AIGRP Mentoring Program

Australia Indonesia Governance Research Partnership

 

Dua hari mengikuti mentoring program yang diselenggarakan oleh AIGRP memberikan nuansa yang berbeda bagi saya yang tidak berprofesi sebagai peneliti. Berkumpul bersama para peneliti seolah membawa kembali atmosfer bangku kuliah di ANU. Kehausan akan ilmu pun seakan menyergap alam pemikiran saya untuk sejenak berada di awang-awang bagai meneropong bumi. Saya memang berharap banyak dari program ini, yaitu membangun jaringan dengan para peneliti di KTI. Sebenarnya, harapan saya tadi muncul sebagai bagian dari proses cita-cita saya, yang mungkin bisa dibilang teramat ambisius, bisa menulis di jurnal internasional. Terus terang, hal itu dilandasi keprihatinan saya akan minimnya karya-karya peneliti Indonesia di journal internasional.

 

Berawal dari penugasan menyusun essay social capital di Indonesia, saya seolah ditampar dengan kenyataan yang mengharuskan saya mengutip pendapat peneliti asing tentang gotong royong. Tradisi akademik di Australia memang sangat mengharamkan plagiarism. Mahasiswa diharuskan untuk men-submit essay-essainya di situs turnitin.com sebelum menyerahkan ke dosen. Situs ini akan memeriksa orisinalitas tulisan mahasiswa. Lima kata pun bisa dideteksi seandainya kita mengcopy mentah-mentah tulisan orang lain, bahkan tulisan kita sendiri tanpa. Orisinalitas dan pengakuan karya orang lain sangat dijunjung tinggi. Jauh berbeda dengan di negeri ini dimana pengutipan di sana sini tanpa mencantumkan nama pengarang adalah hal yang biasa dilakukan mahasiswa. Bahkan jiplak menjiplak skripsi pun sudah menjadi hal yang lumrah. Di Australia, argumen kita akan dinilai handal jika kita bisa merefer teori-teori atau argumen peneliti-peneliti lain yang mendukung pendapat saya ataupu mengkritisi opini yang berseberangan dengan kita. Dalam salah satu essay, saya mengambil gotong royong sebagai bahan kajian saya. Sayangnya, sangat sulit sekali saya dapatkan teori-teori, kajian, telaahan atau bahkan sekedar definisi tentang gotong royong yang telah ditulis peneliti Indonesia. Lebih konyol lagi, saya terpaksa merefer tulisan orang asing yang justru melakukan penelitian tentang gotong royong, karena hanya tulisannya yang berhasil saya temukan setelah sekian lama searching di Internet baik melalui situs google ataupun search engine khusus jurnal-jurnal internasional. Sungguh ironis. Kita yang tumbuh bersama asas kegotongroyongan justru harus menggunakan referensi orang yang berpaham individualis.

 

Kembali ke mentoring program, saya sebenarnya sangat berharap mendapat masukan atau tambahan ilmu tentang riset metodologi secara lebih mendalam. Tapi nampaknya waktu 2 hari tidak bisa memuaskan keinginan saya. Namun, dengan masuknya saya dalam jaringan peneliti, saya berharap bisa mendapatkan pencerahan dari teman-teman peneliti yang telah lama berkecimpung di dunia penelitian.

One thought on “AIGRP Mentoring Program

  1. keinginan besar yang didukung semangat juang yang tinggi, disiplin n fokus pada apa yang ingin kamu capai…., salut buat kamu noeng…, smoga 1-3 thn mendatang, aq dah bisa baca tulisan kamu dikolom artikel koran terkemuka. Semangat terus ya…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s