JUST DO IT..

Andai saja saya bisa memilih…saat ini saya ingin beristirahat. Sejak desember tahun lalu sepertinya kegiatan saya begitu padat hingga terasa susah bernafas. Harapan saya kegiatan tadi pagi adalah kegiatan akhir dimana saya mulai bisa menghela nafas agak panjang sembari menyelesaikan satu ‘hutang’ pekerjaan. Belum sempat menikmati istirahat yang relatif saya sudah dibuat galau oleh supervisor saya.

Galau itu begitu mempengaruhi seluruh rasa hingga membuat saya begitu ‘aras-arasen’ melakukan sesuatu. Bahkan hingga saat ini saat saya tulis baris demi baris tulisan ini. Semoga saya di tengah perjalanan menulis ini rasa galau itu akan menyingkir dengan sendirinya. Saya mencoba menggali apa sebenarnya yang membuat saya begitu galau. Lokasi? Hutang pekerjaan? Respon counterpart? Atau gak tega sama bocil? Hmm sepertinya semua tumpah menjadi satu alasan yang menimbulkan rasa di dada begitu menyesak. Lokasi penugasan kali ini memang cukup jauh, setidaknya membutuhkan waktu semalam untuk sampai di tempat tujuan. Tapi, dengan kualitas bis yang nyaman saya rasa itu bukan masalah.

Hutang pekerjaan? Bisa jadi. Pekerjaan yang menumpuk menuntut semua untuk ditangani pada saat yang bersamaan. Di sisi lain, saya tidak mau setengah-setengah. Hasil yang saya berikan harus membawa perubahan. Atau faktor ini yang membuat saya begitu galau ya…. Saya memang menetapkan target pribadi atas penugasan yang saya lakukan. Pertama tentu harus ada manfaatnya buat saya. Kalau manfaat finansial jelas itu tak perlu ditanyakan lagi. Manfaat yang saya harapkan tentu lebih pada aspek pengembangan pemikiran terkait dengan perbaikan pada konsep dan metodologi pendampingan yang saya lakukan.

Target Change selalu saya tancapkan di dada saya. Dalam kondisi yang mepet seperti ini, bisakah target tersebut bisa saya capai? Hmmm sepertinya saya harus mengevaluasi kembali. Nah, kalau begitu sekarang saatnya menurunkan target dengan memperhatikan kapasitas layanan yang bisa diberikan. Kedua, hutang pekerjaan. Ini juga menjadi ganjalan yang belum sempat saya musnahkan. Kesibukan pendampingan atas sesuatu yang memang saya sukai cukup menyita waktu saya sehingga hutang pekerjaan belum mampu saya bayar.

Kalau saja hutang itu sudah lunas, mungkin saya akan melangkah lebih ringan. Ketiga, respon counterpart. Pengalaman tahun lalu yang saya dapatkan atas respon ini cukup membuat saya resah. Ah…cukup sampai di sini dulu tulisan saya. Satu hal yang harus saya selesaikan supaya galau ini enyah adalah…just do it. Artinya, lunasi dulu hutang. (27 Februari 2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s