Belum ada judul

Apa kesan pertama anda ketika bertemu dengan seseorang kemudian dia memperkenalkan diri dan mengatakan I am from Serbia…. Bagi anda yang mengikuti perkembangan dunia Islam pada decade 90-an, pasti ingatan anda akan melayang pada kekejaman dan kekejian tantara Serbia terhadap masyarakat Bosnia. Air mata dan darah telah mereka tumpahkan, bahkan para tantara itu dengan sadisnya mengeluarkan janin-janin dari perut sang ibu. Sungguh mengerikan…..

Begitulah..tapi nasib mempertemukan saya dengan seorang ibu muda dengan anaknya yang masih berusia 2 tahun yang mengaku dari Serbia ketika saya tinggal di Canberra. Unit tempat saya tinggal memang cukup menyenangkan, meskipun dengan kondisi yang bisa dibilang pas-pasan untuk ukuran orang di sana. Tapi lokasi unit yang dekat dengan play ground atau taman bermain cukup menghibur terutama untuk anak saya yang saat itu baru berusia 1,5 tahun. Kami berdua sering melewatkan sore atau kapan saja saat saya tidak ada jadwal kuliah untuk sekedar bermain ayun-ayunan, jungkat-jungkit ataupun perosotan. Di tempat itulah saya bertemu dengan ibu muda tersebut.

Seperti biasa kami pun berkenalan dan pertanyaan yang sering terlontar pertama kali berkenalan dengan orang di Australia adalah where are you from? Hal ini mengingat Australia adalah negara yang multiculture alias warga negaranya berasal dari berbagai macam negara. Jadi jika anda ingin mengenal orang dari pacific sampai ke afrika, anda cukup datang ke negeri kangguru tersebut.

Saya begitu tercekat ketika dia menjawab pertanyaan saya: I am from Serbia. Ingatan saya pun melayang pada reportase majalah-majalah yang mengungkap kesadisan bangsa Serbia. Yang terbayang dalam benak saya: orang Serbia itu sadis dan kejam karena begitulah yang saya baca dari kisah-kisah pembantaian saudara kita di Bosnia. Makanya, sulit saya terima bahwa wanita yang ada di hadapan saya saat itu berasal dari sana.  Dia adalah seorang wanita yang sangat ramah dan enak untuk diajak bicara. Apalagi status kami sebagai ibu muda yang mempunyai batita membuat cerita-cerita kami mengalir, dari urusan makanan khas hingga kesulitan-kesulitan hidup yang kami alami di Australia, meskipun saya tidak bisa menepis fikiran-fikiran atau lebih tepatnya prasangka buruk saya bahwa dia pun barangkali saat itu turut melakukan kekejaman-kekejaman.

Terlepas dari segala prasangka saya, hal yang ingin saya garis bawahi adalah bagaimana Australia bisa menciptakan suatu system yang bisa membuat orang barlatarbelakang ‘buram’ menjadi orang yang ‘lurus’? Orang malas bisa menjadi rajin. Orang yang jorok bisa menjadi bersih. Orang yang biasa melakukan korupsi di negerinya menjadi berintegritas saat bekerja di sana. Orang yang suka ingkar janji menjadi bisa dipercaya. Orang yang biasa ngaret menjadi tepat waktu. Dll…

Cerita saya di atas hanyalah sekelumit kisah bagaimana seseorang yang di besarkan di negeri yang penuh dengan konflik dan bahkan mungkin dengan konflik itu mempengaruhi interaksinya dengan orang lain di negerinya bisa berubah ketika dia masuk ke dalam tatanan negara dengan system yang teratur dan benar-benar ditegakkan. Sama halnya dengan diri saya sendiri atau kebanyakan rekan-rekan dari Indonesia yang biasanya suka ngaret tiba-tiba menjadi tepat waktu ketika tinggal di Australia. Atau yang biasanya buang sampah sembarangan tiba-tiba berhenti karena malu dianggap tidak beretika, meski setelah kembali ke negeri sendiri perilaku lama sering muncul lagi. Atau lebih parahnya begini, ketika kita membuat janji dengan dosen atau siapapun dari negara selain Indonesia, kita bisa tepat waktu. Begitu kita membuat janji dengan rekan sendiri, tradisi lama kembali dipelihara alias ngaret. Hmmmm….sangat kondisional sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s