Reasoning

Berapa kali dalam satu minggu anda sempat mendongeng ataupun mengajak berdiskusi balita anda, atau anak anda yang masih dibawah kelas 3 SD?

Saya percaya seyakin-yakinnya bahwa anda sangat menyangi, mencintai, mendoakan dan selalu berharap agar sang anak menjadi anak yang shaleh, berguna bagi masyarakat dan serentetan doa-doa panjang lainnya. Tapi apakah anda akan mendapatkan jawaban sebuah bilangan selain nol atas pertanyaan saya diatas… wallahu a’lam…..entahlah…..

Keyakinan dan ketidakyakinan saya di atas sebenarnya cerminan dari diri saya sendiri yang mungkin sama ataupun berbeda dengan anda. Semenjak saya mempunyai anak saya berusaha untuk selalu menyediakan waktu untuk sekedar bertanya, membacakan buku ataupun bercerita tentang apa saja kepada anak saya. Tetapi sepulang dari kantor sepertinya saya tidak punya energi lagi untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaannya yang semakin hari semakin sulit saya jawab. Misalnya, kenapa kalau cow suaranya mooo, kalau kucing suaranya meong. Di sisi lain saya senang anak saya suka bertanya dan selalu mengajak saya untuk membaca buku, di sisi lain saya berharap dia diam dan membiarkan saya sejenak beristirahat.

Tradisi reasoning atau berargumen memang tidak terlalu tumbuh dan berkembang di negeri yang berideologi collectivism ini. Bahkan sebelum tahun 1998, ketika kebebasan berpendapat masih dikekang, berseberangan ide dengan sang penguasa bisa menjadi musibah. Era reformasi yang dianggap sebagai era kebebasan ternyata tidak juga terlalu mengubah cara orang tua untuk melatih anak untuk berargumentasi. Seperti yang saya kemukakan di atas, menyayangi tapi enggan untuk menyentuh akalnya dengan tangan kita sendiri. Kebanyakan dari kita lebih mempercayakan anak pada institusi sekolah, masjid ataupun lingkungan. Tidak heran, saat memilih sekolah ataupun rumah, yang pertama dicari adalah lingkungan. Kenapa? Karena mendapatkan lingkungan yang baik sama artinya dengan membebaskan diri kita dari satu tugas: menjaga anak dari lingkungan buruk dengan menyerahkannya pada lingkungan yang baik.

Bagi orang barat, reasoning sudah mulai ditanamkan sejak anak masih kecil. Melarang dengan disertai alasan yang jelas adalah suatu hal yang biasa. Makanya ketika saya sempat ke negeri kangguru, saya sering menemukan percakapan yang seru antara seorang balita dengan orang tuanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s