Featured

MENU BARU: BELAJAR FILSAFAT

Ini adalah fase ke-empat dalam sejarah kepenulisan saya, ups maksud saya dalam sejarah pembelajaran saya.

Fase pertama saya lebih banyak menulis hal-hal yang saya temui sehari-hari. Fase kedua juga tak jauh berbeda. Hanya saja di fase ini saya mencoba menambahkan bumbu literatur agar tulisan menjadi sedikit lebih renyah. Fase ketiga, saya mencoba menulis tentang ke-islam-an. Pada fase ketiga ini tulisan saya sebagian besar terinspirasi atau lebih tepatnya mengambil referensi dari video kajian Nouman Ali Khan, beberapa dari Tariq Ramadhan, dan dari laman celiktafsir.net.

Bagaimana dengan fase keempat? Hari ini saya menancapkan niat untuk secara rutin menulis tentang apa yang saat ini menarik untuk saya pelajari, yaitu tentang filsafat. Sekitar setahun terakhir ini saya sering menikmati video Ngaji Filsafat Dr Fahruddin Faiz. Dari beliau lah saya belajar banyak hal yang membuat saya semakin paham tentang hidup, tentang sejarah, tentang hubungan islam dan barat, tentang filosof negeri sendiri yang kisah dan pemikirannya sungguh luar biasa.

Continue reading “MENU BARU: BELAJAR FILSAFAT”

BELAJAR FILSAFAT BISA JADI ATHEIS?

Dulu saya sempat memiliki persepsi negatif tentang filsafat. Dalam pikiran saya saat itu, filsafat is nothing to do with me, tidak ada hubungannya dengan saya sehingga saya tidak perlu mempelajarinya. Menurut saya, filsafat itu membuat sesuatu yang simpel malah jadi njlimet. Semua dipermasalahkan. Lebih buruk lagi, saya sempat berfikir bahwa filsafat bahkan bisa menjauhkan orang dari agama.Persepsi tersebut diperparah dengan banyaknya cerita teman-teman saya tentang mahasiswa-mahasiswa yang mengambil jurusan filsafat yang menurut mereka hidupnya tidak nggenah. Saya juga sempat mengeryitkan dahi ketika teman kos saya mengatakan bahwa kakaknya kuliah di jurusan filsafat. Sebagai anak eksakta, saya mbatin, “Kalau filsafat, nanti kerjanya di mana ya?”

Waktu pun berlalu. Cukup lama saya pegang persepsi negatif itu. Hingga usia menginjak empat puluh, plus beberapa tahun, saya ‘dipertemukan’ dengan Tariq Ramadan, cucu Hasan Al Bana, pendiri Ikhwanul Muslimin, Professor dari Oxford University. Tariq Ramadan adalah seorang filosof muslim masa kini yang mengambil objek penelitian tentang pemikiran Nietze yang mengatakan bahwa tuhan telah mati. Dari simakan video-video kajian Tariq Ramadan persepsi saya terhadap filsafat mulai bergeser, terutama ketika dia mengupas tetang Islam dan Filsafat serta pentingnya berfikir kritis bagi umat Islam.

Continue reading “BELAJAR FILSAFAT BISA JADI ATHEIS?”

Tetaplah Berharap

Kemarin adalah kali ketiga saya menemuinya dan menyampaikan progres selama tiga minggu ini. Alhamdulillah progresnya terasa. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya di mana saya harus berfikir keras tentang rasa yang saya rasakam selama sekian bulan.

Akhir Februari saya salah menyampaikan laporan. Saat itu dengan ceria saya katakan, Alhamdulillah sudah membaik. Lalu, dia memberikan saran, “lanjutkan,” cuma dengan intensitas yang berkurang, seminggu dua kali. Rupanya saya salah. Saya telah tertipu oleh diri sendiri. Rasa yang saya rasakan saat itu bukan karena proses penyembuhan yang sudah mulai menampakkan hasil, tapi karena saya mengonsumsi obat nyeri.

Continue reading “Tetaplah Berharap”

DARI BUKU PELAJARAN MENJADI CERPEN

Boleh dibilang proses adaptasi bersekolah Amira cukup berat. Meninggalkan Indonesia saat kelas dua SD, lalu kembali lagi kelas satu SMP. Masalah utama yang dia hadapi sama dengan Ayla, memahami bacaan. Gap empat tahun tentulah bukan jarak yang singkat untuk berkembangnya perbendaharaan kata dan tata bahasanya.

Berbeda dengan Ayla, meski sebelumnya tidak pernah menyenyam pendidikan dalam Bahasa Indonesia, duduk di kelas 3 SD masih memberikan Ayla kesempatan untuk mengenal kata yang lebih sederhana dengan buku teks berhuruf besar dan bergambar.

Masuk di kelas 1 SMP semester dua Amira dihadapkan pada buku teks dengan jumlah kata yang lebih banyak, tidak bergambar, dan kosa kata yang lebih kompleks. Alhasil setidaknya butuh setahun hingga dia mampu memahami bacaan dengan baik. Meski begitu, dia masih belum bisa menikmati pola pembelajaran hafalan. Di sisi lain, matematikanya juga tertinggal jauh karena saat di Australia, matematika tingkat SD masih sangat simpel.

Kami berusaha untuk terus menyemangatinya, meski terkadang mengomel sendiri dengan banyaknya bahan yang harus dihafalkan, sementara sang remaja mengatakan bahwa dia tidak suka menghafal. Ketika membaca buku pelajaran di rumah, sering kami temukan dia malah terlelap dengan buku yang menutup mukanya.

Continue reading “DARI BUKU PELAJARAN MENJADI CERPEN”

MENGUBAH JUGA BUTUH STRATEGI

“Bisanya jilbabku seperti itu? Aneh. Kenapa Bunda tidak tegur saya waktu itu?”

Pagi itu Ayla seolah menganggap saya lalai atas kejadian beberapa tahun lalu saat dia berusia delapan tahun. Sembil tetap menatap foto-foto lamanya, dia masih saja menyampaikan komplain karena saya mendiamkannya berfoto dengan gaya-gaya kemayu. Lalu saya jawab, “Aduh mbak…kita (kamu) nggak ingatkah berapa kali bunda selalu tegur.” Setelah itu mengalirlah cerita lalu yang membuatnya balik bertanya, “iya kah?”

Continue reading “MENGUBAH JUGA BUTUH STRATEGI”

Membunuh Mitos Leadership

Sejak membaca buku followership yang ditulis oleh Robert Kelley semangat saya untuk membunuh mitos bahwa leader adalah penentu keberhasilan organisasi semakin membara. Mitos itu tertancap begitu kuat hingga sulit untuk melenyapkan dari pikiran. Dalam banyak kesempatan sering saya dengar pernyataan: tergantung leader, bu.

Kuatnya mitos itu menyebabkan inisiatif perubahab gagal muncul di permukaan karena terhadang oleh ketidak berdayaan membangun kepercayaan diri bahwa followers lah yang justru penentu maju mundur organisasi. Sangat mungkin mitos itu sengaja dihidupkan ditumbuh suburkan agar dominasi leaders terhadap followers langgeng.

Continue reading “Membunuh Mitos Leadership”

Cerita Literasi Ayla dan Amira

Cerita Literasi Ayla dan Amira menceritakan pengalaman mereka berdua saat bersekolah di Moreland Primary School (MPS) Melbourne, Australia hingga akhirnya mereka mampu menuliskan buku yang berjudul, Meeting A Celebrity (Ayla) dan Passions, Dreams, and Mount Denali (Amira).

Kedua buku tersebut boleh dibilang output akhir dari proses kisah literasi yang panjang, Ayla dari kelas Prep (setara TK B) hingga kelas 2 dan Amira dari kelas 2 hingga kelas 6. E-book alias buku kecil namun tebal yang kami bagikan berikut ibarat Behind the Scene yang menceritakan bagaimana mereka berdua berliterasi di sekolah, termasuk beberapa portofolio mereka menulis di kelas juga kami coba hadirkan.

Continue reading “Cerita Literasi Ayla dan Amira”

TRANSFORMASI: BELAJAR DARI SURAT JUMUAH

Sebagaimana namanya, saya yakin Anda bisa menebak isi surat ini. Yup. Benar sekali, tentang shalat Jum’at. Perintah untuk melakukan shalat Jum’at ada di surat ini, tepatnya di ayat yang ke-sembilan, di mana Allah memerintahkan untuk bersegera mengingat-Nya dan meninggalkan jual beli.

Mencermati satu persatu ayat demi ayat dalam surat ini, baik pesan maupun struktur kata yang digunakan, ternyata begitu menakjubkan, dan tentu saja membuka hal-hal yang baru bagi diri saya. Dalam tulisan ini saya hanya akan mengupas dua hal yang disinggung dalam surat ini, Asmaul Husna dan tugas kenabian.

Surat ini diawali dengan pernyataa Allah bahwa seluruh isi bumi ini bertasbih kepada-Nya. Lalu, di akhir ayat Allah menggunakan empat Asmaul Husna secara berderet sekaligus: Al Malik, Al Quddus, Al Aziz, dan Al Hakim.

Hal ini jarang sekali ditemui, biasanya hanya dua nama yang kita jumpai. Empat nama Allah tersebut berarti Maha Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Mengapa Allah menggunakan empat nama tersebut, dan bukan yang lain? Tanpa penjelasan Nouman Ali Khan, saya tidak bisa menangkap jawaban mengapa nama-nama tersebut dideret seperti itu.

Continue reading “TRANSFORMASI: BELAJAR DARI SURAT JUMUAH”

Menggenggam Masa Depan Bersama MAKES (Al Markaz for Khudi Enlightening Studies)

Kawan,

Kalau Anda sempat ke Makassar, singgahlah ke Masjid Al-Markaz Al Islami. Masjid tersebut merupakan masjid terbesar di kawasan timur Indonesia dengan arsitektur yang sangat menawan dan ruang publik yang memungkinkan masyarakat untuk melakukan aktivitas olah raga di sore hari. Bahkan, setiap hari minggu di depan masjid tersebut diselenggarakan senam massal. Anda pun bebas untuk hadir,  setidaknya bisa membantu menyehatkan jantung dan sejenak releks menikmati suasana pagi yang menyegarkan.

Saya sendiri sangat menikmati suasana masjid tersebut. Boleh dibilang masjid tersebut adalah tempat terindah saya saat masih belum berkeluarga.  Hingga saat ini nuansa masjid masih sangat terasa setiap kali saya mendengar atau mengingat masjid tersebut.

Jika kemudian saya mengajak kawans sekalian untuk ke Masjid Al Markaz sesungguhnya bukan hanya suasana masjid yang membuat kita selalu merindukannya. Masjid Al Markaz bagi banyak orang bukan sekedar masjid karena banyak sekali aktivitas yang ditawarkan bagi masyarakat. Diantaranya, perpustakaan masjid yang mempunyai banyak koleksi buku, TPA dan TK, koperasi dan lain sebagainya. Di Masjid tersebut saya mendapatkan sahabat-sahabat yang luar biasa. Saya merasa beruntung dilahirkan dan dibesarkan di saat yang tepat sehingga saya sempat mengenal sahabat-sahabat ini. Merekalah para pendiri Al Markaz for Khudi Enlightening Studies (MAKES).

Keberagaman Latar Belakang Anggota

MAKES adalah sebuah komunitas yang dilahirkan pada tahun 1999 oleh sekelompok anak muda yang mempunyai hasrat yang kuat untuk terus maju. Bukan hanya itu, justru hasrat yang paling kuat adalah hasrat untuk mencerahkan para generasi muda untuk peduli pada permasalahan negeri ini. Medianya adalah dengan melakukan meeting atau diskusi rutin dalam bahasa Inggris. Topiknya beragam, dari ekonomi, sosial, politik hingga seni. Semua topik diskusi diakomodasi dan ditinjau dari beragam sudut pandang. Harapannya adalah agar generasi muda, khususnya para partisipan, mampu terlibat dalam diskusi-diskusi atau kegiatan apapun di level internasional

Continue reading “Menggenggam Masa Depan Bersama MAKES (Al Markaz for Khudi Enlightening Studies)”

Reading Challenge Activities

Sebenarnya sudah lama ingin mengeksekusi aktivitas literasi ini. Tapi, seperti biasa, alasan klasik. Karena agak bosan dengan rutinitas beberapa minggu terakhir, iseng-iseng mencoba mendesain Reading Challenge yang sesuai dengan kondisi diri sendiri.

Di google sebenarnya banyak, hanya saja kebanyakan memang untuk anak sekolah. Tak mengapa, setidaknya, template yang bertebaran tersebut bias dimodifikasi. Hasilnya, template seperti di bawah ini. Anda bisa mendownload dengan bebas, tak perlu minta ijin ke saya. Saya sudah merasa sangat bersyukur seandanya ada yang menggunakannya.

Reading Challenge

Reading Challenge Activities

Peng-operasional-an-nya bagaimana? Template ini sepertinya (ya sepertinya karena saya juga baru mau memulai) akan sangat efektif seandainya kita lakukan secara Bersama. Maksud saya begini, ajak teman-teman di WA yang memiliki keinginan yang sama untuk membentuk reading habbit yang baik. Lalu, coba terapkan selama satu bulan, dan evaluasi apa yang sudah dilakukan.

Kalau saya, template tersebut saya tempel tepat di depan saya sehingga setiap hari bisa saya lihat. Setiap aktivitas yang sudah saya lakukan akan (baru mau mulai, sekarang masih trial dulu) di silang. Mengapa seperti itu? Sekedar biar eye catching saja apa yang sudah dilakukan. Biasanya, buat saya ini cukup berefek. Kalau selama sebulan tidak ada silangan sama sekali, secara psikologis saya agan menyesali kenapa saya hanya bisa men-set target. Sebaliknya, kalua ada silangan, apalagi dengan spidol merah yang tebal, saya akan bersemangat.

Untuk jenis aktivitas, sebenarnya ada banyak macamnya. Misalnya seperti usulan teman saya, give away buku jika sudah tiga bulan tidak dibaca-baca, atau donasi buku ke anak-anak yang membutuhkan, dan lain-lain. Terfikir untuk menambahkan, tapi kemudian saya hiraukan. Toh bulan September masih bisa saya ubah.

So, tunggu apa lagi, silakan download dan bangun reading habbit bersama-sama.