Hari ini dua tahun yang lalu…

Apa kabarmu wahai lelaki kecilku….

Semoga kau selalu dilimpahi kebahagiaan bersama Sang Penciptamu. Hari ini tepat dua tahun kau tak bersamaku, tak bersama kedua kakakmu, dan tak bersama ayahmu.

Kau pasti tau bagaimana aku saat kutuliskan apa yang ingin kukatakan padamu saat ini. Maafkan aku yang belum bisa menahan air mataku saat aku mengingatmu.

Kau tau,

Aku masih selalu mencari-cari rembulan..berharap dengan menatapnya akan kutemukan kau di sana. Ya, sebagai mana dulu kau selalu mencarinya dan menunjukkan padaku.

Aku juga masih saja selalu menoleh dan menatap pohon itu..pohon yang selalu mengingatkanku saat kita melewati dinginnya pagi mengantarkan kakakmu ke sekolah

Tentu saja,

banyak hal yang selalu melayangkan pikiranku padamu.

 

 

 

Bertanyalah dengan cerdas: Belajar dari QS Al Kahfi

Sebagaimana kisah Nabi Musa yang pernah saya ulas dalam tulisan sebelumnya, kisah pemuda Kahfi pun sudah lama saya dengar. Saya yakin anda juga hafal kisahnya. Kisah tentang pemuda yang teridur selama tiga ratus tahun bersama seekor anjingnya.

Karena rasa sok tau itulah saya tidak langsung meng-click video tentang pemuda Kahfi kajian Nouman Ali Khan yang berjudul story of people of the cave. Ternyata kisah pemuda Kahfi ini sangat sangat sangat menarik. Ditambah lagi, teryata masih bisa dikaitkan dengan tulisan saya sebelumnya tentang critical thinking (lihat link: http://birokratmenulis.org/bagaimana-islam-mendorong-critical-thinking/). Dalam hal ini: Bagaimana bertanya dengan cerdas.

Kekuatan Nouman Ali Khan dalam kajian tafsir terletak pada kemampuamnya menangkap cerita secara detail dalam setiap ayat. Lebih spesifik lagi, setiap kata karena setiap kata dalam Al Quran memiliki makna tersendiri. Sebagaimana contoh dalam kisah Nabi Musa mengapa Allah harus mengatakan Wa anna ikhtartuka dan bukan ikhtartuka saja. Padahal jika diterjemahkan artinya sama. (lihat link: https://anasejati.wordpress.com/2016/12/16/belajar-dari-kisah-pertemuan-nabi-musa-dengan-allah-swt/ ) Kedua, Nouman mampu membuat cerita menjadi hidup. Seolah kita dibawa ke masa itu. Masa di mana para pemuda tertidur dan dibangunkan setelah lebih dari tiga ratus tahun.

Lalu, dimana letak ‘amazing’ nya kisah Al Kahfi ini?

Letaknya ada pada ayat ke -19 dan ke-22. Mari kita bahas ayat ke-22 terlebih dahulu. Berikut terjemahannya:

“Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Rabbku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka. (QS. 18:22)”

Sudah beberapa kali sebenarnya saya membaca terjemahan ayat ke-22. Biasanya dibaca selintas tanpa meninggalkan satu jejak pelajaran pun dari proses membaca. Intinya yang saya pahami: jumlah  mereka diperdebatkan, ada yang mengatakan tiga ada yang mengatakan empat.

Memang benar. Tapi ada sesuatu yang sangat menarik dari ayat tersebut. Dalam hal ini beberapa kali Nouman sering mengatakan bahwa Al Quran itu sempurna. Pas, tidak kelebihan kata, tidak ada kata yang kurang. Semua memberikan makna. Tidak mungkin ada satu kata atau kalimat pun yang sia-sia.

Demikian halnya dengan ayat di atas. Mengapa Allah perlu menceritakan proses perdebatan tersebut?  Hingga akhirnya Allah mengatakan kepada Rasulullah melalui jawaban salah satu pemuda tersebut: Allah lah yang lebih tau jumlah mereka.

Pada ayat ini lah, menurut Nouman, Allah sedang mengajarkan kepada kita bagaimana mengemukakan pertanyaan. Menurut ayat di atas, mempertanyakan jumlah mereka bukanlah sesuatu yang dianggap penting. Justru ada hal penting lain yang harus diketahui.

Sama halnya dengan ayat sebelumnya Al Kahfi 19:

“Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya diantara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang diantara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini)”. Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.” (QS. 18:19)

Struktur kalimatnya sama. Ada perdebatan diantara pemuda tersebut tentang berapa lama mereka tertidur. Salah seorang mereka mengatakan sehari atau setengah hari. Lalu, yang lain mengatakan bahwa Allah lah yang mengetahui berapa lama mereka ada di dalam gua.

Mari kita perhatikan juga di awal kalimat pertama: Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya diantara mereka sendiri. Menarik bukan. Mengapa Allah harus mengatakan hal ini? Mengapa Allah harus mengatakan “agar mereka berertanya diantara mereka sendiri”? Mengapa percakapan seperti ini perlu deceritakan kepada kita? Lagi-lagi, dalam ayat ini proses bertanya diabadikan didalam Al Qur’an.

Dan ternyata pertanyaan tentang berapa lama mereka tertidur pun, menurut Nouman, juga tidak dianggap signifikan. Dalam hal ini Allah memberikan petunjuk: Rab kamu lebih mengetahui.

Dalam memberikan penjelasan tentang ayat ke-19 ini, Nouman Ali Khan membawa kita ke masa itu dan membayangkan kondisi para pemuda tersebut. Ada beberapa pemuda dengan seekor anjingnya. Karena keimanan mereka kepada Allah mereka dikejar-kejar oleh penguasa dan penduduk yang menganggap kepercayaan pemuda tersebut menyalahi budaya masa itu. Dalam kondisi teraniaya tersebut mereka tetap percaya kepada Allah. Lalu, Allah pun melindungi mereka di dalam gua. Kemudian Allah membangunkan mereka.

Jadi ayat ke-19 tersebut terjadi saat mereka baru saja terbangun. Saat terbangun salah satu dari mereka bertanya sudah berapa lama mereka tertidur. Kemudian dijawab sehari atau setengah hari. Lalu, satu pemuda lainnya, langsung menjawab: Rabb-kamu lebih mengetahui. Lalu, langsung disambung dengan usulan agar seorang dari mereka untuk ke kota untuk mencari makanan.

Dalam kondisi seperti mereka, dikejar dan sedang bersembunyi di dalam gua, pertanyaan tentang berapa lama tertidur sangat lah tidak penting untuk diperdebatkan. Jawabannya pun tidak akan membantu mengatasi permasalahan mereka yang sebenarnya. Jawaban pemuda ketiga menutup pembicaraan tentang berapa lama mereka tertidur: Rab-kamu lebih mengetahui. Sudah, tak perlu dipertanyakan lagi. Saat ini kita lapar dan perlu makanan. Ayo salah seorang dari kita kekota. Kemudian dilanjutkan dengan pesan-pesan bagaimana sikap jika mereka kekota.

Mari kita lihat ayat berikutnya yang menjelaskan apa yang terjadi jika ada mengetahui keberadaan mereka:

“Sesungguhnya, jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya” (QS 18:20)

Ayat ke-20 menyatakan kegentingan kondisi mereka. Jika ada yang tau, mereka akan dilempari batu. Jadi, mempertanyakan berapa lama mereka sendiri tertidur sangatlah tidak penting.

Untuk memperjelas pesan ayat-ayat tentang kisah pemuda Kahfi, Nouman mengambil analogi seorang guru yang sedang mengajarkan tentang strategi bisnis kepada murid. Guru tersebut mengajarkannya melalui cerita. Dengan bercerita, pesan akan lebih mudah ditangkap dan terus diingat. Ia pun menceritakan tentang kisah seseorang pengusaha, dari bagaimana ia memulai bisnis, dari strateginya memilih produk, memilih supplier, memilih tempat, menentukan harga, menjalin hubungan dengan customer agar tetap setia dengan produk yang ditawarkan, dan lain sebagainya.

Usai bercerita, salah seorang murid mengangkat tangan dan bertanya: Apa warnya jaket yang dipakai pengusaha tersebut? Atau, cash registernya manual atau digital? Jika anda sang guru, apa reaksi atas pertanyaan murid tersebut?

Dalam hal ini Nouman mengatakan: you don’t understand the point. Pertanyaan yang sangat tidak relevan. Pertanyaan ini sama halnya dengan pertanyaan berapa lama mereka tertidur dan berapa jumlah mereka. Ada pelajaran penting dari kisah para pemuda Kahfi yang justru tidak mereka sadari. Sayangnya, pertanyaan mereka justru tidak mengena.

Nouman Ali Khan juga memberikan penjelasan untuk kisah-kisah lainnya. Sebagaimana yang selalu ia tekankan bahwa Al Quran berisi hal-hal yang penting saja. Segala hal yang tidak penting tidak akan diabadikan oleh Allah SWT dalam Al Quran. Dalam banyak kisah, Allah menjelaskannya secara singkat.

Nama, waktu dan lokasi kejadian lebih sering tidak tercatat. Kisah Nabi Yusuf yang begitu panjang pun juga tidak menyebutkan kapan kejadiannya serta siapa nama-nama secara mendetail. Hanya beberapa nama yang disebutkan. Kita tidak diberikan penjelasan secara rinci siapa nama keseluruhan saudara-saudara Nabi Yusuf. Bahkan, kisah ibunda Nabi Yusuf pun juga tidak di sebutkan.

Tentu hal ini tidak mengindikasikan kekuranglengkapan isi Al Qur’an, sebaliknya Allah SWT ingin menekankan tidak perlunya kita untuk mencari tau tentang nama-nama tersebut. Menurut Nouman, kalau tau namanya, so what? Adakah manfaat yang bisa dipetik dibandingkan dengan memahami pelajaran dari keseluruhan kisah yang sudah diabadikan dalam Al Qur’an?

Pada prinsipnya, dalam Kajian the sory of people of the cave, Nouman Ali Khan ingin menggaris bawahi mana yang penting mana yang tidak, mana yang prioritas mana yang tidak.

Dalam kisah pemuda Kahfi, Allah ingin menjelaskan bagaimana para pemuda ini menghadapi tekanan luar biasa dari masyarakat sekitar karena menjaga keimanan mereka kepada Allah. Pemuda ini hidup di zaman fitnah dimana para pemuda lain mungkin bisa melakukan sesuatu hal semau-maunya. Namun, para pemuda ini justru membuktikan sebaliknya. Dengan kepercayaan yang kuat kepada Allah, pertolongan pun datang kepada mereka yang mengantarkan mereka tertidur di gua selama ratusan tahun.

Kalau kita cermati kisah ini dari ayat 9 maka sungguh kisah ini ibarat kisah cinta yang mengharu-biru. Kisah ini akan semakin terasa sembari kita lantunkan Murattal surat AL Kahfi Muzammil Hasbalah dengan menyelami arti kata per kata.

“(Ingatlah), tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdo’a: Wahai Rabb-kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)” (Q18: 10)

“dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka berkata: Rab-kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru ilah selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” (QS 18: 4)

Kau/

Suatu ketika kakakmu menanyakan padaku: mengapa aku tidak memakai fotomu sebagai wallpaper di hp-ku. Seperti biasa, aku memintanya menebak alasanku. Tidak terlalu salah tebakannya.

Ya, aku masih belum sanggup melihatmu tanpa rasa bersalah, tanpa rasa sedih, tanpa rasa nelangsa meski sudah hampir dua tahun kau tak bersamaku.

Ia katakan bahwa aku bisa memilih foto di mana aku tak harus melihat wajahmu. Cukup foto tangan atau kakimu.

Ah..ya, aku baru teringat ada satu fotomu saat kau berusia satu tahun empat bulan. Saat itu kau bermain-main dengan sebuah pulpen yang kau jepit dangan jari kaki kananmu. Kau masih ingat? Kita sama-sama tertawa saat itu. Kau tertawa karena berhasil melakukannya, dan aku tertawa melihat tingkahmu. Tak lupa, aku sempatkan mengambil foto kakimu dan pulpen itu.

Oya, kakakmu juga mengatakan padaku, kelak jika ia memiliki hp ia akan memilih foto terbaikmu sebagai wallpaper.

……

Sepatu itu..

Seminggu lalu

aku menemukan sepatu itu

Sepatu yang sama

yang kau pakai ketika kita pulang

Saat itu aku mencari sepatu

untuk kukenakan

di toko yang sama

Kau tau,

anganku selalu melayang kepadamu

setiap kali aku melewati toko itu

saat itu kau begitu sabar

menungguku memilihkan

sepatu untukmu

tanpa sengaja

mataku menangkap kembali

sepasang sepatu itu

Ragu aku hampiri

lama aku berdiri terdiam

menatapnya

berharap aku masih

bisa memakaikannya untukmu

…..