Mobilisasikan Intangibles Anda Menjadi Kekuatan Perubahan

BOOK REVIU

Judul Buku      : Myelin: Mobilisasi Intangibles Menjadi Kekuatan Perubahan

Penulis              : Rhenald Kasali

Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Pertama: Maret 2010

Beberapa bulan yang lalu bagi anda yang rajin mengikuti Indonesia Mencari Bakat (IMB) pasti akrab dengan nama Brandon. Sosoknya yang baru berusia 8 tahun itu berhasil memukau penonton dengan danc-nya. Kehadirannya selalu ditunggu tak hanya anak-anak seusianya. Para komentator pun terlihat begitu takjub pada setiap atraksi yang ditampilkannya. Gerakan tubuh lincah, ekspresinya yang disertai dengan koreografi yang selalu dipadu dengan sebuah kisah yang menarik membuat penonton semakin terpesona.

Brandon pada dasarnya sama dengan Susan Boyle yang berhasil memikat dengan bakat yang dimilikinya. Keduanya diorbitkan oleh sebuah event pencarian bakat. Susan Boyle mendapatkan standing applause dalam British Got Tallent melalui suara merdunya. Secara fisik orang tidak akan pernah menyangka bahwa Susan mempunyai kemampuan sedahsyat itu. Bahkan, ketika dia memasuki panggung penonton memandang sebelah mata termasuk para komentator melihat penampilan kasat matanya. Bagaimana tidak, dari sisi usia jelas dia sudah tergolong tidak muda lagi apalagi dari bentuk tubuh.

Brandon maupun Susan Boyle berhasil mencapai momentum hingga masyarakat mengelu-elukan kehadirannya. Ketika masyarakat menyaksikan event pencarian bakat mereka mendapati Brandon maupun Susan begitu menakjubkan.  Tapi, siapa yang akan menyangka bahwa untuk tampil dalam sebuah event yang hanya berdurasi 10 menit untuk setiap peserta tersebut perjuangan panjang mereka berdua telah dimulai entah berapa tahun yang lalu. Konon, Brandon telah mulai belajar nge-dance sejak usia 3 tahun. Ia sangat mencintai apa yang ia lakukan. Bakat itu mungkin telah ada karena sang ayah juga seorang dancer. Tapi bakat itu bisa jadi akan mati jika ia tidak diasah dan dilatih. Kelenturan tubuh dan gerakan yang lincah tidak akan tercipta oleh latihan dalam jangka waktu satu minggu. Ia harus terus menerus diasah.

Myelin, Buku Rhenald Kasali, menunjukkan bahwa manusia tidak cukup berinvestasi pada otaknya saja, tetapi juga ototnya (muscle) agar ia berorientasi pada tindakan, membentuk budaya disiplin dan membangun intrapreneuring, tata nilai serta kinerja.  Brain memory dapat diibaratkan kereta jabodetabek yang hanya mengandalkan sebuah lokomotif di kepalanya. Myelin merupakan rahasia dibalik perkembangan talenta manusi dan kesuksesan di dunia usaha yang melesat bak kereta api Shinkasen.

Sama halnya dengan Brandon yang telah membangun myelin-nya sejak usia batita, sebuah perusahaan ataupun institusi yang handal tidak muncul begitu saja. Ada sebuah nilai yang selalu diinternalisasi melalui proses bergerak sebagaimana seorang atlit yang sehari-harinya melatih ototnya hingga ia menjadi mahir melakukan atraksi yang membahayakan dirinya sekalipun. Mengapa mereka bisa? Karena mereka melakukan apa yang dikatakan oleh Daniel Coyle sebagai deep practice. Ia mengatakan deep practice X 10.000 hours = world Class Skill.

Dalam konteks organisasi atau bisnis, Rhenald Kasali mencontohkan bagaimana Blue Bird menjadi sebuah perusahaan taksi yang terpercaya diantara ratusan perusahaan taksi yang ada di Jakarta. Bagaimana bisa sebuah perusahaan taksi membangun driver yang jujur, mempunyai teknik mengemudi yang handal, kesopanannya tidak diragukan dan kepatuhan terhadap aturan lalu lintas menjadi jaminan keamanan dan keselamatan penumpang? Jawabannya adalah Myelin yang dikembangkan melalui budaya disiplin, intrapreneursip, knowledge management, value creation dan disiplin ekspansi. Proses itu memakan waktu yang panjang. Investasi pada intangibles menjadi sesuatu yang mutlak. Integritas para driver tidak akan terbangun dalam waktu sesaat tapi tempaan pelatihan dan nilai-nilai budaya perusahaan yang telah diinternalisasikan sejak rekruitmen selama bertahun-tahun.

Buku Myelin: Mobilisasi Intangibles menjadi kekuatan perubahan adalah sebuah buku yang tak hanya ditujukan cocok untuk membangun myelin individu ataupun sebuah usaha. Ketika saya pertama kali melihat buku tersebut, saya hampir meletakkannya kembali ketika terbaca pada sisi atas buku: Membuat usaha menjadi besar, berkelanjutan, tangguh dan inovatif. Saat itu saya sedang mencari sebuah buku terkait peningkatan kinerja organisasi publik. Makanya saya fikir buku tersebut tidak akan banyak membantu saya.

Ternyata, buku ini tidak hanya bisa diterapkan untuk membangun myelin individu ataupun pada perusahaan sebagaimana fokus kupasan Rhenald Kasali pada Blue Bird dan WIKA. Tetapi, organisasi apapun apalagi organisasi sektor publik di lingkungan pemerintah daerah sekalipun sangat perlu untuk mengadopsi kiat-kiat membangun myelin. Budaya kerja yang selama ini lebih diidentikkan pada kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler bisa lebih diarahkan pada bagaimana membangun budaya disiplin yang tidak hanya sebatas pada disiplin kehadiran tetapi disiplin dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Pun buku ini juga memberikan penekanan pada pentingnya knowledge management yang biasanya terabaikan pada organisasi pemerintah.

Rhenald Kasali pun rupanya menepati janjinya bahwa ‘Anda pasti tidak ingin berhenti membaca hingga kalimat terakhir, sebab setiap lembar buku ini penuh dengan pengetahunan dan kisah yang menyentuh yang membuat anda ingin berbuat lebih baik untuk hidup dan kehidupan’. Jadi untuk para change maker, buku ini harus menajadi ‘buku suci’ anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s