ANGKA KREDIT

Tidak seperti periode-periode sebelumnya, kali ini saya begitu peduli dengan angka kredit. Seolah baru tersadar dari mimpi buruk yang panjang dan tiba-tiba dibangunkan oleh alunan lagu salamim bait sebagaimana yang pernah saya alami sepuluh tahun yang lalu. Begitu kuatnya pesona lagu itu hingga saya selalu terbangun saat lagu itu terlantunkan ketika ibu-ibu di kompleks tempat saya tinggal sedang bersenam aerobic tiap minggu pagi.

Lagu itu saat ini menjelma dalam fikiran saya menjadi sebuah kata lain yang disebut ‘remunerasi’. Sedangkan mimpi buruk itu adalah apatisme saya terhadap pola penilaian kinerja berdasarkan angka kredit yang menurut saya tidak akan berpengaruh pada penghasilan kecuali sangat kecil sekali. Makanya, saya tidak pernah mempedulikannya. Tahun lalu pun seandainya tidak di’oprak-oprak’ mungkin tidak tersampaikan pada tim penilai. Sampai kemarin pun saya lebih suka memikirkan ide-ide menarik yang bisa saya jadikan tulisan dari pada berburu surat tugas dan laporan hasil pelaksanaan kegiatan yang entah kemana saya letakkan. Hingga akhirnya tadi pagi saya mulai mencoba memikirkannya dengan melihat beberapa peraturan terkait.

Dari situlah saya merasa ada yang berubah. Saya seolah menjadi materialistic sekali. Saya mulai menghitung-hitung berapa lama saya sudah IIIb dan kapan kira2 bakal naik pangkat, berapa angka kredit yang saya butuhkan untuk naik pangkat. Dan tiba-tiba timbul keinginan saya untuk segera naik pangkat dan ingin mengumpulkan angka kredit sebanyak-banyaknya. Tidak ada yang salah, barangkali. Hanya saya merasa mengapa saya jadi begini. Yah.. Smoga remunerasi tak menjadikan saya terpenjara oleh angka kredit yang akan memasung kreatifitas. (14 November 2009)

6 thoughts on “ANGKA KREDIT

  1. Perubahan yang sadar,itu yang terpenting. Jadi,apapun jenis perubahan itu jika di lalui dengan sadar,isyaAllah mengantarkan kita menjadi manusia yang lebih baik. Bukan berfikir tentang matrealistik lagi,tapi berfikir apa yang kita lakukan tidak setengah-setengah,termasuk mengusakan kesejahteraan kalau naik pangkat. He…he..

  2. betul dik, perubahan dengan sadar itu kuncinya. masalah materialistik itu mungkin aku kadang terbawa lingkungan yang kebanyakan klo gak da uang orang pada males kerja makanya aku cuma sekedar kuatir aku ngejar kerjaan yang ber-uang sementara melupakan kerjaan2 yang aku sukai namun tak ber-uang.

  3. Nung, semester kemarin aku (lagi-lagi) gak ngumpulin angka kredit. Aku masih ngga bisa mengerti kenapa kita musti manual mengumpulkan angka kredit. Kan semua proses penugasan ada di SIM-HP, lengkap dengan hari produktif dan laporannya. Mestinya kita ngga direpotkan lagi dengan pekerjaan klerikal yang satu itu. Aku ngga bisa banyak protes, paling banter dengan membangkang tidak bikin angka kredit.

    Lagipula, kenaikan pangkat kita nanti tergantung formasi di atas. Jadi, kalau sekarang aku masih anggota tim, tunggu dulu ada daltu pensiun, supaya dalnis bisa naik jadi daltu, supaya ketua tim bisa naik jadi dalnis, baru deh aku berpeluang jadi ketua tim. Jangan-jangan nanti kalau saatnya aku tiba jadi daltu, organisasi ini sudah punah dengan sendirinya😦

    1. begitulah nin..itu yang selalu kita keluhkan…dah pusing ngurus kerjaan…angka kredit we repot men. cuma yo goro2 isu remun kmaren aku agak tergerak. bukan apanya kuatir nanti sakit ati klo yang gol diatas kita berperan jd anggota tim dan kerja asal2an dapetnya lebih tinggi drpd kita apa gak nyesel dan muangkel seumur idup. tapi denger2 di kupang dah jalan tuh ide yg seperti itu. payah lah wong dah ikut diklat spip ada sertifikat tapi gak da surat tugas mosok gak diakui… kayaknya memang lebih baik jgn terlalu berharap pd kantor alias mencoba menapak di dua tempat ae nin. awakmu saiki neng suroboyo yo? ambil s2 to?

  4. Na, semangat…
    saya sudah III/d lho, insya Allah dua tahun lagi IV/a. ternyata untuk urusan dimana naruh surat tugas kita sunarsip… eh senasib.

    1. mantap eui…berarti dah da lagi calon2 pemimpin yang handal dan berintegrita..kayaknya mang harus gitu kali ya pak klo mo perbaiki dr dalam. kadang klo terlanjur kecewa malah akhirnya orang2 yg tak layak yang malah maju…kayaknya saya harus berguru dengan pak sam nih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s