Pengalaman wawancara ADS

Hari ini, senin 9 Januari 2012, adalah bagian dari hari bersejarah dalam hidup saya. Sebenarnya bukan cuma hari ini tapi ini sejak dua hari lalu. Dan dari tiga hari tersebut hari ini lah yang paling menentukan. Entahlah isyarat apakah ini yang jelas sabtu lalu jempol dan kelingking kanan saya kena air panas sewaktu menuangkan air ke termos pagi sebelum berangkat test. Cukup mengganggu aktivitas meski tak terlalu signifikan. Rasa perih untung berakhir sehari kemudian. Tapi, di hari yang sama entah kenapa ujung telapak jempol dan telunjuk saya tergores. Biasa…kecelakaan ringan di dapur menjadi hal yang lumrah bagi ibu rumah tangga. Tetap saja, rasa perih terasa saat harus cuci piring. Terpaksa saya mendayagunakan tangan kiri. Senin hari, pagi-pagi sekali tenggorokan saya begitu gatal dan terasa ‘nggreges-nggreges’.

Ya hari ini adalah saat dimana saya akan memperjuangkan masa depan dalam waktu sekitar 30 menit. Sebelum dimulai kami para calon-calon ‘korban’ dikumpulkan dan diberikan pengarahan sesaat oleh interviewer yang berasal dari universitas cendrawasih dan dari canberra. Payahnya saya mendapat urutan ke-7 untuk diwawancarai. Padahal, saya sudah tiba di tempat pukul 7.10. Artinya, saya harus memperluas rasa kesabaran saya karena harus menunggu hingga pukul 13.30. Ah…biarlah..semoga semua ada hikmahnya.

Pertanyaan pertama yang ditanyakan begitu saya duduk di kursi pesakitan adalah research background. Alhamdulillah bisa saya jawab dengan lancar ditambahi bumbu-bumbu penyedap. Ternyata, sang interviewer punya concern yang sama dengan tema riset yang saya ambil. Hampir semua pertanyaan saya jawab dengan lancar karena kebetulan riset saya tentang pengukuran kinerja. Ya..paling tidak sudah hampir tiga tahun saya bergelut dengan masalah itu. Pertanyaan hanya seputar hal itu.

Dua hal yang mungkin agak diluar dugaan adalah saat sang interviewer menanyakan ‘do you know about Slemen?’. ‘Duh..siapa lagi orang itu?’ Prediksi saya Slemen adalah seorang peneliti terkenal yang pendapatnya menjadi acuan periset pengukuran kinerja. Mungkin fikiran saya masih terbawa pada diskusi dengan teman-teman sesama ‘korban’. Ya….beberapa jam sebelumnya saya sempat membincangkan tentang penyebutan nama tokoh ketika kita berbicara menjawab interviewer. Seorang teman mengatakan bahwa penting sekali untuk ‘menggenggam’ sebuah nama untuk nantinya di sebutkan ketika kita mengeksplorasi jawaban. Setidaknya biar kelihatan mantap, begitu menurutnya. Saya ulang lagi ‘Slemen?’ dengan sorot mata tak pasti saya menatapnya. Sambil menoleh pewawancara menanyakan ke interviewer 2 untuk menyakinkan bahwa dia telah mengucapkannya dengan jelas.

Tapi sebelum dijawab rekanna…Aha…Sleman..yeah..Sleman…Hmmmm…beberapa detik kemudian tenggorokan saya tercekat. Apa yang saya tau tentang Sleman ya? Diam sesaat..Masak saya mau jawab ‘Hmmm I know Sleman. It’s close to my hometown’. Ah pasti klo saya jawab begitu akan mengancam kans saya karena saya dianggap orang ‘barat’. Pikiran saya pun berkelana memutar kembal ingatan saya pada masa tiga tahun yang lalu. Alhamdulillah, samar-samar gambaran Sleman muncul di otak saya. Sleman adalah salah satu kabupaten yang telah mempunyai dokumen perencanaan yang berorientasi pada hasil.  Tiga tahun lalu saat mendapat penugasan asistensi penyusunan RPJMD saya sempat search di internet dokumen perencanaan yang disusun oleh pemerintah daerah. Saya mendapati bahwa diantar dokumen2 perencanaan yang disusun oleh pemerintah daerah Sleman lah yang telah memasukkan indikator kinerja yang memenuhi kriteria indikator kinerja yang baik. Rupanya ‘Tangan Tuhan’ telah bekerja dengan sempurna.

Pertanyaan kedua yang membuat saya terperangah adalah soal PBB di pemda yang realisasinya masih rendah. Pertama dia lontarkan pertanyaan itu sebenarnya saya paham benar apa yang dia tanyakan. Tapi saya tidak punya cukup pengetahuan untuk menjawabnya. Pura-pura tidak bisa menangkap maksud pertanyaannya, saya pun mengatakan …sorry…sambil menatapnya dengan sorot mata memohon pertanyaan diulang. Ya..setidaknya bisa mengulur waktu dan berharap ada ilham yang melintas.

Lagi-lagi ‘tangan Tuhan’ terulur untuk menjembati fikiran saya dengan apa yang telah saya lakukan beberapa tahun silam. Yup……saya jadi ingat kisah waktu menjadi narasumber pajak daerah tiga tahun silam. Pengalaman yang bener2 nekat karena berani menjadi narasumber padahal saya tidak cukup menguasai masalah. Hanya karena didampingi senior dan berharap menambah wawasan saya terima tantangan itu. Ya..kalau tidak dipaksa jarang-jarang saya mau belajar.

Akhirnya saya coba ingat-ingat kembali dan syukurlah akhirnya fikiran saya mampu mengeluarkan kembali ‘file’ PBB dari otak saya. Akhirnya saya jelaskanlah beliau ini dengan panjang lebar masalah yang dihadapi pemda. Dari sulitnya mencari tax payers yang tidak bermukim di wilayah pemda yang bersangkutan hingga ketidakmampuan masyarakat miskin untuk membayar PBB.

Tangan Tuhan…dua kata itu selalu saya ingat sejak dosen saya menyinggungnya sepuluh tahun lalu. Saat itu saya tidak tau bahwa istilah tangan Tuhan mulai marak saat Diego Maradonna berhasil menggolkan gawang lawan melalui tangannya (bener gak sih). Dalam konteks yang lebih luas dosen saya ini mengistilahkan tangan Tuhan atas petunjuk-Nya yang datang tiba-tiba saat ujian. Pernahkah anda rasakan bahwa di detik2 terakhir jelang ujian berakhir tiba-tiba tangan anda begitu lancar menjawab pertanyaan bahkan hingga anda meminta lembar jawab tambahan.

Tangan Tuhan atau pertolongan Sang Pencipta selalu datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Sama halnya suatu ketika saya diberi amanah untuk mengajar SAKD atau sistem akuntansi keuangan daerah. Sebenarnya saya tidak terlalu menguasai. Secara teori saya bisa memahami. Hanya saja saya belum pernah mendapat tanggung jawab untuk melakukan penugasan terkait dengan penyusunan laporan keuangan kecuali dulu tahun 2002. Lagi-lagi saya terima tugas mengajar tersebut. Alasannya pun sama dengan saat penugasan menyampaikan materi pajak daerah. Bagi saya yang punya background akuntansi, memahami akuntansi keuangan daerah tidaklah terlalu susah. Hanya saja, peserta ajar saya ini punya background pendidikan macam-macam yang karena selembar SK mereka diamanahi untuk menjabat sebagai kasubbag keuangan. Memahami debet dan kredit serta konsep dasar akuntansi bagi insinyur ataupun tenaga kesehatan mungkin sama beratnya ketika saya harus belajar tentang fisiologi tubuh manusia ataupun struktur bangunan. Sebelum hari-H tiba saya konsultasikan hal ini dengan rekan saya yang terbiasa memberikan pelatihan ke pemda. Karena beliau bergender laki-laki maka teknik yang ia gunakan adalah dengan menggunakan kantong kiri kemeja dan kantong kanan celana panjangnya. Debet ia terjemahkan sebagai kantong kiri. Sebaliknya, kantong kanan celananya ia namakan kredit. Untuk menggambarkan siklus keluar masuk uang ia gambarkan dengan kedua kantong tersebut.

Bagaimana dengan saya? Jujur awalnya saya hampir terjebak dengan memberikan penggambaran yang membuat sakit kepala. Saat saya tatap peserta, jelas tergambar sorot mata kebingungan ketika saya hanya menjelaskan konsep debit dan kredit. Lalu saya pun terfikir untuk mencoba mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari peserta dengan meminta voluntir yang kebetulan mempunyai usaha. Sayang, tak ada yang mengaku. Saya pun akhirnya mengarang cerita. Misalnya saya punya kios di pasar. Modal awal saya, untuk memudahkan, 50 ribu. Lalu untuk memulai usaha saya beli barang dagangan anggap pakaian dengan harga 20 ribu rupiah. Apa jurnalnya? Saya coba jelaskan satu persatu kenapa jurnalnya begini kenapa begitu. Kenapa kredit kenapa debet. Tapi, tetap saja masih membingungkan. Jujur, saya pusing harus dengan cara apa lagi harus saya jelaskan ini semua. Entah bagaimana ceritanya, saya tiba-tiba mengatakan ke seorang peserta. Pak, pinjam uangnya 50ribu. Si peserta nampak kaget, mungkin dikira saya main-main. Tenang saja pak pinjam ji pak nanti saya kembalikan, kalau tidak ada 50 ribu 5 ribu juga tidak apa-apa, kata saya sambil becanda. Dengan uang itulah, saya tertolong. Ternyata pengajaran dengan praktek punya pengaruh lebih dahsyat dari pada hanya dengan kata-kata. Modal 5 ribu itu tadi kemudian saya bawa ke dunia nyata bahwa jika saya meminjam uang 5 ribu, bagaimana jurnalnya? Saya tanyakan kepada peserta sambil menunjukkan uang 5 ribu tadi. Nah, kalau kemudian saya mau beli barang dagangan 3 ribu ke ibu (salah satu peserta) apa jurnalnya? Sambil saya sodorkan 5 ribu dan meminta uang kembalian 2 ribu.

Begitulah.. akhirnya akuntansi menjadi mudah dipahami. Saya tidak pernah terfikir teknik itu. Lagi-lagi Tangan Tuhan lah yang telah bekerja membantu saya dengan cara yang tidak disangka-sangka. Hingga akhirnya memunculkan ide untuk mengajak peserta bermain monopoli saja jika suatu saat kelak mendapat penugasan yang sama. Pasti lebih mengasyikkan.

Yohanes Suryo dengan teorinya Mestakung alias Semesta Mendukung pun pada prinsipnya memperkenalkan konsep yang sama dengan istilah Tangan Tuhan. Di saat-saat terdesak, manusia bisa melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan jika ia berada dalam kondisi normal. Atau sama juga dengan hukum gravitasi yang dalam konsep modern mengatakan bahwa  ketika kita mempunyai suatu keinginan atau hasrat untuk kemaslahatan maka alam semesta akan mendekatkan dirinya kepada kita dan mengantar kita menjemput asa. Lalu apa hubungannya dengan cerita awal saya tadi ya (hmmm dihubung-hubungkan sajalah..he..he…).

2 thoughts on “Pengalaman wawancara ADS

  1. Kata Andrea Hirata, penulis buku penomenal Rainbow Troops “Bermimpilah, dan Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.” segala kejadian hidup adalah suatu keterkaitan yang telah digariskan oleh-Nya, Maktub, it is written. Tinggal upaya bagaimana kita mencari dan menemukan “personal legend” untuk mengukir sejarah.
    cerita diatas betul-betul menginspirasi. ternyata segala sesuatu bisa menjadi sumber belajar yang baik, dan Tuhan selalu ada untuk itu, membuatnya menjadi mungkin. kum pa ya kun. maka terjadilah.
    semoga sukses ya…
    amin….

  2. setuju asri. aku sendiri sudah lupa soal yang dikatakan andrea soal itu tapi yang aku ingat kata2nya bahwa hidup ini bagaikan mozaik2 yang membentuk lukisan kita di masa depan. ya..semuanya terkait termasuk saat kita aktif di Makes juga bagian dari satu mozaik yang menjadi ‘bekal’ dan fondasi untuk menggapai mimpi. Proses belajar bahasa inggris dan belajar berdiskusi dan berfikir adalah bagian terpenting dalam hidupku yang belum pernah kutemukan di tempat lain. termasuk juga pekerjaan. Intinya menurutku ‘nikmatilah dengan sungguh-sungguh segala hal yang telah diberikan kepada kita karena kita tak akan pernah tau bahwa apa yang sudah kita upayakan akan memberi manfaat kepada kita’ atau dalam bahasa ayatnya ‘mungkin kamu menganggap sesuatu itu baik tapi disisi Allah buruk. sebaliknya mungkin kamu menganggap sesuatu itu buruk, tapi disisi Allah itu baik. Btw ada blognya asri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s