KISAH DIBALIK TIKET GRONINGEN

Malam telah larut rembulan pun telah lama bersemayam di peraduannya. Namun terasa sulit mata memejam. Fikiran pun melayang pada petualangan Trio Macan Sulsel ke Groningen. Barkah, Toni, dan Rofiek. Saya lebih suka menjuluki mereka dengan ‘Trio Macan’ dan bukan trio kwek kwek karena berbeda dengan trio kwek kwek yang personilnya masih imut-imut, segar-segar dan sedap dipandang mata, maka ketiga personil Trio Macan Sulsel ini memang udah cukup umur (klo tidak mau disebut tua, hehe..)

Mereka bertiga setiap saat seperti tidak pernah absen meng-update status di facebook sebagaimana tekad mereka sebelum berangkat yang pernah terlontar waktu itu ‘Hmm pokoknya nanti fb-ku isinya foto-fotoku keliling Eropa’. Apalagi Toni ‘Pokoknya aku harus foto di  depan menara Eiffel untuk menebus kegagalanku ke Perancis’.

Kini hampir setiap hari saat saya buka facebook pasti ada  foto-foto narsis mereka terbaru. Apalagi Barkah dengan gaya super kemakinya membuat saya benar-benar merasa iri seiri-irinya atas ke-bejo-an mereka bertiga. Dan sepertinya bukan hanya saya yang iri melihat foto-foto mereka yang terlihat seolah hanya sekedar manipulasi gambar dengan cara meng-crop foto mereka dan di paste ke foto-foto pemandangan berlatar belakang Eropa yang biasa ada di kalender-kalender.

Bagi sebagian orang mungkin menganggap bahwa mereka bertiga hanya sekedar jalan-jalan dan berfoto-foto sebagaimana yang selalu dilakukan oleh para anggota dewan yang sering studi banding. Kalau dilihat foto-foto mereka yang sangat narsis, sepertinya memang begitu. Makanya saya dan beberapa rekan mengatakan bahwa mereka benar-benar ‘bejo’ alias beruntung karena hanya berbekal bahasa Inggris mereka bisa keliling Eropa. Namun benarkah ini hanya faktor ‘bejo’ semata? Mari kita lihat sekilas perjalanan mereka mendapatkan tiket ke Groningen satu per satu:

Becky Subarkah

Bagi Becky, demikian nama komersiilnya, menapakkan kaki ke negara ber-empat musim adalah sebuah mimpi yang telah lama dipendamnya. Bersama anggota Laskar Akuntan yang dibentuk pada tahun 2002 dia telah menjadi sekretaris BPKP English Meeting Club yang merupakan cikal bakal Program English is Fun. Disela-sela penugasan selalu disempatkan untuk berdiskusi dalam bahasa Inggris karena kebetulan seluruh anggota Laskar Akuntan adalah para  scholarship hunter (kecuali mas Rofiek).

Selain aktif berdiskusi, Becky juga merelakan diri merogoh kocek yang cukup tebal dan melewatkan malam yang seharusnya bisa digunakan untuk dugem ataupun pacaran untuk mengambil kursus bahasa inggris demi meningkatkan nilai TOEFL. Maka sejak tahun 2004, setelah dia berhasil mengantongi skor TOEFL lebih dari 500, Becky Subarkah telah bergelut dengan isi  mengisi aplikasi beasiswa, mulai dari ADS  untuk Australia, Chevening untuk Inggris dan Aminef yang ditawarkan Pemerintah Amerika. Sejak tahun itu pula pil pahit penolakan dari para sponsor selalu ditelannya meski dia sempat mendapat kesempatan tiga kali sampai pada tahap wawancara.

Yang lebih pahit dari pada itu pada dasarnya bukan pada masalah penolakannya. Satu hal yang membuatnya semakin merasa terbebani dan ‘malu’ adalah tersiarnya kabar bahwa dia telah lulus ADS dan segera ke Australia. Saat itu hampir semua orang menanyakan ‘kapan ke Australiannya?’ atau ‘Lho mau ke Australia kok masih makan Indomie?’ setiap mendapati si Becky sarapan mie-nya Pak Mansur. Bisa dibayangkan beratnya. Ditambah lagi ketiga anggota Laskar Akuntan lainnya sudah berhasil menginjakkan kaki di sana. Hingga sepertinya lengkaplah penderitaannya. Belum lagi, penugasan SIMDA yang bertahun-tahun di Masamba dan Toraja membuatnya seperti  diasingkan dan dijauhkan dari mimpi-mimpinya, sebelum akhirnya dia ‘menjerumuskan’ dirinya dalam dunia hipnoterapi maupun investasi saham dan forex .

Perjalanan Becky Subarkah mendapatkan tiket ke Groningen ibarat kisah asmaranya yang belum menemukan ujungnya. Saya sendiri lebih senang mengatakan bahwa tiket ke Groningen adalah ‘hadiah’ dari Sang Pencipta atau jawaban atas do’a yang telah dipanjatkannya selama bertahun-tahun.

Toni J Pisa

Lain Becky Subarkah lain pula Toni J Pisa, meskipun hampir-hampir mirip. Toni J Pisa ini sebenarnya sudah hampir menyongsong impiannya ber-foto di bawah menara Eiffel dua tahun yang lalu. Namun kondisi mengharuskannya menelan pil pahit dan kembali bersama dengan Becky Subarkah menetap di Makassar. Toni J Pisa rupanya lebih beruntung dibandingkan dengan Becky Subarkah. Setidaknya dia telah menginjakkan kaki di Australia untuk tinggal disana selama 2 tahun, dan dia tidak mengalami penolakan-penolakan  cinta sebagaimana yang dialami rekan sejawatnya. Kegagalannya pergi ke Perancis tidak membuatnya putus asa, tapi justru membuat dia berjanji pada dirinya sendiri untuk dapat memberikan yang terbaik bagi BPKP, dan atas kerja keras dan dedikasinya, akhirnya dia berhasil mendapatkan gelar kehormatan sebagai Pegawai Teladan PFA Tingkat Perwakilan BPKP Sulsel tahun 2009 dan meraih Terbaik I Pegawai Teladan PFA BPKP Tingkat Nasional 2009. Suatu pencapaian prestasi yang sangat luar biasa, setidaknya bagi saya.

Sebagai scholarship hunter, Isi mengisi formulir beasiswa pun sudah menjadi makanan sehari-harinya. Penolakan-penolakan pun sudah menjadi hal yang biasa baginya. Namun Toni J Pisa tidak pernah menyerah bahkan lebih gigih dibandingkan dengan Becky Subarkah.  Kalau Si Becky biasanya mengirim berkas menjelang deadline, Toni J Pisa ini lebih well- prepared sehingga kualitas isian pun mungkin lebih baik hingga akhirnya dia mendapatkan beasiswa AED program master Amerika 2010 yang dananya berasal dari USAID.

‘Kalau kita tidak mengirim berarti peluang kita berhasil nol, tapi kalau kita mengirim ada kemungkinan kita diterima’. Itulah prinsip yang dipegangnya setiap kali ada penawaran beasiswa. Tahun lalu misalnya. Dia mengirimkan aplikasi beasiswa S2 ke Korea. Sebenarnya dia telah dinyatakan lulus berkas dan mendapatkan kesempatan untuk dilakukan wawancara lewat telepon . Sayang seribu sayang saat sang professor dari Korea hendak melakukan wawancara langsung via phone, HP Toni J Pisa lobet. Hancur sudah…semua rasa bagiku hancur sudah.. mungkin seperti lirik lagu ungu itulah yang bisa menggambarkan suasana hatinya saat itu. Makanya saat dia dinyatakan lulus berkas dan hendak diwawancarai beasiswa AED – USAID atau program yang ditawarkan oleh Amerika lewat telepon,  dia merelakan diri merogoh koceknya untuk langsung terbang ke Jakarta dan menolak wawancara via phone, dan akhirnya tiket beasiswa Master Amerika-pun diraihnya.

Sama dengan Becky Subarkah, tiket ke Groningen adalah ‘Obat’ penawar kekecewaan dan lulus Beasiswa ke Amerika adalah jawaban atas do’a yang telah dipanjatkannya sejak tahun 2002 silam.

Rofiek A. N(d)eso

Sulit untuk mengatakan tentang Rofiek A. N(d)eso selain karena dia adalah orang yang super bejo dalam banyak hal. Hampir semua orang sudah mengakui hal ini. Pria yang tak pernah telihat susah dan seperti tidak pernah menanggung beban ini sepertinya selalu diliputi keberuntungan, baik itu dalam soal jodoh, pendidikan, ikut diklat ketua tim, ataupun dalam soal yang berbau rejeki… Dia itu kagak ada matinya dah’ kalo dalam hal bejo’ alias untuuuuung terus…. Makanya ketika tiba-tiba dia ‘nyangkut’ ke Groningen banyak yang mengatakan karena dia memang orang ‘super bejo’ seperti Si Untung sepupunya Donald Duck.

Saat mengirim formulir program Neso untuk Short Course ke Groningen pun ia isi pada the last..last..minute sekali…. Saat itu malah sudah hampir terlambat. Dasar orang ‘bejo’ dia lulus juga. Namun satu hal yang perlu diacungi jempol adalah bahwa skor TOEFL-nya langsung di atas 500 meski baru pertama kali dia mengikuti, tapi ya itu… semua karena memang karena ke bejo-an-nya…bukan karena ke-ndeso-annya..

Epilog

Sebagai penutup kisah Trio macan, saya hanya ingin mengutip pendapat Murray Smith dalam The Answer: Mencapai Sukses Bisnis, Meraih Kebebasan Finansial, dan Memiliki Hidup yang Berkelimpahan yang mengatakan bahwa salah satu hukum yang berlaku untuk mencapai sukses adalah adanya hukum masa persiapan. Dia mencontohkan bahwa benih wortel membutuhkan waktu sekitar tujuh hari sejak ditanam hingga berbentuk utuh wortel dan siap dimakan. Seekor anak domba mempunyai masa persiapan dari pembuahan hingga kelahiran kira-kira 145 hari. Dan manusia masa persiapannya adalah 280 hari.

Jika diidentikan dengan apa yang dikatakan olah Murray Smith maka tiket ke Groningen yang ada di tangan Trio Macan adalah hasil dari benih impian yang telah ditanam sejak bertahun-tahun yang lalu, kemudian benih itu terus disirami, disiangi dan dipelihara secara terus menerus hingga siap dipanen. Mereka telah menanamkan benih impian ke dalam diri masing-masing dan kemudian menjaga benih itu untuk tetap hidup dan berkembang dengan terus memeliharanya hingga pada saat yang tepat benih itu telah menjelma kenyataan. Jadi…bukan semata karena bejo….

“TRIO MACAN: I PROUD OF YOU GUYS”

2 thoughts on “KISAH DIBALIK TIKET GRONINGEN

    1. eh sekarang dan kedepan kan banyak program2 yang ditawarkan kantor pit..jd siap2 aja menjemput impian. skarang kita disini mo cari teacher buat ngajarin Toefl supaya bisa jalan2 kayak trio macan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s