Featured

MENU BARU: BELAJAR ISLAM

Sebagaimana judulnya, menu ini merupakan kumpulan tulisan-tulisan saya yang bertema Islam. Saya sendiri tidak memiliki latar pendidikan Islam yang khusus. Saya seorang akuntan yang bekerja di salah satu instansi pemerintah yang kemudian melanjutkan studi administrasi publik. Riset saya pun juga temanya tentang manajemen kinerja sektor publik.

Sekitar tahun 1993-1994 pernah terdaftar di sebuah ma’had dekat kampus. Tiga kali sepekan di sore hari mempelajari Islam. Tahun 2000 setiap minggu pagi saya kembali rutin hadir di ma’had yang berbeda. Sempat mengikuti halaqah sejak tahun 1993 hingga 2007 hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti.

Waktu terus berjalan hingga sampailah saya kembali berada di negeri ini. Awalnya target saya adalah mempelajari segala hal tentang negara-negara maju, baik dari sisi sejarah, budaya, ekonomi, dan lainnya. Hingga akhirnya, saya justru tertarik untuk lebih dalam mempelajari Islam dengan perspektif yang berbeda.

Aktivitas browsing youtube mengantarkan saya untuk berkenalan dengan Dr. Yasi Qadhi, kemudian Tariq Ramadan, dan akhirnya saya pun dibuat terpesona oleh kuliah-kuliah Nouman Ali Khan. Tak hanya itu akhir-akhir ini saya ‘menemukan’ banyak ustadz/ah lain yang juga menarik pembahasannya.

Berada di negeri ini memungkinkan saya mendapatkan kesempatan untuk ‘berguru’ dari youtube dengan jaringan internet yang wus wus. Alhamdulillah.

Banyak hal yang menarik yang saya dapatkan sehingga rasanya sayang jika dilewatkan begitu saja. Video-video tersebut sangat menarik dan mungkin bagi banyak orang di Indonesia masih sulit untuk mendapatkan akses karena kualitas akses internet yang belum sebagus di sini. Video-video ini lah yang mengantarkan saya untuk lebih mencintai Islam, lebih mencintai Al-Qur’an, lebih mencintai para Nabi, dan mencintai Allah SWT.

Sebagaimana saya sebutkan di atas, saya tidak memiliki background pendidikan agama yang mumpuni, tulisan dalam menu ini merupakan rangkuman khutbah, kuliah, dan ceramah dari ustadz/ah yang saya dapatkan di youtube.

Smoga bermanfaat..

 

Advertisements

Menghafal di Usia yang Tak Lagi Muda (Bagian 2)

Bagi yang lahir di tahun 60-an atau 70a-n, pasti anda mengenal lagu kokorono tomo. Atau, malah hafal liriknya di luar kepala. Lagu berbahasa jepang yang dipopulerkan oleh Mayumi Itsuwa di tahun 1987 tersebut sangat populer di Indonesia. Tua muda bahkan anak-anak banyak yang hafal lagu tersebut. Demikian halnya dengan saya dan teman-teman SMP saya waktu itu. Lagu tersebut saya hafal diluar kepala. Seingat saya, adik saya yang saat itu berusia delapan tahun pun hafal lagu itu.

Kalau saat ini lagu itu diputar kembali, saya yakin anda masih mampu menyanyikannya hingga satu bait, atau malah hingga baris terakhir. Begitu merasuknya lagu itu ke dalam ingatan, meski hingga saat ini, tiga puluh tahun kemudian, ingatan saya akan lagu itu masih ada. Tertancap kuat. Saya masih bisa me-rengeng-rengeng lagu tersebut.

Beberapa hari yang lalu saya sempat mencari di youtube video kokoro notomo. Rulanya, setahun yang lalu Mayumi datang ke Indonesia dan menyanyikan lagu tersebut dengan grup music J-Rock. Dan ternyata-nya lagi, Zivilia juga sudah mendaur ulang lagu tersebut dengan mengombinasikannya dengan bahasa Indonesia. Sepertinya, Zivilia cukup yakin bahwa dengan meyanyikan lagu tersebut akan mampu mumbuat hits albumnya.

Tentang hafal menghafal lagu ini, saya sempat bertanya pada Amira dan Ayla. Keduanya juga mengetahui banyak lagu yang nge-hits saat ini. Beberapa lagu cukup familier di telinga saya. Saat itu saya tanyakan, ‘how do you memorize the song?’ ‘Do you memorize the song seriously like you memorize the qur’an?’

Off course not, begitu jawab mereka. Kata mereka lagi: Lagu-lagu itu memiliki ritme naik turun yang membuatnya mudah di hafal. Saya sendiri juga heran bagaimana mereka bisa hafal lagu-lagu begitu banyak.

Suatu ketika Amira malah bertanya, Bunda, do you know New Kids on The Block? Saya pun mengiyakan sembari menyimpan penasaran kenapa ia menanyakan grup yang sangat popular di akhir tahun delapan puluhan. Amira bertanya lagi seolah heran mengetahui bahwa saya mengenal lagu-lagu grup band tersebut.

Hingga akhirnya, saya pun bercerita bahwa dulu saat di high school saya mengetahui banyak lagu-lagu barat. Saking bersemangatnya dengan cerita saya, Amira segera ke google mencari lagu-lagu era akhir delapan puluhan hingga awal sembilan puluhab. Ia seolah ingin membuktikan cerita saya. Ia tanyakan nama-nama penyanyi masa itu. Do you know Cindy Lauper, do you know Scorpion, do you know White snake? Do you know Simply Red? Beberapa penyanyi ia sebutkan. Tak semua bisa saya jawab. Tapi, banyak juga diantaranya yang masih saya ingat.

Ternyata, memori saya tentang lagu-lagu  yang pernah saya hafal saat SMA massih terpatri begitu kuat. Sebagaimana Amira dan Ayla, saya juga tidak pernah menghafalkan lagu-lagu tersebut sebagaimana saya menghafal pelajaran biologi. Lagu-lagu itu selalu menjadi teman belajar saya. Sepulang sekolah setelah makan siang biasanya saya leyeh-leyeh sembari memutar kaset atau mendengarkan lagu-lagu dari radio. Atau tengah malam saat semua terlelap, lagu-lagu itu lah yang mengusir rasa seram di malam hari yang sunyi. Begitulah…hingga akhirnya begitu banyak lagu yang saya hafal, meski tak pede kalau disuruh menyanyi.

Hingga akhirnnya saya mulai berfikir bahwa logika menghafal lagu ini sepertinya bisa juga diterapkan untuk menghafal Al Qur’an. Hasrat dan cita-cita menghafal ayat-ayat Alquran selalu tertacap. Hanya saja, kalau menengok strategi hafalan saya dimasa lalu rasanya berat. Jujur, dalam hal hafalan saya sangat payah sekali. Terbukti, nilai biologi saya saat SMA selalu merah.

Lima belas tahun yang lalu saya sempat mencoba menghafal Al Mulk. Susah payah saya coba hafalkan. Ah, sebenarnya bukan susah payah, mungkin alokasi waktu yang kurang juga yang membuat saya tidak hafal-hafal. Lebih tepatnya mungkin karena saya belum memiliki niat yang kuat untuk menghafalkan. Dalam seminggu paling hafal dua tiga. Tapi, itu pun juga plegak pleguk karena ada saja kata yeng lupa atau terbolak-balik. Yang jelas, saya merasa begitu kepayahan dan terasa begitu berat.  Mungkin juga karena tidak terlalu kuat menahan malas menghafal.

Sekitar enam bulan lalu, ada saat di mana saya mulai begitu menggemari surat Al Mulk ini. Awalnya saya mencoba mendengarkan murattal Mishari Alafasyi. Rupanya, suara qari tersebut dalam melantunkan Al Mulk begitu menyentuh, syahdu dan membuat klepek-klepek. Ditambah lagi video berdurasi dua belas menit di yoube membuat pesan Al Mulk begitu menancap. Al Mulk pun kemudian selalu menemani aktivitas saya dalam mengerjakan pekerjaan rumah.

Kata orang jawa, witing trisno jalaran saka kulina. Mendengar Al Mulk berkali-kali seperti mengenang kembali kebiasaan lawas menikmati lagu-lagu era sembilan puluhan.  Lambat laun, saya pun bisa mengikuti lantunan ayat tersebut saat dibacakan oleh Mishari Alafasyi. Boleh dibilang, nyaris hafal. Cuma, kalau diminta hafalannya, tanpa ‘dibantu’ Mishari, masih terbalik-balik. Hanya saja, proses untuk menjadi hafal tanpa bantuan, tidak lah sesulit metode menghafal saya lima belas tahun silam. Kebiasaan mendengar secara intense rupanya melekat ke alam bawah sadar. Ibaratnya, untuk menjadi hafal, tinggal pekerjaan ‘finishing’ saja.

Memang, proses semacam ini membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan di ‘drill’. Terus terang, buat saya, baru metode ini yang baru bisa saya lakukan. Saya masih belum sanggup danbelum memiliki komitmen kuat untuk bisa konsisten dan disiplin menghafal. Di sisi lain, proses semacam ini sebenarnya juga bagian dari upaya untuk menumbuhkan rasa cinta hingga menjadi terbiasa. Sama halnya dulu ketika di awal-awal saya mendengar lagu-lagu barat, tidak terlalu suka. Proses pengulangan secara terus menerus ini lah yang akhirnya memunculkan rasa ingin terus mendengarkan hingga mencoba mengerti arti lagu-lagu tersebut, termasuk lagu kokoro notomo. Meski tidak paham arti lagu tersebut, mudah saja menghafalnya.

Hal yang sama juga berlaku pada proses mencintai Al Qur’an. Interaksi yang terus menerus dan internalisasi sering , lama kelamaan menumbuhkan rasa ingin tau untuk mengetahui apa sebenarnya pesan yang dibawa ayat-ayat Allah. Lalu, muncul keinginan untuk mempelajari tafsir surat tersebut di youtube.

Hingga kemudian saya dibuat jatuh cinta oleh Muhammad Taha Junaid dengan lantunan Juz 29. Dimulai dengan surat Al Qolam saat saya penasaran dan ingin mencari pembenaran atas aktivitas hobby nulis saya. Mengapa dinamakan Al Qalam atau pena? Sedemikian pentingkah apa yang dinamakan pena itu, hingga Allah bersumpah atas nama pena?

Ternyata, usai menikmati kajian Nouman Ali Khan, surat tersebut sangat-sangat menyentuh. Di bagian awal surat tersebut Allah hendak menceritakan bagaimana beratnya cobaan yang dilalui oleh Rasulullah saat berdakwah. Lontaran, cercaan dan celaan yang menganggap Rasulullah sebagai orang gila datang bertubi-tubi. Bagi Rasulullah, Al Qalam diturunkan untuk membesarkan hatinya.

“Nun. Demi pena dana pa yang mereka tuliskan, dengan karunia Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah orang gila. Dan sesungguhnya engkau pasti mendapat pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekertiyang luhur. Maka kelak engkau akan melihat dan mereka pun melihat, siapa di antara kamu yang gila” (Al Qalam 1-6).

Sangat menyentuh bukan? Lalu, apakah saya sudah hafal juz 29?

Tentu saja belum. Agar lebih cepat hafal seharusnya saya melakukan proses finishing dengan berfokus menghafalkan. Caranya, mendengar sembari menyimak. Atau, langsung dihafalkan sebagaimana menghafal pelajaran biologi. Proses ini sebenarnya tidakah berat. Hanya saja,… ada saja alasannya.

Tentang hafal menghafal ini, saya baru tau kalau Allah SWT sudah menyatakan bahwa Al Qur’an itu memang mudah untuk dihafalkan:

Sesungguhnya! Kami telah mudahkan Al-Quran untuk menjadi peringatan dan pengajaran, maka adakah sesiapa yang mahu mengambil peringatan dan pelajaran (daripadanya)?. (AlQamar 54:17)

Wallahu a’lam

Bagaimana reaksi Jin ketika mendengar Al Qur’an?

Entah mengapa setiap kali sampai pada surat Jin, ada rasa yang aneh. Saya selalu melewatkan membaca terjemahan surat tersebut. Rasa itu semakin menjadi jika hal itu terjadi di malam hari. Sekelebat isi buku yang berjudul dialog dengam jin muslim yang populer dua puluhan tahun yang lalu pun muncul.

Kekhawatiran saya adalah jangan sampai saat saya membacanya, efek ruqyah sebagaimana yang sering saya dengar juga muncul. Ya, jangan-jangan saat saya membaca surat tersebut ada kejadian aneh yang saya rasakan. Jangan-jangan ada suara aneh yang terdengar.

Hingga suatu ketika tanpa sadar, saya begitu menikmati surat tersebut saat dilantunan oleh Muhammad Taha Junaid. Ciri khas suara qari’ cilik yang tinggi dan menyentuh itu tanpa sengaja membawa saya menikmati surat jin. Juz 29 Murattal Taha Junaid memang sudah tersimpan di memory hape. Biasanya sembari jalan atau di tram saya sempatkan untuk menikmatinya. Suatu ketika tanpa sadar sudah sampai di Surat Jin. Hingga akhirnya saya pun menikmati surat tersebut.

Interaksi dengan suara merdu Muhammad Taha Junaid secara intens yang melantunkan surat Jin lama-kelamaan membuat saya penasaran. Apa sebenarnya isi kandungan surat tersebut. Apakah memang se’mengerikan’ sehingga selalu membuat saya merinding membayangkan diskripsi Jin?

Wow…

ternyata jauh dari bayangan saya. Memang isinya tentang dunia jin. Tapi, banyak hal menarik yang perlu diungkap dan dadalami. Membaca terjemahan surat Jin membuat saya terkagum-kagum atas struktur dan isi surat tersebut.

Surat Jin dibuka dengan kalimat yang sangat menarik:

“Katakanlah (Muhammad), Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (bacaan), lalu mereka berkata, Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur’an), (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan menyekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami” (QS. Al-Jinn 72: Ayat 1-2).

Surat Jin telah berhasil meng-hook atau memaku perhatian saya dari ayat pertama. Ibarat sebuah cerpen, saya tak puas hanya membaca ayat pertama dan kedua. Sebaliknya, kedua ayat ini menurut saya mampu memancing rasa ingin tau pembaca untuk melanjutkan cerita para jin tersebut. Apa sebenarnya yang ingin dikatakan selanjutnya oleh para Jin yang sedang berkumpul mendengarkan bacaan Al Qur’an. Apa yang akan terjadi setelah mereka dibuat takjub oleh Al Qur’an?

Ayat pertama menunjukkan bahwa ternyata tak hanya Al Walid Ibn Mughirah, atau trio Abu Jahal, Abu Sofyan dan Al Akhnas ibn Syuraiq yang rela mengendap-endap ditengah malam untuk mendengarkan bacaan Qur’an Rasulullah. Para jin ini pun dibuat terpesona oleh bacaan Qur’an Rasulullah.

Sebelum masuk lebih dalam , surat Jin terkait sangat erat dengan surat sebelumnya, yaitu surat Nuh. Isinya menggambarkan sesuatu yang berkebalikan serratus delapan puluh derajat. Sebagaimana biasa, dalam pembahasan ini saya mengambil referensi dari khutbah Nouman Ali Khan yang berjudul Lesson from Surah Jinn (link silakan di klik di sini https://www.youtube.com/watch?v=rW7sEcCQnSY&t=1685s). Juga kajian ustadz Muhammad Yahya yang berjudul semangat dakwah (link: https://www.youtube.com/watch?v=N5F7TTNbEyk )

Dalam membahas surat Jin, Nouman Ali Khan mem-flash back surat Nuh cukup panjang. Saya sendiri sempat ragu, ini tentang surat Nuh atau surat Jin. Surat Nuh sendiri tak kalah seru. Surat yang baru saya sadari bahwa kisah Nabi Nuh tak hanya sekedar kisah sebuah kapal yang menyelamatkan orang-orang yang beriman, tapi juga sebuah kisah kesabaran dalam berdakwah.

Sebagaimana kisah yang pernah kita dapatkan sejak di bangku sekolah dasar, Nabi Nuh diberikan kesempatan oleh Allah untuk hidup hingga usianya mencapai sembilan ratus tahun. Usia yang sangat panjang jika dibandingkan dengan usia manusia saat ini. Tapi, sepanjang itu pula Nabi Nuh pun diuji kesabarannya dalam berdakwah.

Dalam sebuah kisah, menurut ustadz Muhammad Yahya, dakwah Nabi Nuh berjalan hingga lima generasi. Kata ustadz Yahya, dari mbahnya, anaknya, cucunya, cucunya lagi, dan cucunya didakwahi, tapi tidak juga mau beriman. Surat Nuh merekam bagaimana Nabi Nuh menghadapi cacian, kritikan, olok-olokan, dan celaan yang dilakukan oleh kaumnya.

Kesabaran Nabi Nuh tak lepas dari pemahamannya atas misi yang diembannya. Dakwah Nabi Nuh didasarkan rasa cinta terhadap kaumnya yang terlihat ayat pertama Surat Nuh “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah), “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih”.  Jadi, fungsi kenabian Nabi Nuh adalah untuk memberi peringatan yang didasarkan atas cinta, bukan untuk mengoreksi atau menyalahkan. Sebaliknya, sebagaimana peringatan orang tua kepada anak Nabi Nuh mendapat tugas dari ALlah untuk memberikan peringatan bahwa akan datang azab Allah SWT.

Mari kita lihat bagaimana Nabi Nuh berdakwah dan bagaimana reaksi umatnya.

Di ayat kelima dikatakan bahwa Nabi Nuh telah menyeru kaumnya malam dan siang. Penempatan malam terlebih dahulu dibandingkan siang menunjukkan bahwa Nabi Nuh telah berupaya mengambil setiap kesempatan, bahkan malam sekalipun. Tujuannya adalah untuk mendekati kaumnya dan mengajaknya menyembah kepada Allah. Kata ustadz Yahya, berbeda dengan da’i atau kita saat ini yang biasanya di malam hari kita gunakan untuk istirahat. Nabi Nuh berdakwah malam dan siang.

Di ayat berikutnya, juga dijelaskan bahwa Nabi Nuh telah menyeru kaumnya dengan berbagai cara, tak hanya dari intensitas waktu yang digunakan, tapi juga dari strategi yang dipakai. Dari cara terang-terangan maupun dengan cara diam-diam.

Tapi, bagaimana reaksi kaumnya? Di ayat ke tujuh digambarkan,

“Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri.” Bayangkan jika itu terjadi pada kita (saya). Mungkin saya akan mogok, mutung, mangkel, down, tidak mau lagi bertemu dengan orang-orang seperti itu. Kalaupun bukan dalam hal berda’wah, mengajar misalnya, atau anda sebagai kepala kantor yang sedang melakukan briefing kepada pegawai, bagaimana jika ada seorang anak atau pegawai yang menutupkan telinga dengan jarinya saat anda sedang berbicara di hadapan mereka? Apa reaksi yang akan perlihatkan?

Begitulah, surat Nuh membawa pesan kepada kita tentang kesabaran dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan. Kalau Nabi Nuh dengan sembilan ratus berdakwah hanya beberapa gelintir orang yang beriman, maka tak seharusnya kita cepat putus asa. Dalam hal ini Ustadz Yahya menekankan, bahwa janganlah kita memikirkan hasilnya. Yang merubah hati seseorang itu Allah. Hasil itu bukan akibat dari apa yang kita sampaikan. Allah lah yang membuat seseorang beriman atau tidak. Mendapat hasil atau tidak tetap kita akan mendapat pahala atas apa yang sudah kita lakukan.

Lalu, apa kaitan surat Nuh dengan Surat Jin?

Nouman Ali Khan mengatakan, Surah Jin put the exact opposite side of Surah Nuh. Kalau dalam surat Nuh digambarkan bagaimana kerasnya penolakan umat terhadap dakwah Nabi Nuh, dalam surat Jin justru sebaliknya. Ya, para jin, yang disebutkan dalam surat Jin justru begitu takjub sejak pertama kali mendengarkan Al Qur’an yang dibacakan oleh Rasulullah SAW. Setelah kita mendapatkan pelajaran tentang umat yang sulit untuk diberi peringatan dalam surat Nuh, ternyata ada sekelompok jin yang langsung beriman saat mendengar ayat-ayat Allah.

Dalam khutbah-khutbahnya, Nouman Ali Khan selalu mengingatkan tentang audience. Dalam hal ini siapa sebenarnya audience surat ini? Atau, surat ini ditujukan untuk siapa? Yang pasti, kepada kita. Tapi, turunnya ayat pun juga melibatkan Rasulullah sebagai audience pertama. Mengapa Allah harus menurunkan surat Jin? Mengapa Allah harus menurunkan Surat Nuh? Atau surat-surat lain yang berisi kisah para nabi?

Sebagaimana kita, tantangan dakwah Rasulullah pun sangat berat. Sama halnya Nabi Nuh, Nabi Muhammad juga dicela, di cerca, diolok-olok oleh kaumnya sebagai orang gila, sebagai penyair, dan sebagai tukang sihir. Kisah para nabi sesungguhnya adalah wujud kasih sayang Allah untuk menguatkan Rasulullah dalam menghadapi berbagai tantangan yang sangat-sangat berat.

Surat Jin menggambarkan bagaimana sekelompok jin begitu terpesona dengan Al Qur’an yang dilantunkan oleh Rasulullah SAW. Mengapa para Jin ini begitu takjub begitu mendengarkan Qur’an, dan seketika itu mereka langsung mempercayai dan beriman kepada Allah? Padahal, para jin ini tidak mendengarkan seluruh isi Qur’an, hanya beberapa ayat saja. Mengapa aktivitas mendengarkan Al Qur’an yang hanya beberapa ayat tersebut bisa langsung membuat mereka takjub dan langsung beriman kepada Allah?

Surat Jin menjelaskan bagaimana efek dari ketakjuban tersebut terhadap keimanan dan sikap sekelompok Jin.

Atas hal ini, Nouman mengajukan pertanyaan yang cukup menggelitik terkait interaksi kita dengan AL Qur’an. Kata Nouman, “If the Qur’an is so powerful, if the Qur’an is incredible, if there is a distance between me, and you and the Qur’an, if there is a gap, why I am not feeling this book?”.

Mengapa kita (saya) tidak bisa merasakan hal yang sama, sebagaimana reaksi para Jin dalam surat Jin?, atau sebagaimana reaksi trio Abu Jahal, Abu Sofyan, dan Al Akhnas ibn Syuraiq yang rela mengendap-edap mendengarkan Rasulullah membaca Qur’an? Atau pun reaksi Utbah bin Rabiah saat diperdengarkan Al Fussilat?

Mungkin karena kita (saya) belum sanggup mengangkap ke-mukjizat-an Al Qur’an.

Wallahu a’lam

BAGAIMANA MENUMBUHKAN CINTA PADA AL QUR’AN (BAGIAN 2)

Di bagian pertama tulisan ‘Bagaimana Menumbuhkan Cinta pada Al Qur’an’ dijelaskan bahwa ada empat langkah yang akan membuat pemahaman, interaksi, apresiasi, dan rasa cinta kita terhadap Al Qur’an terasa lebih mendalam. Ketiga langkah pertama sudah di jelaskan di bagian pertama. Tulisan ini berfokus pada langkah terakhir dan bagaimana keempat langkah tersebut bisa membuat cinta kita terhadap Qur’an terus bersemi.

Langkah terakhir adalah memahami secara mendetail ayat per ayat, kata per kata. Pemahaman secara detil akan mengantarkan kita untuk merasakan the miracle of the Qur’an atau mukjizat Al Qur’an. Pemahaman atas hal ini menuntut kita untuk memahami bahasa Arab. Kalau kita belum bisa bahasa Arab, sedikit demi sedikit mempelajari tafsir akan membantu dalam memahami Qur’an. Atau, kita juga bisa menyimak kajian-kajian tafsir melalui youtube.  Pada langkah ini lah kita akan menemukan kemukjizatan tata bahasa dan struktur ayat-ayat dalam Al Qur’an. Yang pasti, sebagaimana saya katakana di bagian pertama, kita tak akan kehabisan kata ‘wow’.

Ada banyak contoh yang dapat kita temukan dengan pemahaman atas detail ayat per ayat dan kata per kata. Salah satunya yang baru juga saya ketahui adalah tentang kata   atau wa yang mengawali banyak surat dalam juz amma. Di dalam As Syam (1):  Allah juga menggunakannya. Di banyak surat Allah menggunakan kata ‘wa’ untuk menunjukkan sumpah. Yang paling popular dan kita kenal adalah wal ashri yang berarti demi masa atau demi waktu. Sayangnya, dalam memahami surat lain saya sering melupakan kaidah ini. Saya lupa bahwa dalam As Syam, Ad Dhuha, Al Lail, At Tiin, Al Muthaffifin, At Tariq dan banyak surat lainnya Allah menggunakan ‘wa’ sebagai sumpah.

Yang namanya sumpah, idealnya kita membaca dan memahaminya sebagai sumpah. Masyarakat kita pun sering bersumpah, yang paling sering kita dengar misalnya: sumpah disamber geledek… atau, sumpah mati aku cinta padamuJ. Sumpah kita pakai ketika kita ingin meyakinkan seseorang bahwa kita tidak berbohong, bahwa kita serius dengan ucapan kita. Yang paling umum lagi biasa kita dengar saat seseorang hendak meminjam uang, dengan sorot mata yang serius ia akan mengatakan, temenan wis..bulan depat tak saur utangku. Atau, sumpah wis..kalau dapat uang langsung tak bayar lunas.

Dalam bersumpah, ada satu hal yang membedakan antara sumpah Allah berbeda dengan sumpah manusia. Sumpah Allah selalu ada hubungan antara sumpah tersebut dengan pesan yang di bawa.

Sebagai contoh dalam As Syam, Allah menggunakan matahari sebagai sumpah. Dalam ayat berikutnya akan kita dapati nantinya hubungan antara matahari dengan pesan yang akan disampaikan. Berbeda dengan manusia, apa hubungannya antara disambar petir dengan bayar utang misalnya. Informasi secara mendetail tentang sumpah ini silakan dibaca di: http://tonybestthinker.blogspot.com.au/2014/10/sumpah-dalam-al-quran.html.

Dalam As Syam, Allah menggunakan kata as syam sebagai qasam atau sumpah sebagai sentral kehidupan. Dari struktur kalimat dari ayat 1-6 Allah menggunakan alif lam dalam sumpahnya. Demi matahari, demi bulan, demi siang, demi malam, demi langit, demi bumi. Lalu tiba-tiba Allah mengatakan demi jiwa. Menurut ust Yahya, bagi orang Indonesia kita tidak terlalu mencermati perbedaan tersebut karena kita tidak memahami bahasa Arab. Tapi, bagi masyarakat Arab, perbedaan tersebut sangat terasa. Mengapa tiba-tiba Allah menghilangkan alif lam ketika menyebut nafs.

Penghilangan ini merupakan salah satu strategi untuk menekankan sesuatu. Menekankan tentang nafs. Di sini lah nafs diibaratkan sebagai matahari yang mampu menyinari kegelapan, dan bisa menjadi sumber cahaya bulan di malam hari sebagai pantulannya.

Membaca sekilas surat As Syam akan sulit untuk menemukan maksud yang ingin disampaikan oleh Allah. Pertama Allah berbicara tentang alam semesta, matahari, bulan, siang, malam, langit, bumi, lalu kemudian Allah berkata tentang nafs atau jiwa. Di ayat berikutnya tiba-tiba Allah menyebutkan tentang kaum tsamud dan unta betina. Jujur, saya sendiri sebelum memahami tafsirnya tidak bisa menangkap maksud surat ini. Alam, jiwa, kaum tsamud. Apa hubungannya?

Mari kita cari hubungannya..

Ketika kita mengucapkan sumpah, pasti akan diikuti dengan apa yang akan kita sumpahkan. Kalau ada orang yang mengatakan, sumpah di sambar geledek. Pasti kita akan menunggu. Sik..sik…orang ini mau ngomong apa sebenarnya. Kata di sambar geledek adalah ungkapan sumpahnya. Lalu, mungkin ia akan mengatakan tak saur utangku sasi ngarep (kubayar hutangku bulan depan). Di sini terlihat ada dua unsur dalam pernyataan sumpah. di sambar geledek dan bayar hutang.

Dalam surat As Syam, demi matahari, demi waktu dhuha dan seterusnya hingga ayat ke-enam merupakan ungkapan sumpah. Artinya, kalimat lengkapnya belum selesai. Ayat selanjutnya baru menjadi kalimat inti yang ingin disampaikan: fa al hamaha fujuu raha wa taqwa ha, Maka Dia mengilhamkan padanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaan. Sungguh beruntung orang yang menyucikan (jiwa itu) dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. Ketiga ayat ini lah yang sebenarnya yang ingin dikatakan oleh Allah. Hanya, untuk meyakinkan dan menarik perhatian manusia, Allah menggunakan sumpah demi matahari dan lainnya.

Bagaimana dengan kaum tsamud yang ada di ayat berikutnya? Ayat sebelumnya adalah contoh yang diberikan oleh Allah bagi orang-orang yang mengotori jiwanya atau orang-orang yang tidak mau mensucikan jiwanya.

Kenapa kaum tsamud dianggap memiliki jiwa-jiwa yang kotor. Monggo silakan dicari di google atau di youtube kisah kaum tsamud. Apa yang mereka lakukan terhadap Nabi Shaleh?

As Syam hanyalah contoh dari sekian banyak ke-menarik-an mengkaji Al Qur’an secara mendetail. Di Al Adiyat beda lagi, jauh lebih dahsyat dan menarik dari sisi struktur, cara penceritaan dan pesan yang dibawa. Termasuk pilihan kata. Mengapa dalam surat Al Adiyat ini Allah bersumpah dengan kuda yang berlari terengah-engah? Apa yang sebenarnya hendak disampaikan Allah kepada kita?

Hal yang sama juga bisa dilihat di surat At Tiin. Allah mengawalinya dengan sumpah atas buah tin, buah zaitun, gunning Sinai, negeri Makkah, baru kemudian menyebutkan tentang penciptaan manusia dan di akhir menegaskan bahwa Allah adalah hakim yang paling adil. Apa hubungan antar ayat ini ya? Ada apa dengan buah tin, buah zaitun, gunung sinai dan negeri Makkah? Mengapa Allah memilih bersumpah dengan benda-benda tersebut?

Surat Taha juga menarik untuk dilihat secara mendetail. Contohnya, saat Allah mengisahkan pertemuan-Nya dengan Nabi Musa. Dalam salah satu videonya, Nouman Ali Khan mencermati penggunaan Hai Musa di belakang atau diakhir kalimat. Mengapa Allah menempatkannya didepan, mengapa Allah menempatkannya di belakang kalimat? (detail silakan dibuka catatan lama saya di https://anasejati.wordpress.com/2016/12/16/belajar-dari-kisah-pertemuan-nabi-musa-dengan-allah-swt/)

Atau tentang ayat kursi, taukah anda bahwa ayat kursi memiliki struktur cincin? Sebagaimana cincin yang melingkar, struktur ayat ini pun demikian. Bagian awal terkait bagian akhir, bagian akhir kedua terhubung dengan bagian awal kedua, hingga di bagian tengah yang berada di pusat ayat.

Lagi-lagi dalam memahami konstruksi atau struktur surat yang unik seperti ayat kursi ini perlu diingat bahwa Al Qur’an tidak diturunkan dalam bentuk text tertulis, tapi oral. Diucapkan oleh Nabi Muhammad. Sekali diucapkan tidak ada koreksi, tidak ada ralat, tidak ada editing. Langsung final, tidak pakai draft.

Mungkinkah manusia mampu melakukannya?

Memahami secara detail ayat per ayat dan kata perkata membuat kita menyadari bahwa Al Qur’an itu begitu sangat-sangat indah. Keindahan dan kedahsyatan Al Qur’an membuat kaum Quraisy menjuluki Rasulullah sebagai tukang sihir. Menurut Nouman Ali Khan, julukan sebagai tukang sihir secara implisit justru membenarkan ke-mukjizat-an Al Qur’an. Bukankah sihir selalu bisa memikat orang. Lihat saja, atraksi sulap atau magic selalu bisa menarik perhatian orang banyak hingga mereka ternganga karena ketakjubannya.

Idealnya ketika kita membaca atau mendengarkan lantunan Al Qur’an kita pun bisa menikmati efek yang begitu dahsyat. Terkesima, takjub, amazed.

Mengikuti keempat tahapan dalam memahami Al Qur’an sebagaimana diuraikan di atas dan di tulisan sebelumnya ternyata membawa dampak terhadap pemahaman kita terhadap AL Qur’an itu. Tak hanya itu, pola interaksi dengan Al Qur’an juga berubah.

Yakinlah, ketika kita mulai mencoba tahapan demi tahapan, dari keterkaitan kemudian asbabun nuzul, hingga memahami detil ayat akan membangkitkan rasa ingin tau akan surat-surat lain. Bagaimana dengan surat ini ya..bagaimana dengan surat itu ya…karena semua surat terlalu indah untuk dilewatkan.

Sama halnya dengan pengaruhnya terhadap apresiasi kita terhadap Al Qur’an. Bahkan ketika kita memandang dan memegangnya pun akan terasa berbeda. Pemahaman yang baik akan membuat kita lebih mengapresiasi Qur’an sebagai mukjizat dan jalan hidup, tak sekedar buku yang menghiasi rak.

Terakhir, tentang rasa. Memahami Al Qur’an secara mendalam akan berpengaruh terhadap ‘rasa’ atau kecintaan kita terhadap Al Qur’an, terhadap Rasulullah, dan terhadap Allah SWT. Pemahaman terhadap pesan-pesan dan sebab-sebab diturunkannya ayat, dan isi kandungan Al Qur’an membuat kita memahami beratnya perjuangan Rasulullah dalam berdakwah, memahami begitu cintanya Allah kepada Rasulullah, pun memahami bagaimana seharusnya menempatkan ayat-ayat tersebut dalam konteks kekinian. Hingga akhirnya kita pun tak bisa jauh jauh dari Al Qur’an.

Sebagaimana cinta, kita ingin selalu bersamanya setiap saat setiap waktu.

Wallahu a’lam.

*Keempat tahapan di atas bisa anda lakukan dengan sekali langkah: menyimak kajian tafsir di youtube. Para ustadz secara umum menyampaikan semuanya. Untuk saat ini kajian yang menjadi referensi saya adalah kajian tafsir Nouman Ali Khan dan Dr Muhammad Yahya. Berikut beberapa link yang bisa anda ikuti:

BAGAIMANA MENUMBUHKAN CINTA PADA AL QUR’AN? (BAGIAN 1)

Cara atau metode yang kita pakai dalam memahami Al Qur’an ternyata berpengaruh terhadap pemahaman itu sendiri, terhadap pola interaksi, terhadap apresiasi, dan terhadap rasa cinta kita pada Al Qur’an. Kesimpulan ini bukanlah kesimpulan hasil penelitian yang mendalam dengan jumlah sampel yang memadai, tapi sekedar pendapat pribadi saja. Hanya saja, kalau setelah anda menerapkan metode berikut ini dan mendapatkan kesimpulan yang sama, tolong beritahu saya. Tentunya, agar saya bisa meng-update kesimpulan dini tersebut.

Kesimpulan di atas saya peroleh setelah sekitar setahun belakangan ini aktif menyimak kajian Nouman Ali Khan. Sungguh beruntung hidup di sini dan bisa menikmati fasilitas internet sehingga bisa youtube-an sepuasnya. Disela kesibukan dan perjuangan menyelesaikan disertasi, kajian Nouman ibarat segelas air yang menyegarkan fikiran.Video-video Nouman Ali Khan selalu menjadi teman setia saya di dapur.

Di saat yang hampir bersamaan saya ‘menemukan’ juga kajian Dr Muhammad Yahya, ustadz Indonesia, yang juga tidak kalah menarik. Dengan ustadz Yahya saya tidak perlu full konsentrasi untuk listening karena memakai bahasa Indonesia.

Kembali ke soal metode. Belum pernah rasanya sepanjang 40 tahun berada di muka bumi ini saya memahami satu surat dalam Al Qur’an secara utuh. Bahkan surat Al Kautsar yang hanya tiga ayat pun belum pernah saya pahami secara utuh. Pemahaman Al Qur’an saya hanya didasarkan pada potongan-potongan ayat berdasarkan tema yang biasanya cukup populer.

Untuk surat-surat pendek misalnya, saya tahu bahwa Al Ma’un memiliki pesan sentral terkait anjuran untuk memperhatikan anak yatim dan fakir miskin. Atau, Al Alaq tentang perintah membaca, atau Al Lahab tentang kisah Abu Lahab dan istrinya yang menjadi kayu bakar di neraka.

Tapi ya begitu. Dangkal.  Paham atas apa yang harus dilakukan, tapi tidak paham mengapa harus melakukannya.

Kajian ustadz Nouman Ali Khan dan Muhammad Yahya menyadarkan saya tentang cara atau metode mendapatkan pemahaman Al Qur’an yang lebih baik. Ada empat langkah yang membuat pemahaman tersebut menjadi berbeda. Yaitu, memahami keterkaitan antar surat, memahami asbabun nuzul, memahami tema sentral dari satu surat tersebut, dan memahami secara mendetail ayat per ayat dan kata per kata.

Sekilas, banyak sekali yang harus dilakukan untuk mendapatkan pemahaman yang baik. Tapi, tenang saja nanti saya bagikan tips bagaimana menikmati setiap langkah tersebut hingga tak terasa semua sudah ‘dilangkahi’ 🙂

Pertama, keterkaitan antar surat. Saya baru tau bahwa satu surat dengan surat lainnya, sebelum dan sesudahnya, saling terkait. Surat Al lail terkait dengan As Syam dan Ad dhuha. Demikian juga Al Humazah, At Takatsur, dan Al Qariah. Bahkan antara Al Fatiha dan Al Baqarah juga saling terkait. Jadi ketika kita ingin memahami satu surat, kita perlu melihat bagian akhir surat sebelumnya yang biasanya menjadi indikasi apa yang akan di sampaikan dalam surat tersebut.

Keterkaitan antar surat yang sangat menarik bisa kita lihat pada empat surat: Al Zalzalah, Al’Adiyat, Al Qariah, dan At Takatsur. Kalau berdasarkan temanya keempat surat ini bercerita tentang akhirat, dunia, akhirat, dan dunia. Dalam surat Al Zalzalah Allah mengingatkan manusia tentang keadaan hari kiamat yang sangat dahsyat. Di bagian akhir surat disebutkan bahwa kelak manusia akan diperlihatkan hasil perbuatan mereka. Kebaikan seberat zarah akan terlihat, begitu juga dengan kejahatan yang juga akan diperlihatkan.

Lalu di surat Al Adiyat, Allah mengingatkan bahwa manusia itu termasuk orang-orang yang tidak bersyukur dan sangat cinta harta. Isyaratnya, hati-hati akibatnya terlihat di surat sebelumnya, Al Zalzalah. Allah mengingatkan tentang akibat terlalu cinta dunia (surat AL Adiyat) dengan surat Al Zalzaah yang menggambarkan kesudahan orang-orang yang berat maupun yang ringan timbangan kebaikannya. Surat At Takatsur kembali Allah mengingatkan agar manusia berhati-hati didunia. Tertutama terkait sifat senang berlomba-lomba atau bersaing dalam hal ‘banyak-banyakan’ harta ataupun‘bangga-banggaan dengan apa yang dimiliki.

Setelah keterkaitan antar sura di pahami, langkah kedua adalah pemahaman akan asbabun nuzul. Untuk memahami satu surat kita juga perlu memahami asbabun nuzulnya, atau alasan-alasan dibalik turunnya suatu ayat atau surat.

Contoh atas pemahaman asbabun nuzul yang paling melekat untuk saya pribadi adalah surat Ad Dhuha. Ada saat dimana Rasulullah tidak segera mendapatkan wahyu. Bagi seorang nabi, turunnya wahyu adalah hal yang sangat penting, karena hal itu merupakan bagian dari proof of evidence atau bukti bahwa ia adalah seorang nabi. Dalam hal ini saya sangat suka dengan cara ust Mokhammad Yahya dalam menjelaskan pentingnya wahyu ini (link: https://www.youtube.com/watch?v=HPYUxXRVN2Y&t=4348s).

Di video lain, saya lupa di video yang mana, Ia katakan, mengaku nabi itu susah lho. Kita saja yang mengaku ustadz tuntutanya berat. Tidak boleh ini tidak boleh itu. Dari cara berpakaian saja sudah ada aturannya.

Sama dengan saya, ngaku jadi auditor itu juga tidak mudah, dituduh tau dan paham semua hal. Apalagi tentang peraturan. Kalau tidak bisa menjawab pertanyaan auditee bisa-bisa dipertanyakan kualitas keauditorannya. Kok..auditor kayak gini…

Apalagi mengaku nabi.

Lamanya jeda waktu tersebut menjadi celah bagi kaum Quraisy mengolok-olok Nabi Muhammad, dengan mengatakan bahwa Nabi Muhammad telah ditinggalkan Tuhannya. Tentu ini menimbulkan beban yang berat bagi Rasulullah. Masa penantian juga bisa menimbulkan kecemasan terhadap diri sendiri dan bertanya-tanya mengapa Allah tidak segera menurunkan wahyu. Hingga akhirnya turunlah surat Ad Dhuha yang menjadi pelipur lara yang menenangkan jiwa Rasulullah. Kalau kita resapi makna surat ini sungguh sangat-sangat menyentuh, terlihat dengan jelas bagaimana Allah begitu sangat menyayangi Rasulullah.

Di ayat ketiga surat Ad Dhuha disebutkan: Tuhanmu tidak menginggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu. Di ayat keenam hingga kedelapan terasa semakin syahdu saat Allah mengatakan: Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu). Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.

Ketiga ayat ini dimaksudkan untuk membesarkan dan meyakinkan hati Rasulullah bahwa Allah tidak akan meninggalkannya. Sebagaimana diri kita sendiri, Rasulullah pun merasakan beratnya diolok-olok, diejek, dimusuhi. Dalam kondisi seperti ini kita butuh teman yang menguatkan. Dalam surat ini Allah ingin menegaskan bahwa Allah tak akan meninggalkannya dengan mengingatkannya akan masa lalu saat Rasulullah menjadi yatim yang kemudian diasuh oleh Abu Thalib, dan kemudian dipertemukan dengan Khadijah yang memberikannya kekuatan jiwa.

Setelah memahami asbabun nuzul, langkah ketiga adalah memahami secara umum isi keseluruhan ayat. Cara ini sama persis dengan teknik reading yang biasa kita dapatkan dalam pelajaran bahasa Indonesia atau Inggris. Kalau untuk surat pendek mungkin bisa langsung didapatkan saat membacanya. Tapi, untuk surat panjang, akan lebih menarik jika kita bisa menangkap apa sebenarnya yang ingin disampaikan Allah kepada kita dalam satu surat tersebut.

Misal, apa sih isi surat Al Baqarah yang panjang sekali suratnya? Apa sih yang menjadi tema sentral surat Yasin yang sering kita baca?

Atau apa sih topik utama dari surat Al Kahfi. Surat dengan panjang 110 ayat. Apa poin-poin utamanya? kita bisa juga memancing rasa penasaran kita dengan dengan pertanyaan, mengapa sih dinamakan Al Kahfi? Atau Surat Al Qasas dengan 88 ayat. Apa tema sentralnya? Mengapa dinamakan surat Al Qasas? Apa saja pesan-pesan yang ingin disampaikan?

Mari kita lihat satu contoh. Dalam surat Al Kahfi, misalnya, ada empat kisah dan empat pesan yang langsung disampaaikan oleh Allah sebagai prolog dan jeda antar kisah. Menurut Ust Mokhammad Yahya dalam salah satu kajiannya mengatakan bahwa surat Al Kahfi turun sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh musryikin Quraisy. Kejengahan mereka terhadap dakwah Rasulullah membuat mereka mencari berbagai cara untuk melemahkannya. Mereka mendatangi salah satu rabi yahudi untuk menanyakan tentang kenabian Rasulullah. Sebagai informasi tambahan, kaum quraisy pada dasarnya tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang nabi. Dalam hal agama mereka menganggap masyarakat Yahudi saat itu sebagai ahlinya.

Makanya, merekapun mendatangi rabi Yahudi dan menceritakan tentang pengakuan Rasulullah sebagai nabi. Oleh rabi Yahudi, musyrikin Quraisy ini dibekali tiga pertanyaan, yang jika berhasil dijawab maka benarlah bahwa Muhammad adalah seorang nabi. Sebaliknya, jika tidak mampu menjawab maka dia bukanlah seorang nabi.

Ketiga pertanyaan tersebut terkait: tujuh pemuda yang tinggal di goa, tentang lelaki pengembara, dan tentang ruh. Surat Al Kahfi menjawab dua pertanyaan terkait tujuh pemuda yang tinggal di goa dan lelaki pengembara. Selain jawaban atas dua pertanyaan, dalam surat AL Kahfi, Allah menambahkan dua cerita. Yaitu kisah seseorang dengan dua kebun, dan kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir. Pertanyaan tentang ruh dijawab dalam surat Al Isra.

Kesemua tema sentral, empat kisah dan empat pesan langsung dari Allah, tersebut pada akhirnya bisa memahamkan atau menjawab pertanyaan mengapa surat Al Kahfi ini bisa menyelamatkan kita dari Dajjal. Keempat kisah dalam surat Al Kahfi memberikan arahan bagaimana kita menghadapi fitnah iman, fitnah harta, fitnah ilmu, dan fitnah kekuasaan. Kalau kita tarik pada kondisi saat ini maka keempat macam fitnah tersebut sangat mudah ditemui. Dari sini lah saya sendiri baru menyadari mengapa Rasulullah menganjurkan kita untuk membaca surat Al Kahfi setiap hari Jum’at.

Memahami ketiga tahapan dalam mempelajari surat-surat dalam Al Qur’an sebagaimana penjelasan di atas setidaknya akan memberikan pemahaman atas latar belakang kejadian atau konteks dimana surat atau suatu ayat di turunkan. Tak hanya itu, kita akan merasa seolah terbawa pada kondisi saat itu ketika kita melafalkan surat-surat yang kita baca sehingga akan memberikan efek dalam mengapresiasi terhadap Al Qur’an dan kepada Rasulullah.

Sekilas terlihat banyak prasyaratnya. Tapi, pemahaman akan hal-hal ini akan membuat kita  tak akan kehabisan kata ‘oh’ atau ‘wow’.

Bagaimana dengan langkah terakhir, tentang pemahaman secara mendetail?

Maaf, untuk menghindari kelelahan dalam membaca artikel ini, dengan sangat terpaksa tulisan saya bagi dalam dua bagian. Saran saya, silakan stop dulu membaca. Namun, jika anda masih penasaran, monggo silakan dilanjutkan karena tulisan tersebut saya posting dalam jeda waktu yang tidak terlalu lama.

Di bagian kedua saya paparkan juga bagaimana cara atau metode memahami Al Qur’an ini berpengaruh terhadap pemahaman, pola interaksi, apresiasi, dan ‘rasa’ kita terhadap kitab yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad. Termasuk bagaimana tipsnya agar keempat langkah tersebut terasa begitu ringan untuk dilakukan.

Monggo dilanjutkan ke bagian 2: https://anasejati.wordpress.com/2017/11/24/bagaimana-menumbuhkan-cinta-pada-al-quran-bagian-2/

Mempromosikan Indonesia di Melbourne dengan Tari Kelinci, Tari Soyong, dan Bakso

20171119_105337.jpg

Minggu 19 November 2017 adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak Indonesia yang bersekolah di moreland primary school. Hari itu sekolah menyelenggarakan fete atau festival dengan tema multicultural festival. Anak-anak ini akan menampilkan dua tarian, tari kelinci (Bunny Dance) dan Tari Soyong (Soyong Dance).

Multicultural festival atau Carnival of culture yang diselenggarakan oleh MPS adalah event dua tahunan yang dimaksudkan sebagai salah satu strategi mengumpulkan dana untuk pembiayaan sekolah. Ya, sama halnya sekolah di Indonesia, sekolah-sekolah di sini juga mengalami kesulitan pendanaan. Fete adalah salah satu cara yang cukup efektif untuk mendapatkan dana untuk membiayai kebutuhan sekolah.

 

Bagi citizen, permanent resident dan para pemegang visa tertentu, seperti saya yang kebetulan mendapatkan beasiswa dari pemerintah Australia, memang tidak perlu membayar mahal lainnya. Di awal tahun tiap anak membayar 350 dollar. Jumlah yang sangat tidak significant dibandingkan teman-teman internasional student yang tidak disponsori pemerintah Australia.

20171119_121449

Awalnya, saya pikir tidak akan ada biaya lain lagi selain membayar iuran tersebut. Rupanya saya salah. Kegiatan-kegiantan ekstra ternyata mengharuskan orang tua murid harus membayar, semisal excursion, sleepover di sekolah, tambahan pelajaran seperti renang dan music, pelajaran life education. Tidak terlalu besar, tapi cukup sering juga.

Carnival of culture atau fete yang diselenggarakan sekolah Amira/Ayla juga salah satu upaya sekolah untuk menambah biaya infrastruktur. Dua tahun lalu menurut pihak sekolah uang hasil event digunakan untuk perbaikan play ground dan taman.

Bagi orang tua murid Indonesia, kami sangat senang menyambut event tersebut. Dua tahun lalu komunitas Indonesia di MPS mendapat kesempatan untuk menampilkan tari saman dan memperkenalkan sate. Tahun ini komunitas Indonesia juga mendapat kesempatan untuk menampilkan tarian Indonesia dan mempromosikan masakan Indonesia.

20171119_103106

Alhamdulillah, diantara mahasiswa Indonesia yang ada di sini ada yang memiliki keahlian menari. Namanya mbak Fitriana Murriya, ibu dokter dari Jogja yang sedang mengambil program PhD di Melbourne University. Alhasil, untuk mempersiapkan memeriahkan fete, anak-anak pun berlatih setiap minggu selama hampir dua bulan. Tari yang dipilih adalah tari kelinci (Bunny Dance) dan tari soyong (Soyong Dance). Kedua tari tersebut sangat pas dengan karakter anak-anak.

Tak hanya anak-anak, ibu-ibu pun juga turut memeriahkan dengan mempersiapkan gemufamire dance yang sedang marak di tanah air. Sejujurnya, bukan lah hal yang mudah bagi orang tua di sini untuk sekedar menyisihkan waktu meski hanya dua jam untuk berlatih atau sekedar mengantarkan anak. Tapi, untuk memeriahkan fete dan sekaligus memperkenakan budaya dan masakan Indonesia rasanya sayang untuk disia-siakan kesempatan emas ini.

Begitulah….tanggal 19 November 2017 pun tiba. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Para bunny-bunny pun lincah melompat-lompat di panggung. Begitu juga dengan big girls yang menarikan tari soyong terlihat begitu gemulai menggerakkan tangan dan memainkan kipasnya.

20171119_103754

Bagaimana dengan kami para orang tua murid? Kami pun bergembira beramai-ramai ber-gemufamire. Setelah itu dilanjutkan dengan aktivitas melayani pengunjung dengan bakso yang sudah dipersiapkan sehari sebelumnya. Cukup dengan empat dollar, mie bakso yang dilengkapi pangsit goreng pun terasa sangat lezat dinikmati di minggu siang sembari menyaksikan Sicilian Folk Dance dari Italia, Tari Saman Bhineka, Indigeneous music, Indian Music, Band anak MPS, serta koor anak-anak grade 1/2.

Hari itu, tari kelinci, tari soyong dan bakso menemani kemeriahan multicultural festival yang menampilkan makanan dari berbagai negara, antara lain dari India, Jerman, Chile, Ethiopia, Libanon, dan Vietnam. Bangga rasanya jadi orang Indonesia.

20171119_120108.jpg

20171119_120142

THE MIRACLE OF THE QUR’AN

“Bunda, it’s sooo ammmazing”.

Dari sorot matanya masih terlihat rasa ketakjubannya…..kok bisa. Ia lanjutkan lagi, “which ayat?”, saya jawab singkat, “one forty three, wasathan, the middle”.

Sehari sebelumnya kami sempat mendiskusikan kembali tentang mukjizat Al Qur’an. Awalnya, ia lontarkan pertanyaan yang sama sekitar tiga bulan yang lalu. Inti pertanyaanya adalah: bagaimana jika ternyata kelak di akhirat nanti ternyata Tuhan kita bukan Allah SWT?

Pertanyaan simple, tapi butuh jawaban yang panjang. Saat itu kami mencoba menghubungkan jawabannya dengan ke-mukjizatan-an Al Quran bahwa kitab suci tersebut bukanlah buatan manusia, tetapi dari Allah. Dengan memberikan keyakinan bahwa Al Quran bukan lah buatan manusia dan benar-benar kitab dari Allah SWT semoga bisa menguatkan akan kebenaran Al Qur’an.

Saat itu kami berikan contoh kata yang terdapat di ayat 143 surat Al Baqarah yang menyebutkan kata ‘wasathan’. Kata tersebut terletak tepat di tengah-tengah jumlah keseluruhan ayat dalam surat AL Baqarah 286. Kami juga sempat mendiskusikan tentang the mathematical miracle of the Qur’an yang membahas tentang keajaiban jumlah kata-kata tertentu yang semakin menguatkan kebenaran Al Qur’an.

Lalu, ia tanyakan lagi, “why Allah gave miracles to the prophet?” Pertanyaan yang pas yang bisa menjembatani jawaban pertanyaan pertama. Balik kami tanyakan, “How do we know that you are a grade six student?“. Dengan cepat ia jawab “tshirt”. Grade 6 di sekolahnya memang memiliki kaos khusus yang berbeda dari seragam sekolah. Kaos yang berwarna biru tersebut di bagian belakang tertulis seluruh nama siswa kelas enam.

Kami jelaskan bahwa kaos itu adalah salah satu bukti bahwa ia adalah siswa kelas enam. Begitu halnya dengan mukjizat yang diberikan Allah kepada para nabi. Sembari mengingat kami memintanya menyebutkan nama nabi beserta mukjizatnya.

Terakhir kami tekankan bahwa mukjizat itu lah yang menjadi proof of evidence atas kebenaran ajaran yang dibawa para nabi. Menutup diskusi malam itu, kami katakan, “this is the miracle” sambil memegang dan mengangkat Al Quran yang ada di hadapan kami..

 

FAMILY PROJECT IS BACK (STORY OF THE PEOPLE OF THAMUD)

“Yes…we have a project again!!!!”

Ayla terlihat begitu bersemangat saat kami katakan bahwa nanti malam ‘project’ akan dimulai lagi. Antara senang dan rasa bersalah sempat teselip melihat reaksinya. Senang karena ternyata ia menyambut baik, dan rasa bersalah karena hampir enam bulan ini kami tidak pernah meluangkan waktu untuk mengerjakan ‘project’.

Agustus tahun lalu kami telah menyepakati untuk memulai sebuah ‘project’ yang kami namakan ‘Asmaul Husna Project’. Sederhana saja sebenarnya, kami hanya ingin mendisipinkan diri untuk mengajarkan Islam setiap hari di rumah secara rutin. Selain itu, kami juga ingin membangun komunikasi dengan anak-anak. Interaksi rutin setiap malam setidaknya membuat mereka lebih terbuka tanpa harus ditanya-tanya tentang keseharian mereka, terutama untuk Amira yang sudah menginjak dua belas tahun.

Ketiadaan pelajaran agama di sekolah membuat kami harus memikirkan cara untuk menanamkan nilai-nilai Islam. Karena itulah peran orang tua sangat dominan terhadap pendidikan Islam anak. Berbeda di Indonesia dimana anak masih mendapatkan pelajaran agama di sekolah, apalagi bagi mereka yang bersekolah di sekolah islam terpadu. Jadi, tugas orang tua jauh lebih ringan.

Topik yang kami pilih untuk project pertama adalah mempelajari 99 Asmaul Husna. Target yang kami tetapkan waktu itu cukup muluk. 100 hari untuk 99 asmaul husna. Realisasinya? Setelah seratus hari kami baru bisa membahas sekitar 25.

Hambatan utama justru datang dari diri sendiri. Anak-anak selau siap menyambut. Permasalahan utama terletak pada kesapan materi dan kesiapan untuk mengajarkan. Awalnya materi kami ambil dari hasil browsing internet. Tapi ternyata tidak mudah. Ada beberapa bahan, tapi kurang pas. Baik dari sisi bahasa dan kesesuaian usia.

Dari pada menghabiskan waktu untuk browsing akhirnya kami putuskan untuk membuat worksheet sendiri. Referensi tetap harus browsing. Hanya, kami mencoba mendesain worksheet sesuai bahasa dan topik yang kira-kira menarik untuk mereka diskusikan.

Jadilah dia awal-awal project berjalan kami mangambil referensi dari understandquran.com dan dimodifikasi dengan aktifitas mewarnai. Amira dan Ayla memang hobby menggambar. Alokasi waktunya, seperempat jam mewarnai dan tiga puluh menit berdiskusi, meski kadang agak molor. Namun, justru lebih baik karena mengurangi waktu ber-gadget.

Untuk hal sesederhana menyiapkan worksheet pun ternyata kami sudah ‘keponthal-ponthal’. Terkadang worksheet berhasil dibuat. Tapi macet saat diskusi karena kami kurang mempersoapkan diri untuk mengeksplorasi lebih jauh.

Hingga akhirnya kami mencoba memodifikasi worksheet dengan mencontoh aktivitas reading di sekolah. Caranya, dengan mengambil kisah atau bacaan sekaligus menambahkan pertanyaan langsung.

Alhadulillah, teknik ini jauh lebih efektif. Untuk ice-breaking-nya kami berikan pertanyaan ringan seputar aktifitas sekolah. Atau, kami juga membahas hal-hal ringan kemudian dikaitkan dengan Nama tertentu.

Hingga masa supersibuk itu pun tiba… kami tidak sempat lagi melewatkan malam dengan ‘project’. Anak-anak pun lebih akrab dengan gadget.

Baru beberapa hari ini kami memulai kembali menghidupkan project kembali. Reaksi Ayla dan Amira sungguh mengharukan…

Hari pertama setelah off sekian lama, kami membahas kisah kaum Tsamud dan Nabi Salih. Beberapa bulan lalu kami sudah pernah membahasnya dengan menyaksikan salah satu video di Youtube, hanya diskusi ringan tanpa worksheet yang sempat kami lakukan waktu itu.

Kali ini, kami sudah mempersiapkan worksheet dengan bacaan yang kami sadur dari buku My Illustrated Quran Story Book yang ditulis oleh Saniyasnain Khan. Kami juga persiapkan worksheet yang berisi pertanyaan ringan untuk memastikan bahwa mereka memahami isi cerita.

Begitulah..hingga akhirnya muncul pertanyaan-pertanyaan sulit Amira….

Download worksheet: The tribe of thamud

the tribe of thamud1people of thamud 2.JPG

Berzikir tak mengenal waktu

Memory…ia ulang kata itu hingga beberapa kali karena saya tidak paham yang ia maksud. Saya coba tekan setting dan saya perlihatkan kapasitas hape saya. This is the memory, begitu saya katakan. Ia menggeleng.

Ia katakan lagi…memory. kali ini tangan kanannya ia letakkan didepan mata kanannya sambil memperagakan sesuatu. Ujung jempol dan telunjuk ia satukan, langsung ia lepas. Disatukan lagi, dilepas lagi. Ia ulang beberapa kali. Ia juga sempat berbicara dalam bahasanya untuk menjelaskan yang ia maksud. Sayang, tak juga saya pahami.

Ia masih terus mencoba menjelaskan dan memperagakan yang ia maksud. Hingga akhirnya…Aha…. Barulah saya tau: camera.

Continue reading “Berzikir tak mengenal waktu”