Us, dimana ku harus mencarimu?

Kali ini saya akan bercerita tentang seorang sahabat saya..sahabat yang hilang entah kemana. Segala upaya pencarian melalui internet sudah saya tempuh. Di facebook saya coba ketikkan namanya dalam beberapa versi tapi tak ketemu juga. Bertanya ke mbah google ada sedikit informasi namun tetap tak bisa saya tindaklanjuti. Nomor telfon rumah yang pernah dia berikan ternyata sudah tidak aktif lagi setelah saya hubungi. Kalau begini, mungkin saya harus mendaftar ‘termehek-mehek’ untuk menemukannya.

Dia lah yang mengubah saya dalam banyak hal…ah..sungguh teramat banyak…. termasuk dalam sejarah dunia kepenulisan saya. Tulisan ini pun saya dedikasikan buatnya..buat segala hal yang pernah ia ajarkan kepada saya. Sekaligus sebagai salah satu upaya mengetahui keberadaanya. So  please.. jika anda menemukan sosok yang saya ceritakan berikut tolong sampaikan padanya bahwa saya ingin bertemu.

Nama lengkapnya Khusnul Hotimah, biasa dipanggul UUS. Tanggal lahirnya 26 Juni selisih dua hari dengan saya. Mungkin kedekatan hari lahir itu pulalah yang membuat kami begitu dekat. Ia besar di Balikpapan. Selepas SMA tahun 1992 ia melanjutkan di Universitas Hasanuddin mengambil jurusan hukum hingga lulus tahun 1999. Tahun 2000 ia sempat mendaftar program pasca sarjana di UGM. Tapi ternyata, ia lebih memilih kuliah di UI. Saya tidak tau persis program apa yang ia ambil. Kalau tidak salah hubungan internasional.

Pertemuan dengannya berawal ketika saya menempati kos-kos-an baru setelah tiga bulan menapaki bumi anging mammiri. Di tempat kos saya menempati lantai tiga. Kamarnya UUS tepat di sebelah kamar saya. Satu hal yang membuat saya berfikir bahwa dia akan menjadi kawan baik saya adalah ketika saya dapati ‘surat dari kanjeng nabi’-nya Emha di atas mejanya pertama kali saya mencoba berkenalan dengan para penghuni kost. Saat itu saya sedang gandrung-gandrungnya dengan budayawan asal Jogja tersebut. Diantara penghuni kost lainnya kami berdua yang paling senior dari sisi usia.

Begitulah..karena kesamaan usia rupanya memperekat persahabatan kami. Tidak banyak kisah yang sempat kami lalui bersama karena sebenarnya kami berdua mempunyai karakter yang cukup berbeda. Saya lebih suka berkelana keliling kota dengan meminjan sepeda motornya sementara UUS sendiri lebih menikmati kesendirian di dalam kamar yang letaknya di ujung lorong. Kebetulan letak kamar di ujung memungkinkannya untuk melihat penjuru kota dari dua sisi. Ditambah lagi jendela yang cukup lebar dan vetilasi yang baik membuat penghuni seperti di nina bobokan oleh angin sepoi-sepoi. Kisah kami hanyalah sekedar kisah diskusi dan curhat di kamarnya atau terkadang di kamar saya. Namun dari diskusi dan curhat itulah yang membuatnya menjadi seseorang yang banyak mengetahui liku hidup saya di kota ini, dari keluarga hingga asmara. Saya pun cukup tau banyak tentangnya meski saya sendiri tidak terlalu yakin apakah baginya saya adalah orang yang paling mengerti perjalanan hidupnya.  

Bagi saya, UUS sangat berarti karena kepadanyalah tempat saya bercerita suka dan duka. Satu hal yang tak pernah saya lupakan ialah dia selalu menawarkan diri untuk membuatkan secangkir teh dan memijit kepala saya setiap kali diserang sakit kepala hingga saya hampir tertidur. Saya sendiri tidak habis mengerti bagaimana jari-jari mungilnya terasa begitu kuat mengusir rasa sakit di kepala saya. Sebaliknya, saya tak bisa berbuat apa-apa ketika migrain-nya datang selain hanya bisa mendoakannya. Karena biasanya ia mematikan lampu sambil berharap deritanya akan segera lewat. Us..masihkah penyakit itu sering menyiksamu?

Pastinya, yang tak akan pernah saya lupa adalah kebiasaan saya yang selalu meminjam motornya untuk berkeliling kota hingga sepertinya saya lah pemiliknya. Ah..sesungguhnya tak hanya motor, dia pun meminjamkan tas dan sandal gunungnya untuk saya gunakan berpetualangan dari satu english meeting club ke club lainnya.

Satu pengalaman yang kami anggap cukup ‘gila’ waktu itu adalah ketika ia menunjukkan baju-baju seonggok ‘bekas’-nya yang masih kelihatan baru. Ya bagaimana tidak kelihatan baru karena sebenarnya memang masih baru. Hanya karena kekecilan atau kebesaran atau setelah di patut-patut ternyata dia tidak menyukai baju-baju tersebut. Tiba-tiba saja saya katakan ‘di jual di Al Markaz aja us’. Kebetulan saat itu bulan ramadhan. Biasanya di koridor Masjid terbesar di Indonesia Timur tersebut di penuhi oleh beragam penjual setiap sore. Begitulah hingga akhirnya kami putuskan untuk menjual baju-baju tersebut dan saya yang bertanggungjawab untuk menjualnya. Tak lama pun begitu bersemangat UUS mengemas baju-baju (dengan beberapa celana panjang sebenarnya) itu ke dalam plastik dan menaruh label harga yang benar-benar murah. Tak lupa ia pun menyipkan sebuah kertas yang bertuliskan ‘Jual murah, bekas tapi baru’ yang akan saya pasang saat menggelar dagangan. Ya…sore itu pun menjadi sore yang bersejarah buat saya dan UUS. Antara geli dan takjub karena saya telah belajar menjalani profesi lain. Sayang, saya tidak sempat mengabadikannya.  Dengan membawa ransel saya berangkat sendiri ke Al Markas dengan naik angkutan umum. Setelah melihat suasana akhirnya saya pilih di suatu sudut untuk kemudian saya gelar tikar dan menata baju-baju tersebut. Dasar memang barang bagus yang di jual murah, tak sampai satu jam semua ludes. Beberapa penjual di sekitar saya bertanya ‘ambil dari mana mbak?’ atau ‘besok ke sini lagi ya?’. Menjelang maghrib UUS baru datang dan ia pun senyum-senyum. Dengan suka cita kami pun menghitung uang yang kami dapat. Dan tak lupa UUS memberikan separo hasil penjualan kepada saya.

 Banyak hal yang ia ajarkan kepada saya meski akhirnya dia sendiri tidak terlalu mengembangkan ajarannya. Ooops..ini bukan ajaran agama ya…he.. UUS adalah orang yang sangat berpengaruh dalam sejarah kepenulisan saya. Sekitar awal tahun 1999 saya mulai menggeluti dunia puisi. Saya sendiri menyadari kalau puisi saya benar-benar wagu dan ndeso. Tapi saya tak segera mengurungkan semangat saya dan membuang seluruh coretan saya ke tempat sampah. Saya tunjukkan puisi-puisi itu ke UUS. Ia pun memberikan respon positif dan menyarankan saya untuk menggunakan berbagai ragam majas, dari personifikasi hingga hiperbola (he..he..saya sendiri juga lupa apa ini yang dimaksud). Saya turuti saja sarannya meski ia sendiri bukan lah penyair rajin membuat puisi. Kalau awalnya puisi saya panjang-panjang ia mencoba memecahnya dalam beberapa bait. Ajaib…ternyata puisi yang awalnya terlihat ndeso bisa terlihat indah setelah dilakukan berbagai manipulasi.

Pertengahan tahun 1999 saya harus kembali melanjutkan kuliah. Tak berapa lama ia pun meninggalkan Makassar dan berencana melanjutkan program pasca sarjananya di Jogja. Tak terlalu sering kami berkomunikasi. Surat pun rasanya hanya satu kali ia kirimkan. Saya sangat menyukai surat itu…dan nampaknya surat itu pulalah yang mengajarkan saya untuk menggunakan bahasa resmi tapi santai. Di surat itu ia berkisah tentang ‘masa suram’-nya karena telah menghabiskan waktu tanpa sebuah arah yang jelas. Tak lupa, ia pun memberikan respon atas puisi yang saya kirimkan. Lagi-lagi ia melakukan beberapa koreksi dan manipulasi hingga puisi saya terlihat lebih indah.

Pertengahan tahun ini saya mendengar kabar dari sahabatnya bahwa UUS sebenarnya juga punya akun di fesbuk.  Segera saya coba ketikan nama fesbuknya. Lagi-lagi saya harus kecewa karena akunnya sudah tidak aktif. Sahabat tersebut mengatakan bahwa UUS sudah menikah tahun 2009 lalu dan menyarankan saya untuk membuka akun suaminya yang kebetulan sudah ‘berteman’. Langsung saat itu juga saya buka. Subhanallah…ternyata ia menikah dengan kekasih sejatinya sejak SMA. Ia pernah mengatakan bahwa tidak pernah ada kata putus makanya ia tetap setia menyimpan memori dan harapannya begitu kuat. Kami selalu mengatakan ‘sudah lah Us, dia sudah melupakanmu terima saja si ini si itu’. Ia begitu percaya dengan mimpi-mimpinya. Bahkan ia mengatakan ‘aku berkhayal ketemu dia di…di…’. Dan akhirnya…mimpi itu benar-benar terwujud setelah masa penantian yang cukup panjang…

Sayangnya, saat saya ajukan pertemanan dengan suaminya, hingga kini tak pernah ada konfirmasi.

Us, kemana ku harus mencarimu….please sungguh kutulis ini dan kushare notes ini dengan harapan aku bisa menemukan jejakmu…

Moga bahagia slalu Us…..

2 thoughts on “Us, dimana ku harus mencarimu?

    1. iya mbak, sempat saya lihat di akun fb tapi kayaknya gak aktif lagi pas nemu akun suaminya n kuajukan pertemanangak di approve

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s