Indonesia VS Australia di Bis (?)

 

Apa bedanya orang Indonesia dengan orang Australia ketika naik bis?

Pertanyaan ini bukan sekedar teka-teki yang jawabannya ‘nganeh-nganehi’ tapi bisa jadi jawabannya memang rada ‘aneh’ bahkan sampai sekarang untuk menjawab mengapa berbeda pun saya belum tahu jawabannya. Apa tebakan anda?

Hmmmm…begini ceritanya…

Pertanyaan tersebut mengemuka setelah seminggu saya tapakkan kaki di Canberra dan terpaksa harus tinggal agak jauh dari kota tersebut tepatnya di Queanbeyan. Queanbeyan bisa dibilang depoknya Jabodetabek. Artinya, banyak warga Queanbeyan ini yang berkantor atau bersekolah di Canberra. Kalau memakai mobil pribadi jarak dari Queanbeyan ke City Center-nya Canberra bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 30 menit. Sedangkan, jika ditempuh dengan bis kota diperlukan sekitar 50 menit-an.

Alasan saya memilih tinggal di Queanbeyan selain karena sewa tempat tinggal lebih murah juga karena saya ingin cepat-cepat mendapat tempat tinggal yang tetap. Mencari tempat tinggal di Canberra tidak hanya dibutuhkan kemampuan membayar sewa tetapi juga track record yg baik. Makanya, untuk orang yang baru menetap di negara kangguru ini sangat sulit karena harus ada rekomendasi. Rekomendasi yang paling kuat adalah rekomendasi dari landlord atau pemilik rumah/unit yang kita sewa. Untuk lebih detil tentang hal ini akan saya ceritakan lain waktu. Begitulah…meskipun jauh saya sangat menikmati tinggal di Queanbeyan.

Nah…apa hubungannya dengan pertanyaan saya di atas? Sebagai pendatang baru yang belum mempunyai cukup modal untuk membeli mobil saya terpaksa harus naik bis pulang pergi ke kampus. He..he.. meskipun hingga kembali ke Indonesia pun  kami tidak punya mobil alias menjadi penumpang bis yang setia. Untuk sampai tempat pemberhentian bis saya harus berjalan kaki sekitar 10 menit.

Di Deane’s busline(DBL), bis yang selalu membawa saya ke kampus, saya temukan hal-hal yang sulit pahami.  Apa itu? Di Indonesia, setiap kali saya naik bis, lebih sering saya memejamkan mata alias tertidur. Aktivitas ini, selain karena memang mengantuk, saya fikir cukup lumayan untuk melewatkan waktu dari pada bengong di bis. Terlebih lagi, yang saya rasakan ketika terbangun badan terasa segar untuk memulai aktivitas di kantor ataupun di kampus. Saya sendiri masih ingat ketika pagi-pagi harus ke stasiun Gambir untuk mudik hampir seluruh penumpang bis yang membawa saya tertidur pulas. Tak hanya di pagi hari, siang atau bahkan sore pun tidak susah saya temukan penumpang yang tertidur di bis.

Tapi, pemikiran ini sepertinya harus saya buang jauh-jauh setelah apa yang saya lihat di bis DBL yang selalu saya tumpangi. Saya tidak menemukan satu orang pun yang terkantuk-kantuk apalagi tertidur di bis kecuali rekan saya yang sama-sama dari Indonesia. Kalau bukan membaca buku, mereka menikmati headset yang selalu dibawa kemana-mana atau sekedar melihat-lihat keluar melalui jendela. Dari situlah saya bertekad untuk tidak akan mengantuk apalagi tertidur. Tapi, ternyata untuk mewujudkan tekad saya itu tidaklah mudah. Tetap saja saya merasa sulit untuk berdamai dengan mata saya. Saya hanya tidak ingin ada kesan bahwa orang Indonesia itu ngantuk-an, apalagi saya memakai jilbab. Sejak kasus bom Bali image orang Australia terhadap Indonesia kurang begitu bagus. Makanya, saya tidak ingin image itu bertambah buruk karena saya.

Sebenarnya banyak hal yang bisa saya jadikan apologi. Bisa saja saya berdalih bahwa saya bangun lebih pagi saat mereka masih asyik dengan selimutnya. Di pagi hari saya sudah banyak melakukan aktivitas dari memasak hingga memandikan anak. Sedangkan mereka, mungkin baru bangun setengah jam sebelum menjangkau bis kota. Jadi wajar kalau saya mengantuk dan mereka tidak. Tapi, siapa yang peduli dengan alasan saya karena dialog itu hanya terjadi dalam self-talk saya. Yang jelas mereka mendapati saya mengantuk dan tertidur dan itu cukup untuk menyematkan image lebih buruk tentang Indonesia.

Hingga saat ini pun saya masih mencari jawaban bagaimana hal itu bisa terjadi. Mengantuk dan tertidur tidak hanya terjadi di dalam bis di Indonesia. Di kelas-kelas, di gedung-gedung pemerintah, di gedung DPR banyak orang yang tertidur. Termasuk saya sendiri yang paling susah disuruh bertahan mendengarkan orang berbicara kalau topiknya tidak terlalu menarik buat saya.

Ketika saya masih menjadi mahasiswa atau sewaktu masih sekolah saya sering sering dijuluki ‘ngantuk-an’ karena seringnya teman-teman mendapati saya mengantuk. Saya sendiri tidak tau kenapa frekwensi ‘ngantuk’ saya di kelas selama mengambil program master agak berkurang, entah karena tekad, malu, dosen yang menarik, atau terlalu konsentrasi mencerna bahasa inggris sang dosen. Ternyata fenomena di bis yang saya ceritakan tadi juga terjadi di kelas. Setiap mata saya mulai kurang bersahabat dan mulai menunjukkan 5 watt saya menyapu pandang ke seluruh ruangan kelas. Ajaibnya saya tidak menemukan rekan-rekan dari australia mengantuk. Untuk hal yang satu ini ada satu cerita tersendiri.

Suatu ketika saya mengambil kuliah intensif yang dilaksanakan selama 5 atau 6 hari dari pagi hingga sore. Saat itu, tugas menulis paper mata kuliah lain pun menumpuk dan deadline sudah hampir menjelang. Saya pun terpaksa begadang hingga pagi. Saya sebenarnya sudah menyadari bahwa kehadiran saya di kelas pagi itu bakal tidak efektif karena saya yakin akan kondisi mata saya yang tidak rela untuk dipaksa terbuka hingga sore. Tapi, begitulah…saya putuskan masuk kuliah. Benarlah..dari pagi hingga menjelang dhuhur rasa kantuk tidak bisa saya tahan. Mata saya hanya terbuka dengan baik ketika coffee break, 5 menit sebelum sesi dimulai dan 5 menit sebelum sesi berakhir. Akhirnya, saya memilih untuk pulang meski sebenarnya tetap ingin bertahan. Dari pada menyiksa diri dan tak satupun pelajaran yang masuk mungkin lebih baik sejenak pulang terlelap. Namun, yang lebih penting dari itu adalah rasa malu dan tidak enak. Kembali terbayang bagaimana image mereka terhadap orang Indonesia.

Hingga saat ini saya belum menemukan jawaban mengapa orang Indonesia sering mengantuk dan kurang bergairah sementara mereka tidak. Jawaban lain yang menjadi perkiraan saya: pola makan dan konsumsi kopi. Tapi..entahlah..mungkin anda punya jawaban lain?

4 thoughts on “Indonesia VS Australia di Bis (?)

    1. salam kenal juga mbak..mbak failasufah temannya mbak yanti ya? ia mbak saya termasuk beruntuk bisa melihat dan menikmati hidup di aussie. asal di kopi tidak ngantuk mbak..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s