….dan karena hidup adalah sebuah petualangan…

Kali ini adalah kali kedua saya merasa bersyukur mendapatkan kesempatan untuk bekerja ditempat saya bekerja kali ini. Ah…sungguh dan karena sungguh saya yang belum bisa mensyukuri hidup. Mungkin karena sering mengangankan dan mengharapkan hal-hal ideal dari sebuah tempat kerja. Punya pimpinan yang visioner, integritas tinggi, ramah, baik dengan bawahan; punya rekan-rekan kerja yang luar biasa sehingga saya selalu merasa bersemangat untuk masuk kantor; punya suasana kerja yang menghargai kompetensi sehingga ada kejelasan reward dan punsihment; dll adalah semua hal yang saya impikan. Ah..tentu semua juga menginginkan begitu.

Kalau di fikir-fikir, saya layak dan harus bersyukur karena saya bekerja di sebuah instansi vertikal yang bukan dibawah naungan pemerintah daerah. Saya sendiri tak bisa membayangkan kalau saya ditakdirkan bekerja di pemda. Tentu saya tak bisa protes sembarangan, bicara seenaknya, menulis sekenanya, meledek senior sak enake dewe dan lain sebagainya.

Rasa syukur saya kali ini lebih karena pekerjaan saya memungkinkan saya untuk selalu ‘bertualang’ secara fisik atau secara fikiran. Ya..bagaimana tidak, hari ini ketika saya melakukan tugas yang pada awalnya saya kritisi habis ternyata justru mempertemukan saya dengan anak-anak muda yang luar biasa. Menurut beberapa data BPS daerah yang saya kunjungi ini termasuk daerah tertinggal dengan IPM di peringkat bawah di antara kabupaten lain di Sulsel. Dua hari sebelum penugasan ini saya mendapat kesempatan untuk menghadiri simposium pembangunan yang kebetulan juga membahas masalah peningkatan IPM. So..klop lah sudah. Pencerahan yang saya dapatkan di simposium rupanya cukup menjadikan sulutan api semangat untuk berkelana menjelajahi alam pendidikan di kabupaten yang saya tuju. Jadi, meski diawali dengan gerutuan saya atas penugasan dadakan ini di sisi lain terbesit harapan untuk mendapat ‘efek samping’ selain sekedar sebuah laporan penugasan.

Begitulah, terbukti..dua hari ini efek samping itu sudah mulai terasa. Terlepas dari berbagai permasalahan pelik yang dihadapi masyarakat, sang bupati mempunyai satu progam yang layak untuk diapresiasi, yaitu membangun sebuah sekolah khusus. Dikatakan khusus karena hanya anak-anak istimewa yang bisa masuk sekolah tersebut. Bayangkan saja, persyaratan awal yang ditetapkan adalah rangking 10 besar dan rata-rata nilai 8,5. Dari bibitnya saja sudah unggul, apalagi kalau kemudian mendapat pupuk dari guru-guru yang luar biasa. Makanya, tak heran ketika Yohanes Suryo pun mengatakan bahwa ‘tidak ada anak yang bodoh. Yang ada adalah anak-anak yang belum menemukan guru-guru terbaik’. Nah, apalagi kalau dari sisi inputnya saja sudah ok. Jadi bisa dibayangkan keluaran yang dihasilkan. Ketika mendapat kesempatan untuk berbincang dengan beberapa siswa, sungguh saya mendapatkan sorot-sorot mata yang begitu tajam menghujam dengan sebuncah asa untuk menggenggam masa depan. Kalau sorot mata itu saya temukan di kota-kota besar mungkin rasa yang mengoyak dada tak akan sanggup mendorong air mata haru untuk keluar. Sorot mata itu saya temukan di sebuah kabupaten yang saya sendiri bingung mo kasih rekomendasi apa untuk sang pembuat kebijakan untuk mengeluarkan diri dari segala permasalahan ketertinggalan pembangunan. Ya..buat saya sorot mata itu adalah secercah harapan ditengah keputusasaan.

Tadi pagi, saya temukan sosok guru yang menurut andrea hirata mungkin bisa disebut ‘bu mus’. Bayangkan saja, selama ini guru sering dianggap paling bertanggunjawab terhadap cerdas tidaknya seorang murid. Mereka pun sering dipersalahkan atas rusaknya moral generasi muda. Padahal, dari sisi penghasilan siapa pun tau berapa penghasilan mereka. Untung saja saat ini sudah ada sertifikasi yang sedikit banyak mengangkat harkat hidup mereka. Terus terang saya sendiri merasa tertohok ketika ia mengatakan ‘dari hasi sertifikasi yang saya terima saya belikan LCD dan laptop karena di sekolah hanya ada satu, bu’. ‘Alhamdulillah, itu sangat membantu dan tahun kemarin kami mendapatkan juara dalam lomba IPS se-kabupaten’ ungkapnya dengan tatapan yang cerah dan penuh ketulusan.  Tiga belas telah juta ia belanjakan untuk membeli seperangkat alat pembelajaran demi sebuah kemajuan dan harapan agar siswa mendapatkan layanan pendidikan yang lebih maksimal. Lagi-lagi sebuah inspirasi di pagi hari….

Siangnya, lagi-lagi air mata saya hampir menetes ketika mendapati sorot-sorot mata lain di sebuah sekolah sekitar 17 kilometer dari pusat kota kabupaten. Untuk kesana pun jalanan cukup terjal hingga saat ini punggung masih terasa pegal-pegal. Saya sendiri pun tak pernah membayangkan semua ini bisa terjadi. Mungkin bisa dikatakan saya auditor yang paling lebai. Bagaimana tidak, ketika wanwancara saya dengan kepala sekolah berakhir saya dipersilahkan untuk melihat suasana kelas khususnya kelas khusus. Nah, kelas khusus ini memang bagian dari upaya bupati untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Di kelas ini siswa belajar hingga pukul 15 dengan mata pelajaran yang lebih banyak dan untuk hari-hari dan jam tertentu mereka diwajibkan untuk memakai bahasa Inggris. Kebetulan saat itu mereka sedang belajar Bahasa Inggris. Awalnya agak canggung juga ketika saya diminta berdialog dengan siswa. Dengan sok akrab saya mencoba menyapa mereka ‘hi guys, how are you?’. Untung masih ada bahasa Inggris yang masih tertinggal di kepala saya. Mereka begitu antusias ketika saya ‘khotbah’kan tentang masa depan, tentang dream, tentang dunia. Ah..sungguh saya tak dapat melupakan sorot mata itu. Sorot mata itu sepertinya ingin menarik diri saya untuk beralih profesi..mengajar di daerah-daerah pedalaman seperti yang pernah terbersit dalam fikiran saya beberapa tahun silam. Mungkin, sorot mata itu pula yang sanggup membuat para guru dan honorer bertahan dengan penghasilan minim mengajar di daerah pelosok…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s