Featured

MENU BARU: BELAJAR ISLAM

Sebagaimana judulnya, menu ini merupakan kumpulan tulisan-tulisan saya yang bertema Islam. Saya sendiri tidak memiliki latar pendidikan Islam yang khusus. Saya seorang akuntan yang bekerja di salah satu instansi pemerintah yang kemudian melanjutkan studi administrasi publik. Riset saya pun juga temanya tentang manajemen kinerja sektor publik.

Sekitar tahun 1993-1994 pernah terdaftar di sebuah ma’had dekat kampus. Tiga kali sepekan di sore hari mempelajari Islam. Tahun 2000 setiap minggu pagi saya kembali rutin hadir di ma’had yang berbeda. Sempat mengikuti halaqah sejak tahun 1993 hingga 2007 hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti.

Waktu terus berjalan hingga sampailah saya kembali berada di negeri ini. Awalnya target saya adalah mempelajari segala hal tentang negara-negara maju, baik dari sisi sejarah, budaya, ekonomi, dan lainnya. Hingga akhirnya, saya justru tertarik untuk lebih dalam mempelajari Islam dengan perspektif yang berbeda.

Aktivitas browsing youtube mengantarkan saya untuk berkenalan dengan Dr. Yasi Qadhi, kemudian Tariq Ramadan, dan akhirnya saya pun dibuat terpesona oleh kuliah-kuliah Nouman Ali Khan. Tak hanya itu akhir-akhir ini saya ‘menemukan’ banyak ustadz/ah lain yang juga menarik pembahasannya.

Berada di negeri ini memungkinkan saya mendapatkan kesempatan untuk ‘berguru’ dari youtube dengan jaringan internet yang wus wus. Alhamdulillah.

Banyak hal yang menarik yang saya dapatkan sehingga rasanya sayang jika dilewatkan begitu saja. Video-video tersebut sangat menarik dan mungkin bagi banyak orang di Indonesia masih sulit untuk mendapatkan akses karena kualitas akses internet yang belum sebagus di sini. Video-video ini lah yang mengantarkan saya untuk lebih mencintai Islam, lebih mencintai Al-Qur’an, lebih mencintai para Nabi, dan mencintai Allah SWT.

Sebagaimana saya sebutkan di atas, saya tidak memiliki background pendidikan agama yang mumpuni, tulisan dalam menu ini merupakan rangkuman khutbah, kuliah, dan ceramah dari ustadz/ah yang saya dapatkan di youtube.

Smoga bermanfaat..

 

Advertisements

THE MIRACLE OF THE QUR’AN

“Bunda, it’s sooo ammmazing”.

Dari sorot matanya masih terlihat rasa ketakjubannya…..kok bisa. Ia lanjutkan lagi, “which ayat?”, saya jawab singkat, “one forty three, wasathan, the middle”.

Sehari sebelumnya kami sempat mendiskusikan kembali tentang mukjizat Al Qur’an. Awalnya, ia lontarkan pertanyaan yang sama sekitar tiga bulan yang lalu. Inti pertanyaanya adalah: bagaimana jika ternyata kelak di akhirat nanti ternyata Tuhan kita bukan Allah SWT?

Pertanyaan simple, tapi butuh jawaban yang panjang. Saat itu kami mencoba menghubungkan jawabannya dengan ke-mukjizatan-an Al Quran bahwa kitab suci tersebut bukanlah buatan manusia, tetapi dari Allah. Dengan memberikan keyakinan bahwa Al Quran bukan lah buatan manusia dan benar-benar kitab dari Allah SWT semoga bisa menguatkan akan kebenaran Al Qur’an.

Saat itu kami berikan contoh kata yang terdapat di ayat 143 surat Al Baqarah yang menyebutkan kata ‘wasathan’. Kata tersebut terletak tepat di tengah-tengah jumlah keseluruhan ayat dalam surat AL Baqarah 286. Kami juga sempat mendiskusikan tentang the mathematical miracle of the Qur’an yang membahas tentang keajaiban jumlah kata-kata tertentu yang semakin menguatkan kebenaran Al Qur’an.

Lalu, ia tanyakan lagi, “why Allah gave miracles to the prophet?” Pertanyaan yang pas yang bisa menjembatani jawaban pertanyaan pertama. Balik kami tanyakan, “How do we know that you are a grade six student?“. Dengan cepat ia jawab “tshirt”. Grade 6 di sekolahnya memang memiliki kaos khusus yang berbeda dari seragam sekolah. Kaos yang berwarna biru tersebut di bagian belakang tertulis seluruh nama siswa kelas enam.

Kami jelaskan bahwa kaos itu adalah salah satu bukti bahwa ia adalah siswa kelas enam. Begitu halnya dengan mukjizat yang diberikan Allah kepada para nabi. Sembari mengingat kami memintanya menyebutkan nama nabi beserta mukjizatnya.

Terakhir kami tekankan bahwa mukjizat itu lah yang menjadi proof of evidence atas kebenaran ajaran yang dibawa para nabi. Menutup diskusi malam itu, kami katakan, “this is the miracle” sambil memegang dan mengangkat Al Quran yang ada di hadapan kami..

 

FAMILY PROJECT IS BACK (STORY OF THE PEOPLE OF THAMUD)

“Yes…we have a project again!!!!”

Ayla terlihat begitu bersemangat saat kami katakan bahwa nanti malam ‘project’ akan dimulai lagi. Antara senang dan rasa bersalah sempat teselip melihat reaksinya. Senang karena ternyata ia menyambut baik, dan rasa bersalah karena hampir enam bulan ini kami tidak pernah meluangkan waktu untuk mengerjakan ‘project’.

Agustus tahun lalu kami telah menyepakati untuk memulai sebuah ‘project’ yang kami namakan ‘Asmaul Husna Project’. Sederhana saja sebenarnya, kami hanya ingin mendisipinkan diri untuk mengajarkan Islam setiap hari di rumah secara rutin. Selain itu, kami juga ingin membangun komunikasi dengan anak-anak. Interaksi rutin setiap malam setidaknya membuat mereka lebih terbuka tanpa harus ditanya-tanya tentang keseharian mereka, terutama untuk Amira yang sudah menginjak dua belas tahun.

Ketiadaan pelajaran agama di sekolah membuat kami harus memikirkan cara untuk menanamkan nilai-nilai Islam. Karena itulah peran orang tua sangat dominan terhadap pendidikan Islam anak. Berbeda di Indonesia dimana anak masih mendapatkan pelajaran agama di sekolah, apalagi bagi mereka yang bersekolah di sekolah islam terpadu. Jadi, tugas orang tua jauh lebih ringan.

Topik yang kami pilih untuk project pertama adalah mempelajari 99 Asmaul Husna. Target yang kami tetapkan waktu itu cukup muluk. 100 hari untuk 99 asmaul husna. Realisasinya? Setelah seratus hari kami baru bisa membahas sekitar 25.

Hambatan utama justru datang dari diri sendiri. Anak-anak selau siap menyambut. Permasalahan utama terletak pada kesapan materi dan kesiapan untuk mengajarkan. Awalnya materi kami ambil dari hasil browsing internet. Tapi ternyata tidak mudah. Ada beberapa bahan, tapi kurang pas. Baik dari sisi bahasa dan kesesuaian usia.

Dari pada menghabiskan waktu untuk browsing akhirnya kami putuskan untuk membuat worksheet sendiri. Referensi tetap harus browsing. Hanya, kami mencoba mendesain worksheet sesuai bahasa dan topik yang kira-kira menarik untuk mereka diskusikan.

Jadilah dia awal-awal project berjalan kami mangambil referensi dari understandquran.com dan dimodifikasi dengan aktifitas mewarnai. Amira dan Ayla memang hobby menggambar. Alokasi waktunya, seperempat jam mewarnai dan tiga puluh menit berdiskusi, meski kadang agak molor. Namun, justru lebih baik karena mengurangi waktu ber-gadget.

Untuk hal sesederhana menyiapkan worksheet pun ternyata kami sudah ‘keponthal-ponthal’. Terkadang worksheet berhasil dibuat. Tapi macet saat diskusi karena kami kurang mempersoapkan diri untuk mengeksplorasi lebih jauh.

Hingga akhirnya kami mencoba memodifikasi worksheet dengan mencontoh aktivitas reading di sekolah. Caranya, dengan mengambil kisah atau bacaan sekaligus menambahkan pertanyaan langsung.

Alhadulillah, teknik ini jauh lebih efektif. Untuk ice-breaking-nya kami berikan pertanyaan ringan seputar aktifitas sekolah. Atau, kami juga membahas hal-hal ringan kemudian dikaitkan dengan Nama tertentu.

Hingga masa supersibuk itu pun tiba… kami tidak sempat lagi melewatkan malam dengan ‘project’. Anak-anak pun lebih akrab dengan gadget.

Baru beberapa hari ini kami memulai kembali menghidupkan project kembali. Reaksi Ayla dan Amira sungguh mengharukan…

Hari pertama setelah off sekian lama, kami membahas kisah kaum Tsamud dan Nabi Salih. Beberapa bulan lalu kami sudah pernah membahasnya dengan menyaksikan salah satu video di Youtube, hanya diskusi ringan tanpa worksheet yang sempat kami lakukan waktu itu.

Kali ini, kami sudah mempersiapkan worksheet dengan bacaan yang kami sadur dari buku My Illustrated Quran Story Book yang ditulis oleh Saniyasnain Khan. Kami juga persiapkan worksheet yang berisi pertanyaan ringan untuk memastikan bahwa mereka memahami isi cerita.

Begitulah..hingga akhirnya muncul pertanyaan-pertanyaan sulit Amira….

Download worksheet: The tribe of thamud

the tribe of thamud1people of thamud 2.JPG

Berzikir tak mengenal waktu

Memory…ia ulang kata itu hingga beberapa kali karena saya tidak paham yang ia maksud. Saya coba tekan setting dan saya perlihatkan kapasitas hape saya. This is the memory, begitu saya katakan. Ia menggeleng.

Ia katakan lagi…memory. kali ini tangan kanannya ia letakkan didepan mata kanannya sambil memperagakan sesuatu. Ujung jempol dan telunjuk ia satukan, langsung ia lepas. Disatukan lagi, dilepas lagi. Ia ulang beberapa kali. Ia juga sempat berbicara dalam bahasanya untuk menjelaskan yang ia maksud. Sayang, tak juga saya pahami.

Ia masih terus mencoba menjelaskan dan memperagakan yang ia maksud. Hingga akhirnya…Aha…. Barulah saya tau: camera.

Continue reading “Berzikir tak mengenal waktu”

I like to go to the toilet

Antrian di depan saya sekitar sepuluh orang. Saya lihat di sebelah kanan kiri sama saja. Cukup panjang. Ya sudah lah. Ditunggu saja.

Tepat di depan saya muslimah bersyal putih. Tak terlalu saya perhatikan tulisan yang tercetak di syal tersebut kecuali dua nomor telfon dan negara: France and Saudi Arabia.

Sudah bisa diduga ia pastilah jamaah asal Perancis. Tapi, saya tidak punya cara lain untuk bercakap kecuali menanyakan asal negaranya. Meski agak ragu kalau nanti saya diajak berbahasa Prancis, tapi biar  sajalah. Sembari menikmati antrian toilet, saya bisa mengajaknya bercerita.

Continue reading “I like to go to the toilet”

Menghafal Qur’an di usia yang tak lagi muda

Dari suaranya, usia mereka sekitar dua puluhan. Keduanya terdengar begitu bersemangat menghafalkan Ar Rahman. Cukup nyaring hingga sempat membuat saya yang duduk tepat didepannya penasaran. Sesekali mereka berhenti untuk memastikan ketepatan bacaan ayat. Secara umum sudah lancar. Sempat juga mereka berbicara dalam bahasa Indonesia. Aha…mungkin ini yang membuat saya semakin penasaran.

Setelah mereka menyelesaikan Ar Rahman, saya pun tidak tahan untuk menoleh. Sungguh, dugaan saya meleset. Rupanya usia mereka sudah diatas enam puluhan. Tak habis rasa takjub, saya sempatkan untuk menyatakan kekaguman saya, ‘Ibu hebat…’. Kekaguman yang sama juga saya tangkap dari jamah disebelah ibu tadi. Lalu, saya berkomentar lagi: banyak hafalannya ya bu? Surat apa lagi yang di hafal bu? Sang ibu pun menjawab: Yasin, Al Waqiah, Al Mulk. Wah…bertambahlah decakan kagum saya.

Continue reading “Menghafal Qur’an di usia yang tak lagi muda”

BENARKAH RASULULLAH PERNAH BERMUKA MASAM?

Ternyata QS ‘Abasa itu sangat sangat menarik. Saya yakin anda cukup familier dengan surat ini. Ketika saya meng-google, banyak perdebatan terkait surat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad bermuka masam. Benarkah Rasulullah pernah bermuka masam? Benarkah yang dimaksud dalam surat ini adalah Rasulullah, dan bukan orang lain? Bukankah beliau seorang Nabi? Apakah mungkin seorang Rasul bermuka masam?

Terlepas dari masalah perdebatan tersebut, ada beberapa hal yang justru jauh lebih menarik untuk diketahui. Terlebih terkait: seperti apakah bermuka masam itu? Bagaimana konteks kejadian saat itu? Terakhir, apa yang bisa kita ambil pelajaran dari kisah turunnya surat ini?

Dalam tulisan ini saya hanya merangkum dan mengolah khotbah dalam video Nouman Ali Khan yang berjudul In the Eyes of Allah dan kajian tafsir tematik surat ‘Abasa oleh Ust. Mokhammad. Referensi lain saya ambil dari web tafsirsunnah.me dan tafsir Ibnu Katsir online.

Continue reading “BENARKAH RASULULLAH PERNAH BERMUKA MASAM?”

Peningkatan Kinerja ala Pacuan Gajah

Pernahkah anda menyaksikan pacuan gajah? Saya sendiri sulit membayangkan. Sepertinya kurang seru. Atau malah membosankan. Karena sulit untuk dibayangkan ini pula barangkali yang membuat saya tidak begitu memahami teori pacuan gajah. Kali pertama saya abaca artikel galloping elephant yang ditulis oleh Rainey dan Stainbeurer terasa begitu memikat. Tak lain dan tak bukan ya karena judulnya: galloping elephant. Hanya saja, untuk memahami secara mendalam dan merasuk butuh beberapa hari merenung.

‘Petunjuk’ itu justru saya dapatkan saat harus berjalan sejauh satu kilo ditengah terik matahari 32 derajat celcius menjemput Amira pulang sekolah. Begitulah…tiba-tiba muncul saja di kepala. Kalau membayangkan pacuan gajah begitu sulit, mungkin bisa kita ubah saja gajah itu menjadi kuda. Memahami teory pacuan gajah atau galloping elephant dalam mencari penentu kinerja instansi pemerintah akan sangat mudah jika kita bayangkan sebuah pacuan kuda atau malah karapan sapi? Wah kalau seperti ini jadinya bisa teori karapan sapi ya. Hehehe…

Continue reading “Peningkatan Kinerja ala Pacuan Gajah”

Bagaimana Australia membangun literasi (Bagian 2)?

Rabu pagi 9 Agustus 2015 tak hanya menjadi hari yang menyenangkan untuk anak-anak prep di Moreland Primary School. Tapi, juga saya. Ada hal yang menarik dan mengesankan untuk diceritakan. Prep atau preparation, seperti yang pernah saya sampaikan dalam tulisan sebelumnya, setara dengan TK B. Namun, secara administratif pengelolaannya ada di tingkat primary school atau SD.

Apa yang terjadi hari itu? Ya, hari itu anak-anak prep belajar tentang ‘Tahu Isi’. Saya sendiri sekedar membantu mendokumentasikan kegiatan yang didukung dua orang tua murid dari Indonesia, mbak Windy Triana dan mbak Ratna Andini.

Begitu musik terdengar, jam 9.00, preppies segera masuk keruangan dan duduk bersila dengan teratur. Mereka terlihat begitau bersemangat melihat apa yang ada di hadapan mereka. Beberapa alat masak, seperti baskom, penggorengan, container berisi sayuran, tepung, dan tahu ada di atas meja.

Continue reading “Bagaimana Australia membangun literasi (Bagian 2)?”