PENGANGGURAN TERSAMAR (PNS)

Beberapa tahun yang lalu, saya sering menjustifikasi rekan-rekan saya dan saya sendiri yang lebih menyukai beraktivitas diluar kantor selama jam kerja. Tentu saja, justifikasi ini tidak berlaku untuk mereka yang saat itu mempunyai beban kerja yang harus segera diselesaikan. Di kantor saya, volume pekerjaan sangat fluktuatif. Artinya, ada saat di mana pagawai dibebani tugas yang sangat padat hingga harus lembur berhari-hari, ada pula saat di mana tidak ada sama sekali beban kerja. Saat yang kedua ini, kewajiban pegawai hanya datang pagi-pagi dan pulang sore untuk sekedar memenuhi absen. Siangnya? Free… Dengan alasan itulah saya membenarkan keyakinan saya dan rekan-rekan bahwa kami berhak menikmati “kekosongan”. Kekosongan itu bukan keinginan dan bukan kesalahan kami. Jadi, apa salahnya mengisi kekosongan itu…

 

Saya fikir kondisi ini tidak hanya terjadi di lingkungan kerja saya. Kondisi ini terjadi di hampir semua instansi pemerintah, apalagi pemerintah daerah. Setiap kali saya mendapat tugas ke kantor pemerintah daerah, selalu saya saksikan pegawai-pegawai pemda yang hanya duduk-duduk sambil merokok,  baca koran, ngobrol, nonton TV. Yang lebih parah, banyak sekali tempat duduk yang kosong yang mengindikasikan ketidakhadiran. Saat itu, saat saya masih menjustifikasi kekosongan itu. Saya tidak menyalahkan mereka. Yang saya salahkan adalah para pengambil keputusan. Mengapa mereka merekrut para pegawai yang pada akhrinya hanya melakukan pemborosan anggaran tanpa menambah nilai produktivitas. Saya berfikir, mereka adalah representasi saya, berada dalam keadaan ”kekosongan”. Sistemlah yang menyebabkan mereka menjadi begitu, menggerogoti kreatifitas dan menyia-nyiakan intelektualisme mereka. Mereka telah menjadi ”frozen lamp”.

 

Dua tahun mengejar impian ditambah lagi buku tetraloginya Andrea Hirata, secara tidak langsung telah mengubah sebagian pemikiran saya. Saya masih tetap berfikir bahwa sistem pemerintahan masih belum beres dan tetap saja masih menciptakan pengangguran-pengangguran tersamar alias ”kekosongan-kekosongan”. PNS, di sisi lain, tidak selayaknya dengan senang hati pasrah menerima kekosongan. Ada banyak hal yang sebenarnya bisa dilakukan untuk mengisi kekosongan. Saat ini pun saya sampai kewalahan bagaimana mengisinya mengingat sangat banyak yang ingin saya lakukan, pelajari dan baca. Memang benar, secara eksplisit, suatu ketika kita tidak mempunyai beban kerja sama sekali dan lebih banyak menganggur di tempat kerja. Tapi, itu juga tidak berarti bahwa tidak ada sama sekali sesuatu hal yang bermanfaat bisa dilakukan. Selama ini, keluhan masyarakat adalah rendahnya kinerja pelayanan publik. Dan salah satu penyebab utamanya adalah masalah profesionalisme. Itu sudah jamak diketahui, dimengerti dan dipahami, bahkan oleh sang penyedia pelayanan, yaitu PNS. Mengapa tidak berkreatifitas untuk mengembangkan diri menjadi PNS yang profesional? Alasan klasiknya mungkin karena tidak ada reward dan perhatian dari atasan. Perlukah reward itu? Mungkin ya.. Tapi perjalanan impian saya dan Andrea Hirata  membawa saya semakin menyadari bahwa ada hal lain yang sebenarnya belum tersentuh oleh jiwa-jiwa PNS negeri ini, termasuk jiwa saya selama ini. Yaitu wilayah-wilayah dimana manusia menemukan kenikmatan mencintai ilmu, pengetahuan dan pekerjaan, sebagaimana Emha Ainun Najib mengatakan bahwa motivasi kita bekerja adalah bekerja itu sendiri. (Makassar 12 Juni 2008)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s