BACKYARDIGAN AND MY COMFORT ZONE

Adakah alasan untuk meninggalkan tempat ini? Sungguh dan karena sungguh tempat ini begitu nyaman. Setiap pagi kami biasa menikmati sarapan di sini. Tak begitu rapi bahkan meja kursi pun seadanya. Diding juga tidak ber-cat indah yang membuat suasana menjadi sangat nyaman. Tapi, begitulah…di tempat ini pula lah saya biasa menengadah melihat jambu-jambu biji sambil melihat dua gadis kecil berlarian atau sekedar bersepeda. Jambu-jambu itu begitu memikat sehingga tak bosan-bosannya mata saya mencar-cari jikalau ada salah satunya yang masak. Begitu juga dengan kedua gadis kecil yang selalu berlarian ceria sambil berceloteh segala hal.

Tempat ini sungguh terlalu indah untuk saya tinggalkan… Sebatang pohon kelapa yang telah menemani kami lebih dari empat tahun membuat halaman belakang menjadi terlihat lebih kokoh. Belum lagi kalau saya edarkan pandangan ke sisi lain. Pohon rambutan dengan batang sebesar jempol kaki saya itu akhir tahun lalu memberikan warna warni kemerahan yang membuat kami selalu setia menunggu setiap perubahan warnanya. Tiga batang pohon apel yang entah apakah suatu saat kelak akan memberikan buahnya tetap setia mewarnai tempat ini. Hffuiih..lalu, kenapa saya harus beranjak?

Di tempat ini pula saat saya duduk di sebuah kursi buatan tahun 70-an sering terfikir galau menghadapi perjalanan yang telah kami pilih. Ah..galau itu sama dengan kegalauan yang pernah saya alami tujuh tahun silam. Saat itu amira masih berusia 5 bulan sementara sebagai ibu baru saya cukup kewalahan mengurus bocah yang kini berusia hampir tujuh tahun itu. Saat saya tatap bayi kecil itu fikiran saya melayang sambil berfikir ‘bisa kah saya jalani hari-hari saya?’. Bodan Prakoso mengatakan

a…pa pun yang terjadi..

coz everything it’s gonna be all right..

ku kan slalu ada untukmu..

Begitulah…semua bisa dilewati dengan baik. Hingga akhirnya saya bisa duduk di tempat sederhana ini sambil kembali menerawang masa depan. Banyak alasan yang kami miliki tujuh tahun yang lalu sehingga tekad itu begitu kuat menarabas segala keraguan. Kini? Hmmm…di satu sisi impian untuk hidup di negara maju dan menapakkan kaki di kota dunia sungguh begitu memikat. Tak hanya itu, setidaknya saya ingin menebus apa yang beberapa tahun lalu belum sempat saya lakukan. Di tambah lagi, tradisi akademis yang luar biasa membuat saya bisa menjelajah literatur dari seluruh penjuru dunia yang lebih dari empat tahun ini tidak saya dapatkan.

Apakah kedua hal itu sudah bisa membuat saya beranjak??

Mungkin kursi yang saya duduki seperti kursi-kursi pejabat yang membuat mereka enggan berdiri. Kembali saya merenung sambil menatap jambu-jambu biji dan sesekali tersenyum menyaksikan kedua gadis kecil itu berceloteh. Ya..kedua gadis itu bernyanyi dan menari sesukanya.

Pendidikan kedua gadis itu sungguh membuat saya galau. Memang dari sisi perpolitikan dan pemerintahan negeri ini sungguh sangat memprihatinkan. Tapi, sebagai seorang anak yang pernah mengenyam pendidikan di bumi Indonesia ini, pendidikan agama masih bisa diharapkan. Selain bersekolah di sekolah Islam terpadu Amira sangat menikmati hari-hari-nya di TPA. Mengeja iqra sambil menghafal juz ama setiap dua hari sekali bagi gadis kecil itu sama indahnya dengan petualangan mencari ketimbang. Tentu, ini juga menjadi peringan tugas saya menanamkan ilmu Allah. Bagaimana kalau kami kemudian hijrah dari tempat ini? Tentu, tugas itu sedikit banyak menjadi tanggungjawab saya. Belum lagi jika empat tahun kemudian kami kembali lagi ke sini. Buat saya sepertinya tidak masalah, tapi buat kedua gadis kecil itu tentu menjadi PR tersendiri karena harus ada penyesuaian mata pelajaran di sekolah. Hmmmm…

Pekerjaan? Sungguh dan sungguh saya merasa sangat mencintai apa yang saya lakukan. Sungguh dan karena sungguh karena saya bisa menjadikan pekerjaan itu ibarat lautan yang menyediakan lab luar biasa untuk bereksperimen. Dan yang pasti, pekerjaan memungkinkan saya mengenal banyak orang.

Lalu, kenapa harus beranjak?

Seperti yang pernah saya katakan suatu ketika kepada seorang kawan: …sekedar mencari alternatif takdir hidup saya. Kalau Amartya Sen menyatakan tentang kebebasan atau hak individu sebagai bagian dari definisi pengentasan kemiskinan, maka alasan saya hampir sama. Sen mengatakan bahwa kemiskinan membuat manusia tercerabut dari kebebasannya. Kebebasan yang dimaksud oleh Sen adalah kebebasan individu untuk memilih: memilih bersekolah atau tidak, memilih makan di mana, memilih bekerja di mana dan seperangkat pilihan-pilihan lainnya. Mencari alternatif takdir itu lah yang saya maksudkan sebagai membuat pilihan-pilihan hidup sehingga jalan itu tidak hanya satu. Jalan itu tidak hanya sekedar membuat saya tetap di sini duduk menikmati jambu-jambu biji sembari merasakan semilir angin. Tapi, ada jalan lain yang mungkin akan mengantarkan saya, kedua gadis kecil dan ayahnya untuk menapaki jalan-jalan lain yang barangkali lebih indah dari yang kini kami nikmati.

Rhenald Kasali dalam Myelin menyebutkan tentang Disiplin Ekspansi sebagai satu bagian penutup bahasan terakhir elemen pembentuk Myelin. Elemen-elemen pembentuk Myelin tersebut adalah Culture of Discipline, Intrapreneuring, Knowledge Discipline, Value Creation Discipline dan yang terakhir adalah Disiplin Ekspansi. Penjelasannya atas disiplin ekspansi sebenarnya sangat sederhana. Rhenald mengambil contoh sebuah perusahaan yang kemudian berkat usaha sang pemilik akhirnya berkembang. Banyak perusahaan di masa lalu yang kemudian bertumbangan tidak mampu bertahan karena merasa sudah puas dengan apa yang sudah di raih. Saya masih ingat sewaktu kecil ada permen Pindy. Permen itu begitu populer sekali tapi lihat saat ini. Atau Chiki yang gurih dan memikat lidah anak-anak. Untuk urusan  rumah tangga saya masih inget sekali kala itu ada sebuah merek sabun colek yang bahkan ada seorang artis tahun 80an yang menyematkan merk sabun tersebut pada namanya. Tapi sekarang? Hmmm.. produk-produk itulah yang semasa jayanya begitu nyaman dalam sebuah zona hingga satu aspek terlupakan: Expansi. Ekspansi menjadikan produk tetap eksis dan usaha bertahan lama.

Saya fikir logika disiplin ekspansi pun bisa diterapkan dalam area individu yang mengharuskan setiap manusia untuk selalu tumbuh dan berkembang. Tak ada alasan untuk tetap duduk dan menikmati apa yang ada sepanjang hayat tanpa sebuah gerakan untuk maju. Meski…dan meski harus tertatih karena itu adalah bagian dari upaya untuk mencari ekuilibrium baru yang akan senantiasa ada.

7 thoughts on “BACKYARDIGAN AND MY COMFORT ZONE

  1. Hidup selalu dihadapkan pada pilihan. Bahkan memilih diam pun ada yg harus dilepaskan. Layaknya hukum fisika, jika ada yang kita ambil pasti ada yang harus dilepaskan.

    1. betul mbakyu..setiap saat kita dihadapkan pada pilihan termasuk pilihan menu apa yang akan kita sajikan di meja dibandingkan dengan tingkat kesulitan dan energi yang dibutuhkan untuk menyajikannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s