JEMBRANA: ……….MEMANG DAHSYAT

Seandainya semua kepala daerah mau... Kantor Bupati Jembrana

Kalau Andrea Hirata, dengan ruh kecintaan Arai, Lintang, ataupun Ikal terhadap ilmu pengetahuan, sanggup menyihir para pembaca tetralogi Laskar Pelangi untuk belajar mempunyai mimpi, maka gebrakan I Gede Winasa sepertinya jauh lebih dahsyat. Ya.. dia telah berhasil mematahkan mitos buruknya kinerja pemerintah daerah, sekaligus membuka mata bahwa rakyat Indonesia masih punya harapan akan sebuah pemerintahan yang layak untuk dibanggakan. 

 

 

 Kiprah I Gede Winasa dalam menjadikan Jembrana seperti saat ini terasa sangat “nggegirisi” dan mengundang decak kagum. Bayangkan, dari konstruksi bangunan saja, Kantor Bupati Jembrana sudah membuat “keder”, sangat berbeda dengan kantor-kantor pemerintah daerah yang selama ini pernah saya temui. Kokoh, artistik, indah dan yang penting… bersih. Begitu memasuki areal kantor bupati, saya sudah dibuat terpana oleh sebuah papan “Kawasan Bebas Pungli”. Sepuluh meter dari papan tadi, ada sebuah papan lain yang semakin memporakporandakan seluruh jiwa “Kalau Mau Pasti Bisa”. Jembrana memang sudah dikenal oleh seluruh Pemda di negeri ini. Ratusan instansi pemerintah sudah berkunjung. Sepertinya, sang tuan rumah paham bahwa sang tamu datang dengan membawa sebuncah pesimisme sekaligus harapan akan sebuah tata pemerintahan yang baik. Makanya, papan tersebut tak hanya bisa dipandang sebagai sebuah kebanggaan bagi sang tuan rumah, tapi juga mampu menancapkan tekad bagi sang tamu untuk membawa perubahan sekembalinya dari Jembrana. Sungguh ide yang luar biasa..

 

 Belum usai hati saya dibuat bergetar oleh kedua papan tersebut, sebuah loket yang disampingnya ada sebuah tombol yang membuat loket tersebut terbuka dan tertutup seperti menyempurnakan kekaguman saya pada sang bupati. Kalau pemda lain cukup bangga dengan Simtapnya, maka yang berlaku di Jembrana adalah sistem informasi satu loket. Loket itulah yang menjadi saksi antara warga negara dengan aparatnya. Tidak ada komunikasi yang bisa berlangsung antara mereka. Cukup dengan memencet tombol, loket terbuka dan pemohon tinggal meletakkan berkas yang akan diurus. Secara otomatis, loket akan tertutup dan berkas akan diproses oleh para petugas dibalik loket tanpa bisa diamati. Selanjutnya, pemohon menunggu jikalau ada berkas yang kurang ataupun dokumen perizinannya sudah selesai. Pembayaran pengurusan izin, dilakukan di loket terpisah. Alhasil, pungli dapat dihindari.

 

Cerita di atas, hanyalah sebagian kecil dari keberhasilan Bupati Jembrana dalam mewujudkan pelayanan yang nyaman dan bebas pungli. Perampingan birokrasi sudah dilakukan 6 tahun sebelum PP No 41 tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah dikeluarkan. Perampingan ini telah mengurangi jumlah SKPD dari 22 menjadi 11. Jelas, penolakan reformasi ini mengundang banyak kritik dan domonstrasi dari berbagai pihak yang merasa comfort zone-nya diusik. Tapi begitulah, sudah menjadi tekad sang Bupati untuk mewujudkan impian kolektif masyarakat Jembrana. Strateginya, begitu demonstrasi memanas, sang bupati dan para pendukungnya memilih langkah diam sambil menunggu reaksi reda. Begitu reda dia kembali mengusung idealismenya. Singkatnya, memanas-diam-melangkah-memanas-diam-melangkah. Hingga akhirnya para oposan berbalik arah mendukung ide reformasinnya. Selama 4 tahun, dari 2000 sampai 2003, landasan hukum yang dipakai hanyalah SK bupati, bukan Perda mengingat saat itu, DPRD pun belum mendukungnya. Baru pada tahun 2005 keluarlah perda-perda yang mengukuhkan langkah inovatifnya membebaskan biaya pendidikan dan kesehatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “JEMBRANA: ……….MEMANG DAHSYAT

  1. Sungguh suatu pengalaman yang sangat mengesankan dapat merasakan pelayanan pemerintah yang berkelas, mungkin ditempat lain masyarakat baru bs bermimpi, mendapat pelayanan tanpa mengeluarkan uang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s