja… Sebelum menggapai puncak ketenaran Mozart telah menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan tuts-tuts piano . Karya hebat Mozart yang hingga kini dikenang baru diciptakannya pada usia dua puluh satu tahun di mana pada saat itu Mozart sudah menciptakan berbagai concerto selama puluhan tahun lamanya. Begitu halnya dengan the Beatles yang sering manggung semalaman sebelum mencapai puncak ketenaran, atau Bill Joy yan mendapat kesempatan menghabiskan malamnya di lab komputer di kampusnya.

Dalam konteks ke-lokal-an mungkin kita bisa melihat Gita Gutawa atau Sherina, atau Kevin Aprilio. Ketiga artis ini dibesarkan oleh orang-orang terdekat sangat mendukung dan memungkinkannya untuk mengasah bakat yang sudah mereka miliki. Atau, kalau kita tengok track record para kepala daerah, maka anda akan mendapati mereka mempunyai ‘darah’ penguasa wilayah. Gladwell tidak pernah mengatakan hal ini merupakan bakat turunan tapi lebih kepada bagaimana pola asuh sangat menenetukan bagaimana seseorang membangun jiwa dan mental seorang pemimpin. Mereka pun diuntungkan dari sisi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi karena orang tua mampu menyekolahkan sang anak setinggi-tingginya dan melengkapinya dengan berbagai ragam ketrampilan lainnya.

Kalau hal ini yang terjadi, bagaimana nasib para ‘outliers’ terpendam? Ya…anak-anak jalanan yang sering kita temui di perempatan jalan itu sesungguhnya adalah para outliers yang karena ‘nasib’nya ia tidak dipertemukan dengan seperangkat keberuntungan. Kalau kesuksesan dikaitkan dengan angka 10.000 jam…hmmm…entah kapan ia mencurahkan waktu untuk mengasah bakatnya. Yang, pasti..ia tidak punya seperangkat kesempatan yang membuatnya seperti Gita Gutawa, Sherina, Kevin Aprillio atau seperti para kepala daerah. Yang pasti pula, ia tidak punya sepasang orang tua yang punya perhatian dan kemampuan dana sehingga ia mendapatkan pola asuh yang mumpuni yang menjadikannya orang yang tangguh, seorang pejuang dan seorang yang tidak mudah patah semangat.

Tapi, apakah ini berarti orang-orang yang tidak beruntung secara sosial tidak bisa sukses?

Suatu ketika saya bertemu dengan seorang kawan yang awalnya saya tidak pernah menyangka kisahnya begitu dramatis. Bagaimana tidak, pembawaannya yang selalu tersenyum, suka bergaul dan bercanda membuatnya terlihat begitu nyaman menjalani hidup. Ia lulus dari sebuah sekolah tinggi ikatan dinas di jakarta dan saat itu mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 ke Australia. Ia pun bekerja di sebuah instansi pemerintah yang bergengsi di mana hanya orang-orang berprestasilah yang bisa masuk ke sana. Jujur saya hampir meneteskan air mata ketika ia ceritakan kisah masa kecilnya. Ia dibesarkan oleh sebuah keluarga yang serba kekurangang dimana ia harus berpindah-pindah tempat tinggal untuk mendapatkan tumpangan hidup. Konon, sang ibu di musuhi oleh sang nenek dan keluarga ayahnya karena sejak awal pernikahan kedua orang tuanya tak direstui. Beragam fitnah sering ia terima dari keluarga sang ayah. Saya begitu tercekat saat ia harus menumpang di rumah dimana ia harus tidur dibawah kandang bebek yang terkadang ia harus mengusap mukanya karena kena ranjaunya. Hebatnya, ia ceritakan semua itu dengan riang tanpa ada kesedihan. Saat ia dinyatakan lulus di sekolah tinggi yang tidak dipungut biaya kuliah ia sempat kebingungan. Beruntunglah ia diberikan pinjaman Rp500.000 oleh guru SMP-nya hingga sampai lah ia di Jakarta. Setidaknya, ia bisa berangkat ke Jakarta dan membayar uang masuk yang sebenarnya tidak terlalu mahal untuk ukuran umum. Urusan tinggal di Jakarta? Ia sempat menjadi pembantu rumah tangga, mengajar mengaji hingga mengajar les. Semua ia lakoni ibarat menjalani sebuah petualangan hidup yang menarik.

Cerita tentang anak-anak cerdas yang lulus ujian masuk sekolah tinggi tersebut juga sering saya dengar. Meski tidak dipungut biaya kuliah dan ada jaminan menjadi PNS, anak-anak cerdas yang dibesarkan dari keluarga yang kurang beruntung ini terpaksa tidak melanjutkan kuliah karena tidak ada biaya yang mengantarkannya ke Jakarta. Ya..bebas biaya kuliah tak berarti membebaskan seseorang dari biaya hidup. Lalu, apa yang membedakan anak-anak yang tidak melanjutkan kuliah ini dengan teman saya?

Saya sendiri tidak tau, karena waktu itu saya tidak sempat menggali lebih jauh. Yang pasti, saat itu saya belum membaca buku Outliers jadi tidak terlalu peduli dengan analisis ini. Dari sekelumit cerita yang pernah ia sampaikan, ketangguhan menghadapi cobaan hidup sesulit apapun semasa kecil menjadi modal tersendiri untuk siap hidup luntang lantung di ibu kota. Ia siap menjadi apapun demi keinginan untuk memperbaiki kualitas hidupnya.

Lalu, apakah anak jalanan lainnya tidak menghadapi kondisi sulit? Pasti, dugaan saya pastilah kawan saya ini mempunyai orang tua yang luar biasa yang mengajarkannnya ketangguhan dan pantang berputus asa. Kedua, ia mendapat kesempatan bersekolah yang memungkinkannya bertemu dengan seorang guru yang selalu mengobarkan semangatnya hingga meminjamkan Rp500.000 sebagai bekalnya menjemput masa depan. Intinya, dalam kondisi sulit, ia bertemu dengan orang-orang yang mencerahkannya hingga ia sempat menapakan kaki di negeri kangguru.

Kaitannya dengan judul di atas?

Negeri para Outliers adalah sebuah gagasan yang mungkin sudah banyak diterapkan tentang bagaimana menciptakan seperangkat kesempatan bagi para ‘outliers’ terpendam. Kalau anda sempat melihat film Laskar Pelangi anda pasti mengenal Lintang yang super cerdas. Sayang, ia tidak bertemu dengan seperangkat keberuntungan sebagaimana dalam gagasan Gladwell. Sepeninggalan sang Ayah, mau tak mau ia harus memikul tanggung jawab mencari nafkah dan membesarkan keluarga. Mungkin kita akan menyebutnya sebagai takdir atau jalan hidup yang telah digariskan oleh sang pencipta. Kalau memang begitu, bisakah takdir tersebut diubah? Bisakah garis hidup para anak-anak yang kurang beruntung itu dibelokkan?

Untuk melihat bagaimana sebuah takdir bisa dirubah barangkali kita bisa mengambil pelajaran dari pembangunan kota Bogota di Columbia. Enrique Penalosa, sang Walikota, menggagas sebuah konsep pembangunan tata kota yang memanusiakan. Pembangunan yang paling spektakuler adalah reformasi lahan kota yang mengubah kompleks kumuh menjadi perumahan susun bagi keluarga miskin dan membangun taman-taman di pinggiran kota. Satu lagi, ia pun membangun jalur sepeda terpanjang di dunia. Taman-taman kota serta jalur sepeda adalah area yang memungkinkan keluarga miskin mempunyai akses untuk menikmati lingkungan yang segar serta tempat bermain yang membangun kreativitas anak. Belum lagi, sekolah, perpustakaan umum dan tempat penitipan anak bagi masyarakat miskin. Fasilitas umum ini tidak dibangun seadanya. Justru sangat mewah sehingga anak-anak keluarga miskin sangat menikmati sekolah, perpustakaan dan penitipan anak yang mengajarkan mereka beretika sebagai masyarakat yang berpendidikan. Tentu hal ini lambat laun akan memutus pola asuh yang bisa saja diberikan seadanya oleh sang orang tua. Tanpa bermaksud menyalahkan orang tua, jelas mereka telah dibebani oleh tuntutan ekonomi yang membuatnya harus membanting tulang hingga tak sempat memberikan pendidikan yang baik.

Pembangunan di Bogota adalah sebuah contoh bagaimana memberikan kesempatan pada para ‘outliers’ terpendam menjadi outliers. Konsekwensi logis untuk menjadi negeri para outliers tentu pemerintah harus menciptakan seperangkat keberuntungan yang memungkinkan outliers mendapat kesempatan untuk melakukan 10.000 jam latihan sebelum ia memasuki gerbang kesuksesan. Seperangkat keberuntungan itu lah yang kemudian mewujud dalam pembuatan kebijakan publik yang pro reproduksi outliers.

Bagaimana dengan peran kita sebagai individu? Tentu kita pun bisa menjadi ‘kesempatan’ yang mempertemukan para outliers terpendam atau siapapun juga untuk menjadi outliers yang sesungguhnya.

Barangkali kita bisa mengambil hikmah dari syair Kahlil Gibran berikut:

Engkau adalah busur-busur tempat anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan

Sang pemanah telah membidik arah keabadian,

dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya,

sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh.

Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan……

Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang,

maka ia juga mencintai busur teguh yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

 

Kita lah busur-busur yang harus melesatkan anak-anak panah itu….dan anak panah itu adalah para outliers di negeri ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s