MENGEMBALIKAN BUDAYA KERJA KEPADA FITRAH-NYA

Judul di atas memang bernuansakan lebaran….tetapi bukan karena menjelang idul fitri saya buat tulisan ini. Saya hanya sekedar bereksperimen dan mencoba melakukan akrobat kata-kata. Pada intinya, saya hanya ingin mengaitkan antara budaya kerja dengan kinerja individu dan organisasi sektor publik. Ya..rasanya semakin dalam terlibat dalam kegiatan budaya kerja semakin sulit mencari benang merah yang menghubungkannya dengan kinerja organisasi. Apa benar pengembangan budaya kerja akan meningkatkan kinerja PNS kita?

Suatu ketika saya terlibat diskusi dengan suami saya. Sebagaimana biasanya, dia selalu melemparkan kritiknya yang tajam tentang kinerja pegawai negeri sipil. Dia mempertanyakan ‘mengapa harus ada jum’at bersih?’,’mengapa harus berpakaian olah raga di hari jum’at untuk para PNS?’. Lalu saya jawab sekenanya ‘karena hari jum’at hari yang pendek’. Di balas lagi, ‘siapa yang membuatnya jadi pendek?’. Nah lho..

Sebagai salah satu anggota satgas budaya kerja, saya merasa bertanggungjawab untuk memberikan jawaban yang jelas apa kaitan bersih, olah raga dan kinerja. Saya sendiri tidak terlalu faham mengapa hampir seluruh instansi pemerintah mewajibkan seluruh pegawainya untuk berseragam olah raga. Barangkali karena bersih dan olah raga merupakan bagian dari budaya kerja. Menurut saya premis tersebut masih bisa diperdebatkan. Kalau memang benar, mengapa setelah sekian tahun berbaju olah raga kinerja instansi pemerintah ya begitu-begitu saja? Mengapa spirit sportifitas dan kompetisi yang sehat tidak mewujud dalam tindak tanduk aparatnya? Atau mengapa setelah ada jum’at bersih kantornya masih tetap dekil? Kalau demikian yang terjadi, artinya pengembangan budaya kerja tidak memberi kontribusi sama sekali pada perbaikan kinerja individu ataupun organisasi.

Pada awalnya, saya mengibaratkan kegiatan budaya kerja sama dengan kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler di sekolah. Tak heran, usulan-usulan kegiatan yang saya ajukan lebih kepada pengembangan kapasitas pribadi yang barangkali tidak secara langsung berpengaruh pada kinerja organisasi. Sebagaimana ekstrakulikuler, budaya kerja saya anggap sebagai wadah untuk menyalurkan hobby dan bakat serta pengembangan diri.

Kesalahan persepsi ini sepertinya disebabkan kesalahan memahami arti kata budaya kerja itu sendiri. Selama ini budaya dan kerja lebih sering di ceraikan dari pada disatukan sebagai satu kesatuan makna yang utuh. Budaya lebih sering diartikan sebagai hasil budi daya manusia. Kalau dilihat dari pengembangan kebudayaan itu sendiri, ia lebih dekat dengan pengembangan-pengembangan seni. Dalam kerangka pembangunan kebudayaan nasional, misalnya, kebudayaan selalu dikaitkan dengan upacara-upacara tradisional, kesenian daerah ataupun karya sastra. Di sisi lain, kerja diartikan sebagai kerja itu sendiri. Maksudnya, kerja dianggap sebagai salah satu wujud pemenuhan tugas yang harus dilakukan. Atau, kerja juga dianggap sebagai satu-satunya cara untuk mencari uang. That’s it. Kerja tidak pernah dianggap sebagai bagian dari budaya. Atau ia tidak pernah dianggap sebagai bagian dari sebuah work of art yang akan memberikan nilai estetika yang tinggi jika disentuh dengan sepenuh jiwa.

Dualisme makna itulah yang barangkali membuat kegiatan-kegiatan budaya kerja menjadi salah arah atau mungkin bisa diistilahkan sebagai sekulerisasi budaya kerja. Kerja dianggap bukan sebagai budaya dan budaya tidak dianggap sebagai bagian dari kerja. Implikasinya adalah muncul dua kegiatan yang tidak saling menunjang atau bahkan tidak ada hubungannya sama sekali, kegiatan budaya dan kegiatan kerja. Padahal seharusnya mereka tidak bisa dipisahkan.

Kalau begitu, bagaimanakah seharusnya mendesain sebuah kegiatan budaya kerja yang mempunyai pengaruh terhadap kinerja individu dan organisasi. Rhenald Kasali dalam Change mengatakan bahwa budaya kerja atau biasa disebut dengan budaya korporat membentuk identitas, memperkuat image, positioning dan pencapaian tujuan. Dia mencontohkan image Coca-Cola tidak dapat dipisahkan dari manusia-manusia Coca-Cola yang dibentuk sebagai manusia yang siap “berperang” dalam persaingan. Demikian pula halnya dengan Harvard Business School, Citibank, Britsh Airways, Microsoft dan lain sebagainya. Artinya, agar budaya organisasi dapat memberi pengaruh positif terhadap kinerja maka budaya yang dibangun harus mempunyai hubungan langsung dengan tujuan utama organisasi.

2 thoughts on “MENGEMBALIKAN BUDAYA KERJA KEPADA FITRAH-NYA

  1. tempat saya nggak wajib lho bu.
    diberi kebebasan, yang mau olah raga ya silahkan
    yang mau kerja menyelesaikan tugas ya silahkan
    kostumnya ya terserah, nggak olah raga tapi pakai baju olah raga ya tidak apa apa..

    1. wah bagus kalau begitu bu…jadi kantor hanya menawarkan ‘kegiatan-kegiatan’ saja semua terserah pegawai mau ikut yang mana. pesan tulisan sy sebenarnya cuma satu gmana agar instansi pemerintah itu tidak mengedepankan kegiatan-kegiatan yg tidak ada hubungannya dengan kinerja dan lebih berfokus pada pelayanan masyarakat. anyway thanks respon nya mbak n salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s