MEMPERTAHANKAN PROFESIONALISME DITENGAH LEMAHNYA SISTEM REWARD DAN PUNISHMENT

Bila surga dan neraka tak pernah ada

Masih kah kau bersujud kepadanya….

 

Pasti anda masih ingat lagu yang dilantunkan oleh Chrisye beberapa tahun silam setiap hari dibulan Ramadhan

 

Atau alunan lembut John Lennon berikut ini,

 

Imagine there’s no heaven….

 

Chrisye dan John Lennon memang mempunyai persepsi yang berbeda tentang surga dan neraka. Chrisye cenderung berfikir postitif tentang dua hal tersebut. Menurutnya surga dan neraka adalah faktor yang memotivasi manusia untuk beribadah. Makanya ia pertanyakan seandainya surga dan neraka itu tidak ada, masihkah kita tetap beribadah. Sebalikanya, John Lennon justru menganggap bahwa surga adalah penyebab peperangan karena banyaknya negara yang mengatasnamakan agama untuk berperang.

 

Nah, bagaimana harus menempatkan ’surga dan neraka’ dalam khazanah yang lebih realistis? Analogi lirik Chrisye sepertinya cocok digunakan untuk mengupas masalah profesionalisme aparat pemerintah berikut ini. Ya..mungkinkah profesionalisme dapat dipertahankan atau malah ditingkatkan jika tidak ada sistem reward dan punishmen yang benar-benar ditegakkan?

 

Sewaktu masih di negeri kangguru, awalnya saya sangat mengagumi kinerja PNS di sana. Memang, jika dibandingkan dengan mereka yang bekerja di sektor swasta, kinerja PNS-nya masih kalah, tapi tidak separah di sini. Lama kelamaan, saya hanya bilang…..lumrah…  Menjadi profesional atau menjadi baik, dalam hal pekerjaan, di sana bukanlah hal yang mengagumkan karena memang kondisi yang mengharuskan mereka demikian.

 

Di sini anda mungkin cukup akrab dengan salah satu kalimat dalam sebuah iklan: hari genneeee cari yang paste-pasteeee???? Maksudnya, tidak ada yang bisa diprediksi di negeri ini. Makanya, membuat perencanaan atau forecasting adalah pekerjaan yang paling sulit. Sama halnya dengan karir, sulit merencanakan karir pribadi karena menjadi profesional, rajin atau berkinerja tinggi tidak lah berarti anda akan mendapat penghargaan yang setimpal dengan jerih payah anda. Jadi buat apa capek-capek kerja keras kalau tida ada imbalan financial yang bisa dijagak’ke.

 

Sebaliknya, di Australia semuanya serba jelas. Tak hanya ketepatan memenuhi janji ataupun masalah punctuality yang patut diacungi jempol, masalah karir juga jelas. Penerapan sistem reward dan punishment yang jelas membuat PNS di sana terdorong untuk mempertahankan ataupun meningkatkan profesionalisme. Terlebih lagi, masyarakat yang lebih kritis dan pemerintahan yang lebih transparan memaksa mereka untuk memberikan layanan yang terbaik.  Yang paling penting, ada insentif langsung yang bisa dinikmati seandainya mereka mempunyai kinerja tinggi. Penghasilan menggambarkan kinerja. Jadi??? Tidak ada yang perlu dikagumi..

 

Pertanyaan Chrisye menjadi sangat relevan di sini. Masihkah bisa mengharapkan profesionalisme PNS negeri ini ditengah lemahnya sistem reward dan punishment? Apalagi di saat hedonisme dan materialisme sudah mulai merasuk sedemikian dalam ke jiwa-jiwa insan Indonesia. Teramat sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin.

 

Tulisan Pak Didik Kris edisi sebelumnya tentang cara-cara membangun integritas salah satunya menyebut penerapan reward dan punishment diantara beberapa cara lain yang bisa diterapkan. Namun, sepertinya reward dan punishment adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap baik profesionalisme ataupun integritas. Beliau menyebut juga Keteladanan Pemimpin, Ceramah/Pembinaan Mental, Outbound, Mind Shifting dan Penyusunan Sistem dan Prosedur.

 

Kalau saya bandingkan dengan di Australia, hanya dua yang mereka tekankan, Sistem dan Prosedur dan Penerapan Sistem dan Punishment yang tegas dan adil. Dan kedua hal itulah yang sangat susah ditemui di negeri yang mengaku lebih taat beribadah ini. Masalahnya, kedua hal itulah yang justru paling krusial dan yang membedakan kualitas PNS kita dengan mereka. Hmmmm…wolak..walik’ing jaman….

 

Cerita-cerita saya kepada beberapa teman yang bertetangga bangku dengan saya sepertinya cocok untuk dikaitkan dengan profesionalisme PNS. Sebuah cerita yang berawal dari sebuah pertanyaan kenapa orang barat cenderung atheis dan orang-orang asia cenderung lebih taat kepada sang Pencipta? Jawabannya saya pikir hanya satu. Karena tanpa Tuhan pun, masyarakat Barat sudah bisa menikmati hidup, kenyamanan, ketentraman, keteraturan, dan yang penting mempunyai pemerintah yang baik yang bisa menjamin hidup mereka kalaupun mereka harus hidup miskin.

 

Sebaliknya, di negeri yang serba amburadul dan tidak teratur ini, nyawa dan jaminan sosial tidak di perhatikan oleh negara. Penduduk seperti hidup tanpa ada perlindungan, baik dari sisi hukum ataupun pemerintahannya. Ditambah lagi ketidakpastian yang teramat tidak pasti membuat penduduk negeri ini merasa membutuhkan suatu kekuatan diluar manusia yang bisa membuatnya merasa tentram. Benar..dengan beribadahlah penduduk di negeri antah berantah ini menyandarkan harapan terakhirnya. Menjadi taat kepada sang Pencipta barangkali sebuah pelarian yang paling tepat. Karena kalau tidak akan bermunculan makhluk-makhluk sebangsa Ponari yang dianggap sebagai dewa penyelamat.

 

Sama halnya dengan para PNS yang mencoba tetap profesional, mungkin harapan satu-satunya adalah harapan (atau pelarian?) mendapatkan surga sebagaimana yang dilantunkan oleh Chrisye. Mungkin juga menjadi profesional ditengah lemahnya sistem reward dan punishment ini ibarat menggenggam bara yang sangat panas namun harus tetap ada di tangan sebagai persembahan terbaik hingga akhir zaman. Dan bara yang sangat panas itu adalah rasa ketidakpuasan, kekecewaan, sakit hati melihat ketidakadilan yang harus ia coba untuk pulihkan setiap saat agar tetap bisa mempersembahkan bara tersebut kepada sang Kekasih. (a_nanana_s/5 Maret 2009)

 

 

2 thoughts on “MEMPERTAHANKAN PROFESIONALISME DITENGAH LEMAHNYA SISTEM REWARD DAN PUNISHMENT

  1. dalem bangetss man…, aku masuk yg mana yach?? para penggenggam bara yg setia atau akan mengganti isi genggaman dari bara menjadi intan? pilihan yg harus segera diputuskan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s