Liberal yang Sosialis

Dulu, sebelum menginjakkan kaki di negeri kangguru, saya sering berdiskusi dengan kawan-kawan saya, temasuk yang saat ini menjadi suami saya, yang tergabung dalam MAKES (Al Markaz for Khudi Enlightening Studies) di masjid Al Markaz di Makassar. Kami mengkaji banyak hal, permasalahan apa saja ekonomi, politik, sosial dan budaya. Kemudian kami mencoba melihatnya dari sudut pandang Islam dan didiskusikan dalam bahasa Inggris. Salah satu pembahasan yang menarik bagi kami adalah Ideologi. Kami mencoba membandingkan ideologi2 yang ada saat ini, liberal, sosialis, komunis, Pancasila tentunya, dan Islam. Tentu saja hasil diskusi kami lebih mendasarkan pada teori-teori yang ada dan berdasarkan apa yang kami alami dan lihat. Simpulan kami saat itu, liberal, sosialis, komunis dan pancasila tidak menghasilkan keadilan dan kesejahteraan rakyat.

 

Setelah saya menginjakkan kaki di Oz, baru saya pahami bahwa ideologi2 tersebut tidaklah diterapkan secara saklek sebagaimana yang ada dalam teori. Australia, contohnya, adalah negara liberal yang justru sangat sosialis dan bahkan kalau mau diakui, dalam beberapa hal mereka justru lebih Islami dibanding masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam. Lebih manusiawi dan beretika. Tentu saja terlepas dari beberapa deviasi2. Liberal karena mereka sangat menjunjung tinggi nilai2 pribadi, privasi sangat dijaga sekali. Akibatnya, mereka tidak peduli dengan apa yang dilakukan tetangga. Tapi kalau dikatakan tidak peduli, mungkin tidak terlalu tepat juga. Tidak peduli dalam arti mereka tidak mau mengganggu privasi orang lain. Alhasil, komunikasi dengan tetangga sebatas, hi.. how are you.. dan kalaupun ngobrol, topiknya yang umum2 seperti cuaca ataupun kebijakan pemerintah yang baru. Jarang sekali menyentuh wilayah-wilayah pribadi. Namun demikian, jiwa penolong nampaknya telah terinternalisasi dalam diri mereka. Pengalaman saya bertetangga misalnya, saya sangat jarang sekali ngobrol dengan tetangga. Setiap kali berpapasan kami hanya saling mengucapkan hi..how are you.. Suatu ketika, tetangga saya tersebut mengatakan ‘if you need something or go somewhere I can drive you”. Saya tidak menyangka juga. Saya hanya berfikir, mungkin dia kasihan melihat saya bersama amira membawa barang-barang belanjaan. Tinggal di Canberra memang agak susah kalo tidak punya mobil. Sebenarnya jumlah bis kota cukup banyak, tapi bis2 tersebut lewat pada saat-saat tertentu berdasarkan jadwalnya masing2. Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu bermasalah kalau harus hidup tanpa mobil. Banyak hal yang bisa saya ‘baca’ saat di bis meskipun dari sisi waktu jelas tidak efisien.

 

Kalau di Indonesia slogannya: susah liat orang senang, senang liat orang susah, di sini khususnya di Canberra justru terbalik. Mereka sepertinya tidak bisa melihat orang susah, siapapun orang itu. Kalau kita, orang Indonesia, mungkin hanya menawarkan kebaikan pada orang yang kita kenal dengan baik, tetangga ataupun saudara dekat, berbeda dengan masyarakat Oz. Yang saya amati, mereka tidak membeda2kan siapa orang tersebut. Setiap saya berpapasan dengan mereka, pagi misalnya, tak sungkan2 mereka say hello, hi, good morning, good day atau pun how are you meskipun saya tak mengenal mereka sama sekali dan meskipun saya memakai jilbab. Saya tekankan disini tentang jilbab karena persepsi yang berkembang di Indonesia, memakai jilbab di negeri non-muslim, banyak korban bom bali, kebijakan pemerintahnya sering memojokkan Indonesia dan mendukung invasi di Iraq, pastilah membawa resiko mengalami diskriminasi.

 

Keakraban pun kental sekali saat di bis kota. Saya teringat cerita teman saya yang dia kutip dari buku Steven Covey dimana di suatu kota, saya lupa dimana, ada seorang sopir bis kota yang selalu menyapa dengan akrab calon2 penumpang sehingga panumpang-penumpang yang tadinya suntuk dan kecapekan sehabis bekerja seharian mampu tersenyum berkat sapaan-sapaan sang sopir. Semua cerita teman saya tadi memang bukan sekedar cerita yang ada di buku, tapi benar2 ada. Masyarakat Oz disini yang saya maksud adalah mereka yang bule2. Berbeda sekali dengan orang2 Asia yang sudah menjadi warga negara disini karena biasanya orang2 asia ini kalau tidak disapa duluan mereka diam saja. Sepertinya mereka masih memegang nilai-nilai mereka sendiri. Berbeda lagi dengan orang2 pacific, meskipun kulit mereka berbeda, mereka nampaknya lebih menginternalisasi nilai2 negeri kangguru tersebut dibanding orang2 asia, yang positif maupun negatif.

 

Kembali ke ideologi liberal, mereka tidak peduli orang lain berbuat apa, yang penting kepentingan kita tidak terganggu. Tak salah mengapa free sex menjadi hal yang biasa. Beer and wine menjadi bagian hidup sehari2. Negara tidak melarang free sex ataupun alcohol. Namun negara memfasilitasi hak2 individu lainnya agar terhindar dari gangguan2 mereka yang melakukan free sex ataupun penikmat alcohol. Tak heran, biarpun banyak yang suka minum alcohol, tingkat kriminalitasnya tetap rendah. Dari segi penampilan, pemabuk di sini jauh berbeda dengan pemabuk di Indonesia.

 

Di Indonesia kesan pemabuk sangat menyeramkan, preman, bertato, tukang berkelahi dan mengganggu ketertiban umum. Berbeda dengan di OZ. Orang mabuk di sini yang pernah saya temui, dari penampilan memang tidak enak dilihat, mata merah dan bau alcohol yang bikin membuat saya pusing. Yang saya dan suami khawatirkan kalau didekati orang mabuk di sana bukan takut dipukul ataupun di apa-apakan. Tapi khawatir diajak ngobrol kesana kemari yang membuat kami mual2 tidak tahan bau alcohol. Jelas, pemabuk di sini tidak berani berbuat macam-macam karena mereka takut pada hukum yang keras dan benar-benar ditegakkan oleh pemerintah. Bisa-bisa mereka masuk penjara.

 

Sama halnya dengan rokok. Pemerintah tidak melarang orang merokok, tapi mengatur bagaimana perokok bisa merokok tanpa mengganggu orang lain. Dibuatlah peraturan2 yang mengatur area2 yang khusus buat perokok. Perokok dilarang merokok ditempat2 umum. Perusahaan2 rokok diwajibkan untuk mencantumkan bahaya2 akibat2 rokok, termasuk gambar2 menyeramkan tentang penderita penyakit kanker mulut, paru-paru hingga bayi2 yang terkena penyakit akibat sang ibu tetap menghisap rokok saat hamil. Pemerintah juga memfasilitasi dan mendorong warga negara agar melepaskan diri dari kebiasaan merokok. Bukan hanya iklan tapi juga hotline2 yang bisa diakses oleh masyarakat.

   

One thought on “Liberal yang Sosialis

  1. Luar biasa. Analisa sosial seperti di atas terlalu dalam untuk memahami fenomena yg sederhana.Namun, dibutuhkan tindakan nyata, nan sederhana. Ranah keilmuan, sepertinya lumpuh mengubah hal-hal permukaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s