LEGENDA LASKAR AKUNTAN’01

This slideshow requires JavaScript.


Ini adalah sebuah kisah…sebuah kisah yang mengisahkan liku kehidupan empat orang manusia dalam menapaki cita dan cinta. Ini pun juga sebuah cerita yang menceritakan nasib para pelakunya dalam memperjuangkan kepercayaan hidupnya.

Mereka berempat dipertemukan dalam sebuah kisah yang telah ‘disangaja’ agar mereka dipersatukan dalam sebuah cerita yang akan menjadi legenda. Semuanya berjalan mengalir..bagaikan air ataupun udara yang setiap saat berhembus sebagaimana irama hidup keempat anak manusia tersebut. Namun, nafas kehidupan yang mereka miliki sungguh memberikan getaran yang mampu mengguncang diri mereka sendiri untuk terus menggenggam apa yang mereka percayai. Kalaupun ada fihak-fihak lain yang karena satu ataupun lain hal terpengaruh oleh sepak terjang mereka maka itu diluar jangkauan keempat anak manusia tersebut.

 

Ya..keempat anak manusia tersebut dipertemukan dan dipesatukan dalam sebuah cita untuk menggenggam dunia. Entah siapa yang memulai..yang jelas jalinan lingkar pengaruh mempengaruhi sungguh sangat kental terasa hingga jalinan itu seperti benang kusut yang tidak mungkin lagi diluruskan. Meski kini mereka telah bercerai berai dalam ruang dan waktu namun sesungguhnya hati mereka tetap disatukan oleh sebuah tekad..tekad yang akan membakar jiwa untuk mewujudkan apa yang telah mereka tancapkan dalam dada.

Keempat anak manusia itu adalah Becky Subarkah, Toni J Pisa, A. Dian PP, dan Ana S. Arifin. Saat itu, mereka masih sangat muda sekali untuk sekedar bercita-cita menjejakkan kaki di negara empat musim. Kekuatan saling mempengaruhi mulai terlihat ketika suatu ketika Becky Subarkah ‘menjajakan’ ide yang diadopsi dari buku yang saat itu menjadi best seller. Hampir setiap hari ia memberikan khotbah kepada ketiga rekannya. Tentu saja dengan gaya bercerita bak seorang pawang cerita ulung ia mengisahkan isi buku tersebut. Dua rangkaian buku karya Robert T Kiyosaki tersebut selalu menjadi perbincangan hangat diantara mereka berempat hampir setiap harinya. Judul Buku itu adalah ‘Rich Dad Poor Dad’ dan ‘Cash Flow Quadrant’.

Di antara keempat orang tersebut hanya A. Dian PP lah yang tidak terlalu banyak berkomentar dan tidak tergerak untuk membeli buku jaja-an Becky Subarkah. Becky Subarkah sendiri rupanya sudah terasuki ruh buku itu hingga sangat dalam dan mempengaruhi seluruh orientasi hidupnya. ‘Mencari kebebasan finansial’ itulah tujuan yang telah ditorehkan begitu kuat dalam dada si Becky Subarkah. Toni J. Pisa, sementara itu, diam-diam cukup terpesona dengan ide motivator ulung blasteran jepang amerika tersebut. Namun, rupanya dia tidak langsung menelan mentah-mentah apa yang di jajakan rekannya. Bahkan hingga kini pun tidak terlihat jelas apakah nilai-nilai yang ada di buku yang sempat dipinjamnya dari Becky Subarkah membekas atau tidak. Di lain pihak, Ana S. Arifin ibarat anak kecil yang didongengkan kisah pangeran kodok hingga terlelap ia memeluk isi buku itu dalam fikirannya. Tak heran, diam-diam ia menjajal dunia bisnis kecil-kecilan walau akhirnya harus menyerah dan melikuidasi usahanya tersebut.

Sungguh sebenarnya tidak cukup banyak kisah yang terserak yang menceritakan dan menggambarkan kebersamaan keempat anak manusia tersebut. Kisah yang mungkin selalu diingat adalah ketika mereka selalu merayakan ultah ataupun melewatkan waktu senggang di sebuah rumah makan sederhana dengan menikmati lumpia dan jalangkote.

Kisah menarik yang mungkin masih teringat adalah tatkala Ana S. Arifin berulang tahun dan dengan suka cita mengajak ke-dua rekannya, Becky Subarkah dan Toni J. Pisa, saat itu A. Dian sedang bertugas di luar kota, makan di sebuah rumah makan sea food yang cukup terkenal di Kota Makassar. Cukup jauh sebenarnya jarak antara rumah makan tersebut dengan kantor. Siang itu cukup terik untuk naik angkutan umum. Namun, begitulah…hasrat untuk menikmati ikan bakar mampu mengalahkan terik matahari. Bahkan mereka harus rela berjalan kaki karena rumah makan tersebut tidak langsung bisa dijangkau oleh angkutan umum. Ternyata setelah memesan 3 porsi nasi dan 3 ekor ikan Baronang mereka tidak langsung bisa memenuhi perut yang sudah terlanjur lapar karena harus menunggu ikan dibakar sampai matang. Beberapa saat kemudian, ikan yang dipesan pun datang dan sekejap mereka bertiga terdiam membisu hanya mulut yang menari-nari menikmati lezatnya ikan baronang. Usai menikmati ikan tersebut, Ana S. Arifin yang saat itu berkewajiban menjadi juru bayar pun mendatangi kasir dan disodorilah ia selembar kertas dengan tulisan tinta hitam yang menunjukkan jumlah yang membuatnya cukup tercekat Rp. 67.000,00. Bukan karena ia tidak membawa cukup uang, tapi ia tidak pernah menyangka kalau harga makanan tersebut semahal itu untuk ukuran harga pada tahun 2002. Dengan berat hati disodorkanlah beberapa lembar uang puluhan ribu kepada sang kasir meski terbersit rasa tidak ikhlas. Setelah itu, bergegaslah ia menuju kedua rekannya. Seperti biasa mereka pun menanyakan berapa harganya. Sama seperti dirinya, kedua rekannya juga cukup tercekat dengan jumlah tersebut. Sebagai seorang akuntan otak mereka berputar mengkalkulasi dari mana jumlah tersebut bisa didapat. Rp.67.000 jelas tidak habis dibagi tiga. Untuk harga ikan bakar seperti itu sepertinya terlalu mahal. Sebenarnya Becky Subarkah mendorong Ana S. Arifin untuk menkonfirmasi jumlah tersebut. Memang benar..setelah dikonfirmasi ulang sebegitulah harganya… Mereka bertiga pun berjalan gontai bersama ikan-ikan yang telah menyatu dalam tubuh mereka. Merekapun beranjak untuk kembali ke kantor namum masih terdiam…sepertinya mereka menyesal memilih rumah makan tersebut. Setelah beberapa tahun mereka tinggal di kota berlauk ikan tersebut akhirnya pahamlah bahwa harga tidak ditentukan oleh berapa porsi tapi besar kecil ikan yang dihidangkan. Masing-masing ikan harganya berbeda. Jadi, tidak harus bisa dibagi 3….

Kisah lain yang masih bisa diingat adalah ketika mereka selalu berkumpul mencoba mengeja bahasa Inggris setiap saat dan setiap waktu sekitar pertengahan tahun 2002. Entah dari mana dan siapa yang mulai menghembuskan mimpi untuk bersekolah ke negara maju. Yang jelas mereka berempat berusaha berbicara bahasa Inggris. Tak peduli lingkungan sekitar yang jelas mereka mencoba melafalkan setiap kata dengan berdiskusi dalam bahasa Inggris. Bahkan waktu itu pun pernah disusun sebuah kepengurusan english meeting club. Meski lidah begitu kaku tapi mereka tetap berusaha. Segenap usaha untuk memperlancar bahasa Inggris pun ditempuh. Becky Subarkah, misalnya, sempat mengambil kursus bahasa Inggris intensif yang berjalan setiap malam meski niat sebenarnya adalah mencari pacar dengan berkedok kursus. Tapi begitulah..hari-hari mereka lewati dengan penuh keceriaan. Ana S. Arifin, lain lagi, melewatkan hampir seluruh hari-harinya di sebuah klub bahasa Inggris selain untuk membunuh sang waktu. Bagi A. Dian PP bahasa Inggris sebenarnya bukanlah masalah besar karena sebenarnya ia cukup mempunyai dasar yang kuat. Ditambah lagi waktu itu ia sedang mendekati wanita pujaan yang kebetulan mempunyai kemahiran luar biasa dalam bahasa Inggris. Tak heran, dengan berbekal sebuah buku kumal yang selalu ditangannya ia mencoba memperkaya kosa kata-nya. Ia selalu membawa buku tersebut dimana saja. Ibaratnya, dimana ada A. Dian PP disitu ada buku kumal tersebut. Jadi..motivasi menakhlukkan bahasa inggris buatnya setali tiga uang, mengejar beasiswa dan wanita pujaan. Toni J. Pisa mungkin agak berbeda. Diantara mereka berempat hanya dia sendiri yang waktu itu telah berkeluarga. Jadi, kesibukan bersama keluarga yang mungkin membuatnya tidak terlalu berhasrat kuat untuk meningkatkan bahasa Inggris. Hampir sama dengan A. Dian PP satu-satunya motivasi baginya barangkali adalah karena sang Istri punya kemampuan yang luar biasa. Jadi..kalau tidak belajar wah..jangan sampai mengganggu stabilitas rumah tangga.

Selain kisah-kisah di atas yang mereka lalui bersama, mereka menjalani kehidupan sebagai seorang auditor sebagaimana auditor di kantor pemerintah lainnya. Sibuk dengan penugasan dan dikejar deadline. Merekapun sempat diasingkan di tempat-tempat yang sepi. Ana S. Arifin, misalnya, sempat merasakan tegangnya hidup di pulau Seram selama hampir setengah tahun. Baginya tinggal di pulau tersebut ibarat kembali ke masa lalu..masa-masa kecil di sebuah desa yang sepi dengan anak-anak yang masih memainkan mainan-mainan tradisonal dan ibu-ibu yang bercengkrama sembari mencari kutu di kepala. Lain Ana lain pula Becky Subarkah. Ia sering ditugaskan di daerah yang sepi dengan jangka penugasan yang panjang. Meski terasing ia selalu terlihat bahagia. Atau karena selalu mencoba mencari penawar sepi? Entahlah… Dalam keterasingan itu ia sering terlibat cinlok alias cinta lokasi dengan beberapa orang gadis setempat. Sayang, cinlok hanya sebatas cinlok. Hingga kini dari seluruh gadis yang pernah menerima panah asmaranya tak ada yang berakhir dalam mahligai pernikahan. Toni J. Pisa juga pernah merasakan keterasingan-keterasingan seperti itu. Suatu ketika ia pernah ditugaskan di suatu daerah yang tidak terlalu jauh dari Makassar. Namun, tetap saja rentang penugasan yang panjang membuatnya harus bercokol di daerah tersebut hingga beberapa bulan sambil berkutat dengan asset-asset milik pemerintah daerah. Ditambah lagi ia harus bolak-balik naik mobil panther yang kecepatannya secepat angin dengan modal keberanian menantang maut dari sang sopir. Seperti biasa ia duduk di depan. Agar bisa tenang di perjalanan terpaksa ia harus membayar jatah kursi yang seharusnya untuk dua orang. Jika, tidak barangkali ia harus menjadi sebuah patung yang sesampai di tempat tujuan hanya bola matanya yang bisa ia gerakkan ke kiri ke kanan karena sempitnya tempat duduk untuk jarak tempuh perjalanan lebih dari 3 jam. Hanya A. Dian PP lah yang sepertinya tidak sempat mengalami keterasingan karena kebetulan tipe penugasannya agak berbeda dengan ketiga temannya.

Ditengah kesibukan dan keterasingan, setiap ada kesempatan mereka lebih sering meluangkan waktu sekedar berbincang kesana kemari ataupun sekedar makan mie ayam bersama di sekitar kantor ketika jam makan siang sudah menjelang. Dari sisi aktivitas penugasan mereka terlihat cukup menikmati meski terkadang muncul keluhan tapi itu ibarat bumbu-bumbu yang mewarnai kehidupan mereka sebagai perantau.

Satu hal menarik yang mungkin dicatat bahwa keempat anak manusia tersebut tetap setia menggunakan angkutan umum. Tak ada satupun di antara mereka tergerak untuk membeli sepeda motor. Toni J Pisa bahkan merelakan berpindah dari satu pete-pete ke pete-pete lain ditambah mengeluarkan ongkos becak hingga mencapai pemberhentian pete-pete setiapa harinya untuk sekedar datang ke kantor. Padahal, tak kurang satu jam ia harus menyediakan diri berpanas-panas di atas pete-pete. Makanya, ia selalu memilih duduk didepan menemani sopir. A. Dian PP dan Becky Subarkah pun juga sama. Jarak antara kantor dan rumah kost cukup jauh. Bahkan mereka berdua, khususnya Becky Subarkah, sempat mendapatkan pengalaman yang cukup misterius di tempat kost yang kebetulan milik adik kelas ketika mereka masih kuliah. Entah bagaimana, atau dasar karena pelupa, Becky Subarkah selalu kehilangan uang di tempat kost. Hampir setiap bertemu ketiga rekannya ia selalu menceritakan kasus kehilangan sembari mencoba menganalisis siapa kira-kira pelaku pengambil harta kekayaannya. Sempat juga mereka mendiskusikan bagaimana menjebak sang pelaku. Herannya, Becky Subarkah tidak juga beranjak untuk pindah dari tempat kost. Hari demi hari kejadian pencurian tetap berlangsung hingga akhirnya Becky Subarkah berhasil menangkap pelaku yang tak lain adalah orang yang tidak ia sangka-sangka.

Ya..boleh dibilang mereka berempat hingga akhirnya memiliki kendaraan roda empat mereka tidak pernah tergerak untuk bersepeda motor. Atau jangan-jangan mereka tidak bisa mengendarai sepeda motor (?). Entahlah..atau..tidak cukup punya uang (ah kalau yang ini sepertinya tidak mungkin).

Satu persatu kemudian anggota laskar akuntan pun mendapatkan pasangan hidupnya. Dimulai dari A. Dian PP yang akhirnya berhasil memikat gadis pujaan sebelum genap setahun mereka menginjakkan kaki di Bumi Anging Mamiri. Kemudian, Ana S. Arifin pun melepas lajangnya dan dipersunting lelaki asal Makassar yang telah lama menjadi sahabatnya. Tinggal Becky Subarkah lah yang masih setia melajang. Pernikahan rupanya cukup membuat sedikit perubahan pada pola interaksi mereka setidaknya pada intensitas makan-makan bersama. Namun, tetap saja kebersamaan ketika di kantor masih terlihat lekat.

Kebersamaan mulai di pertaruhkan ketika Toni J. Pisa harus cuti besar dan mendampingi sang Istri melanjutkan sekolah di Australia sekitar awal tahun 2004. Pada saat yang sama Ana S. Arifin dinyatakan lulus Ausaid dan harus menjalani kursus bahasa Inggris selama 9 bulan di Denpasar sebelum berangkat ke Australia. Tinggalah Becky Subarkah dan A. Dian PP yang masih berjibaku dengan kegiatan asistensi. Namun rupanya itu bukan saat terakhir satu-persatu personil laskar akuntan tercerai berai. Awal tahun 2005 A. Dian PP menyusul mendapatkan beasiswa AUSAID dan pertengahan tahun tersebut dia sudah menjejakkan kaki di negeri Kangguru tepatnya di kota Melbourne. Tinggalah Becky Subarkah seorang diri tanpa rekan seangkatan dan lebih tragis tanpa seorang pendamping.

Satu hal yang menjadi kebanggaan adalah bahwa mereka berempat sudah menapakkan kaki di negara empat musim. Meski Becky Subarkah belum berhasil menggapai impiannya untuk melanjutkan sekolah setidaknya ia pernah berhasil lolos dalam salah satu program shortcourse di Groningen Belanda. Bahkan ia sempat berpose dengan patung-patung lilin aktor-aktor Hollywood. Kesempatan itu rupanya sangat dimanfaatkannya. Entahlah.. mungkin foto narsisnya bisa mencapai ribuan keping. Hingga kini harapannya untuk bisa melanjutkan sekolah ke negara-negara maju tak pernah surut. Ia pun pernah mengatakan..kalaupun aku tak bisa lewat jalur beasiswa aku akan kesana dengan uangku sendiri. Justru aku bisa belajar sesuai dengan minat dan kemauanku. Begitulah…Becky Subarkah sebenarnya punya hasrat, kemauan dan cita-cita yang tinggi untuk menggapai sesuatu. Satu hal yang mungkin tidak dimilikinya adalah kegigihan dan ketekunan karena tak jarang berkas-berkasnya tercecer hilang entah kemana. Ditambah lagi, ia selalu menyelesaikan sesuatu pada saat saat terakhir atau at the last last minutes. Namun, dari ketiga anggota laskar akuntan lainnya, dia lah yang sebenarnya selalu menjadi driver atau pemicu yang selalu menyulut semangat rekan-rekannya. Ia yang selalu memperkenalkan hal-hal baru lewat buku-buku yang dibelinya meski jarang sekali ia selesaikan baca buku tersebut. Bisa dibayangkan, ia mendalami dunia saham sedalam-dalamnya yang kelak ia harapkan akan mengantarnya mencapai kebebasan finansial seperti yang dicitakannya. Ia pula yang memperkenalkan buku-buku motivasi seperti the secret, hipnotherapy, the answer, blink, outlier dan lainnya. Sempat pula ia relakan entah berapa juta untuk mengikuti kursus hipnotherapy. Dari ketiga rekannya, hanya Ana S. Arifin lah yang sepertinya terpukau mendengan resensi kilat buku yang disajikan oleh Becky Subarkah bagaikan seorang motivator yang piawai bermain-main dengan intonasi kata. Tajam, menukik disertai sorot mata yang menusuk dan ekspresi yang sangat serius Becky Subarkah melancarkan teknik-teknik hipnotherapy hasil didikan seorang master hipnoteraphy terkenal untuk meyakinkan rekannya. Toni J. Pisa sendiri tidak terlalu menaruh perhatian dan menganggap Becky Subarkah telah ‘tersesat’ di dunia lain.

Hal lain yang cukup unik untuk dikaji dari kebersamaan Laskar Akuntan ’01 ternyata keempat anak manusia tersebut mempunyai bakat menulis yang luar biasa. Ana S. Arifin, misalnya, telah memulai kiprah menulisnya cukup lama. Kuliah di negara maju membuatnya dipaksa untuk membaca dan menulis artikel-artikel kelas berat. Bagaimana tidak berat karena ia harus berdamai dengan dirinya sendiri untuk mentranslate bahasa ibunya ke bahasa indonsia sebelum akhirnya ia harus mengetikkan kata-kata dalam bahasa Inggris. Ditambah lagi, bekal sebagai seorang istri penulis rupanya menjadikan bakatnya terasah setajam pisau. Hingga sekembalinya dari Australia ia bersama Toni J. Pisa membangun jembatan yang menjadikan talenta tulis menulisnya semakin mumpuni. Toni J. Pisa sendiri, meski tertatih, akhirnya ia terbiasa dengan dunia tulis menulis setelah membidani kelahiran Bulletin kantor. Satu hal yang membuatnya terlihat hebat adalah berkat kemampuanya menulis papernya terpilih sebagai 10 paper terbaik dalam forum budaya kerja yang dilaksanakan oleh kantor pusat. Paper itu pulalah yang mengantarkannya menjadi pegawai teladan selain juga modal suara yang keras dan badan yang cukup untuk membuatnya terlihat menonjol dibanding orang kebanyakan. Becky Subarkah pada dasarnya mempunyai potensi yang luar biasa dalam dunia kepenulisan. Sayang, sifat mood-mood-an nya selalu menjadi penghalang potensinya untuk menjadi seorang penulis dan motivator ulung. Ia tidak pernah menulis kecuali tulisan pertama yang di upload via fesbuk yang berkisah tentang Laskar Akuntan ’01. Pertama membaca tulisan tersebut ketiga rekannya cukup terpesona dengan hasil karyanya. Ternyata si anak ‘hilang’ tersebut mempunyai talenta menulis. Ditambah lagi, dunia hypnotherapi telah menyeretnya begitu dalam. Ia begitu terinspirasi untuk bisa mempengaruhi orang lain tak hanya lewat kata tapi juga tulisan. Dibeli lah Hypnotic Writing. Tulisan kedua, pasca dibelinya buku tersebut, terbukti mengguncang dan menggetarkan pembaca, masih seputar Laskar Akuntan dan mimpi-mimpinya. A. Dian PP ternyata juga sama. Hanya karena keterbatasan waktu lah yang membuatnya jarang menuliskan ide-idenya. Tapi dari catatan-catatan fesbuknya terlihat bahwa sebenarnya ia mempunyai potensi yang luar biasa. Keterikatan emosianal yang secara fisik tidak terlihat ini pun rupanya menjadi pengikat jiwa yang tanpa sengaja mereka pun mempunyai mimpi yang sama. Keempat anak manusia ini mempunyai satu cita-cita yang sama, yaitu menulis buku.

Namun, ditengah kebersamaan yang kuat tersebut, rupanya Sang Pencipta berkehendak lain. Setelah tercerai berai, tahun 2006 satu persatu mereka dipersatukan. Mulai dari Toni J. Pisa yang kembali dari Canberra kemudian A. Dian PP yang telah menyabet gelar master. Jadilah mereka bertiga berkumpul kembali mengisi hari-hari di Makassar. Namun, rupanya itu tidak berlangsung lama. Toni J Pisa akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa ke Prancis hingga akhirnya ia harus bergulat belajar melafaskan logat Prancis di Jakarta selama 6 bulan. Malang tak dapat ditolak mujur tak dapat di raih… karena sesuatu hal Toni membatalkan beasiswanya karena kebetulan pada saat yang sama sang Istri akan melahirkan anak ketiganya. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali menjalani kebersamaan dengan Ana S. Arifin yang telah kembali lagi ke Makassar setelah hidup dua tahun di Canberra. A. Dian PP sendiri rupanya lebih memilih berkarir dan mendampingi keluarga di Jakarta. Pola kebersamaan pun berubah menjadi Ana-Becky-Toni dari Becky-Toni-Dian. Dan kini..saat ini polanya telah berubah: Ana-Becky karena Toni J Pisa akhirnya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di negaranya Barack Obama hingga tahun 2012. A. Dian PP pun telah menjadi salah satu pejabat struktural di kantor pusat. Kini ia kembali mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan PhD di negara maju, entah australia, amerika, atau di eropa dia belum memutuskan hingga saat ini.

Tepat sembilan tahun dipertemukan dibawah langit Makassar mereka mengucapkan janji. Sungguh teramat muluk dan mengawang-awang. Mereka sadari itu. Bahkan mereka juga tidak tau apakah mimpi itu bakal terwujud, namun mereka tidak peduli. Bagaimana tidak, keempat anak manusia itu mempunyai cita-cita menapaki kota-kota dunia. Becky Subarkah, misalnya, ia bercita-cita bisa mengelilingi dunia kelak kalau ia berhasil mewujudkan kebebasan financialnya. A. Dian PP mempunyai angan-angan ber-backpacker di Nepal selama sebulan. Ana S. Arifin berharap bisa bertemu dengan Pangeran William di Istana Buckingham dan berjalan-jalan melewati gondola di Venesia. Toni J. Pisa sendiri meski kini telah menjangkau Amerika hasrat berpose di bawah menara Eiffel tak juga padam. Saat ini jelas mereka tak punya kemampuan finasial sepeserpun untuk mewujudkan cita-cita itu. Kalaulah ada uang di tangan tentu itu sudah dialokasikan untuk membayar beragam kredit dan biaya sekolah anak-anak. Sungguh mereka sangat memahami ‘ketiadaan’ modal finansial itu. Mereka hanya percaya bahwa alam semesta akan membantu mereka ketika seseorang mempunyai niat dan hasrat untuk mewujudkan kebaikan. Itulah modal satu-satunya yang kini mereka miliki yang kemudian mereka harapkan untuk bisa menggerakkan seluruh potensi dan berharap alam akan mengangkat mereka menjangkau mimpi setinggi langit itu…..
Semoga…

4 thoughts on “LEGENDA LASKAR AKUNTAN’01

  1. amiin…kalaupun nggak terwujud setidaknya mimpi2 itu lah yang membuat hidup kita tetap semangat mbak. klo liat ppt 5 kalila mengatakan bahkan ia pun mensyukuri harapan kosong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s