DIA

Kali ini saya akan bercerita tentang seseorang yang sangat dekat dengan saya dan telah mengubah pola pikir, bahkan hidup saya. Sepuluh tahun yang lalu, saya mengenalnya saat dia pertama kali bergabung dalam English Conversation Club yang biasa diadakan di tempat kos saya tiap senin dan rabu malam. Waktu itu, dia tidak terlalu banyak menarik perhatian saya. Mungkin, sebagai orang baru, dia tidak terlalu punyak banyak ide untuk modal diskusi dalam bahasa Inggris. Beberapa bulan kemudian, setelah beberapa kali satu grup diskusi dan berinteraksi setelah diskusi berakhir dalam bahasa Indonesia, baru saya ketahui bukan masalah ide yang menyebabkannya lebih banyak diam. Tapi, kelancaran berbahasa Inggris-lah yang membuatnyal lebih banyak diam.

 

Kehidupannya sebagai mahasiswa lebih banyak diwarnai dengan kegiatan berorganisasi dibanding sekedar mengejar nilai. Tapi bukan berarti dia menjadi seseorang yang jauh dari ilmu pengetahuan. Kehidupan organisasi justru mendorongnya untuk mengkonsumsi buku-buku, bahkan dari aliran kiri sekalipun. Berbagai karya sastra pun dilahapnya. Tak hanya itu, dia pun aktif menulis artikel ataupun cerpen. Ide-ide-nya selalu bisa membuat saya berfikir dengan ‘angel’ yang berbeda. Keseringan saya satu grup diskusi dengannya memaksa saya menyebutnya “sang filosof”. Julukan itu saya berikan karena dia selalu mengaitkan analisisnya dengan ideologi-ideologi yang diusung para filosof.

 

Saya pun sering menyebutnya sebagai Street Children karena dia mempunyai concern yang tinggi terhadap anak-anak jalanan. Suatu ketika, bersama dengan rekan-rekan, dia mengajar anak-anak jalanan di KM 4. Profesinya sebagai wartawan jelas mengukuhkan julukan kedua saya. Kehidupan jalanannya seperti memperkaya pengetahuan sosialnya.

 

Bagi saya, berkawan dengannya membuat cakrawala berfikir saya lebih terbuka lebar. Sebelumnya, hidup dan pemikiran saya lebih didominasi oleh cara berfikir praktis daripada konseptual. Pilihan saya kuliah di STAN pun merupakan produk kepraktisan yang saya tempuh untuk mengamankan masa depan. Di bangku sekolah apalagi, yang terfikir adalah bagaimana memilih fakultas atau program studi yang menawarkan banyak lowongan kerja selesai kuliah. Dengan kata lain, saya tidak terlalu akrab dengan organisasi ataupun diskusi.

 

Sampai saat ini pun, dia selalu mengajarkan saya melihat sesuatu dari sudut pandang yang tidak pernah saya sangka-sangka. Saya akui, berdiskusi denganya terkadang membuat emosi saya susah dikontrol. Kritikan-kritikan pedasnya atas suatu peristiwa, yang biasanya disitu kami saling bertentangan, tidak bisa dipungkiri membuat saya berkeras untuk mematahkan argumen-argumennya. Untungnya, saat ini saya sudah bisa meredam ego saya. Justru dari adu argument itulah tercetus obyek-obyek penelitian yang bisa digarap secara serius.

 

Suatu ketika, kami sedang menyaksikan kupasan tentang zakat di salah satu stasiun televise. Tiba-tiba dia berujar, ”dana zakat lebih banyak digunakan untuk amil. Mending disalurkan saja zakat itu langsung kepada yang berhak menerimanya.  Berhentilah membayar zakat lewat lembaga pengelola zakat”. Keyakinannya akan ketidakefektifan pengelolaan zakat sekaligus fakta-fakta bahwa para duafa yang dia temui tidak pernah menerima zakat memang saya pahami. Memang benar, tetangga kami ataupun sanak saudara kami yang miskin tidak pernah ditemui oleh para pengelola zakat. Tapi saya pribadi tetap berkeyakinan sesuai dengan hadist atau pendapat para ulama bahwa pengelolaan zakat harus ditangani oleh lembaga agar bisa lebih efektif. Saya kira dompet duafa bisa menjadi contoh ideal dan itulah yang selalu saya jadikan argumen dalam perdebatan kami soal zakat. Dompet duafa, menurut saya, dalam beberapa hal sudah cukup saya anggap sukses dalam menyalurkan dana zakat yang tidak hanya bersifat konsumtif tapi produktif melalui pemberian modal kerja kepada para fakir miskin. Lagi-lagi dia tetap pada pendiriannya. Hampir saya tersulut juga oleh kritikan-kritikan pedasnya hingga akhirnya saya mencoba menenangkan fikiran dan belajar menerima sudut pandangnya. Dia selalu menantang saya untuk berfikir dan mengendalikan emosi sebelum akhirnya dia bersedia menjelaskan konsep-konsep ideal yang ada di kepalanya. Dari situlah inspirasi-inspirasi untuk menulis mengalir…..YOU’RE THE INSPIRATION…(3 November 2008)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s