BRUCE

Lelaki paruh baya itu lah yang telah menginspirasi hingga saya tetap berambisi untuk tetap berfikir dan selalu berfikir tentang apa saja. Baginya saya bukanlah siapa-siapa bahkan dia pun tidak tau atau menyadari bahwa dia telah menancapkan semangat membara untuk mematahkan mitos-mitosnya. Tapi, bagi saya dia teramat berarti karena telah mengubah pola fikir saya tentang ilmu dan kerja.

Perkenalan saya dengannya terjadi sekitar tiga tahun yang lalu ketika saya diminta menghadap untuk membahas rencana riset saya. Ya..dia adalah coordinator research project yang bertanggungjawab untuk memastikan bahwa seluruh mahasiswa yang mengambil mata kuliah tersebut adalah orang yang bisa melakukan penelitian dan bertanggungjawab memonitoring progress penelitian yang dilakukan.

Kesan pertama saya terhadap Bruce…hmmmm..buruk sekali. Dari raut wajahnya saja sulit sekali menemukan senyum hingga terlintas di benak saya …gimana ya senyumnya. Tak seperti dosen-dosen lain yang selalu menghargai pendapat dan kemampuan mahasiswa. Menurut saya dia termasuk golongan profesor2 lama yang jaim, merasa paling pintar dan tidak terlalu percaya dengan kemampuan mahasiswanya.

Waktu itu mahasiswa yang akan mengambil research project hanya 9 orang termasuk saya. Mata kuliah ini buat saya sebenarnya hanyalah mata kuliah pilihan. Namun rasanya kurang afdol kalau kuliah pasca sarjana tanpa melakukan riset. Makanya saya sengaja mengambil kuliah ini meskipun tidak terlalu sreg dengan sang coordinator program.
Seperti biasa, saya selalu berusaha datang kuliah tepat waktu. Saat petama mata kuliah akan dimulai lelaki itu sudah ada di ruangan. Diam seribu bahasa tanpa kata tanpa senyum hingga 10 menit terlewatkan. Saya pun berbisik dengan rekan di sebelah saya: kenapa tidak dimulai saja. Mamang saat itu belum seluruh mahasiswa hadir. Namun seperti dosen-dosen lain, kuliah bisa saja segera dimulai tanpa menunggu kehadiran seluruh mahasiswa. Setelah seluruh mahasiswa hadir barulah dia membuka pembicaraan. Tak banyak yang disampaikan, kecuali hanya selintas tentang research project itu sendiri dan membuat appointment untuk menemuinya face to face keesokan harinya.

Hari berikutnya saya menemui Bruce di ruang kerjanya dan dia mewanti-wanti bahwa research project itu berat dan butuh ekstra tenaga dan fikiran untuk menyelesaikannya. Saat itu dia juga menanyakan rencana riset saya. Untung saja sempat terbersit ide penelitian yang akan saya lakukan meskipun belum saya dalami benar-benar. Lagi-lagi tidak ada senyum. Pertemuan yang sangat singkat, mungkin hanya sepuluh menit hingga dia meminta saya memikirkan lagi tentang riset yang akan saya lakukan dan akan dibahas bersama professor-profesor lain pada minggu berikutnya.

Pertemuan selanjutnya dengan Bruce hanyalah sebatas saat saya dan rekan-rekan harus mempresentasikan progress riset setelah kami mendapatkan supervisor masing-masing. Hingga suatu ketika saat penelitian sudah sampai pada tahap findings dan kami harus mempresentasikannya saya membuat suatu kesalahan hingga dia memanggil saya bersama empat rekan lainnya untuk menghadap.

Heteroscedasticity….gara-gara satu kata itulah saya mendapat teguran keras. Tapi memang begitulah adanya. Dalam riset yang saya lakukakan saya menggunakan metode ekonometri sederhana. Sebenarnya saya tidak menguasai metode itu. Cuma karena ingin menjajal kemampuan dan semester sebelumnya sudah mendapat materinya, meski sedikit, plus tentir selama beberapa kali pertemuan makanya saya beranikan diri untuk mencobanya. Yang ingin saya uji adalah faktor-faktor yang mempengaruhi transparai pemerintah daerah. Setelah melakukan pengujian dengan stata akhirnya saya dapatkan findingsnya.

Sehari sebelum presentasi teman saya mengatakan bahwa saya harus melakukan het test atau heteroscedasticity test. Waktu itu bahkan hingga saat ini saya tidak terlalu paham test apakah itu tapi saya mengerti bagaimana melakukan test itu dengan memasukkan rumus hingga keluarlah hasil yang lebih bisa diandalkan.

Saat presentasi dengan bangganya saya katakan: After testing for heteroskedasticity and multicolinearity, EDU, INTGR and SIZE are robustly and significantly correlate with OPEN. Begitu duduk dia langsung nanya apa itu heteroscedasticity. Sambil cengengesan saya jawab saja seadanya dan sejujurnya kalau saya dikasih tau teman yang juga ambil research project tentang itu tapi saya harus melakukannya. Bahkan didepan supervisor-supervisor lain dia mentertawakan saya dan bilang ‘you even cannot spell it’. Dasar saya suka cengengesan ya saya cuma cengar cengir saja karena sadar juga klo saya salah. Langsunglah saya dipanggil menghadap dan dipanggil Mrs Heteroscedasticity dan lagi-lagi diulang ‘you even cannot spell it’. Huh..menghina sekali..

Karena waktu itu supervisor saya tidak hadir saat presentasi makanya tidak ada yang membela saya dan test yang saya lakukan pun tidak sepengetahuan supervisor makanya tidak ada yang bisa saya lakukan selain pasrah menerima ledekannya. Saat itu pula dia beritahukan saya bahwa supervisor saya mendapat pekerjaan baru sehingga peran supervisor diambil alih oleh Bruce.

Setelah dia menjadi supervisor saya, kesan saya terhadapnya tidak berubah meski interaksi kami sudah lebih cair. Dia pun tak lupa membahas kembali kesalahan saya dan menanyakan mengapa saya melakukan kesalahan itu. Dia katakan: ‘isn’t it weird? You do something that you don’t know’ saya hanya bisa menjawab ‘yeah..’ sambil menerawang dan memikirkan ‘apa itu artinya weird?” karena dia terus menatap saya makanya saya iya kan saja. Baru kemudian saya temukan artinya setelah membuka kamus sesampainya dirumah dan artinya adalah ‘aneh’.

Begitulah…hingga akhirnya hasil akhir riset saya keluar dan mendapat nilai yang tidak terlalu mengecewakan, setidaknya buat saya. Ledekan Bruce paling tidak cukup menghawatirkan saya sehingga saya tidak berani berharap banyak untuk memperoleh distinction (D=70-80). Tapi dari ledekan itu pula saya berusaha semaksimal mungkin dan selalu berupaya berkonsultasi dengan academic skill advisor untuk memastikan bahwa riset saya tidak melenceng dari standard an untuk mengurangi kesalahan-kesalahan grammar. Standar penulisan academic di Australia sangat berbeda dengan apa yang saya jalani waktu menulis skripsi saya.

Kalau di sini kita lebih mengenal Landasan Teori maka bab II di sana adalah Literature Review. Meskipun secara terjemahan beda-beda tipis namun secara konsepsi sangat jauh berbeda. Saya masih ingat ketika menulis Landasan Teori, yang saya lakukan adalah mengumpulkan text book sebanyak-banyaknya kemudian mengcopy teori-teori yang akan dipakai dalam pembahasan. Nah, ini sangat berbeda dengan Literature Review dimana kita tidak diminta untuk menuliskan teori-teori, tapi melihat hasil-hasil riset yang terkait dengan judul yang kita ajukan untuk selanjutnya dilakukan review alias menganalisis sisi baik dan buruk riset-riset terdahulu sebelum pada akhirnya memunculkan bahwa riset kita dimaksudkan untuk mengisi gap literature yang belum pernah dikaji oleh periset-periset sebelumnya. Jadi proses analisis sudah dimulai dari bab II.

Membandingkan apa yang saya alami dengan kondisi di sini sungguh sangat kontras. Lagi-lagi mungkin saya pun tak seharusnya membandingkan karena banyak factor yang mempengaruhi. Suatu ketika, saya pernah bertemu dengan mahasiswa S3 suatu perguruan tinggi setempat di sini. Dia mengatakan kalau saat itu sedang mengambil program doctoral dan berencana melakukan riset. Tidak tanggung-tanggung, dia menggunakan metode kuantitatif. Diapun menceritakan rencana risetnya dan menurutnya: yang paling sulit adalah mengumpulkan data, kalau masalah olah data saya bisa serahkan pada keponakan saya, dia mahasiswa MIPA dan biasa melakukan itu. Di saat yang lain, saya bertemu dengan seorang rekan, diapun mengatakan hal yang sama.

Hmmmm..ya tidak mengherankan di kota ini sepanjang jalan di sekitar kampus banyak ditemukan kios-kios yang memasang plang ‘olah data’ ataupun konsultasi menyusun skripsi dan thesis. Padahal kalau mengingat kata-kata Bruce..”my student even after 2 years study econometric they still make many mistakes”…”lha kamu????” lagi-lagi saya hanya menatapnya sambil cengingas cengingis. (Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s