TAK KENAL MAKA TAK SAYANG

Sudah lama sebenarnya saya ingin menulis tentang peribahasa tersebut.  Tepatnya ketika saya pindah ke tempat tinggal saya yang baru. Peribahasa tersebut tidak pernah mengusik saya hingga akhir tahun lalu saya seperti harus memikirkan ulang keabsahannya. Padahal, 20 tahun yang lalu saya sempat dibuat terpikat oleh cara berkenalan teman SMA saya begitu dia mengutip peribahasa itu. Waktu itu kami masih menjadi siswa baru dan untuk lebih mengakrabkan wali kelas meminta kami maju satu persatu untuk memperkenalkan diri. Memang benar setelah acara perkenalan tersebut kami satu kelas menjadi lebih akrab. Setelah itu persahabatan-persahabatan pun mulai tumbuh atau bahkan roman percintaan mulai terjalin..hmmmm… Lain dulu lain kini. Sebagaimana Adi Gunawan menyebutkan tentang belief, persepsi saya tentang peribahasa tersebut berubah drastis. Seperti yang disebutkan oleh hipnoterapist tersebut bahwa belief bisa berubah karena beberapa hal seperti referensi, pengalaman hidup, didikan orang tua, lingkungan dan sebagainya. Begitulah, peribahasa tersebut saat ini justru terdengar begitu egois. Barangkali benar bahwa perkenalan adalah awal dari interaksi-interaksi lain yang lebih dalam hingga akhirnya menumbuhkan rasa sayang. Atau justru sebaliknya, semakin mengenal justru semakin terlihat hal-hal buruk yang bahkan bisa memunculkan api pertikaian. Tapi bukan itu yang ingin saya bahas disini. Saya hanya ingin menekankan mengapa rasa sayang sepertinya hanya akan tumbuh untuk orang-orang yang kita kenal? Mengapa rasa sayang terhadap sesama sangat dibatasi oleh relasi? Lebih ekstrimnya mungkin mengapa rasa peduli itu lebih dahulu muncul pada orang-orang yang kita kenal dari pada yang tidak dikenal? Semenjak mengenal Robert Putnam tepatnya ketika saya mengikuti kuliah Policy and Social Capital, saya mulai tertarik isu-isu tentang hubungan kemasyarakatan yang diikat oleh norm, trust dan network. Dalam artikelnya Bowling Alone, Putnam menyebutkan bahwa Social Capital adalah faktor yang menyebabkan menurunnya partisipasi masyarakat Amerika dalam pemilihan umum. Selain itu dalam risetnya yang lain di Italia Putnam menemukan bahwa efektivitas suatu pemerintahan sangat ditentukan oleh stock social capitalnya dengan membandingkan kualitas norms atau norma, trust atau kepercayaan antar anggota masyarakat dan network atau kerjasama pada dua pemerintah daerah. Daerah yang stock of social capitalnya lebih tinggi terlihat lebih sejahtera dibandingkan yang lainnya. Kembali pada masalah peribahasa tersebut, jika dilihat dari jenis kualitas social capital maka masyarakat yang menganut peribahasa ‘tak kenal maka tak sayang’ masuk pada kategori masyarakat yang mempunyai bonding social capital yang kuat. Bonding social capital adalah relasi kemasyarakatan dimana ikatan antar anggotanya sangat kuat karena memegang norma, kepercayaan dan kerjasama yang sama. Dalam masyarakat seperti ini rasa solidaritas yang sangat tinggi akan lahir diantara anggota hingga sulit untuk ditembus masyarakat diluar anggotanya. Untuk memasuki masyarakat yang seperti ini biasanya diperlukan suatu pendekatan dimana pendatang mau tidak mau harus bersedia meleburkan diri atau setidaknya beradapatasi dengan mengikuti upacara atau seremonial-seremonial tertentu dalam bentuk apapun untuk menjadi atau dekat dengan masyarakat tersebut. Contoh konkritnya seperti apa yang saya alami setahun yang lalu. Ketika memutuskan untuk tinggal di tempat saya saat ini pertimbangannya adalah lingkungan. Sebelum menempatinya, saya masih harus menunggu beberapa saat karena perlu dilakukan beberapa rehab. Tentu saja saya dan suami harus beberapa kali bolak-balik antara rumah saya dengan rumah mertua untuk mengawasi kerja tukang. Setiap memasuki gang tempat tinggal kami, saya sering berpapasan dengan tetangga satu lorong. Namun tidak pernah ada tegur sapa. Sebagai warga baru saya menyadari akan unggah-ungguh atau adap orang baru dimana sayalah yang harus menyapa terlebih dulu. Saya sadari itu. Makanya, setiap berpapasan dengan mereka saya selalu berusaha menatapnya dan berharap mereka melihat saya. Sayangnya, tatapan saya tak terbalas, kecuali oleh tetangga depan rumah saya dan sebelahnya. Hingga saya benar-benar pindah, hal yang sama tetap terjadi. Rasa tidak nyaman selalu menyelimuti setiap kali berpapasan ketika saya harus pulang balik kantor. Mungkin ini hanya perasaan dan kesalahan saya yang kurang begitu pandai bergaul. Semua itu berubah ketika kami mengadakan syukuran dan mengundang tetangga kami. Bagaimanapun kami akan tinggal di rumah kami mungkin hingga akhir hayat. Makanya, interaksi dengan tetangga harus diperbaiki. Setelah acara perkenalan tersebut, seketika saya merasa benar-benar menjadi warga di RT saya karena beberapa orang mulai menyapa meskipun saya tidak mengenalnya. Dari situlah saya mulai mempertanyakan peribahasa ‘tak kenal maka tak sayang’. Mengapa tegur sapa, senyum dan sayang dibatasi pada orang-orang yang dikenal. Atau saya terlalu berlebihan? Apa yang saya alami adalah sebuah contoh bonding social capital yang biasanya melekat pada masyarakat yang berideologi collectivism yang biasanya dimiliki oleh masyarakat di negara-negara berkembang. Jenis yang kedua adalah bridging social capital. Relasi antar masyarakat dalam jenis ini lebih cair dan tidak terlalu kuat. Putnam mencontohkan klub-klub olah raga dan hobby yang masuk dalam kategori ini. Model hubungan masyarakat yang mempunyai bridging social capital biasanya ada di negara-negara maju yang berpaham individualism. Relasi kekeluargaan dan pertetanggaan tidak terikat sekuat sebagaimana yang ada di negara-negara berkembang. Namun justru di dalam kelompok social capital inilah yang menurut Putnam arus pertukaran informasi lebih banyak mengalir. Selain itu solidaritas yang tidak terbangun terlalu kuat sekuat dalam bonding social capital justru menjadi landasan terciptanya masyarakat yang lebih plural. Apa yang saya dan beberapa teman-teman saya alami ketika hidup di Australia sepertinya membenarkan teori tersebut. Untuk mendapatkan pertolongan atau menolong orang lain kita tidak perlu mengenalnya dengan dekat. Makanya saya sedikit terkejut ketika suatu saat tetangga saya mengatakan: ‘if you wanna go somewhere I can drive you’ meskipun jarang sekali kami bercakap selain hanya say hello. Pada kesempatan lain, kami mengalami ‘kecelakaan’ dan bahu membahu mereka membantu kami bahkan untuk mereka yang kami tidak pernah saling bertegur sapa. Atau suatu ketika anak teman saya mengalami demam tinggi di malam hari. Karena kebingungan akhirnya mereka memberanikan diri meminta tolong tetangga diatas unit yang dia tinggali. Tak disangka mereka dengan sigap membantu, lagi-lagi meskipun mereka tidak saling mengenal secara dekat. Menyandingkan bonding di negara kita dengan bridging social capital di Australia mungkin akan berujung pada tema pembahasan yang lain yaitu masalah kepercayaan atau trust masyarakat kepada negara sebagai akibat dari kegagalan pemerintah dalam memberikan perlindungan sosial baik berupa rasa aman ataupun kesejahteraan. (bersambung) a_nanana_s@yahoo.com

4 thoughts on “TAK KENAL MAKA TAK SAYANG

  1. Assalamu’alaikum, salam kenal k’ana, saya ummul, ketemu blognya k’ana dari hasil browsing2 persiapan apply ADS, ceritanya lg menjelajahi blognya k’ana untuk tulisan ttg ADS, eh ketemu tulisan yg satu ini..
    Bacaan yg sangat menarik k’, tulisan yg membuat saya tersentil ‘iya ya benar juga, memang hal-hal seperti itu terjadi bahkan sepertinya sy jg sudah mengalaminya’ Meskipun tdk seperti k’ana yg sdh pengalaman hidup di luar negeri, tp sbg orang kampung yang merantau ke kota sedikit banyak saya jg mengalami kedua social capital ini
    Well,Bonding-bridging…Pengetahuan baru yg didapat di tengah malam, malam jum’at lg😀
    Makasih mau berbagi k’, ke depan mudah-mudahan k’ ana tdk keberatan aku cecar pertanyaan2 seputar ADS ^^

      1. waahh akhirnya terbalas juga setelah 2 pekan :))
        k’ana sekarang sekarang aku sudah dalam proses pengisian formulir ADS, nanti kalau sudah selesai aku kirim email ke k’ana boleh tak?

      2. maaf mbak ummul, modem saya agak bermasalah sering tidak bisa masuk wordpress. ok silakan sy tunggu emailnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s