Belajar dari kisah pertemuan Nabi Musa dengan Allah SWT

Ternyata kisah Nabi Musa itu sangat sangat sangat menarik. Garis besarnya sama seperti apa yang pernah saya dapatkan saat masih duduk di bangku SD. Sewaktu bayi dihanyutkan di sungai nil dan kemudian ditemukan oleh istri Firaun. Setelah dewasa menjadi penentang Firaun. Dengan mukjizat tongkat ia diperkenankan Allah untuk membelah lautan. Terakhir, Firaun tenggelam saat berusaha mengejar Nabi Musa.

Detil kisah yang sangat menarik baru beberapa bulan lalu saya dapatkan dari khutbahnya Nouman Ali Khan (NAK). Seperti halnya Tariq Ramadan, Nouman juga masuk dalam 500 muslim paling berpengaruh di dunia. Beliau adalah public speaker, pendiri dan CEO Bayyinah Institut, pusat pendidikan Bahasa Arab di Amerika.

Kisah Nabi Musa terasa begitu hidup saat disampaikan oleh Nouman Ali Khan. Kisah tersebut bisa kita baca dalam surat Taha dan Al Qashas. Beberapa kali pernah saya baca. Tapi ya gitu deh. Merasa sudah tau alurnya, malah sering dilewati. Gayanya sih mencari hal-hal yang baru yang belum saya ketahui. Nyatanya, justru hikmah yang sangat dahsyat terewatkan.

Sebagai ahli bahasa, Nouman Ali Khan bisa menyajikan kisah tersebut secara menarik. Bahkan dalam mengkaji satu ayat pun bisa dibahas secara panjang lebar membuat kita (saya) semakin meyakini bahwa Al Quran itu adalah mu’jizat yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad. Nouman mampu menggambarkan setting kejadian kala itu dengan baik. Ditambah lagi telaah konstruksi serta penempatan setiap kata ternyata juga menarik untuk diketahui. Termasuk, penggunaan ‘Wahai Musa’ di depan atau didepan kalimat ternyata memiliki makna yang berbeda. Mari kita ikuti kisahnya.

Cerita yang belum saya ketahui dengan baik adalah dialog Nabi Musa dengan Allah di lembah Thuwa. Tulisan berikut merupakan rangkuman khutbah Nouman Ali Khan yang berjudul Lesson from story of Musa (AS) yang didasarkan pada QS Taha, dengan menambah referensi dari tafsir Ibnu Katsir sebagai pelengkap.

Suatu ketika Nabi Musa AS dalam perjalanan bersama keluargannya. Kala itu ia hendak mengunjungi keluarganya dengan sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Fir’aun setelah sepuluh tahun meninggalkan Mesir. Bersama istri ia menempuh perjalanan di malam yang gelap lagi hujan deras dan cuaca yang dingin. Saat itu Nabi Musa berada di suatu tempat dan setiap kali ia nyalakan pemantik api, tak juga api menyala. Dalam kondisi seperti itu tiba-tiba ia melihat api di lereng gunung. Nabi Musa pun mengatakan kepada istrinya, “Tunggulah di sini, aku akan ke bukit itu. Aku melihat ada sebuah cahaya”

Hingga tiba di pinggir lembah sebelah kanan dari sebatang pohon kayu, Nabi Musa mendengar suara “Wahai Musa” (Taha: 11).

Dalam hal ini Nouman menggambarkan bagaimana reaksi Nabi Musa: di malam yang gelap, sendirian, tak ada seorang pun tiba-tiba ada yang memanggil namanya. Kalaupun ada seseorang, dan seandainya ia tau ada yang datang, pastilah pertanyaannya: siapa kamu? Atau, kamu siapa?

Tapi ini?

‘Wahai Musa’.

Secara psikologis, mungkin Nabi Musa juga berfikir dari mana orang tersebut tahu namanya. Faktanya, Sang Pemilik suara jelas sekali memanggil namanya. Jadi, bisa dibayangkan betapa terkejutnya Nabi Musa. Dalam hal ini Nouman mengatakan: If somebody knows your name, you are already like, “ya” (in shock). Bisa dibayangkan..

Hingga akhirnya terdengar lagi suara: Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskanlah terompahmu. Karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci Tuwa. (Taha:12).

Allah kemudian meyakinkannya dengan mengatakan “wa ana ikhtartuka” di ayat selanjutnya (dan Aku telah memilih kamu). Dalam Bahasa Arab, Menurut Nouman, ‘ikhtartuka’ berarti ‘Aku telah memilihmu’ dalam hal ini Allah mengatakan “Anna ikhtartuka”. Lalu, apa bedanya antara ‘ikhtartuka’ dan ‘Anna ikhtartuka’? Mengapa Allah SWT menambahkan Anna, yang juga berarti aku, sementara ‘ikhtartuka’ sudah memiliki unsur ‘aku’?

Menurut Nouman, dalam ayat ini, kata “aku” disebutkan dua kali. Penyebutan dua kali ini merupakan sesuatu yang khusus. Kalau dalam Bahasa inggris diterjemahkan “it is I who have selected you”. Artinya, pertemuan tersebut bukan kehendak Nabi Musa, tapi Allah “Aku”. Nabi Musa sampai di lembah tersebut bukan karena kehendaknya sendiri, Allah lah yang menghendakinya datang. Kata Nouman Ali Khan, “completely by plan”.

Termasuk ketika Nabi Musa melihat cahaya. Dalam kondisi yang gelap gulita, ketika ada nyala api, seharusnya siapapun bisa melihat cahaya tersebut, termasuk istri Nabi Musa. Tapi, ternyata Allah hanya menghendaki Nabi Musa saja yang melihat cahaya.

Setelah itu, Allah berfirman: Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku[21] dan laksanakanlah shalat[22] untuk mengingat Aku[23]. 15. Sungguh, hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya)[24] agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang dia usahakan. 16. Maka janganlah engkau dipalingkan dari (kiamat itu) oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan mengikuti keinginannya[25], yang menyebabkan engkau binasa[26].”

Dialog selanjutnya sangat menarik. Untuk memahami dialog ini Nouman mencoba mengajak membayangkan seandainya suatu ketika kita bertemu dengan seorang tokoh atau artis yang sangat kita idolakan. Apa yang kira-kira akan kita lakukan? Pertama pastilah berselfie, dan dalam hitungan detik foto bersama sang idola pun sudah beredar di media social. Usai bertemu pun pasti kita akan menceritakan kisah pertemuan tersebut dengan rekan-rekan. Tau nggak, aku tadi habis ketemu ini lho.

Begitulah, sama halnya dengan Nabi Musa yang mendapat kesempatan bertemu dengan Al Khaliq. Nouman mengatakan: This is a conversation that is of epic proportions in human history. A conversation between Allah and a human being and the conversation was initiated by Allah and the human was called by his name directly!! Muuusa!!!

Dalam pertemuan tersebut, Allah lah yang menghendaki pertemuan tersebut. Bayangkan jika kita, atau saya tiba-tiba mendapat undangan dari Nouman Ali Khan rasanya pasti tidak tergambarkan. Hal yang pasti adalah kita ingin pertemuan tersebut berlangsung lama.

Begitu halnya dengan Nabi Musa. Dalam ayat berikutnya, Allah menanyakan: Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? (QS Taha 17).

Nabi Musa pun menawab: Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya (QS Taha 18)

Dalam tafsir Ibnu katsir dijelaskan bahwa tongkat itu dijadikan sebagai pegangan saat ia berjalan dan digunakan untuk menggoyangkan tangkai pohon agar dedaunannya rontok untuk makanan kambingnya.

Dalam dialog ini, menurut Nouman, Allah hanya menanyakan: apakah yang ada di tangan kananmu? Tapi, mari kita lihat jawaban Nabi Musa. Pertanyaanya ‘apa’, seharusnya jawaban ‘tongkat’ sudah cukup. Dalam hal ini, Nabi Musa berusaha menjelaskan panjang lebar tentang tongkatnya. Padahal, Allah hanya bertanya tentang ‘apa’.

Sama dengan analogi pertemuan dengan selebritis, orang-orang penting, atau orang-orang yang kita kagumi, pasti kita berharap bisa bercakap-cakap lebih lama. Begitu halnya dengan penggambaran dialog tersebut. Allah hanya bertanya ‘apa’ , tapi Nabi Musa menjawabnya dengan panjang lebar.

Kemudian, Allah berkata: “Lemparkanlah ia, hai Musa” (QS Taha 19).

Mari kita perhatikan penempatan kata ‘hai Musa’ dari ketiga ayat tersebut. Coba di ‘read aloud’ atau dibaca keras-keras ayat-ayat yang ada kata ‘hai musa’. Bisa dirasakan bedanya? Apa bedanya saat ‘hai musa’ ditempatkan di awal kalimat dan di akhir kalimat?

Tentang hal ini, Nouman mencontohkan ketika kita memanggil nama anak. Kapan kita tempatkan nama anak di awal kalimat, dan kapan kita gunakan di akhir? Kata Nouman, when you start a conversation with the name first, it is a form of harshness. But when you mean the name at the end, it is a form of love.  Sama persis dengan kata-kata yang saya ucapkan setiap pukul 8.45 di pagi hari: Amira!! Ayla!! Cepat..cepat..berangkat…nanti terlambat. Sebaliknya sepulang sekolah atau di malam hari: Makan dulu yuk, Amira.

Kembali ke ayat 19: “Lemparkanlah ia, hai Musa. Dalam hal ini Allah menggunakan kata-kata yang sangat lembut, bukan sebaliknya, “Wahai Musa, lemparkanlan ia”.

Alur pertemuan sejak Nabi Musa tiba di bukit menunjukkan bagaimana komunikasi yang dibangun dan bagaimana Allah sangat memahami kondisi Nabi Musa. Keterkejutannya dengan panggilan “Wahai Musa”, dilanjutkan dengan kalimat-kalimat yang menenangkan yang terlihat dari struktur penempatan kata, “wahai Musa”.

Bagaimana kisah kelanjutannya?

Tongkat itu berubah menjadi ular yang besar dengan gerakan yang sangat cepat. Lagi-lagi, tentu ini membuat Nabi musa terkejut. Mari kita perhatikan apa perintah Allah berikutnya:

“Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula”.

Dalam kondisi ketakutan dan keterkejutan yang luar biasa Allah mengatakan “Pegangla ia dan jangan takut”. Kalau hal ini kita terapkan dalam dunia nyata, seperti misalnya tiba-tiba ada laba-laba besar yang masuk ke kamar dan anak-anak berteriak berlarian, kalimat yang muncul strukturnya terbalik: Jangan takut, peganglah. Tapi Allah mengatakan sebaliknya, “peganglah ia dan jangan takut”. Apa artinya?

Allah mengharapkan ketaatan terlebih dahulu, baru keberanian. Menurut Nouman: so obedience is the first part of the ayah and courage in the second part. Dan di bagian terakhir adalah ending dari episode, “kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula”.

Ternyata kisah Nabi Musa tidak hanya sekedar sebuah alur cerita dongeng pengantar tidur. Bahkan setiap ayat mengandung satu cerita yang luar biasa sebagaimana yang dikatakan oleh Nouman Ali Khan: Allah tells the narrative in an amazing way. You must read it on your own. Every little detail takes you in a different world.

 

10 Desember 2016

Apa kabarmu, wahai lelaki kecilku?

Kau masih ingat,

setahun lalu di akhir tahun aku begitu resah

Resah bagaimana melalui tanggal 7 Januari,

hari kelahiranmu.

Sebulan lagi,

hari ulang tahunmu akan tiba

Kau tau,

Sungguh aku sangat menantikan

tanggal itu sejak

kita menginjak kota ini

Kala itu

aku membayangkan

Saat usia mu empat tahun

kau berjalan menuju sekolah

bersama kedua kakakmu

 

 

Fiqh Media Sosial

FIQIH MEDIA SOSIAL

“Coba deh, sekaliiii saja shalat selama 30 menit. Sekaliiii saja dalam shalat kita baca 1 juz amma”

Berani mencoba? Hmmm…sama saya juga sedang berfikir. Cuma masalahnya 1 juz amma pun belum hafal semua. Baiklah, kata mbak Nivi yang memberikan materi pengajian kemarin menurunkan tantangan: Ok kalau begitu baca semua yang kita hafal saat shalat. Bagaimana? berani mencoba?

Pengajian PAisyah kemarin bertemakan: introduction to fiqh social media. Mbak Nivi ini bukan hanya pemateri favorit saya, tapi juga ibu-ibu lain. Selama tiga tahun tinggal di sini tingkat kehadiran saya di pengajian masih bisa dihitung dengan jari. Alasan klasik. Karena kemarin pembicaranya mbak Nivi, saya usahakan hadir. Yang jelas saya sudah jatuh cinta dengan cara beliau menyampaikan materi sejak pertama kali saya hadir di Pengajian. Sayang, kemarin saya tak bisa hadir tepat waktu. Jadi, beberapa materi terlewatkan. Kutipan di atas adalah salah satu kalimat yang hingga kini terus terngiang-ngiang.

Continue reading “Fiqh Media Sosial”

Mencari Sisi Baik

“Oh…come on…masak sih tidak ada satu hal positif pun yang kamu tau tentang negeriku?”

Saya masih mencoba berfikir keras mencari sisi baik negerinya. Sayang tak terlintas satu pun. Akhirnya, saya hanya tertawa dan mengatakan, “That’s all I know about your country”. Terselip rasa tidak enak, tapi apa daya. Saya hanya bisa menambahkan bahwa yang saya tau mayoritas penduduk beragama Islam.

Seperti biasa, setiap kali berkenalan dengan orang baru, topik utama yang dibahas adalah negara asal. Ia yang memulai percakapan dengan mananyakan saya berasal dari mana, apakah saya muslim, apa yang saya lakukan di sini. Pembicaraan pun mengalir. Sempat saya jelaskan tentang Indonesia yang memiliki beragam suku bangsa dengan berbagai ragam bahasa yang berbeda satu dengan yang lain. Continue reading “Mencari Sisi Baik”

Nikmatnya Tidur 8 Jam Sehari

Ternyata tidur 8 jam dalam sehari itu sangat nikmat. Baru saya sadari tentang hal ini kemarin. Malam sebelumnya kepala saya terasa berat. Jadilah jam delapan malam membaringkan kepala dengan harapan satu jam tidur cukup mengusir rasa sakit di kepala. Ternyata satu jam tidak lah cukup terpaksa dilanjutkan hingga jam 4 pagi.

Hasilnya? Cespleng. Serasa benar-benar fit. Entah kapan terakhir saya nikmati kemewahan tidur 8 jam dalam sehari. Saya juga tidak mendapati wajah saya yang sering terasa hangat atau kepala yang agak berat. Awalnya, atas gejala-gejala ringan tersebut saya mencurigai faktor umur. Mungkin begitlah kalau usia sudah memasuki waktu ashar. Continue reading “Nikmatnya Tidur 8 Jam Sehari”

Mengenal Amateur celebrity dan Dental Tourism

Dari presentasi rekan-rekan yang saya ikuti, ada dua topik yang sangat menarik, dan ada dua cukup menarik. Kedua topik yang sangat menarik adalah, amateur celebrity dan dental tourism. Sedangkan kedua yang cukup menarik adalah corporate environmental disclosure dan Foreign Direct Investment (FDI) di Uganda.

Amateur Celebrity dan dental tourism dipresentasikan dengan sangat menarik. Dalam hal ini saya tidak hanya belajar tentang suatu hal yang baru, tapi juga teknik presentasi. Baik dari sisi alur maupun gesture dan suara. Sebagaimana tulisan saya tentang pronunciation, salah satu presenter asli native, yang satu lagi keturunan filipina yang besar di Australia. Jadi, secara bahasa tidak ada masalah.

Amateur celebrity menjadi begitu menarik buat saya karena kebetulan ada kaitannya dengan marketing. Ketertarikan saya dengan dunia marketing muncul setelah saya berdiskusi dengan rekan dari Dinas Pariwisata. Plus karena saat ini saya sedang dalam tahap menulis salah satu studi kasus yang tidak lain dan tidak bukan juga terkait Dinas tersebut. Continue reading “Mengenal Amateur celebrity dan Dental Tourism”

Mengapa perlu belajar bahasa Arab?

Pernah mengenal nama Al Walid Ibn Mughira? Beberapa bulan lalu saya sempat mendengar namanya. Tapi kemudian lupa. Nama itu kembali terngiang-ngiang usai menikmati kajian Nouman Ali Khan yang bertema the Miracle of Qur’an. Ada beberapa video dengam tema serupa, dengan intro yang berbeda. Yasir Qadhi sendiri sempat membahasnya dalam seri 13 Sirah Nabawiya: the opposition from the Quraisy.

Continue reading “Mengapa perlu belajar bahasa Arab?”