MIMPI

Bagi saya, hidup di OZ ibarat sebuah mimpi. Benarlah pepatah orang jawa, hidup ini sekedar ‘mapir ngombe’. Dua tahun seperti sesaat. Kita tidak bisa menelusuri, mengulangi dan menapaki mimpi itu lagi. Yang bisa kita lakukukan hanyalah mengenang, mengingat dan mengangankan untuk kembali kepada mimpi indah itu. Kenyataanya, kaki sudah menapak dunia nyata. Kalaupun saya ingin kembali lagi ke sana pastilah ‘mimpi’ itu sudah berbeda. Saya ataupun setting mimpi itu sendiri pasti sudah berubah. Itu pula mungkin mengapa Allah mengibaratkan hidup di dunia itu hanya sekejap. Dan dalam sekejap itu manusia diharuskan untuk mencari bekal sebanyak2nya untuk kehidupan abadi.

 

Tapi benarkah hidup di sana adalah mimpi indah, atau cuma anggapan saya sendiri. Orang lain mungkin juga beranggapan demikian. Secara hitung2an logika materialists pasti jawabannya ‘iya’. Setidaknya kami bisa membeli rumah sepulang dari Australia. Ya, kami memang membanting tulang dalam arti yang sebenarnya. Bekerja sebagai cleaner and housekeeper memang berat. Sangat berat. Butuh kaki dan tangan yang siap untuk di banting2, memanggul vacuum cleaner, memasang sprei, membersihkan toilet, dapur dan kaca dengan cepat. Cuma ada dua kata yang bisa mengilustrasikan rasanya: capek dan cuapek sekali. Dua minggu pertama memang sangat capek. Kaki2 terasa mau patah. Punggung sakit semua begitu bangun tidur. Rasanya tidak mau beranjak dari tempat tidur. Pagi pun terasa sangat cepat menjemput. Saat-saat seperti itu saya berusaha menghibur diri sambil menyenandungkan lagunya Iwan Fals:

 Jangan.. jangan .. pagi kau hadirkan biarkan malam terus berjalan.Jangan…jangan…mentari kau terbitkan 

Dan kami pun tersenyum sambil menerawang teringat apa yang sedang kami jalani. Terkadang kami cuma bisa berkata, bisa juga ya kita menjalani semua ini. Bagi kami pengalaman bekerja di OZ sebagai cleaner dan housekeeper terkadang lucu dan menyenangkan terlepas dari segala kepenatannya. Lucu karena pekerjaan itu tak pernah kami lakukan dan bahkan kami fikirkan.

Memang berat. Tidak salah kalau seorang teman mengatakan bahwa badan terasa habis degebuki sehabis kerja. Tapi karena prinsip kami sudah kuat, di sini (OZ) bukanlah tempat untuk menuai, bersenang2 untuk menikmati yang kami peroleh. Ibarat menanam padi, kami baru menancapkan benih padi di sawah. Selama menunggu sang padi bisa dituai, banyak yang harus kami korbankan. Termasuk pula si kecil kami, Amira. Kami terpaksa mengurangi waktu kebersamaan dengannya. (Semoga dia menjadi anak yang tangguh). Hingga saat ini masih terbayang kepenatan itu. Masih pula teringat bentakan2 saya pada Amira karena dia terus merengek2 minta gendong sementara saya teramat capek seharian di kampus menyelesaikan tugas2 yang sudah menumpuk dan sesampainya di rumah masih harus memasak untuk hari itu. Sementara di hari minggu, dia harus merelakan saya bekerja dan bermain dengan ayahnya.

Kembali kepada mimpi, bagaimana bukan suatu mimpi kalau saya diberi kesempatan oleh Allah untuk hidup disuatu negara yang adil, makmur, aman dan sejahtera.  Semua serba teratur, bersih dan beretika. Kita tidak perlu mengangankan mesin waktu yang akan membawa kita ke masa depan ataupun mengembalikan kita ke masa lalu. Berada di OZ serasa diri terlempar ke masa depan. Demikian pula sebaliknya, kembali ke Indonesia, ibarat kembali ke masa lalu. Mungkin Australia adalah Indonesia di tahun 2500 dan Indonesia adalah Australia tahun 1900. Entah kapan Indonesia bisa seperti itu ya? Mungkin sampai generasi saya yang keempat, kondisi seperti itu belum terwujud.

Ya, tidak semua orang diberi kesempatan. Tapi nampaknya saya kurang mensyukuri nikmat itu, karena saya tidak sempat menggali lebih dalam aspek2 sosial, budaya, ekonomi serta pemerintahan negeri tersebut yang insya Allah bermanfaat untuk membangun Indonesia. Kami terlalu disibukan oleh pengejaran dollar daripada berburu ilmu. Semoga suatu saat nanti kami masih diizinkan oleh Allah untuk ke sana. Mungkin di kesempatan kedua, kami akan menekankan pada aspek pengetahuan karena saat itu kami tak perlu lagi dipusingkan oleh target beli rumah dan isinya.

One thought on “MIMPI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s