AH TEORI

Beberapa tahun yang lalu..atau bahkan dua puluh tahun yang lalu (?) istilah di atas menjadi top of mind sebuah iklan shampo anti ketombe. Hmmm.. sungguh waktu cepat berlalu hingga seolah baru kemarin istilah itu begitu populer dan menyadarkan bahwa saya adalah generasi-generasi jadul yang harus segera sadar akan usia. Kalau tidak salah dalam iklan tersebut digambarkan seorang dosen sedang menjelaskan pelajaran dan kemudian salah seorang mahasiswa berkomentar ah..teori. Maksud dari mahasiswa tersebut tentu saja untuk membantah bahwa apa yang dijelaskan hanyalah sekedar teori sebagaimana dalam teks book yang dalam kenyataannya justru sebaliknya.

Begitulah, waktu berlalu hingga sebulan yang lalu teman saya mengingatkannya kembali pada waktu kami mengikuti sebuah sesi PKS (Pelatihan Kantor Sendiri). Seperti biasa setiap awal sebuah penugasan kami melakukan PKS untuk mempersamakan persepsi pada saat turun ke lapangan. Sebagai seorang auditor kami terbiasa dengan hal-hal yang praktis, apalagi tuntutan pekerjaan yang mengharuskan penyelesaian yang cepat. Sebelum masuk ke inti permasalahan yang dibahas, narasumber menyempatkan diri untuk membahas latar belakang permasalahan tersebut, seperti dasar hukum dan mengapa harus dilakukan penugasan tersebut. Untuk ukuran kami yang inginnya serba praktis tentu membahas teori cukup membosankan. Hingga sebuah sms masuk di hp saya: kok cuma teori-teori.

Tapi justru dari situlah kembali saya diingatkan akan sebuah pembangunan tata kota di Columbia yang dibangun atas dasar filosofi yang dalam dan kerangka teoritis yang kuat. Bogota, kota yang pada saat pertama saya mengenalnya dari sosok Betty dalam sebuah telenovela “Betty Lafea” sekitar tahun 2000 silam, adalah sebuah fenomena pembangunan tata kota yang dibangun atas dasar penghormatan kepada harkat hidup dan martabat manusia. Penyediaan ruang publik berupa taman-taman kota yang nyaman; pembangunan sekolah, perpustakaan umum, tempat penitipan anak yang berkualitas ditengah tengah kawasan kumuh; penataan sistem transportasi yang menyediakan ruang untuk pejalan kaki dan jalur sepeda; serta penataan pusat kota yang nyaman dimana masyarakat dapat berinteraksi dengan sehat adalah perubahan-perubahan yang fundamental yang bukan hasil dari sebuah pragmatisme sesaat. Bagaimana tidak, kota yang dulunya terkenal sebagai sarang narkoba dan kriminal kini menjadi tujuan studi banding negara-negara di dunia, termasuk lahirnya busway pun dari sana.

Membandingkan dengan sistem perencanaan tata kota di Indonesia? No Comment. Mengaitkan ide ini dengan ah..teori barangkali bisa menjadi bahan renungan. Sebagaimana dalam iklan tersebut antara realitas dengan teori lebih banyak yang tidak sejalan. Akhirnya, kepercayaan kita terhadap teori menjadi pudar. Teori hanyalah menjadi hayalan, utopia, mimpi dan hal yang bersifat normatif belaka. Teori tidak pernah lagi dipakai sebagai pijakan untuk menyelesaikan permasalahan kecuali bagi kalangan akademisi. Mengapa demikian? Atau karena kecenderungan masyarakat kita yang lebih senang menjadi sebuah paradox yang berlawanan dengan teori. Kalau begitu, mengapa ada teori yang baku yang bagi beberapa komunitas dan telah teruji keakuratannya pada saat dilaksanakan secara konsisten? Mbuh lah..

Sama halnya ketika saya harus menyampaikan sebuah materi dalam bimbingan teknis, peserta yang kebanyakan adalah para praktisi selalu menodong saya dengan pertanyaan: contonna alias contohnya.. Para peserta cenderung lebih suka hal-hal yang praktis tanpa peduli mengapa dan apa manfaat sesungguhnya dari sebuah konsep. Yang terpenting, tau caranya dan kewajiban selesai. That’s it. Contoh atau aplikasi detail atas sebuah teori pada dasarnya hanyalah berada pada tataran yang terendah alias sekedar menjawab pertanyaan ‘How’ tanpa peduli dengan ‘Why’ yang merupakan ruh yang akan menjadi penggerak berjalannya sebuah mekanisme secara sempurna.

Begitulah… Alhasil, lebih sering perubahan sebuah sistem gagal menyentuh perubahan substansi yang sebenarnya. Perubahan sistem penganggaran yang kini disebut performance-based budgeting, misalnya, meski telah diterapkan sejak 2003, tetap saja belum menyentuh esensi dari penganggaran kinerja yang sebenarnya, yang ada hanyalah sekedar perubahan-perubahan formulir. Terkait dengan perencanaan pembangunan sebagaimana yang saya sebut diatas? Hmm apalagi .. program pendidikan gratis, program peningkatan jalan, program pengentasan kemiskinan lan sakliyane yang digagas oleh pemerintah daerah lebih banyak merupakan program yang didisain sebagai reaksi atas sebuah permasalahan yang mengemuka tanpa melihat pangkal permasalahan yang sebenarnya. Pun demikian juga hal semacam ini bisa dilihat dari peraturan-peraturan daerah yang terbit. Di Makassar, misalnya, ada perda yang mengatur tentang anak jalanan yang dilarang berkeliaran di perempatan-perempatan jalan, termasuk juga pelarangan untuk member uang kepada pengemis di tempat umum. Atau perda yang mengharuskan supir angkot untuk menyediakan tempat sampah di dalam mobil. Aneh bukan.. esensi yang sebenarnya justru tidak tersentuh. Peraturan dibuat malah justru merepotkan orang. Hasilnya..semakin banyak peraturan semakin banyak pelanggaran. Tak heran kalo banyak yang mengatakan bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar. Ya karena peraturannya tidak logis..

Membandingkan kembali dengan Bogota? Entahlah karena saya juga belum pernah kesana selain hanya membaca di internet dan melihatnya di TV. Tapi yang dapat saya simpulkan bahwa pemberantasan kriminalitas, penataan kawasan kumuh, kembalinya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah semuanya dibangun atas dasar konsep yang jelas. Pembangunan sekolah, perpustakaan dan penitipan anak yang berkualitas di kawasan kumuh adalah sebuah program strategis untuk menjauhkan generasi baru dari hal-hal negative. Pembangunan public space yang memberikan ruang gerak bagi masyarakat umum untuk mendapatkan udara segar dan rekreasi yang murah meriah termasuk jalur-jalur sepeda membuat masyarakat merasa nyaman dan tentu saja mempersempit gap antara yang kaya dan miskin karena yang kaya pun lebih suka bersepeda.

Semakin dalam membahas tentang hal ini semakin mengingatkan saya akan buku yang saya pinjam dan belum saya kembalikan, yaitu The Tipping Point-nya Malcolm Galdwell. Sudah lama pula saya ingin membahasnya tapi kodong..tidak ada waktuku bela.. (a_nanana_s@yahoo.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s