LAKIP? SO WHAT GITU LHO…

Jika dihitung dari saat diterbitkannya Inpres No 9 tahun 1999 hingga sekarang, maka dunia per-LAKIP-an telah berjalan selama hampir sepuluh tahun. Setiap tahun pun evaluasi LAKIP yang dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas pelaporan akuntabilitas selalu dilaksanakan sebagai sebuah rutinitas. Permasalahannya, mengapa kualitas LAKIP sepertinya tidak berubah setelah sembilan tahun disosialisasikan? Mengapa pemerintah daerah pun sepertinya masih memandang sebelah mata terhadap LAKIP? Atau yang lebih menyakitkan: Mengapa LAKIP yang sudah dengan susah payah kita assistensikan pada akhirnya hanya disimpan di dalam lemari buku? Tulisan berikut akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan pendekatan filosofis dan konseptual.

Memang benar, dilihat dari sisi perundang-undangan, dasar hukum penyusunan LAKIP tidak memberikan punishment yang membuat pemerintah daerah terdorong untuk berakuntabilitas. Tidak ada sanksi yang tegas apabila LAKIP tidak disusun, apalagi sanksi atas tidak dimanfaatkannya LAKIP. Ketiadaan sanksi ini bisa jadi membuat pemerintah daerah enggan meningkatkan kualitas pelaporan akuntabilitas.

Kedua, LAKIP belum menyajikan informasi kinerja. Artinya LAKIP yang selama ini disusun mungkin belum ada value added-nya buat pemerintah daerah. Alhasil, tidak ada insentif pemerintah daerah untuk memanfaatkan LAKIP karena tidak memberikan kontribusi perbaikan kinerja. Informasi yang selama ini disajikan dalam LAKIP lebih merupakan sekumpulan dari output kegiatan-kegiatan yang tidak mencerminkan kinerja organisasi. Kalaupun outcome disajikan maka akurasinya diragukan mengingat pemahaman merekapun masih teramat dangkal. Tidak heran kalau tingkat pencapaian ”kinerja” rata-rata mencapai seratus persen. Dengan demikian, pemerintah daerah merasa tidak perlu untuk melakukan analisis kinerja mengingat semua target capaian kegiatan sudah tercapai.

Dalam organisasi bisnis, pengukuran kinerja digunakan dalam keputusan mengenai gaji, bonus, penempatan di masa depan dan pengembangan karir (Hongren, Foster & Datar). Artinya, ada garis yang jelas antara kinerja dengan reward atau pun punishment yang akan diterima oleh manajer sehubungan dengan pengelolaan subunit organisasinya. Kegagalan mencapai kinerja yang ditargetkan bisa berarti penurunan income para manager. Berbeda dengan organisasi bisnis, ukuran-ukuran kinerja instansi pemerintah relatif lebih sulit untuk diukur. Mengukur profitabilitas, Return on Investment ataupun produktivitas tentu saja lebih mudah dari pada mengukur kinerja dinas tenaga kerja, apalagi kantor pemberdayaan masyarakat. Makanya, selama LAKIP belum mampu menyajikan informasi kinerja, selamanya pemerintah daerah tidak akan memanfaatkan LAKIP yang sudah susah payah kita berikan asistensi.

Kondisi ini mungkin akan berbeda seandainya LAKIP telah menyajikan capaian-capaian indikator kinerja yang sesungguhnya. Maksudnya, sasaran-sasaran telah diukur dengan menggunakan indikator yang tepat. Misalnya, untuk bidang pedidikan bisa digunakan angka melek huruf ataupun angka partisipasi kasar sebagai indikator untuk mengukur kinerja dinas pendidikan. Selama ini, meskipun sudah ada Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang memudahkan pemerintah daerah untuk menyusun indikator kinerja, sebagian besar dinas pendidikan malah menggunakan indikator-indikator yang tidak jelas keterukurannya. Mengapa bisa terjadi?

Tunggu setelah pesan-pesan berikut..he..he..he…

2 thoughts on “LAKIP? SO WHAT GITU LHO…

  1. betul skali, kbanyakan Lakip hanya permainan kata yg sbenarnya intinya “apa benar smua kegiatan sdh terlaksana berdasarkan visi dan misi KD dan SKPD terutama utk masyarakat” serta tdk berisi SWOT. layaknya warung yg tdk membutukan laporan apa2 padahal perusahaan terbesar sdg mreka kelola.

    1. sepakat, sayang sekali ya padahal secara konsep sangat luar biasa. betul kata mas jerry, kepeduliannya sangat minim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s