Mendidik sebuah bangsa

Tinggal selama dua tahun di OZ memunculkan banyak pertanyaan di kepala saya. Pertanyaan besarnya adalah mengapa begini mengapa begitu. Pada dasarnya saya hanya ingin mencari jawaban mengapa Australia bisa menjadi negara maju dan mengapa negeriku tidak maju2. Terkadang saya berfikir: enak juga ya orang yang dilahirkan disini. Banyak sekali fasilitas2 yang bisa mereka dapatkan. Saya pun terkadang berandai2, mungkin kalau saya dilahirkan disini, pasti bisa menjadi orang yang cerdas. Bagaimana seorang anak tidak menjadi pintar kalau dia dilengkapi oleh segala fasilitas. Tidak perlulah menjadi orang kaya untuk bisa menggali ilmu karena dia bisa memanfaatkan perpustakaan untuk mengasah otaknya. Buku2 anak dalam sampul2 yang bagus dan tebal yang pasti menarik perhatian setiap anak mudah diakses oleh semua orang. Demikian halnya dengan alat2 permainan anak, seperti puzzle, alat musik, mobil2an yang bisa dikendarai, monopoli dll bisa dipinjam tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Bagaimana mereka tidak menjadi anak yang cerdas kalau mereka pun bisa menjangkau harga buku, kalaupun tidak, mereka bisa memanfaatkan garage sale ataupun salvation army untuk membeli buku2 bekas dengan kualitas yang relative masih bagus dan murah. Itu pula yang kami lakukan disana. Rajin mengunjungi pasar2 buku bekas.

 

Saya sendiri yakin sebenarnya masalah rendahnya minat baca buku di Indonesia salah satunya disebabkan tingginya harga buku. Minat baca sebenarnya bisa ditingkatkan asal sejak kecil anak sudah diajarkan mencintai buku. Saya sendiri berusaha mengenalkan buku kepada anak saya, Amira, sejak dia belajar memegang dan sudah bisa duduk, mungkin sekitar 7 bulan. Dia sangat tertarik dengan buku yang kami berikan. Memang buku yang bagus, berwarna-warni dan tebal tiap lembarnya. Saya dan ayahnya biasanya membuka2kan buku sambil duduk dihadapannya dan menceritakan isi buku tersebut. Buku yang sederhana sebenarnya. Buku2 yang bergambar buah2an, sayuran, hewan dan segala hal yang ada disekitar kita.  Tak jarang pula dia terkadang mencoba menggigit2 buku2 tersebut. Terpaksa kami harus meralakan buku2 tersebut hancur. Kami tidak menargetkan Amira untuk bisa membaca pada usia dini, bagi kami yang penting Amira mencintai buku. Hal ini kami lakukan karena kami meresahkan program2 stasiun TV di Indonesia. Kami tidak ingin Amira menjadi pecinta sinetron yang lebih asyik didepan TV daripada bermain ataupun membaca buku saat kami harus kembali ke Indonesia. Kami tidak ingin daya imajinasinya lenyap yang pada akhirnya menjadikannya anak yang pasif. 

 

Beralasan memang, mengapa bangsa2 bule cerdas2 karena kalaupun mereka hanya lulus high school, wawasan mereka bisa mengungguli lulusan2 Indonesia karena kerajinan mereka membaca buku. Terlepas dari masalah infrastruktur diatas yang mendukung minat baca warga negara OZ, saya fikir hal ini dipengaruhi pula oleh ideologi liberal mereka yang membuat mereka tidak terlalu dipusingkan oleh urusan-urusan orang lain. Berbeda dengan orang Indonesia ataupun orang2 asia yang mengutamakan collectivism. Terlepas dari segala aspek positif dari asas kekeluargaan yang telah dipegang erat sejak dahulu, masyarakat nampaknya lebih menyukai mengurusi urusan orang lain. Tak salah pula kalau masyarakat kita lebih menggemari gossip daripada ilmu pengetahuan. Saya fikir, kondisi ini sangat dipahami sekali oleh para pemilik stasiun TV sehingga mereka bisa mengeruk keuntungan sebesar2nya dari penayangan2 infotainment2 dan sinetron2 yang mengingkari logika akal sehat. Alhasil, masyarakat lebih suka duduk didepan TV dan bergossip untuk membicarakan urusan orang lain baik artis, teman, tetangga bahkan saudara sendiri dibanding menyeruput secangkir teh sambil membaca buku.

 

2 thoughts on “Mendidik sebuah bangsa

  1. Aku juga ingin anakku Nayla suka membaca Mbak…tapi sampai dia lulus dari TK B, belum lancar juga membacanya… gak papa lah..semoga besok di kelas 1 dia lancar membaca…amin…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s