IT’S NOT ABOUT SORRY..

5 tahun lewat sudah kata-kata itu diucapkan. Tidak akan pernah hilang dan mungkin akan selalu melekat dalam fikiran saya. Ya..karena dibalik kata-kata itu sebuah peristiwa yang cukup membuat panik, kuatir dan seolah sebuah malapetaka besar menimpa saya sekeluarga telah terjadi. Begini ceritanya…

Saat itu kami sekeluarga sedang hunting mobil. Di Canberra mobil menjadi kebutuhan yang vital karena transportasi umum, yaitu bis, tidak terlalu banyak meskipun cukup nyaman. Sistem transportasi yang bagus di kota itu belum membuat orang fleksibel untuk pergi sekehendak waktu.  Selain karena jumlah yang terbatas, bis pun hanya lewat berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan dan hanya bisa berhenti di halte sesuai dengan jadwalnya. Jadi kalau suatu saat terlambat satu menit saja sampai halte bisa-bisa harus menunggu hingga lebih dari setengah jam lagi untuk diluar jalur utama. Sehingga, hampir seluruh pelanggan bus mempunyai jadwal-jadwal yang dibagikan secara gratis oleh pengelola bis pemerintah ini.

Hingga akhirnya kami memutuskan untuk membeli mobil bekas karena harganya sangat murah untuk ukuran di sana. Dengan AUD$ 1.000 pun bisa mendapatkan mobil. Selama tiga bulan sejak menginjakkan kaki di Canberra itulah kami   sudah mulai mengencangkan ikat pinggang. Bagi kami, mobil tidak hanya untuk kenyamanan tapi juga asset. Maksudnya, tujuan kemi ke Canberra tidak hanya untuk belajar dan menikmati hidup di negara maju, tetapi yang sesungguhnya adalah untuk mengumpulkan dolar. Dengan mobil jam kerja yang bisa diperoleh lebih panjang dan bisa bekerja di beberapa tempat dalam sehari. Tapi begitulah…

Pengalaman suami untuk mengendarai mobil di negeri sendiri sesungguhnya belum banyak kecuali  mengikuti dua kali kursus. Saya sendiri…apalagi…  Tak heran, pengetahuan permobilan kami pun sangat minim. Yang bisa kami lakukan waktu itu hanyalah menandai iklan-iklan penjualan mobil bekas yang harganya sesuai dengan kantong kami kemudian menelfon mereka kapan bisa bertemu untuk melihatnya secara fisik. Setelah itu, kami akan menghubungi salah satu rekan untuk menemani kami. Beberapa penjual sudah kami hubungi namun belum ada yang cocok.

Suatu ketika sepulang kuliah sekitar pukul 17.00, saya melihat sebuah mobil di unit yang saya tinggali tertulis for sale termasuk nomor hp yang bisa dihubungi.  Begitu bertemu suami langsung saya sampaikan informasi itu. Kebetulan dari unit yang saya tinggali di lantai 2 kami bisa melihat secara jelas mobil yang saya maksud. Begitu suami menyatakan persetujuan, langsung kami kontak pemiliknya. Selang satu jam kemudian kami pun bertemu. Pria pemilik mobil berasal dari Malta itu tak lain adalah tetangga saya sendiri. Namun, seperti biasa kesibukan masing-masing penghuni membuat kami jarang bertemu. Bahkan dengan tetangga yang berhadapan pintu keluar pun dalam satu bulan bisa dihitung dengan jari berapa kali kami bertemu. 

Satu jam kemudian kami pun bertemu. Setelah menanyakan sekilas tentang kondisi mobil kemudian diberikan penjelasan lengkap pria itu pun menawarkan kepada kami untuk mencobanya. Antara ragu dan ingin mencoba. Ragu apakah suami mesih mengingat teori dan cara mengendarai. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk mengiyakan. Saya duduk disamping suami dengan memangku amira. Padahal, apa yang saya lakukan sesungguhnya sebuah pelanggaran berat. Di australia anak dibawah lima tahun harus duduk dengan car seat apalagi masih 9 bulan seperti Amira. Entahlah, kami juga tidak tau kenapa kami akhirnya memutuskan begitu. Ditambah lagi, Pria dari Malta yang telah menjadi penduduk australia yang pastinya lebih paham hukum juga tidak mencegah kami.

 

Begitulah, akhirnya kami coba juga mobil itu meski kami belum begitu hafal jalanan di sekitar wilayah kami. Dengan hati yang berdegup duduk disamping suami saya harus menjadi navigator menunjukkan kemana jalan yang akan kami lalui. Prinsipnya, jangan sampai ke jalan poros. Jika tidak, risikonya…banyak…selain jalanan ramai yang tentu saja akan menjadi masalah besar buat suami kami juga tidak membawa car seat untuk amira. Kalau sampai didapat oleh polisi bisa jadi kami ditahan.

Setelah beberapa menit kami melintasi jalanan, entah kenapa saya lupa mengingatkan bahwa kami harus berbelok ke kiri hingga beberapa meter sebelum belokan terakhir yang menghubungkan ke jalan poros. ‘Belok..belok kiri’ teriak saya untuk mencegah risiko yang lebih besar. Mobil pun berbelok mendadak tanpa melihat sebelah kiri. Pada saat yang sama melintas sebuah mobil hingga tanpa sengaja kami menabrak bagian kiri.

Lemas..bingung..sekaligus pasrah yang kami rasakan. Deg-degan dan penuh fikiran yang buram tentang segala masalah yang harus kami hadapi. Terlintas dalam angan saya…polisi..tahanan..hmmm seram…. Masih terasa sekali bingung yang saya alami setiap saya mengingat peristiwa itu. Keluar dari mobil, suami saya reflek mengatakan ‘sorry..sorry’ dengan muka pucat dan lunglai. Lelaki yang kemudian kami ketahui ternyata juga tetangga kami itu pun segera mengatakan ‘no..no..no…IT’S NOT ABOUT SORRY’ begitu dia mendapati mobilnya yang penyok.

Tanpa amarah..tanpa makian…dia mengatakan ‘I’ll call the police’. Semakin pucatlah kami. Saya sendiri bingung harus bagaimana. Apalagi saya membawa amira yang jelas-jelas itu merupakan suatu pelanggaran berat. Sambil menepi, lelaki itu mendekati kami dan menanyakan kepada suami saya ‘are you drinking?’ beberapa kali dengan tatapan penuh keprihatinan melihat kami. Sepertinya dia bisa melihat pucat, ketakutan dan kekhawatiran yang terpancar dari muka kami. Bagaimana tidak, pertama mobil itu bukan mobil kami. Yang kedua, kami menabrakkan mobil itu dan membuat masalah dengan pihak lain. Terbayang denda-denda yang menggunung yang mungkin akan menjerat kami.. atau bahkan mungkin bisa memenjarakan kami. Tak putus2nya saya sendiri meruntuk kesalahan dan menyesalkan apa yang telah terjadi ‘kenapa ini terjadi..baru tiga bulan di negeri orang sudah bikin masalah…’.

Lelaki itu tetap tanpa amarah menanyakan dimana kami tinggal dan apa yang kami lakukan. Saya jelaskan bahwa saya orang baru di australia dan saya mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari pemerintahnya. Setidaknya ini untuk meyakinkan bahwa kami bukanlah pengangguran seperti yang sekilas mungkin dia perkirakan. Kalau kami pengangguran, tentu itu menjadi masalah besar buatnya. Singkat cerita kami pun terpaksa harus mengganti rugi kerusakan mobil pria tersebut yang jika disetarakan dengan rupiah maka nilainya sama dengan tiga bulan penghasilan saya di indonesia. Untuk menyelesaikan urusan dengan pria dari Malta kami pun harus membeli mobil tersebut dengan cara mencicil selama tiga bulan. 

Begitulah… Yang ingin saya cermati disini adalah tentang “It’s not about sorry” dan ekspresi tanpa amarahnya. Kejadian-kejadian seperti ini sebenarnya tidak hanya kami yang mengalami. Seorang kawan ketika menabrak mobil penduduk setempat pun juga sama. Malah ketika itu pemilik mobil mengatakan “menangislah jika kamu ingin menangis” sambil menenangkan dan merangkul teman saya ketika mendapatinya begitu pucat dan panik.

Tentu tanggapan atau respon semacam itu menjadi unik jika kondisi yang sama terjadi di negeri ini. Bahkan dalam beberapa kasus, sudah jelas bahwa penabrak yang melakukan kesalahan malah dia yang marah-marah kepada korban. Hmmm barangkali sekedar mencari alasan agar ia tidak disalahkan.

Kembali kepada pertanyaan “apa yang membuat respon berbeda atas kejadian yang sama?”. Kuncinya bukan pada sisi kemanusian dimana orang australia lebih baik hatinya dibanding orang indonesia tapi pada penegakan hukum dan kesadaran pentingnya berasuransi. Dengan penegakan hukum masyarakat tidak perlu takut jika ada pelanggaran karena aparat akan menindak pelanggar sesuai dengan hukum yang berlaku. Dalam kasus kami sudah jelas kesalahan kami bahkan pelanggaran yang lebih besar pun kami lakukan. Jika mau, pria tersebut bisa melaporkan tidak hanya penabrakan tersebut tapi juga kelalaian kami yang membawa bayi tanpa car seat. Kedua, selain kesadaran berasuransi pemerintah pun telah menciptakan sistem yang mau tidak mau memaksa masyarakat untuk berasuransi, tidak hanya mobil tapi juga kesehatan dan yang lainnya. Seseorang berasuransi mobil lebih didasarkan pada tingginya ongkos perbaikan mobil. Bahkan untuk yang memiliki mobil second dan tua pun berasuransi. Kalaupun bukan mobil sendiri yang diasuransikan dia akan mengasuransikan mobil pihak ketiga jika terjadi kecelakaan.

Makanya, pria tersebut atau dalam kasus rekan saya tidak perlu merasa khawatir. Meskipun ada opportunity cost yang harus dibayar setidaknya waktu dan fikiran untuk menyelesaikan dan memperbaiki kerusakan. Kami sebenarnya juga yakin sekali bahwa mobil pria yang saya tabrak tersebut pasti diasuransikan. Dia pasti akan mendapatkan ganti rugi dari perusahaan asuransinya. Seandainya kami telah memiliki mobil tersebut seharusnya saya pun tidak perlu sekhawatir itu karena pasti kami akan mengasuransikan kerusakan pihak ketiga dan tidak perlu membayar denda setinggi itu. Jadi..bukan masalah baik hati…

Mengingat kisah ini saya jadi teringat ucapan salah seorang tokoh dalam Meteor Garden..’Kalau ada maaf buat apa ada polisi?’ Tapi di negara yang sistem hukumnya amburadul seperti ini rupanya maaf jauh lebih ampuh…makanya masyarakatnya pun dikenal sebagai masyarakat yang pemaaf dan enggan berurusan dengan hukum karena jelas akan menjadi lebih panjang urusannya… @nasejati-April 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s