BRUCE AND MY DREAM

Hari ini..saat ini..malam ini..surat itu datang…

Sulit digambarkan dengan kata-kata. Kalau saat ini adalah siang hari dan saya berada di tengah alun-alun mungkin saya sudah mengepalkan tangan dan berteriak yesss…yess…dan yang pasti syukur kepada Sang Penguasa yang telah menancapkan sebuah keyakinan akan mimpi indah. (Kamis, 1 September 2011).

–0–

Lebih dari tiga tahun yang lalu..atau bahkan empat tahun? Entahlah… saya tidak tau pasti kapan mimpi itu mulai menghantui fikiran dan mengisi rongga dada saya. Yang pasti di akhir bulan Desember 2007 itulah mimpi itu tertancap begitu kuat dan menghujam begitu dalam. Begini ceritanya.

Saat itu saya mengatakan kepada supervisor thesis saya ‘I wanna see my name in an international journal’. Dengan sinis dia mengatakan ‘you can’t do that’. Saya bisa pahami itu. Bagaimana tidak, beberapa minggu sebelumnya saya diledekin secara sadis ketika saya mencoba menggunakan teknik statistik yang tidak terlalu saya kuasai.  Namun, dengan sok yakin dan tingkat kepedean yang tinggi saya pun menjawab lagi sambil cengengesan ‘I know I can’t do it now. But I believe someday I can do it’.  Dia pun masih membalas ‘you can’t do it’. Saya mencoba kembali meyakinkannya dengan mengatakan ‘Yusaku give me HD (High Distiction yang setara dengan >80) for my research project’ sambil membela diri. Tapi ternyata dia kembali menangkis ‘He must be wrong’. Kodooong…

Sebenarnya tidak hanya kali itu saya ‘direndahkan’. Saya sendiri tidak tau apa alasannya mengatakan kata-kata yang mungkin bisa dibilang menyakitkan. Tapi bisa jadi logika normalnya mengatakan saya tidak mungkin bisa membuat tulisan ilmiah dengan menggunakan teknik ekonometri tingkat tinggi yang harus dipelajari selama bertahun-tahun.

Ah..saya jadi ingat saat-saat kami mendiskusikan thesis dan saat-saat saya  berusaha ‘menjual diri’ untuk kepentingan masa depan. Posisinya sebagai profesor, reputasi dan tulisan-tulisannya yang telah di-publish di jurnal internasional membuat saya ‘terpikat’. Saya yakin dikenal oleh lelaki itu pasti akan banyak membawa manfaat.  Selain berhasrat untuk mempelajari ekonometri yang begitu menantang untuk ditakhlukkan saya juga berharap dia bersedia memberi selembar kertas suatu saat kelak. Saya fikir saya perlu ber-SKSD karena tidak mungkin dia bersedia memberikan selembar kertas itu kalau dia tidak terlalu mengenal saya.

Begitu thesis saya submit otomatis saya sudah tidak ada bahan lagi untuk berdiskusi dengannya. Awalnya, saya pun tidak terfikir untuk kembali ‘mendekatinya’. Saat seorang kawan berhasil mendapatkan ‘surat sakti’ dari supervisornya barulah saya berfikir keras mencari topik diskusi baru. Di saat yang sama nilai research project saya keluar. Hasilnya pun cukup membuat saya PD mendekatinya lagi setelah peristiwa ‘heteroscedasticity’ yang membuatnya berhasil meledek saya habis-habisan. Ah..sempurnalah sudah rencana saya.

Lalu, dengan modal nilai tersebut saya mencoba meminta referensi buku2 yang bisa saya gunakan untuk memperdalam ekonometri saya. Terus terang saya tidak punya ide lain untuk membuka komunikasi dengan lelaki separuh baya yang jarang sekali saya lihat tersenyum itu. Begitulah..akhirnya dia menyarankan beberapa buku dan bersedia berdiskusi kembali. Awalnya dia tidak tau kalau saya hanya memiliki beberapa minggu untuk bertatap muka dengannya.  Makanya, dia sarankan saya untuk mengambil program course ekonometri untuk memperdalam pemahaman saya. Saya katakan bahwa saya harus kembali ke Indonesia dan saya akan belajar secara otodidak.  Tapi ternyata dia justru menunjukkan ekspresi ‘underestimate’ kepada saya sambil mencari-cari buku di rak dekat meja tempat kami biasa berdiskusi. Saya bisa mengerti. Apalagi ketika suatu saat dia mengatakan ‘Even my students who learn it for years still make some mistakes’ kepada saya yang baru beberapa kali pertemuan belajar ekonometri.

Lalu, dia pun menanyakan ‘do you know calculus? Matrix? Arithmathic’ dan istilah2 matematika lainnya. Saya yang waktu itu sok pede dan keki karena ‘underestimate’ nya tidak cepat menangkis pertanyaannya. Ya..terpaksa senyam senyum saja. Parahnya, dia sendiri yang menjawab ‘I know you don’t know’ dengan tatapan menuduh. Huh..tapi tetap saja saya cengengas cengingis saja menanggapai ledekannya. Hingga akhirnya saya bawa pulang buku yang ia sodorkan. Ah..ternyata istilah-istilah yang dia kemukakan sangat akrab di telinga saya sekitar dua puluh tahun silam.

Mungkin hanya satu atau dua kali saya menemuinya lagi karena kesibukannya. Terlepas dari segala ke-‘underestimate’-an nya ternyata dia masih peduli dengan saya. Suatu ketika dia meminta saya menelfonnya. Belum sempat saya baca email tersebut, dia mengirimkan email yang meminta saya menemuinya suatu sore. Ternyata dia ingin mengajak saya menghadiri pemaparan hasil riset rekannya yang kebetulan menggunakan ekonometri. Dia pun memperkenalkan saya dengan kolega2nya. Dan..percakapan di atas itulah yang mengakhiri pertemuan saya tepat setelah acara selesai. Pertemuan yang mungkin baginya adalah ‘biasa-biasa’ saja.

–0–

Ya..lelaki itulah yang dengan kata-kata ‘underestimate’nya telah menancapkan mimpi yang begitu mengawang dan muluk kedalam dada saya. Sejak itu pula saya selalu menjaga dan memeliharanya meski saya tidak pernah tau apakah suatu saat kelak akan terwujud.

Dan kini, tiga tahun telah lewat…Saat saya menanyakan pada diri sendiri tentang hal-hal besar yang saya capai di tahun 2011 saya dapatkan kabar dari co-researcher saya bahwa artikel yang pernah kami tulis lebih dari setahun silam mendapat persetujuan dari salah satu jurnal internasional untuk diterbitkan. Akhirnya saya pun harus mengakui bahwa ‘hukum gravitasi’ yang telah dikhotbahkan oleh rekan saya benar adanya. Ketika kita mempunyai mimpi maka alam semesta akan menangkap mimpi itu dan memberikan respon untuk mengerahkan segala kekuatannya membantu mewujudkan mimpi tersebut. Karena mimpi sesungguhnya adalah doa. Dan jika Sang Penguasa telah meng’iya’kan maka tidak ada sesuatupun yang bisa menghalangi. Kita pun bahkan mengatakan sulit menerimanya dengan akal sehat. Sungguh… karena do’a mempunyai logika tersendiri….

2 thoughts on “BRUCE AND MY DREAM

  1. makasih mbak…sama-sama….karena hanya dengan mimpi lah kita menjadi lebih bersemangat dan hidup terasa lebih hidup..klo gak ada itu semua jadi rutinitas yang membosankan kayaknya mbak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s