TAK SEKEDAR REUNI…

Lebaran telah berlalu…tapi apa yang paling berkesan selama hari-hari anda di kampung halaman?

Bertemu orang tua? Pasti…tapi adakah selain itu? Saya yakin jawabannya adalah R.E.U.N.I…

Ya…tiga tahun terakhir aktivitas ini marak sekali seiring dengan demam facebook yang sekarang ini mungkin sudah mulai agak memudar. Tak heran restoran-restoran di kampung halaman pun tak luput dari cipratan rejeki para pemudik seiring dengan aktivitas reuni. Saya sendiri belum pernah menghadiri reuni. Tapi bukan berarti saya anti reuni, cuma belum ada waktu saja. Bahkan, labaran kali ini saya tidak mudik dan hanya bisa menatap foto-foto rekan-rekan di layar komputer sambil membayangkan keceriaan masa muda.

Kali ini saya mencoba mengaitkan REUNI ini dengan teorinya pak dhe Putnam dan Coleman  yaitu social capital atau modal sosial. Hampir empat tahun yang lalu kisah cinta saya dengan kedua orang tersebut dimulai. Padahal, awalnya saya membenci kedua orang yang saya anggap kurang kerjaan tersebut. Butuh waktu untuk ‘berkenalan’ hingga akhirnya saya begitu tergila-gila. Ya..dua kata yang mereka kemukakan itu membuat saya begitu terpesona. Teori yang mereka kemukakan sebenarnya tidak baru-baru amat. Kalau dirunut banyak juga yang mengemukakan bahkan hingga Ibnu Khaldun. Kata itu adalah: Modal Sosial atau saya sendiri lebih mengistilahkannya sebagai kekuatan komunitas. Dua kata itu pula yang hingga saat ini saya percaya dan yakini bisa menyemangati saya sendiri ditengah ke’nglokroan’ akibat hantaman pesimisme realitas-realitas yang begitu menyakitkan.

Ya..kekuatan komunitas bisa menjadi kekuatan mahadahsyat untuk melakukan perubahan. Percaya? Jika tidak…silakan lanjutkan membaca tulisan yang mungkin kurang bermanfaat ini. Implementasi dari konsep ini sebenarnya mudah dilihat dalam kehidupan sehari-hari khususnya buat kita yang tinggal di negara berkembang. Dulu…atau sekarang masih ada kali ya..kita bangga dengan yang dinamakan gotong royong yang menjadi ciri khar bangsa kita. Kebersamaan untuk mbangun deso sungguh bisa merekatkan tali persaudaraan warga. Barangkali, di dusun-dusun nilai-nilai ini masih melekat kuat. Tapi pasti kita tidak akan menemukannya lagi di kota. ‘Mbangun deso’ di perkotaan sudah mulai diwakilkan. Tak jarang banyak yang diupahkan. Tak ada yang salah tentu saja. Tuntutan hidup, modernisme, teknologi informasi menjadikan manusia menjadi lebih individualis. Di sisi lain, fakta bahwa kita masih merindukan ‘masa lalu’ pun sebenarnya masih terlihat nyata. Ya itu tadi aktivitas perfesbukan sebenarnya menunjukkan bahwa ‘cita rasa’ kita sebagai makhluk sosial di negara berkembang masih begitu kental. Modernisme dan teknologi mungkin bisa memisahkan individu dari interaksi fisik. Tapi, interaksi dunia maya rupanya merekatkannya justru jauh lebih kuat dibanding lem korea sekalipun. Tak percaya? Lihat saja dimanapun bahkan ketika kita duduk bersama seorang sahabat terkadang kita dibuat begitu sibuk memandang layar Black Berry (seharusnya bukan ‘kita’..karena saya blum punya je..qiqiqi…).

Nah, ikatan-ikatan kekerabatan, persahabatan, persaudaraan, perkoncoan seperti ini lah yang disebut sebagai social capital. Robert Putnam menyatakan bahwa social capital terdiri dari norms, trust dan network. Yang namanya capital sebagaimana dalam peristilahan ekonomi maka dalam ilmu sosial pun ia akan memberikan nilai manfaat jangka panjang jika ia didayagunakan secara maksimal. Teori-teori ekonomi modern pun menyebut-nyebut social capital ini sebagai faktor pertumbuhan ekonomi. Dalam penelitian pak dhe Putnam sendiri juga menyatakan bahwa daerah yang stok social capitalnya lebih tinggi ternyata lebih makmur dibandingakan yang lain. Makanya, berbekal kepercayaan seperti ini pola-pola pemberdayaan masyarakat yang digagas World Bank pun memanfaatkan social capital masyarakat pedesaan. Kisah pemberdayaan ekonomi  melalui microfinance yang digagas oleh Muhammad Yusuf di India pun mendayagunakan jenis capital ini. Ya karena dianggap efektif untuk mensejahterahkan masyarakat. 

Sesungguhnya implementasi atas konsep ini tak hanya sebatas pada pemberdayaan ekonomi, tapi dari aspek pendidikan, atau bahkan untuk peningkatan performa karyawan atau pegawai. Dalam hal pendidikan ini saya bisa ambil contoh TK anak saya. Di sekolah yang tergolong sangat murah ini saya bisa temukan kekuatan komunitas ini. Mungkin karena sang kepala sekolah adalah seorang aktivis dakwah yang punya komitmen luar biasa tak hanya untuk mendidik anak tapi juga orang tua. Selain pengajian bulanan untuk orang tua murid, ternyata kepala sekolah mengajak orang tua murid untuk mengisi waktu dengan mempelajari Al-Qur’an. Tak heran, ketika anak-anak mereka menyelesaikan pendidikannya, orang tua pun mengkhatamkan Al-Qur’an. Artinya, ketika suatu ‘masa’ atau komunitas telah berkumpul dan berinteraksi sesungguhnya disitulah aset yang berupa modal sosial tadi secara otomatis terbentuk. Tinggal bagaimana manusia bisa mendayagunakannya secara maksimal. Ibarat sebuah anak panah yang menunggu dilesatkan.

Lalu, apa kaitannya dengan REUNI. Reuni sesungguhnya bagian dari sebuah social capital, sebuah modal yang bila didayagunakan dengan baik akan menghasilkan perubahan besar untuk ‘mbangun deso’. Saya yakin anda pasti menemukan teman-teman anda yang dulunya ‘culun-culun’ sekarang menjadi ganteng dan cantik-cantik. Meski mereka tak  lagi culun dan sudah sejahtera saya pun yakin bahwa kenangan indah masih tersimpan kuat. Maksudnya, dalam pola interaksi sesama alumni pun masih membawa romansa masa lalu. Dengan kata lain, norms dan trust yang dibawa masih tetap sama meski sudah sekian tahun terpisahkan.

Di lain pihak, kita masih menemukan permasalahan klasik kampung halaman yang tak juga mau enyah. Anak-anak putus sekolah, penduduk miskin, perumahan kumuh dan lain sebagainya. Tentu miris dan memprihatinkan melihat kondisi tempat dibesarkan penuh dengan kenangan masih seperti itu. Berharap pada pemerintah? Hm..entah sampai kapan harus berharap.

REUNI atau komunitas alumni sesungguhnya bisa menjadi kekuatan perubahan untuk ‘mbangun deso’. Dalam pemerintahan pun sesungguhnya ada kekuatan ketiga yang akan mendukung berjalannya fungsi pemerintahan sebagai bagian dari pilar penguat demokrasi. Kekuatan tersebut adalah civil society. Komunitas alumni sejatinya adalah civil society yang jika digerakkan bisa mempercepat tercapainya salah satu tujuan bernegara, yaitu kesejahteraan rakyat.

Jadi?

2 thoughts on “TAK SEKEDAR REUNI…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s