BUDAK, PEDAGANG DAN ORANG YANG ARIF

Sekitar tahun 1996 saya pernah membaca Lentera Hati karya Quraish Shihab. Buku tersebut merupakan kumpulan tulisan-tulisan hikmah, bukan buku teks yang membuat kepala pening. Seperti biasa, tidak banyak yang bisa saya ingat dari sebuah buku, meskipun baru saja membacanya. Hanya satu bab yang bisa saya ingat sampai saat ini, yaitu tentang budak, pedagang dan orang yang arif. Ketiga jenis manusia ini digunakan oleh Quraish Shihab dalam menggambarkan hubungan seorang hamba dengan Sang Pencipta.

Budak adalah seseorang yang tidak mempunyai kemerdekaan dan hanya melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu jika hanya ada perintah majikannya. Dalam hubungannya dengan Sang Pencipta, manusia tipe ini beribadah tanpa tau maksud dan tujuannya. Dia sekedar mengikuti perintah agar tidak mendapat hukuman seandainya dia membangkang.

Lain lagi dengan tipe pedagang. Sebagaimana seorang pedagang, manusia tipe ini beribadah karena ada harapan atau imbalan yang dia inginkan. Kalau pedagan secara umum, dia akan mengharapkan untung yang banyak. Maka, seorang hamba bertipe pedagang, setiap beribadah, dia hanya memikirkan pahala apa yang akan ia dapat seandainya dia berbuat baik. Sebaliknya, dia akan menghindari sesuatu atau dosa agar tidak masuk neraka. Yang selalu menjadi dasar tindakannya adalah surga dan neraka.

Tipe yang terakhir, orang yang arif. Ibadah baginya adalah perwujudan syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Sang Pencipta kepadanya. Baginya, ibadah adalah sebuah kenikmatan mencintai. Dan seluruhnya itu mendarahdaging dan tercermin dalam akhlaknya.

Kategorisasi ketiga manusia di atas sebenarnya tidak hanya berlaku dalam kaitannya dengan ibadah. Dalam posisinya sebagai PNS atau Pegawai Swasta sekalipun, tipe-tipe manusia seperti ini selalu ada, PNS tipe budak, pedagang dan orang yang arif. Menurut hirarki kebutuhan yang diperkenalkan oleh Abraham Maslow, kebutuhan akan fisik termasuk sandang, pangan, perumahan berada pada posisi yang kedua. Posisi tertinggi adalah kebutuhan manusia akan aktualisasi diri. Pada posisi ini, seseorang tidak melihat suatu pekerjaan berdasarkan imbalan materi apa yang ia terima. Dia tidak perduli berapa rupiah yang akan dihasilkan dari suatu pekerjaan karena kerja adalah perwujudan aktualisasi dan eksistensi dirinya.

Nah, kalau dihubungkan dengan tipe orang yang arif sebagaimana yang telah dipaparkan Quraish Shihab, maka bekerja adalah perwujudan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Makanya, manusia tipe ini akan melakukan pekerjaan sebagai kecintaan akan Tuhannya dan kecintaan akan pekerjaannya itu sendiri. Emha Ainun Najib, dalam sebuah monolognya di Delta FM, pernah menyatakan bahwa motivasi bekerja bagi orang seperti ini adalah kerja itu sendiri. Dia menggambarkannya dengan sesosok pemain opera. Tidak perduli berapa orang yang akan melihat pertunjukannya, walaupun hanya empat penonton, seorang pekerja opera sejati akan tetap tampil maksimal dengan menggunakan seluruh daya upayanya. Karena motivasi dari bekerja adalah bekerja itu sendiri. Baginya bekerja adalah wujud kecintaan akan profesi dan penghormatan atas fikiran yang telah dianugerahkan padanya.

Sayangnya, kebanyakan dari PNS bertipe kedua, yaitu pedagang. Setiap aktivitasnya selalu dikaitkan dengan jabatan, kepangkatan, dan penghasilan. Tidak hanya dilingkungan pemerintahan daerah, semangat kerja para pegawai hanya bisa ditemukan saat ada SPPD dan angka kredit, meskipun tiap bulannya dia menerima gaji dan tunjangan. Tanpa imbalan materi sulit menemukan pegawai yang tetap bersemangat, apalah lagi mengharapkan kerelaan mereka untuk menyumbangkan tenaganya untuk bekerja. Reward dan Punishment menjadi issue yang krusial bagi pekerja tipe ini. Makanya, sulit mengharapkan kinerja tinggi dari para manusia tipe ini tanpa ada iming-iming materi. Lebih buruk lagi, meskipun sudah diberikan reward, kinerja mereka tidak berubah. Padahal sebenarnya membebaskan diri dari reward-reward yang bersifat material tersebut justru akan memerdekakan dirinya dari belenggu materialistik yang selama ini menghambat kreativitasnya. Sebuah anomali… (12 Januari 2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s