Outliers VS Negeri 5 Menara

Menurut anda, apa sesungguhnya rahasia di balik setiap kesuksesan?

Bakat? Kerja keras? Ketangguhan? Keteguhan? Komitmen?

Kalau kemudian saya menyandingkan outliers, buku yang ditulis oleh Malcom Gladwell, dengan Negeri 5 Menara-nya A. Fuadi sesungguhnya karena ada benang merah di antara keduanya yang termat jelas. Boleh di bilang Negeri 5 Menara merupakan contoh riil yang bisa dipetik dari gagasan Gladwell.

Seperti biasa Gladwell menawarkan gagasan-gagasan di luar kebiasaan sebagaimana buku sebelumnya Blink dan The Tipping Point. Kalau jawaban anda tentang sukses sebagaimana yang saya sebutkan di atas maka Gladwell akan menolak dengan tegas.

Lalu?

Percayakah anda bahwa tanggal lahir, tahun lahir, demografi, kelas sosial sangat berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang. Hmmm..kok kayak astrologi ya… Dalam filosofi Jawa kita mengenal ‘weton’ atau tepatnya…apa ya? He..he..sebagai orang jawa saya sudah agak lupa. Seingat saya dalam kepercayaan orang jawa, orang-orang yang sukses rata-rata lahir pada weton2 tertentu, anggaplah sabtu paing atau jum’at kliwon yang diyakini merupakan malam keramat bagi orang Jawa.

Apa yang ditawarkan Gladwell?

Sebelum masuk lebih dalam mungkin perlu diketahui apa itu Outliers. Outliers adalah orang-orang yang melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Dalam buku ini gladwal mengungkapkan rahasia sukses orang genius, raja bisnis, musisi rok dan pembuat program lunak, termasuk pengacara hebat. Dalam konteks negara, Gladwell bahkan menyebut faktor yang membuat bangsa Asia sangat hebat dalam hal matematika.

Jujur, ketika membaca bagian belakang buku Gladwell saya juga menyangka bahwa buku ini akan mengarahkan kita kepada mitos astrologi seperti yang saya sebutkan di atas. Tapi sungguh kemudian Gladwell memberikan penjelasan yang jelas hubungan antara tanggal lahir, tahun lahir, demografi serta kelas sosial yang menjadi rahasia di balik sukses seseorang.

Fakta yang dibawa Gladwell pertama adalah hubungan antara tanggal lahir dan pemain-pemain hoki hebat Kanada. Pertengahan tahun 80-an seorang Psikolog Kanada Barnsley tertarik untuk meneliti hal ini. Ia pun mengumpulkan sebanyak-banyaknya nama-nama pemain hoki terkenal dan tanggal lahir.Fakta yang muncula adalah pemain hoki tersebut kebanyakan lahir pada bulan Januari, bulan kedua terbanyak adalah Februari, ketiga adalah Maret. Secara statistik hasilnya sebagai berikut: 40% lahir antara Januari-Maret, 30% April-Juni, 20% Juli-September dan 10% antara Oktober-Desember.

Apakah ini kebetulan?

Hasil analisis Barnsley menunjukkan bahwa hal ini menunjukkan berjalannya hukum alam. Di Kanada batasan umur penerimaan berbagai kelas usia hoki adalah tanggal 1 Januari. Seorang anak yang berusia berusia sepuluh tahun pada tanggal 2 Januari bisa bermain dengan seseorang yang baru berumur sepuluh tahun di akhir tahun yang sama. Dengan demikian, anak yang dilahirkan pada tanggal 2 Januari tersebut akan memiliki waktu latihan yang lebih banyak dibandingkan dengan anak  yang baru lahir tanggal, sebutlah, 25 Desember ketika mereka menginjak usia tiga belas atau empat belas tahun. Lebih mudahnya mungkin begini. Anggaplah pada bulan September diadakan pertandingan, maka anak yang dilahirkan pada tanggal 2 Januari mendapatkan latihan 9 bulan lebih banyak (rentang waktu januari-september atau lebih dari 3 tahun). Sedangkan anak yang lahir pada bulan Desember baru mendapat pelatihan kurang dari 3 tahun. Waktu pelatihan yang lebih banyak itu lah yang membuat pemain-pemain hoki diuntungkan dari tanggal kelahiran.

Kaitannya dengan latihan ini, Gladwell menguatkannya dengan pembahasan Kaidah 10.000 jam. Kaidah ini lah yang menjadi kunci rahasia kesuksesan Bill Joy, The Beatles, Bill Gates termasuk Steve Jobs. Orang-orang tersebut telah menghabiskan waktunya selama lebih dari 10.000 jam hingga mereka menapaki tangga kesuksesan. Mozart yang kita kenal sebagai komponis luar biasa pun karya-karya awalnya biasa-biasa saja. Bahkan karya awalnya ini lebih banyak ditulis oleh ayahnya. Karya hebat Mozart yang hingga kini dikenang baru diciptakannya pada usia dua puluh satu tahun di mana pada saat itu Mozart sudah menciptakan berbagai concerto selama puluhan tahun lamanya.

Hal yang sama juga dialami The Beatles. Lagu-lagu mereka menjadi hits di Amerika pada tahun 1964. Tapi, apa yang terjadi pada tahun 1960? The Beatles diungang ke Hamburg Jerman. Dalam permainan selama itu mereka berjuang untuk membuat penonton tertarik. Berbeda dengan saat di Liverpool yang hanya satu jam mereka bermain musik. Di kota tersebut mereka bermain musik selama tujuh jam sepanjang selama 270 malam selama rentang waktu 1960-1962. Ketika mereka meraih kesuksesan tahun 1964 diperkirakan mereka telah naik panggung sebanyak seribu dua ratus kali.

Bill Gates, Bill Joy dan Steve Jobs pun setali tiga uang dengan The Beatles. Bahkan mereka bertiga juga diuntungkan dari sisi tahun kelahiran. Bill Gates lahir pada tanggal 29 Oktober 1955, Steve Jobs 24 Februari 1955, Bill Joy 8 November 1954. Pelopor perangkat revolusi perangkat lunak lainnya adalah Eric Schmidt lahir tanggal 27 April 1955. Atau orang kaya ketiga di Microsoft Steve Balmer yang lahir pada tanggal 24 Maret 1956. Lihatlah, kelima orang tersebut lahir pada tahun 1954-1956.

Apa rahasia tahun tersebut?

Gladwell menjelaskan bahwa Januari 1975 adalah awal dari zaman komputer pribadi. Sebelum tahun tersebut komputer merupakan mainframe raksasa yang mahal . Siapa yang kira-kira diuntungkan dari revolusi komputer tersebut? Mereka adalah generasi yang dilahirkan pada tahun 1954-1955. Mengapa? Ya karena pada tahun 1975 generasi tersebut telah berusia 20-21 tahun yang merupakan tahun yang tepat untuk menggeluti dunia komputer di perguruan tinggi. Bagaimana dengan yang lahir setelah 1958? Mereka masih di bangku sekolah. Artinya, sebagaimana kaidah dalam permainan hoki, mereka yang telah berusia 20-21 akan menggeluti komputer lebih lama dibandingkan dengan rekannya yang masih berusia sekolah.

Contoh-contoh tersebut memperlihatkan bahwa kesuksesan adalah bagian dari sebuah kesempatan dan keberuntungan diluar jangkauan para outliers. Para pemain hoki tersebut diuntungkan karena adanya sebuah aturan yang memungkinkan mereka berlatih lebih lama. The Beatles juga sama termasuk juga kesempatan yang mempertemukan mereka seorang pemilik klub yang bernama Bruno yang mengundang mereka ke Hamburg. Seandainya revolusi komputer pribadi terjadi pada tahun 1980 belum tentu Bill Gates akan sekaya saat ini. Pada tahun tersebut Bill Gates sudah berusia 25 tahun, sudah menyelesaikan kuliah dan mendapat pekerjaan. Ia tentu tidak akan mendapat kesempatan untuk mempelajari komputer sebagaimana generasi yang lahir lima tahun berikutnya karena sudah terlambat.

Selain tanggal lahir, Gladwell juga menyebut kelas sosial dan budaya sebagai penentu kesuksesan. Percaya atau tidak secara umum orang-orang yang sukses dilahirkan dari keluarga menengah ke atas. Sekali lagi bukan karena IQ-nya tinggi tapi lagi-lagi karena proses pewarisan etika yang lebih menguntungkan anak orang kaya dibandingkan dari mereka yang dilahirkan dari orang tua yang miskin. Kaitannya dengan latihan di atas. Anak orang kaya akan mendapatkan fasilitas untuk melakukan lebih banyak hal secara lebih baik. Berbeda tentunya dengan anak orang miskin yang secara umum pola pendidikan di rumah lebih cenderung membiarkan anak berkembang tanpa arah yang jelas. Bandingkan dengan orang-orang kaya yang mendapat kesempatan untuk bersekolah di sekolah yang bagus dengan didukung oleh kursus-kursus yang mengarahkan perkembangan anak. Maka, logika sederhananya, anak-anak orang kaya ini akan cenderung lebih sukses dibanding rekannya dari keluarga miskin.

Bagaimana dalam konteks ke-Indonesiaan?

Saya sungguh sepakat dengan ide Gladwell ini. Kesuksesan ibarat sebuah pohon yang tumbuh kokoh dan memeberikan buah yang lebat. Pohon itu tidak tumbuh oleh bibit yang unggul. Tapi, ia adalah berkah dari sinar matahari yang memungkinkannya berfotosintesis. Ia pun berkah dari pemilik yang dengan setia memberikan pupuk. Juga berkah dari angin yang membantunya dalam mempertemukan antara benang sari dengan sang putik hingga sang bunga pun menghasilkan buah. Begitu halnya dengan kesuksesan. Gagasan sukses yang dibawa Gladwell sebenarnya sama dengan filosofi sebuat tanaman yang saya sebutkan sebelumnya. Kesuksesan seseorang ditentukan oleh kesempatan mempunyai orang tua yang dengan penuh perhatian peduli terhadap masa depan anak. Kesuksesan juga dipengaruhi oleh lingkungan di mana tempat kita tinggal termasuk kapan kita di lahirkan.

Outliers sesungguhnya teramat menarik karena menawarkan sudut pandang lain dalam memandang kesuksesan yang mengantarkan seseorang untuk selalu bersyukur. Akan lebih menarik jika buku tersebut ditulis dalam konteks ke-Indonesiaan. Tentu saja tidak mungkin..he..he..karena Gladwell bukan orang Indonesia. Seperti biasa, cara penceritaan Gladwell yang menyajikan banyak cerita memudahkan untuk memahami. Namun kembali karena konteksnya bukan ke-Indonesia-an yang tercermin dari tokoh-tokoh yang diceritakan serta bahasa terjemahan membuat buku ini terkadang membuat sedikir kening berkerut. Dalam konteks ke-Indonesia-an kita bisa ditarik benang merah antara gagasan Gladwell ini dengan Myelin-nya Rhenald Kasali. Apa yang dimaksud Myelin oleh Rhenald sesungguhnya sama dengan yang dimaksud dengan kaidah 10.000 jam yang disebutkan oleh Gladwell. Myelin atau muscle memory atau memori otot akan terbentuk sebagaimana pembentukan otot yang akan semakin menebal semakin banyak kita melakukan latihan. Kaidah yang sama pun berlaku untuk hal apa saja terkait dengan keahlian seseorang.

Bayangkan kalau seandainya yang dijadikan contoh adalah Tukul Arwana, Agnes Monica, Melly Guslow, Kevin Aprillio, Charli ST12 ataupun Gita Gutawa pasti saya akan menikmati buku ini seperti sedang melihat infotainmen. Seluruh selebritis yang saya sebutkan di atas pada dasarnya mengikuti kaidah 10.000 jam Gladwell. Berapa tahun yang dibutuhkan oleh Tukul untuk menjadi ‘ndesso’ seperti saat ini, atau Agnes Monica yang akhirnya mimpi go internasionalnya terwujud? Atau Kevin Aprillio dan Gita Gutawa termasuk Melly Guslow yang dilahirkan oleh orang tua seorang musisi hebat. Bagaimana dengan Charli ST12? Sama, selain ia telah menghabiskan masa-masa sekolahnya untuk membolos karena lebih mencintai dunia musik ia pastilah telah mendapatkan kesempatan dipertemukan dengan orang-orang yang mengantarkannya pada kesuksesan. Dari tahun kelahiran? Saya sendiri tidak tau kapan tepatnya Charli lahir. Yang jelas ia mendapatkan momentum saat dunia musik nusantara booming. DI era 2007 ke atas band lahir bak cendawan di musim hujan. Begitu banyak bermunculan. Bayangkan seandainya Charli lahir pada tahun 1960…saya juga tidak yakin ia akan seterkenal ini.

Eits…hampir lupa, lalu…apa hubungannya dengan negeri 5 menara. Satu kesimpulan yang diambil oleh Alif Fikri setelah sekian lama di PM yang ada di halaman 382 novel tersebut: inti hidup itu adalah kombinasi niat ikhlas, kerja keras, doa dan tawakkal. Itu pulalah yang sebenarnya dalam konteks ke-Islam-an yang menjadi kunci kesuksesan. Saya yakin, anda pasti sudah membaca buku ini, atau bahkan sudah melihat film layar lebarnya?

PM sebagaimana yang digambarkan oleh A. Fuadi adalah pesantren yang membentuk karakter, kemampuan, keahlian, termasuk apa yang disimpulkan oleh alif yaitu keikhlasan para santri. Takdir Alif bersama para shahibul menara hingga mengantarkan mereka di berbagai belahan dunia tentu tidak bisa dilepaskan dari peran PM yang telah mendidik mereka hingga membentuk manusia yang siap menyambut kesuksesan. Begitu halnya kesempatan-kesempatan yang telah mempertemukan mereka dengan para kiai-kiai yang begitu menginspirasi dengan kata-kata Man Jadda Wa Jadda. Yang tak bisa dilupakan tentu saja peran ibu Alif yang begitu berkeras agar sang anak menjadi penerang jalan umat Islam, atau tetangga Baso yang dengan ikhlas bersedia membiayai sekolahnya.

Sulit untuk mengakhiri tulisan ini karena banyak hal yang bisa di ulas…tapi begitulah sesungguhnya. Kalau Gladwell memandang kesuksesan dari sisi ‘keberuntungan’ dan ‘kesempatan’ yang datang kepada kita barangkali itulah yang disebut sebagai takdir. Sang Pencipta telah mendesain semua sehingga kesuksesan itu datang kepada kita. Itu pula lah yang barangkali efek dari sebuah do’a yang memungkinkan kita bertemu pada seperangkat keberuntungan yang mengatarkan seseorang pada kesuksesan. Tentu tetap tak bisa menafikkan peran bahwa usaha seseorang pastilah berkontribusi pada sukses tidaknya orang tersebut. Karena bagaimanapun ‘Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali orang tersebut mengubahnya’. Kalau kemudian kita dipertemukan oleh kesempatan dan keberuntungan maka itu adalah bagian dari campur tangan Sang Pencipta. Wallahu’alam.

4 thoughts on “Outliers VS Negeri 5 Menara

  1. great, ulasannya bagus mbak, dakyu termasuk orang yang suka sekali dengan analisa tanggal lahir, geografis dan juga doa dengan kesuksesan seseorang. Pengin baca bukunya … tapi blum sempat cari2 dimana dapatnya

    1. seandainya buku itu ditulis oleh rhenald kasali pasti luwih uapik tenan fa. Karena buku translate an ya gitu aku sendiri kadang tak bolak balik. cuma memang gladwell selalu menawarkan sudut pandang baru. buku lainnya blink and tipping point juga apik fa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s