Featured

MENU BARU: BELAJAR ISLAM

Sebagaimana judulnya, menu ini merupakan kumpulan tulisan-tulisan saya yang bertema Islam. Saya sendiri tidak memiliki latar pendidikan Islam yang khusus. Saya seorang akuntan yang bekerja di salah satu instansi pemerintah yang kemudian melanjutkan studi administrasi publik. Riset saya pun juga temanya tentang manajemen kinerja sektor publik.

Sekitar tahun 1993-1994 pernah terdaftar di sebuah ma’had dekat kampus. Tiga kali sepekan di sore hari mempelajari Islam. Tahun 2000 setiap minggu pagi saya kembali rutin hadir di ma’had yang berbeda. Sempat mengikuti halaqah sejak tahun 1993 hingga 2007 hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti.

Waktu terus berjalan hingga sampailah saya kembali berada di negeri ini. Awalnya target saya adalah mempelajari segala hal tentang negara-negara maju, baik dari sisi sejarah, budaya, ekonomi, dan lainnya. Hingga akhirnya, saya justru tertarik untuk lebih dalam mempelajari Islam dengan perspektif yang berbeda.

Aktivitas browsing youtube mengantarkan saya untuk berkenalan dengan Dr. Yasir Qadhi, kemudian Tariq Ramadan, dan akhirnya saya pun dibuat terpesona oleh kuliah-kuliah Nouman Ali Khan. Tak hanya itu akhir-akhir ini saya ‘menemukan’ banyak ustadz/ah lain yang juga menarik pembahasannya.

Berada di negeri ini memungkinkan saya mendapatkan kesempatan untuk ‘berguru’ dari youtube dengan jaringan internet yang wus wus. Alhamdulillah.

Banyak hal yang menarik yang saya dapatkan sehingga rasanya sayang jika dilewatkan begitu saja. Video-video tersebut sangat menarik dan mungkin bagi banyak orang di Indonesia masih sulit untuk mendapatkan akses karena kualitas akses internet yang belum sebagus di sini. Video-video ini lah yang mengantarkan saya untuk lebih mencintai Islam, lebih mencintai Al-Qur’an, lebih mencintai para Nabi, dan mencintai Allah SWT.

Sebagaimana saya sebutkan di atas, saya tidak memiliki background pendidikan agama yang mumpuni, tulisan dalam menu ini merupakan rangkuman khutbah, kuliah, dan ceramah dari ustadz/ah yang saya dapatkan di youtube.

Smoga bermanfaat..

 

Menggenggam Masa Depan Bersama MAKES (Al Markaz for Khudi Enlightening Studies)

Kawan,

Kalau Anda sempat ke Makassar, singgahlah ke Masjid Al-Markaz Al Islami. Masjid tersebut merupakan masjid terbesar di kawasan timur Indonesia dengan arsitektur yang sangat menawan dan ruang publik yang memungkinkan masyarakat untuk melakukan aktivitas olah raga di sore hari. Bahkan, setiap hari minggu di depan masjid tersebut diselenggarakan senam massal. Anda pun bebas untuk hadir,  setidaknya bisa membantu menyehatkan jantung dan sejenak releks menikmati suasana pagi yang menyegarkan.

Saya sendiri sangat menikmati suasana masjid tersebut. Boleh dibilang masjid tersebut adalah tempat terindah saya saat masih belum berkeluarga.  Hingga saat ini nuansa masjid masih sangat terasa setiap kali saya mendengar atau mengingat masjid tersebut.

Jika kemudian saya mengajak kawans sekalian untuk ke Masjid Al Markaz sesungguhnya bukan hanya suasana masjid yang membuat kita selalu merindukannya. Masjid Al Markaz bagi banyak orang bukan sekedar masjid karena banyak sekali aktivitas yang ditawarkan bagi masyarakat. Diantaranya, perpustakaan masjid yang mempunyai banyak koleksi buku, TPA dan TK, koperasi dan lain sebagainya. Di Masjid tersebut saya mendapatkan sahabat-sahabat yang luar biasa. Saya merasa beruntung dilahirkan dan dibesarkan di saat yang tepat sehingga saya sempat mengenal sahabat-sahabat ini. Merekalah para pendiri Al Markaz for Khudi Enlightening Studies (MAKES).

Keberagaman Latar Belakang Anggota

MAKES adalah sebuah komunitas yang dilahirkan pada tahun 1999 oleh sekelompok anak muda yang mempunyai hasrat yang kuat untuk terus maju. Bukan hanya itu, justru hasrat yang paling kuat adalah hasrat untuk mencerahkan para generasi muda untuk peduli pada permasalahan negeri ini. Medianya adalah dengan melakukan meeting atau diskusi rutin dalam bahasa Inggris. Topiknya beragam, dari ekonomi, sosial, politik hingga seni. Semua topik diskusi diakomodasi dan ditinjau dari beragam sudut pandang. Harapannya adalah agar generasi muda, khususnya para partisipan, mampu terlibat dalam diskusi-diskusi atau kegiatan apapun di level internasional

MAKES menyatukan berbagai manusia dengan berbagai latar belakang yang membuat masing-masing saling menghormati madzab dan sudut pandang orang lain. Dari latar belakang pendidikan saja, kebetulan banyak anggota dari kalangan mahasiswa, bermacam-macam, dari fakultas kependidikan hingga teknik mesin. Pun demikan dengan latar belakang keagamaan yang juga berasal dari berbagai orgnisasiMAKES. Semua dipersatukan dalam semangat untuk mengkaji dan terus mengkaji serta berbuat untuk negeri.

Aktivitas rutin MAKES adalah menyelenggarakan diskusi dalam bahasa Inggris setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu setiap ba’da ashar atau sekitar pukul 16.00. Untuk mengarahkan diskusi peserta dibagikan paper yang juga ditulis oleh peserta sendiri untuk kemudian didiskusikan dalam beberapa kelompok kecil sekitar 5 sampai 7 orang. Dalam setiap kelompok tersebut ditunjuk seorang moderator untuk memandu diskusi.

Diskusi yang Mencerahkan

Terlibat dalam diskusi tentu tidak hanya meningkatkan kemampuan speaking, tetapi juga kemampuan writing atau menulis. Terlebih lagi peserta mendapatkan pemahaman lebih jauh tentang topik diskusi yang diselenggarakan. Hal yang terakhir ini lah yang membedakan MAKES dengan meeting atau club bahasa Inggris lainnya yang lebih mengedepankan aspek peningkatan bahasa Inggris. Di MAKES bahasa Inggris hanya sebatas media saja. Tujuan yang lebih utama adalah aspek pencerahan sebagaimana arti kata MAKES, Al Markaz for Khudi Enlightening Studies atau pusat studi untuk pencerahan.

Sesungguhnya diskusi tidak hanya diselenggarakan pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu saja. Namun, juga sering diselenggarakan diskusi eksklusif yang biasanya diselenggarakan tiap Sabtu malam. Diskusi eksklusif ini tentu saja bahasannya lebih dalam karena waktu penyelenggaraannya jauh lebih panjang bahkan terkadang hingga pagi menjelang. Tradisi ini telah diturunkan dari generasi awal MAKES yang merupakan para pembelajar sejati.

Manfaat bergabung dalam komunitas ini selain memperluas khazanah berfikir, menemukan semangat persaudaraan tentu saja juga meningkatkan kualitas kemampuan berbahasa Inggris. Tak heran kalau kemudian para anggota komunitas ini hampir semuanya mempunyai mimpi yang sama: bersekolah di negara maju.

Meraih Beasiswa Bersama Makes

Keberhasilan salah seorang pendiri mendapatkan beasiswa untuk belajar di Australia rupanya menjadi virus yang mampu menginveksi seluruh anggota komunitas bahkan hingga generasi MAKES terkini untuk bermimpi menjejakkan kaki di belahan dunia lain. Hingga saat ini sekitar sepuluh anggota MAKES telah mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Australia untuk melanjutkan belajar di negeri kangguru tersebut. Tahun 2012 adalah tahun keemasan di mana lima anggota berhasil mendapatkan beasiswa tersebut, empat orang melanjutkan S2 dan satu orang melanjutkan program doktoral. Tak hanya Australia, dua orang anggota juga telah berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan belajar ke Amerika yang disponsori oleh Ford Foundation, tiga orang telah berhasil mendapatkan beasiswa STUNED untuk melanjutkan belajar ke negeri Kincir Angin. Termasuk saat ini juga telah ada satu orang anggota yang telah berhasil menjejakkan kaki di Jepang untuk melanjutkan program doktoralnya. Beberapa anggota juga mendapatkan beasiswa untuk belajar di Iran dan Turki.

MAKES tidak hanya mengantarkan anggotanya untuk meraih mimpi belajar di luar negeri. Beberapa orang anggota sempat mendapat kesempatan untuk mengikuti short course di Jepang dan banyak lainnya yang bekerja di luar negeri. Keberhasilan generasi sebelumnya menjadi inspirasi generasi terkini untuk mempersiapkan diri baik dari sisi peningkatan bahasa Inggris ataupun keilmuan. Tahun ini lebih dari sepuluh anggota yang mendaftar beasiswa Ausaid. Ya..semangat untuk maju..semangat untuk memperbaiki masa depan diri sendiri..semangat untuk turut berkontribusi membangun negeri terlihat pada diri anggota komunitas ini.

Makes dan Kesempatan

Kalau kawans pernah membaca buku Outliers-nya Malcolm Gladwell maka mungkin tak terlalu berlebihan kalau saya pun mengatakan bahwa para anggota komunitas ini adalah para Outliers. Sebagaimana disebutkan dalam buku tersebut bahwa satu hal yang menarik dalam fenomena outliers adalah adanya sebuah kesempatan yang dinikmati oleh para outliers. Kalau pakar motivasi sering menyebut bakat, komitmen, ketangguhan, kerja keras serta seperangkat faktor internal para outliers yang paling berpengaruh terhadap kesuksesan maka Gladwell memandangnya dari sisi lain. Sisi yang manakah itu? Aha… kesempatan yang di maksud di sini bukanlah sebuah peluang yang memungkinkan kita menemukan jalan tersebut. Tapi, kesempatan yang mempertemukan kita pada seseorang ataupun lingkungan yang membuat kita menemukan ‘sesuatu’.

Kalau  kawans sekalian pernah membaca atau melihat Laskar Pelangi, maka kesempatan itu adalah kesempatan yang memungkinkan para Laskar tersebut bertemu dengan Ibu Mus. Sama halnya dengan yang dikatakan oleh Yohanes Suryo bahwa ‘tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanyalah anak-anak yang tidak mendapatkan kesempatan untuk menemukan guru-guru yang hebat’.

Setali tiga uang dengan  Laskar Pelangi, Negeri 5 Menara juga bisa dijadikan sebagai contoh yang sempurna untuk menjelaskan ‘kesempatan’. Mungkinkah A. Fuadi bisa menjangkau kota-kota dunia seandainya sang ibu tidak bersikukuh memaksanya bersekolah di madrasah? Mungkinkah A. Fuadi bisa menulis novel best-seller tersebut seandainya dia tidak menjadi siswa PM? Bisa jadi tidak. Bisa jadi takdir akan menjadikan A. Fuadi sebagai sosok-sosok yang lain.

Kesempatan yang di maksud oleh Gladwell pada dasarnya sama dengan pengibaratan Andrea Hirata bahwa kisah-kisah masa lalu adalah mozaik-mozaik yang membentuk lukisan hidupnya hingga menjadi seperti saat ini. Kesempatan itu pulalah yang barangkali sama dengan berkah yang diberikan kepada sebatang pohon yang tumbuh dan berbuah. Akankah sang pohon tumbuh tanpa ada sinar matahari yang membantunya berfotosintesis? Tanpa angin yang membantu proses penyerbukan hingga tumbuh menjadi buah yang lezat? Atau, tanpa hujan dari langit yang membuat sang tanah tetap subur?

Sama halnya dengan MAKES. MAKES adalah sebuah komunitas yang memungkinkan seseorang untuk mendapatkan kesempatan sebagaimana yang disebut oleh Gladwell. Kesempatan yang dimaksud di sini adalah kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang mempunyai hasrat, semangat dan cita-cita untuk maju dan berbagi untuk sesama. Hingga kemudian atmosfer itu melingkupi siapa saja yang sempat mencicipi ‘pendidikan’ di ‘sekolah’ MAKES tersebut.

Bagi saya sendiri, dipertemukan dengan rekan-rekan yang luar biasa sungguh sebuah kesempatan yang tak ternilai harganya. Bagaimana tidak luar biasa karena dengan mereka saya menemukan dunia lain di luar akuntansi, di luar madzab keagamaan yang waktu itu saya anut, dan di luar jangkauan pergaulan yang saya miliki.

Makes3

Diskusi yang Membuka Cakrawala Berfikir

Kalau ditanya soal siapa yang paling berpengaruh dalam hidup saya? Dengan mudah saya akan menyebut MAKES. MAKES telah mengubah pola pikir saya secara fundamental. Mungkin bisa dibilang saya telah menjalani revolusi pemikiran karena sebelum bertemu dengan rekans pendiri MAKES, sekitar tahun 1998,  hidup saya hanya sekedar melewati hari-hari tanpa tujuan yang jelas. Sebagai perantau saat itu yang terfikir hanyalah bagaimana membunuh sang waktu tanpa merasa kesepian karena tidak ada sanak saudara. Tak ada target yang begitu kuat menancap di dada saat itu untuk bahkan sekedar bermimpi bersekolah di negara empat musim.

Bertemu dengan para pendiri sungguh seperti yang saya katakan di atas adalah sebuah kesempatan untuk menapaki ‘dunia baru’, dunia petualangan pemikiran yang luar biasa menarik. Bahasa Inggris? Sungguh kemampuan bahasa hanya sekedar efek samping dari sebuah pertemuan yang luar biasa. Dunia baru itu ibarat sepercik api yang terus membakar semangat untuk mencari dan mencari jawaban akan segala hal yang kami diskusikan.

Interaksi yang lekat dengan para pendiri inilah yang membangkitkan hasrat ingin tahu dan hasrat untuk berbagi. Yang terjadi kemudian adalah membekali diri dengan berbagai bacaan baik dari koran maupun buku-buku.

Aktivitas diskusi yang begitu intens, bagaimana tidak kalau hampir setiap hari kami bertemu, seperti membentuk sebuah karakter komunitas yang begitu kuat. Karakter itu barangkali sama dengan karakter yang di bangun oleh PM dalam Negeri 5 Menara-nya A. Fuadi, di mana hasrat belajar dan berfikir telah menjadi  nadi kehidupan para pendiri MAKES. Karakter itu rupanya telah melekat begitu kuat hingga ketika melanjutkan DIV saya tidak pernah menemukan semangat ingin tahu yang luar biasa sebelum bertemu dengan para pendiri MAKES. Masa kuliah 2 tahun di Jakarta benar-benar saya rasakan sebagai proses mencari ilmu, bukan sekedar mencari nilai. Entahlah..yang jelas saya ingin apa yang saya pelajari bisa dibagikan kepada MAKES.

Saat itu kebetulan saya lah yang berlatar belakang akuntansi. Saya sendiri juga tidak tahu mengapa kemudian seolah muncul rasa tanggungjawab moral untuk memahami masalah ekonomi. Setidaknya, kalau ada diskusi untuk merespon masalah kekinian tentang ekonomi ada kontribusi yang saya berikan. Akuntansi sebenarnya hanyalah bagian kecil dari ekonomi, tapi kebanyakan rekan mengaggap bahwa saya memahami ekonomi. ‘Tuduhan’ itu pula barangkali yang mendorong saya untuk belajar ekonomi. Makanya, begitu saya selesai DIV dan kembali ke Makassar saya langsung di daulat untuk membedah buku Ekonomi Syariah.

MAKES Membangun Keterampilan Menulis

MAKES sungguh tak hanya menawarkan petualangan pemikiran, tapi juga membentuk keterampilan jari jemari untuk menorehkan kata-kata yang pastinya sangat bermanfaat dalam menempuh pendidikan di negara empat musim. Bagaimana tidak, hampir seluruh penugasan mengharuskan menulis Essay ketika saya mengambil Master of Public Administration di ANU. Lagi-lagi, bekal adu argumen yang sering terjadi di MAKES sangat bermanfaat untuk menstimulasi fikiran dalam menyelesaikan tugas Critical Review. Tentu akan sangat sulit bagi seseorang untuk melakukan hal ini jika kemampuan mengkritisi tidak terasah setajam pisau. Apalagi tradisi pendidikan di negeri kita tidak begitu membiasakan mahasiswa untuk berfikir kritis. Klop lah sudah.

Kalau hingga saat ini saya masih sanggup menulis maka itu tak lain dan tak bukan karena pernah dipertemukan dengan rekans pendiri MAKES. Termasuk, kalau kemudian di lingkungan kerja saya masih terlihat begitu bersemangat meski berprofesi sebagai PNS maka sekali lagi tak lain dan tak bukan karena MAKES telah membentuk sebuah karakter….karakter petualangan pemikiran, karakter menggapai mimpi, karakter berbagi, dan karakter untuk melihat Indonesia menjadi lebih baik ….bukan sekedar bahasa Inggris…. Dan sekali lagi kalau lah hingga saat ini di usia saya yang mencapai pertengahan empat puluhan masih mempunyai semangat untuk belajar hingga saya mendapatkan beasiswa S3 ke Australia tentulah karena saya sempat mencicipi kesempatan bertemu dengan komunitas inspiratif MAKES…

*Tulisan ini pernah di posting di kompasiana pada tanggal 12 Oktober 2012 dengan Judul yang sama. Tulisan ini saya posting kembali di sini untuk menandai bahwa hari ini kami di Library Cafe BPKP Sulsel memulai aktivitas diskusi dalam bahasa Inggris. Smoga bermanfaat.

Makes 2

Reading Challenge Activities

Sebenarnya sudah lama ingin mengeksekusi aktivitas literasi ini. Tapi, seperti biasa, alasan klasik. Karena agak bosan dengan rutinitas beberapa minggu terakhir, iseng-iseng mencoba mendesain Reading Challenge yang sesuai dengan kondisi diri sendiri.

Di google sebenarnya banyak, hanya saja kebanyakan memang untuk anak sekolah. Tak mengapa, setidaknya, template yang bertebaran tersebut bias dimodifikasi. Hasilnya, template seperti di bawah ini. Anda bisa mendownload dengan bebas, tak perlu minta ijin ke saya. Saya sudah merasa sangat bersyukur seandanya ada yang menggunakannya.

Reading Challenge

Reading Challenge Activities

Peng-operasional-an-nya bagaimana? Template ini sepertinya (ya sepertinya karena saya juga baru mau memulai) akan sangat efektif seandainya kita lakukan secara Bersama. Maksud saya begini, ajak teman-teman di WA yang memiliki keinginan yang sama untuk membentuk reading habbit yang baik. Lalu, coba terapkan selama satu bulan, dan evaluasi apa yang sudah dilakukan.

Kalau saya, template tersebut saya tempel tepat di depan saya sehingga setiap hari bisa saya lihat. Setiap aktivitas yang sudah saya lakukan akan (baru mau mulai, sekarang masih trial dulu) di silang. Mengapa seperti itu? Sekedar biar eye catching saja apa yang sudah dilakukan. Biasanya, buat saya ini cukup berefek. Kalau selama sebulan tidak ada silangan sama sekali, secara psikologis saya agan menyesali kenapa saya hanya bisa men-set target. Sebaliknya, kalua ada silangan, apalagi dengan spidol merah yang tebal, saya akan bersemangat.

Untuk jenis aktivitas, sebenarnya ada banyak macamnya. Misalnya seperti usulan teman saya, give away buku jika sudah tiga bulan tidak dibaca-baca, atau donasi buku ke anak-anak yang membutuhkan, dan lain-lain. Terfikir untuk menambahkan, tapi kemudian saya hiraukan. Toh bulan September masih bisa saya ubah.

So, tunggu apa lagi, silakan download dan bangun reading habbit bersama-sama.

Jadilah Matahari

Sisi linguistik surat As Syam itu sangat sangat sangat menarik, termasuk intro, pilihan kata, serta susunan ayat-ayatnya yang super duper keren. Sisi menarik suatu surat sesungguhnya dapat kita nikmati ketika kita melihatnya sebagai satu kesatuan utuh, dari awal hingga akhir hingga kita bisa menemukan tema sentral suatu surat.

Tulisan berikut didasarkan pada kajian tafsir As Syam ustadz Muhammad Yahya yang diunggah di youtube. Video tersebut merupakan kajian tafsir pertama yang mengantarkan saya untuk menelusuri rahasia-rahasia Al Qur’an. Ustadz Yahya telah berhasil membuat saya jatuh cinta pada surat-surat dalam Al Qur’an. Sejak saat itu saya selalu dibuat penasaran, hingga akhirnnya saya ‘menemukan’ video-video tafsir Nouman Ali Khan yang tak kalah dahsyat.

Sumpah
Surat Asy Syam dimulai dengan kalimat yang menyatakan sumpah. Ayat pertama hingga ketujuh diawali dengan kata ‘wa’. Wasy syamsi, wal qamari, wannahar, wallaili, wassamaa’i, wal ardli, wannafsi. Demi matahari, demi rembulan, demi siang, demi malam, demi langit, demi bumi, demi jiwa.

Sebagaimana dalam tulisan saya sebelumnya, ‘wa’ menunjukan sumpah. Perlu dipahami bahwa komponen sebuah sumpah terdiri dari dua hal, sumpah itu sendiri dan pesan yang akan disampaikan. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang juga sering bersumpah, misalnya sumpah disamber geledek aku gak bohong. Jika dilihat dari komponennya, disamber geledek merupakan sumpah, aku gak bohong adalah pesan yang akan disampakkan.

Dalam konteks masyarakat Arab pada saat Al Qur’an diturunkan, seseorang bersumpah ketika ia ingin menarik perhatian pihak lain. Sumpah juga dilakukan untuk menekankan bahwa pesan yang akan disampaikan sangatlah penting. Sumpah dikatakan ketika orang tidak begitu mempercayai sesuatu.

Ayat-ayat yang mengandung sumpah pun memilki pesan yang sama: menarik perhatian, menekankan pentingnya sesuatu serta ditujukan untuk orang agar mau percaya.
Berbeda dengan manusia, sumpah-sumpah Allah selalu berkaitan dengan pesan yang akan disampaikan. Dalam contoh di atas, tidak ada hubungan antara geledek dengan bohong. Bagaimana dengan sumpah Allah dalam surat Asy Syam? Pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan Allah?

Menurut ustadz Muhammad Yahya, sumpah Allah dalam surat Asy Syam ini sangat sangat indah. Di surat As Syam ini Allah bersumpah dengan benda-banda ciptaan-Nya. Mari kita lihat bunyi ayat pertama hingga ketujuh:

“Demi matahari dan sinarnya di pagi hari. Demi bulan yang mengiringi. Demi siang apabila menampakkannya. Demi malam apabiĺa menutupinya. Demi langit serta pembinaannya (yang menakjubkan). Demi bumi dan penghamparannya. Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan) nya”.

Matahari-Bulan, Siang-Malam, Langit-Bumi
Komponen sumpah dalam Asy Syam ini sangat menarik. Masing-masing benda yang digunakan sebagai qasam atau sumpah saling berpasangan: matahari-bulan, siang-malam, langit-bumi. Lalu terakhir Allah menyatakan sumpahnya dengan jiwa, yang kepadanya diilhamkan kejahatan dan ketakwaan (ayat 8).

Ayat pertama hingga keempat memilki tema sentral pada matahari. Dalam hal ini kita diajak berfikir tentang alam semesta, tentang matahari dan fungsinya dalam kehidupan kita sebagai sumber kehidupan. Matahari juga menjadi sumber tenaga yang memungkinkan tumbuh-tumbuhan berfotosintesis. Matahari menjadi sumber kehidupan. Bayangkan jika tidak ada matahari, yang ada hanyalah kegelapan.

Di ayat selanjutnya Allah mengajak kita untuk berfikir tentang rembulan, rembulan yang selalu menjadi pengiring matahari. Rembulan medapatkan cahaya dari pantulan matahari. Pantulan cahaya matahari oleh rembulan membuat malam menjadi lebih terang. Rembulan dan matahari merupakan benda langit. Tapi, keduanya memiliki dan menjalankan fungsinya masing-masing.

Kemudian, Allah bersumpah demi siang ketika matahari sedang ber-tajali, ketika ia menampakkan cahayanya selepas malam yang gelap. Allah juga mengajak kita memikirkan malam, saat matahari tenggelam tertutupi oleh malam. Malam dan siang adalah kondisi yang kontras saling berlawanan. Meski demikian, keduanya dibutuhkan dan saling melengkapi.

Ayat kelima dan keenam Allah mengalihkan perhatian kita untuk memikirkan penciptaan langit dan bumi. Tentang penciptaan langit ini, surat Al Mulk menjelaskannya secara dahsyat.

Allah SWT berfirman:
“yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangi pandangan(mu) sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih (Al Mulk 3-4).”

Surat Al Mulk menunjukkan kesempurnaan penciptaan langit membuat kita tak mampu menemukan cacat sedikit pun hingga kita lelah mencari kelemahannya. Begitu juga dengan bumi, meski bentuknya bulat tapi terasakan seperti terhampar, dengan gunung-gunung sebagai pemancangnya.

Jiwa
Di ayat berikutnya, Allah bersumpah dengan nafs, dengan jiwa. Sebagaimana penjelasan di atas bahwa sumpah Allah selalu berkaitan dengan pesan yang akan disampaikan. Di surat As Syam ini Allah hendak menyatakan bahwa jiwa kita ibarat matahari. Seperti halnya matahari, jiwa yang bersih akan mampu menjadi penerang, mampu memantulkan cahayanya, dan menjadi sumber energi untuk menggerakkan serta menumbuhkan sesuatu.

Seseorang yang memiliki jiwa yang bersih, ia akan mampu memancarkan sinarnya dan menjadi penerang sekitarnya. Karena cahaya itu pula lah ia akan mampu memantulkan cahayanya. Jiwa yang terang akan mampu melahirkan rembulan-rembulan yang menjadi penerang lingkungan sekitarnya.

Begitu pentingnya memiliki jiwa yang terang hingga di ayat kesembilan dan kesepuluh Allah memerintahkan kita untuk menjaga kesucian jiwa: sungguh beruntung orang yang menyucikan (jiwa) itu. Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.

Dari kedua ayat ini kita bisa melihat pesan sentral surat Asy Syam. Dalam hal ini nafs atau jiwa diibaratkan sebagai matahari sebagaimana dalam ayat 1-6, bahwa jiwa atau nafs adalah sumber energi yang menjadi cahaya penerang. Sebagaimana matahari, jiwa pun bisa menjadi gelap gulita ketika tertutupi malam. Jiwa bisa menjadi kotor tertutupi oleh dosa-dosa yang tidak pernah dibersihkan.

Kisah Kaum Tsamud
Untuk menggambarkan jiwa yang kotor Allah memberikan contoh kisah kaum Tsamud. Masih ingat bagaimana kisah mereka?

Kaum tsamud dianugerahi kemampuaam memahat gunung-gunung batu menjadi bangunan-bangunan megah. Mereka juga diberikan anugerah tanah yang subur sehingga mereka mampu memproduksi hasil-hasil pertanian yang menjadikan negerinya makmur.

Kesemua nikmat itu ternyata justru membuat mereka menjadi sombong. Singkat cerita, Allah mengutus Nabi Shalih dan memberikan unta betina sebagai mukjizat agar kaum tsamud mempercayai pesan yang disampaikan oleh Nabi Shalih. Kegelapan jiwa telah membutakan mereka hingga unta betina itu pun mereka sembelih. Dalam surat Asy Syam, kisah bagaimana kaum tsamud mendustakan Allah ada di ayat 11 hingga surat terakhir.

Struktur surat Asy Syam sangat menarik bukan? Dimulai dengan sebuah sumpah yang begitu indah, lalu dilanjutkan dengan pesan sentral yang mengibaratkan jiwa sebagai matahari. Lalu Allah mewanti-wanti manusia akan pentingnya melakukan pembersihan jiwa. Di bagin akhir surat, Allah memberikan contoh nyata tentang gelapnya jiwa.

Tentang kegelapan jiwa ini jika kita merujuk kembali pada sumpah di awal surat, kita akan mendapati keterkaitannya dengan pesan yang ingin disampaikan. Ayat 4 dikatakan, demi malam apabila menutupinya. Kisah kaum Tsamud menunjukkan contoh kegelapan saat jiwa begitu kotor, saat jiwa tak pernah disucikan.

Satu hal lagi yang menarik dalam surat Asy Syam ini adalah soal pilihan kata. Dalam ayat 9 dinyatakan sungguh beruntung orang-orang yang menyucikan jiwa, qad aflaha man zakkaha. Mengapa Allah menggunakan aflaha, bukan kata yang lain sementara ada kata lain yang memilliki arti yang sama.

Orang-orang yang Beruntung
Menurut ustadz Yahya aflaha ini memiliki arti yang spesifik. Aflaha bukanlah keberuntungan yang diperoleh karena ke-bejo-an. Aflaha merupakan gambaran kegembiraan petani saat panen tiba. Kegembiraan petani bukanlah kegembiraan yang didapatkan sesaat, tapi kebahagian yang didapatkan setelah melalui perjuangan yang panjang. Petani tak akan memanen jika ia tidak menanam. Petani butuh menanam, merawat, rawat, menjaga, dan memastikan pengairannya. Proses ini tak cukup satu bulan, tapi beberapa bulan yang mengharuskan mereka untuk menjaga kesabaran sampai menuai hasilnya.

Qad aflaha man zakkaha menunjukkan janji Allah bahwa barang siapa yang membersihkan jiwanya, ia adalah orang-orang yang beruntung. Zakkaha, bukan tazakkka sebagaimana dalam surat al a’la, menekankan pada proses penyucian jiwa.

Artinya, selama kita melakuan tindakan penyucian jiwa, maka kita termasuk dalam aflaha, orang-orang yang beruntung. Soal apakah hasilnya menjadi suci atau tidak, menurut ustadz Yahya, itu bukan urusan kita. Allah lah yang akan menyucikannya.
Allah tidak menuntut kita menjadi orang suci. Sebaliknya, kita hanya berkewajiban untuk melakukan proses pembersihan jiwa. Selama proses itu kita jalankan, maka Allah menjanjikan aflaha atau keberuntungan.

Jadi?

Surat Asy Syam mengajak serta mengajarkan kita bagaimana menjadi matahari.. matahari yang dapat menerangi kehidupan, matahari dapat melahirkan rembulan-rembulan di sekitarnya…

Wallahu a’lam

SANG PENYAIR

Salah satu yang menjadi pertanyaan saya dalam memahami Al Qur’an adalah tentang penamaan surat. Mengapa suatu nama dilekatkan pada suatu surat? Mengapa nama itu, dan bukan nama lain?

Salah satu surat yang menarik untuk ditelisik namanya adalah As Syuara yang berarti Penyair. Tulisan berikut mencoba melihat lebih jauh tentang penamaan tersebut, termasuk mengapa Allah menamakannya sebagai As Syuara jika porsi pembahasan yang lebih banyak justru kisah para nabi?

Struktur Surat
Surat Asy Syuara ini cukup panjang, 227 ayat. Saat membaca terjemahan surat tersebut satu persatu saya baca ayat demi ayat demi ayat. Terbersit rasa keheranan, kok saya tidak segera mendapati kisah penyair? Jangankan kisah, kata penyair saja tidak segera saya temukan.

syuara sketsa

Kata tersebut baru saya dapati di ayat ke-224, ayat keempat dari belakang. Penjelasannya pun ya hanya di empat ayat itu, mulai 224 hingga 227. Penasaran bukan? Nama suratnya Asy Syuara tapi penjelasan tentang Asy Syuara hanya ada di empat ayat, di akhir surat pula.

Cukup lama saya coba cari jawabannya lewat google. Tapi kok ya tidak saya temukan satu artikel pun yang menjawab pertanyaan saya. Beberapa artikel hanya menyebutkan garis besar apa saja kandungan ayat, tapi tidak menjelaskan keterkaitan antar topik-topik.

Petunjuk itu saya dapatkan setelah mendengar kajian Nouman Ali Khan tentang Surat Asy Syuara ini. Untuk memudahkan pemahaman, silakan cermati gambar di atas yang merupakan sketsa surat As Syuara. Secara garis besar, Surat ini lebih banyak bercerita tentang Nabi-Nabi, dimulai dari, Nabi Musa, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Lut, dan terakhir Nabi Syuaib.

Setelah di awali dengan huruf muqattaah (ta sin mim) di ayat pertama, Allah langsung menyebutkan tentang Al Quran, kitab yang jelas. Seteah itu dibahas panjang lebar tentang kisah tujuh nabi, baru kemudian dibahas lagi tentang Al Qurán. Pembahasan terakhir mulai ayat ke 224 baru disebut tentang penyair.

Kalau Anda cermati dalam sketsa kasar di atas, ada simetri dalam struktur surat ini sebagaimana simetri dalam ayat kursi. Sebelum dan sesudah kisah para Nabi, Allah memberikan ketegasan tentang Al Qur’an kitab yang jelas.

Kisah Para Nabi
Lalu, apa hubungannya kisah para Nabi yang diceritakan begitu panjang dengan empat ayat yang membahas tentang penyair?

Baiklah, jadi begini.

Ayat-ayat dalam surat Asy Syuara ini ternyata banyak yang diulang-ulang, bahkan hingga empat kali. Pada prinsipnya ayat-ayat yang diulang-ulang tersebut berkisah tentang bagaimana Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Salih, dan Nabi Syuaib mengajak umatnya untuk bertakwa. Dimulai dengan narasi bagaimana para nabi tersebut bertanya kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?” Lalu, narasi ayat dilanjutkan penjelasan dan penekanan bahwa mereka adalah rasul yang diutus kepada mereka agar bertakwa kepada Allah dan mentaatinya. Selanjutnya, dalam kisah tersebut Allah juga memberikan penegasan bahwa Nabi-Nabi tidak meminta imbalan dari mereka, tapi dari Allah.

Detil ayat-ayat yang berulang dapat Anda cermati pada gambar di bawah/atas ini.

Syuara

Pola pengulangan ayat-ayat sebenarnya sekaligus menunjukkan adanya kemiripan struktur surat dengan syair (ref:celiktafsir.net). Ya, bukankah dalam syair juga ada kaidah pengulangan? Hal ini bisa kita lihat dari pola pengulangan kata dan kalimat, serta ayat-ayatnya yang pendek.

Dalam surat As Syuara, Nabi Musa dan Nabi Ibrahim dikisahkan secara lebih mendetail dibandingkan Nabi-Nabi lainnya. Meski begitu, pesan yang dibawa keduanya sama persis dengan Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Lut, dan Nabi Syuaib. Nabi Musa mengajak Fir’aun untuk menyembah Allah. Nabi Ibrahim menghancurkan patung-patung berhala dan mengajak Raja Namrud, ayahnya, serta masyarakat kala itu untuk menyembah hanya kepada Allah.

Kisah Nabi VS Penyair
Lalu, mengapa dalam surat ini penyair baru disinggung di ayat ke 224 dari 227? Mengapa Allah harus menceritakan kisah para nabi terlebih dahulu sebelum menutupnya dengan kisah para penyair? Apa hubungan kisah para nabi tersebut dengan penyair?

Di surat ini Allah hendak mengkomparasikan beberapa hal antara para nabi dengan pesan penyair. Pertama, pesan. Seluruh nabi membawa pesan yang sama, tidak berubah, meski sang pembawa pesan berganti dan berjarak ribuan tahun. Nabi yang datang berikutnya membenarkan pesan nabi yang lain, tidak ada perselisihan. Pesan yang dibawa sama, tidak berubah: mengajak hanya menyembah hanya kepada Allah; taat kepada Nabi. Kedua, reward. As Syuara menegasan bahwa para nabi tidak meminta imbalan sedikitpun dari umatnya. Allahlah yang akan memberikan imbalan.

Bagaimana dengan para penyair?

Dalam hal ini saya mengacu pada pendapat Nouman Ali Khan yang mengatakan bahwa para nabi dan penyair memiliki peran yang mirip. Keduanya membawa dan menyebarkan pesan kepada khalayak. Namun, berlawanan dengan para Nabi, para penyair dituntut untuk selalu menampilkan hal-hal baru. Mereka harus bisa menciptakan sajian-sajian yang berbeda, tak hanya berbeda dengan penyair lain, tapi untuk setiap penampilan mereka harus membawa sesuatu hal yang berbeda. Dalam konteks masa kini, Nouman mengatakan bahwa penyair ini sama halnya dengan entertainment industry.

Mengapa para penyair ini harus selalu menampilkan hal yang baru? Bayangkan saja seandanya seorang komedian selalu membawakan komedi yang sama. Atau, bayangkan saja jika seorang sastrawan selalu membacakan puisi yang sama dari waktu ke waktu. Atau, seorang penyanyi yang hanya memiliki satu lagu andalan seumur hidup. Apa yang akan terjadi? Mereka akan ditinggalkan penggemarnya.

Berbeda dengan para nabi, pesan yang dibawa sama, tidak berubah. Tidak peduli apakah mereka dihina, di cela, dicerca, dimusuhi oleh umatnya, pesannya tidak pernah berubah sama sekali. Nabi Nuh, sekian ratus tahun berdakwah hanya mendapatkan beberapa pengikut. Tapi, Nabi Nuh tidak pernah mengubah pesannya. Nabi Syuaib juga sama, mengajak penduduk Aikah untuk menyembah hanya kepada Allah dan menjauhi perilaku curang. Karena pesan tersebut, Nabi Syuaib juga mendapat perlawanan. Meski begitu, Nabi Syuaib tak pernah merubah pesan yang dibawanya. Hal yang sama juga terjadi pada nabi-nabi yang lain.

Mengapa?

Sebagaimana telah disebutkan dalam surat Asy Syuara, para nabi hanya mengharapkan imbalan dari Allah, bukan dari manusia, “Dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan ini; imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam” (Asy Syara 109, 127, 145, 164).

Sebaliknya, menurut Nouman Ali Khan, entertainment industry justru mengandalkan hidupnya dari penggemar. Meraka akan berusaha sekuat tenaga untuk memikat para penggemar karena dari merekalah para penyair ini mendapatkan penghasilan. Mereka akan berusaha melakukan apa saja untuk mendapatkan perhatian, termasuk berusaha untuk selalu menampilkan hal-hal baru. Jika tidak, ia akan ditinggalkan oleh penggemarnya. Bahkan, mereka akan melakukan apapun, meski membahayakan hidup mereka.

Seorang penyair di masa lalu pun demikian. Di masa lalu, saat dimana tidak ada TV, radio, internet, game, kehadiran penyair adalah satu-satunya yang dapat menjadi hiburan masyarakat. Cerita, kisah, syair, dan nyanyian yang dibawa oleh para penyair mampu membius imajinasi masyarakat Arab kala itu yang disekitarnya hanya ada padang pasir.

Mengapa diturunkan As Syuara

Kalau demikian, mengapa Allah harus menurunkan surat ini?
Dalam memahami Al Qur’an, Nouman Ali Khan sering menekankan untuk memahami siapa audience yang menjadi target suatu pesan. Secara singkat, kepada siapakaha ayat-ayat ditujukan? Audience pertama surat ini tentu Rasulullah SAW. Di awal surat Asy Syuara ini, kita bisa menangkap bagaimana Allah mencoba menenteramkan hati Rasulullah.

“Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman. Jika kami kehendaki niscaya Kami menurunkan kepada mereka mukjizat dari langit, maka senantiasa kuduk-kuduk mereka tunduk kepadanya. Dan sekali-kali tidak datang kepada mereka suatu peringatan baru dari Tuhan Yang Maha Pemurah, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya.” (QS 26: 3-6)

Lalu, di ayat 9, Allah mengatakan, “Dan sungguh, Tuhanmu Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang”. Ayat tersebut kalau dikaitkan dengan ayat-ayat pertama dapat menjadi penguat hati Rasulullah saat menerima tekanan dan cobaan dari kaum Qurasy . Di ayat-ayat berikutnya setelah Allah menceritakan kisah para Nabi, Allah kembali menegaskan hal yang sama. Mari kita lihat ayat-ayat berikut:

Ayat 68 “Dan sesungguhnya Tuhanmu Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang”
Ayat 104, “Dan Sungguh, Tuhannmu benar-benar Dialah Maha Perkasa, dan Maha Penyayang”
Ayat 122, “Dan sungguh, Tuhanmu, Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang”
Ayat 140,”Dan sungguh, Tuhanmu, Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang”
Ayat 159, “Dan sungguh, Tuhanmu, Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang”
Ayat 175, “Dan sungguh, Tuhanmu, Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang”
Ayat, 191, “Dan sungguh, Tuhanmu, Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang”

Di Ayat 217, Allah kembali menegaskan pesan yang dibawa oleh Rasulullah, “Dan bertakwalah kepada (Allah) yang Maha Perkasa, Maha Penyayang”.

Penyair yang dikecualikan

Surat As Syuara ditutup dengan sebuah ending yang begitu memikat. Di ayat terakhir, Allah memberikan pengecualian atas para penyair yang beriman, berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah.

Struktur dan isi surat yang menarik bukan? Sebagaimana komentar Nouman Ali Khan dalam kajian-kajiannya, pada prinsipnya ayat-ayat Al Qur-an itu seluruhnya membawa pesan yang sama. Jika dirangkum intinya adalah menyembah hanya kepada Allah, taat kepada Rasulullah, dan percaya kepada hari kiamat. Namun, struktur tiap-tiap surat memiliki ke-khas-an sendiri yang membuatnya sungguh teramat unik dan so so so amazing…
*Sekedar informasi, celiktafsir ini adalah laman tafsir yang menarik dan detail. Tulisan ini pun mengambil referensi dari sana, selain juga dari kajian Nouman Ali Khan. Hanya memang sajiannya dalam bahasa Malaysia membuat kita perlu mengkonversinya dalam bahasa Indonesia.

Laba-Laba

Al ankabut

Memahami suatu surat sebagai satu kesatuan teks yang utuh memang tidak mudah, apalagi untuk surat dengan jumlah ayat yang panjang. Ekstra effort perlu dicurahkan untuk memahami keterkaitan antara satu ayat dengan ayat lain.
Dalam banyak hal, saya sering gagal paham. Tapi, begitu satu rangkaian cerita bisa kita pahami, wow…sungguh menakjubkan.

Salah satu surat yang saya maksud adalah Al Ankabut. Ketertarikan saya pada surat ini berawal ketika tanpa sengaja saya mendengar murottal Mishari Rasyid Alafasyi hampir setahun lalu. Lantunan Mishari dalam surat ini berbeda dengan surat-surat yang biasa saya dengar. Kalau dalam surat lain nada suara Ustadz Mishari terdengar syahdu, Al Ankabut dilafalkan dengan nada yang tinggi, cepat, dan bersemangat.
Sejak itulah Al Ankabut menemani hari-hari saya. Bahkan, sampai sekarang pun masih susah move on ke surat lain.

Ada banyak hal yang menarik untuk digali dari surat ini. Pertanyaan pun bermunculan satu per satu begitu membaca terjemahannya. Pertanyaan pertama tentu saja: mengapa dinamakan Al Ankabut? Padahal, kalau kita cermati, dari jumlah ayat sebanyak 69, kata Ankabut hanya disebut dua kali dalam satu ayat, yaitu yang ke 41. Selain ayat ke 41, Allah tidak menyebut kata yang berarti laba-laba tersebut dalam ayat sebelum maupun sesudahnya.

Dalam dunia tulis menulis, judul menggambarkan tema sentral suatu tulisan. Dari judul, kita bisa menebak ke mana arah suatu tulisan. Dengan membaca judul, biasanya kita juga bisa menangkap apa yang akan diceritakan dalam satu tulisan, karena judul melingkupi seluruh narasi tulisan.

Lalu, mengapa kaidah penjudulan ini sepertinya tidak berlaku dalam surat Al Ankabut? Benarkah begitu? Firman Allah dalam ayat ke 41 yang menyatakan tentang rumah laba-laba adalah sebagai berikut:

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui”.

Saya yakin, Anda pasti sering atau minimal pernah mendengar ayat ini, ayat di mana Allah membuat perumpamaan rumah laba-laba untuk menggambarkan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah. Sebagaimana rumah laba-laba, pelindung selain Allah adalah pelindung yang lemah.

Pengetahuan saya tentang perumpamaan Allah dengan mengambil rumah laba-laba hanya sebatas itu saja. Apa hubungan rumah laba-laba dengan kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Nabi Luth, dan Nabi Musa yang juga diceritakan dalam surat Al Ankabut, saya benar-benar blank. No clue at all alias ndak mudeng babar blas.

Termasuk dalam hal ini, mengapa Allah mengawali surat ini dengan pertanyaan: Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman” dan mereka tidak diuji? Apa maksudnya? Apa hubungannya dengan laba-laba?

Alhadulillah, beruntunglah saya karena kajian Nouman Ali Khan cukup memberikan pencerahan sehingga sedikit demi sedikit pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab. Tulisan berikut saya sandarkan pada pendapat Nouman Ali Khan yang ada dalam video tentang Surat AL Ankabut.

Assabiqunal Awwalun
Asbabun Nuzul surat ini adalah kisah para sahabat, para assabiqunal awwalun yang mendapatkan ujian penyiksaan secara fisik oleh kaum Quraisy karena keimanan mereka, termasuk dalam hal ini adalah Amr bin Yasir. Amr pun juga berhasil mengajak ayah, Yasir bin Amr, dan ibunya, Sumayyah, sehingga mereka mendapat hidayah dari Allah.

Keluarga Amr merupakan keluarga miskin yang sering menjadi sasaran penyiksaan kaum Quraisy karena keimanan mereka. Penyiksaan demi penyiksaan yang mengerikan mereka terima tanpa menyurutkan keimanan kepada Allah. Orang tua Amr bahkan meninggal akibat penyiksaan tersebut.

Di masa-masa itu, muslimin belum memiliki kekuatan untuk melawan. Nasehat yang diberikan oleh Rasulullah saat itu adalah agar mereka bersabar. Peristiwa ini tergambarkan dalam ayat-ayat awal surat Al Ankabut:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “kami telah beriman” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta” (Al Ankabut 2-3).

Ayat berikutnya memberikan penekanan untuk meyakinkan bahwa penyiksaan yang diterima sebagai konsekuensi tidak akan sia-sia. Allah bahkan menjanjikan pertemuan dengan mereka yang mengharap pertemuan dengan-Nya (ayat 5). Allah juga menyatakan bahwa orang-orang yang beriman akan dihapuskan kesalahannya dan akan mendapatkan balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan (ayat 7). Sebaliknya, Allah juga menegaskan bahwa mereka yang mengerjakan kejahatan, tidaklah luput dari azab Allah (ayat 4).

Selain ujian tekanan fisik, secara psikologis para sahabat pun mendapatkan ujian mental. Kisah Sa’d bin Abi Waqqash menggambarkan bagaimana ia harus menguatkan hati untuk mempertahankan iman sementara di sisi lain sang ibu begitu menentangnya. Sa’d memeluk Islam di usia yang masih muda, 17 tahun. Masuknya ia ke dalam Islam ditentang oleh Ibunya dan dengan usaha keras sang ibu ingin anaknya kembali pada keyakinan semula dan tradisi leluhur.

Diriwayatkan oleh Muslim, at Tirmidzi dll, Ummu Sa’d berkata kepada anaknya: “Bukankah Allah menyuruh engkau berbuat baik kepada ibu-bapakmu? Demi Allah, aku tidak akan makan dan minum sehingga aku mati, atau engkau kufur (kepada Muhammad)”

Sa’d adalah anak yang berbakti dan sangat menyayangi ibunya. Namun, kecintaannya kepada ibu tak menggoyahkan imannya, hingga kemudian turunlah ayat ke 8 Al Ankabut:

“Dan kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk menyeutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Haya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Kisah Para Nabi
Lalu, mengapa Allah harus mengisahkan tentang Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Luth, Nabi Syuaib, dan Nabi Musa? Kisah para nabi tersebut untuk memberikan penguatan kepada Rasulullah dan para sahabat, tentu bagi kita juga, bahwa para nabi sebelumnya pun juga mendapatkan ujian dari Allah. Nabi Nuh bahkan mengalami ujian yang begitu lama, selama 950 tahun bahkan Nabi Nuh berhadapan dengan para penentangnya.

Hal yang sama juga dialami Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim harus berhadapan dengan ayahny, pembuat patung yang menjadi sembahan kaumnya. Lalu, kemudian Nabi Ibrahim menghancurkan patung terbesar hingga membut murka Raja Namrud yang mengantarkannya ke api pembakaran. Begitu juga yang terjadi dengan Nabi Luth dan Nabi Syuaib, ujian, cobaan dan penentangan dari kaumnya harus dihadapi. Nabi Luth diolok-olok, dikucilkan, dan diusir dari kampungnya dan ditentang oleh istrinya sendiri.

Tak jauh berbeda dengan kisah Nabi Musa yang harus menghadapi Fir’aun. Bukankah Fir’aun lah yang membesarkannya memberikan pendidikan sejak bayi hingga ia menjadi seorang pemuda? Terlepas dari kekejamannya, bukankah tentu ada ikatan antara ayah dan anak, meski bukan anak biologisnya?

Kisah-kisah para nabi memberikan gambaran bahwa dalam setiap ujian yang mereka hadapi, pertolongan Allah begitu dekat. Nabi Nuh diselamatkan dengan kapalnya, Nabi Ibrahim diselamatkan dari api yang hendak membakarnya, Nabi Musa diberikan mukjizat berupa tongkat yang dapat membelah lautan yang menenggelamkan Fir’aun.

Kisah-kisah tersebut adalah penguat hati, penguat iman, penguat keyakinan bagi Rasulullah, sahabat, dan kita bahwa setiap ujian keimanan, Allah selalu menyertakan pertolongan.

Sebaliknya, kisah-kisah tersebut juga memberikan gambaran bahwa mereka yang mengambil pelindung kepada selain Allah, akan sangat mudah sekali dihancurkan sebagaimana rumah laba-laba. Kaum Nabi Nuh hanyut oleh banjir, Fir’aun tenggelam di lautan, Kaum Nabi Luth dihujani dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi (Qs Huud:82-83). Sementara Kaum Nabi Syuaib dibinasakan oleh suara yang mengguntur hingga mereka mati bergelimpangan di rumahnya (QS Huud: 94-95).

Jadi?

Untuk mendapatkan pemahaman yang utuh tentang suatu ayat dibutuhkan pemahaman yang menyeluruh, bukan sekedar memilah dan memilih satu ayat sebagaimana yang pernah saya lakukan. Hal yang sama dengan pertanyaan saya tentang judul surat ini. Meski hanya disebut dua kali dalam satu ayat, di antara 68 ayat lainnya dalam surat Al Ankabut, rumah laba-laba memang merepresentasikan tema sentral surat tersebut.
Menakjubkan bukan…

Benih, Air, Api

Dalam percakapan sehari-hari, kita tidak menggunakan tone atau nada yang selalu sama dalam setiap peristiwa. Nada rendah, sedang, dan tinggi bisa berganti tergantung konteksnya, termasuk dalam hal ini kepada siapa kita berbicara.

Hal yang sama juga kita jumpai pada ayat-ayat dalam Al Qur’an. Nada yang digunakan berbeda-beda tergantung kepada siapa ayat tersebut ditujukan, tergantung bagaimana peristiwa saat itu, dan tergantung isi pesan yang dibawa.

Sayangnya, nada yang saya gunakan ketika membaca Al Qur’an konstan, datar, tetap, dan monoton, tak peduli peristiwanya seperti apa. Padahal, kalau kita bisa menangkap maknanya, dalam membaca pun juga seharusnya nadanya berbeda, sesuai dengan audience, pesan, dan peristiwanya.

Bukankah narasi dalam Al Qur’an bermacam-macam: ada kisah, ada perintah, ada dialog, ada pertanyaan, ada jawaban, ada nada lembut, dan ada nada keras, ada nada kasih saying, ada nada kemarahan. Dari sisi audience, Allah tidak hanya berbicara kepada orang-orang yang beriman, tidak hanya berbicara kepada Nabi Muhammad, tapi juga kepada mereka yang ingkar terhadap hari kiamat, kepada mereka yang kufur nikmat, juga kepada mereka yang menentang dakwah Rasulullah.

Contoh yang paling menarik dan mengharu biru dapat kita temukan dalam Surat Al Waqiah. Surat yang berjumlah 96 ayat ini bercerita tentang hari kiamat, sebagaimana arti judulnya, Al Waqiah. Sebagai gambaran umum tentang surat ini, silakan mencermati sketsa Al Waqiah dalam gambar di bawah/atas.

al waqiah

Tiga golongan
Di bagian awal, Allah memberikan gambaran umum tentang hari kiamat: kejadian yang tak bisa disangkal; merendahkan satu golongan meninggikan golongan yang lain; bumi digoncangkan sedahsyatnya; gunung dihancur luluhkan hingga menjadi debu yang beterbangan. Lalu, dilanjutkan dengan bagaimana manusia terbagi menjadi tiga golongan: golongan kanan (ashabul maimanah); golongan kiri (ashabul masyamah); dan assabiqunas sabiqun (orang yang terdahulu).

Ketiganya digambarkan secara runtut. Bagi gologan kanan dan assabiqunassabiqun, Allah gambarkan nikmatnya kehidupan mereka di surga. Mereka berada di atas dipan bertahta emas dan permata, mereka bisa makan dan minum apapun yang mereka suka, mereka juga disediakan air yang terus mengalir, dan nikmat lainnya.

Sebaliknya, bagi golongan kiri Allah juga menggambarkannya dengan jelas. Dalam tulisan ini, saya ingin mengulas lebih banyak tentang golongan kiri ini. Lebih tepatnya tentang dialog Allah dengan golongan kiri ini.

Dialog dengan Golongan kiri
Setelah Allah menceritakan golongan kanan, narasi selanjutnya dalam surat Al Waqiah adalah golongan kiri. Mulai dari sini, Allah menceritakan kesengsaraan yang mereka alami: dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih, serta dinaungi asap yang hitam.

Kemudian, Allah mengajak kita flash back, mencari jawaban mengapa golongan kiri tersebut mendapatkan balasan semacam itu. Ternyata ada tiga hal yang mereka lakukan sehingga membawa kesengsaraan di hari kiamat: bermewah-mewah saat hidup di dunia; terus menerus mengerjakan dosa besar; tidak mempercayai hari kebangkitan.

Menariknya, gambaran tentang ketidakpercayaan mereka terhadap hari kiamat dan jawaban Allah tentang pertanyaan mereka dinarasikan dengan dialog yang sangat-sangat menggetarkan yang dapat membuat bulu kuduk berdiri. Sebagaimana prolog di atas, nada yang di gunakan oleh Allah terdengar begitu keras menunjukkan adanya kemarahan.

Mulai dari ayat 47, kita bisa melihat dialog Allah dengan orang-orang yang mempertanyakan adanya hari kiamat dan menyangsikan bahwa Al Qur’an adalah kitab Allah, bukan dari kata-kata yang dikarang oleh Nabi Muhammad. Dalam hal ini Nouman Ali Khan menyatakan bahwa pesan dari ayat-ayat tersebut ditujukan untuk mereka yang skeptis terhadap hari kiamat, dan terhadap AL Qur’an. Mari kita baca dengan suara keras dialog dalam ayat-ayat tersebut berikut ini. Jangan lupa, sesuaikan nadanya dengan tanda bacanya, selayaknya sebuah dialog.
———
Dan mereka berkata, “apakah kami sudah mati, menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali? Apakah nenek moyang kami yang terdahulu (dibangkitkan pula)?(47-48)

Katakan, “(Ya), sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan yang kemudian, pasti semua akan dikumpulkan pada waktu tertentu, pada hari yang sudah dimaklumi.” (49-50)

“Kemudian sesungguhnya kamu, wahai orang-orang yang sesat lagi mendustakan! Pasti akan memakan pohon Zaqqum, maka akan penuh perutmu dengannya. Setelah itu kamu akan meminum air yang sangat panas. Maka kamu minum seperti unta (yang sangat haus) minum. Itulah hiduangan untuk mereka pada hari pembalasan” (51-56)

“Maka adakah kamu perhatikan, tentang (benih manusia) yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, ataukah Kami penciptanya?” (59)

“Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan? Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan sampai lumat, maka kamu akan heran tercengang.” (63-65)

“Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur?

Maka pernahkah kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan (dengan kayu)? Kamukah yang menumbuhkan kayu itu ataukah Kami yang menumbuhkan? Kami menjadikan (api itu) untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir.” (68-73)
——
Tidak percaya pada hari kiamat
Dari ayat di atas kita bisa melihat bagaimana golongan kiri mempertanyakan tentang hari kebangkitan. Dalam konteks hari ini mungkin pertanyaannya bisa seperti ini: apa iya sih kita nanti dibangkitkan? Bagi kita yang hdup di negara dengan mayoritas penduduk muslim, bisa jadi pertanyaan semacam ini agak aneh. Kita di Indonesia, saya yakin, semua percaya percaya dengan hari kiamat. Meskipun, dalam kehidupan sehari-hari sering perilakunya tidak mencerminkan orang yang mempercayai hari kiamat, contoh nyatanya ya saya sendiri.

Sebaliknya, bagi mereka yang hidup dibarat di mana kebanyakan penganut atheis, konsep hari kiamat mungkin tidak masuk akal.

Kalau melihat konteks turunnya surat ini, pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan kaum Quraisy yang selalu mengolok-olok dakwah Rasulullah SAW. Tentang hal ini, banyak ayat-ayat Qur’an yang menggambarkan tentang ketidakpercayaan mereka.

Tantangan kepada golongan kiri

Lalu, pertanyaan tersebut dijawab oleh Allah tentang kepastian datangnya hari kiamat. Perhatikan nada dalam ayat 51-56. Di sana Allah menggambarkan keadaan mereka, dari makanan berupa pohon Zaqqum dan minuman air yang sangat panas sebagai balasan bagi mereka.

Dialog berikutnya sangat-sangat menarik, sekaligus sangat menggetarkan. Allah menantang golongan kiri tersebut yang begitu arogan tidak mau beriman, sementara bukti-bukti di alam semesta begitu gamblang. Sederet pertanyaan tersebut, menurut Nouman Ali Khan, ditujukan oleh Allah untuk meruntuhkan kesombongan mereka.

Dalam hal ini, Allah mempertanyakan tentang penciptaan benih (manusia), benih yang ditanam,, air yang kita minum, air hujan, dan api. Di ayat ke 62-65, misalnya, begitu kerasnya pernyataan Allah: Pernahkan kamu perhatikan benih yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan? Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan sampai lumat, maka kamu akan heran tercengang.

Pernyataan tersebut mengajak kita untuk berfikir tentang tumbuh-tumbuhan yang kita tanam. Contoh sehari-hari bisa kita ambil saat kita menanam bibit buah. Dari pemilihan benih, pupuk, dan proses penanaman sudah kita lakukan dengan baik. Lalu kemudian, pohon yang kita tanam memberikan hasil yang melimpah. Siapa yang sebenarnya berperan dalam menghasilkan buah? Memang, kita yang menanam. Tapi bagaimana dengan cahaya matahari, bagaimana dengan air yang kita gunakan untuk menyiram, siapakah yang menciptakan? Bisakah kalau tanpa matahari dan air, buah-buahan itu akan tetap tumbuh?

Hal yang sama dengan air yang kita minum, air hujan, dan api. Manusia hanya bisa menggunakan, tapi tidak bisa menciptakan.

Makanya, kalimat yang digunakan oleh Allah pun juga begitu keras: Kamukah yang menurunkannya dari awan, ataukah kami yang menurunkan. Kamukah yang menumbuhkan kayu itu, atau Kami yang menumbuhkannya?

Kuda yang Terengah-engah

“The message of the Quran is straight, very simple, but the power of the Qur’an is not just in what it says, but in how it says”

Kutipan di atas saya dapatkan saat menyimak kajian Nouman Ali Khan tentang surat Al Adiyat. Nouman memang selalu menekankan bahwa yang menarik dari Al Qu’an itu bukan hanya pesan-pesannya, tapi juga bagaimana pesan-pesan tersebut tersusun menjadi satu rangkaian yang sangat indah. Hal seperti ini yang baru saya sadari tiga tahun terakhir ini.

Saya yakin, banyak di antara Anda yang sudah hafal surat Al Adiyat . Yang tertancap di kepala saya, surat tersebut bercerita tentang kuda perang. Cuma ya gitu deh. Saya tidak pernah tahu, mengapa Allah harus menceritakan kepada kita tentang kuda? Apa hebatnya seekor kuda? Kok, kuda saja harus dimasukkan dalam Al Qur’an.

Seperti biasa, tulisan ini saya sandarkan pada video kajian Nouman Ali Khan yang selalu mampu menyajikan kajian tafsir secara emejing dan juga situs celiktafsir. Saya sertakan juga sketsa ayat agar dapat melihat secara mudah keseluruhan struktur surat Al Adiyat.

Al adiyat

Struktur Surat

Pertama, mari kita lihat struktur ayat-ayat yang membentuk satu kesatuan utuh. Struktur surat Al Adiyat sebenarnya mirip dengan beberapa struktur surat lain dalam Juz 30, di mana Allah memulai dengan sumpah atau qasam, lalu diikuti dengan jawabul qasam, atau jawaban dari sumpah. Kalau Anda sudah membaca tulisan saya tentang As Syam, dengan mudah Anda akan bisa mengidentifikasi mana sumpah, dan mana jawabannya.

Hanya saja, dalam surat Al Adiyat ini ada yang unik yang membedakannya dengan surat yang lain. Kalau dalam As Syam, pernyataan sumpah di ayat kedua dan beberapa surat berikutya mennggunakan kata ‘wa’, (wa syamsi wa dhuha ha, wal qamari idza talaha), surat Al Adiyat menggunakan kata ‘fa’.

Saya yakin Anda cukup familier dengan dua kata tersebut, ‘wa’ dalam sebuah sumpah diterjemahkan sebagai ‘demi’. Hal yang sama juga dinyatakan pada ayat pertama Al Adiyat, wal adiyati dhobha, demi kuda perang yang berlari kencang.

Kata ‘fa’ menunjukkan adanya kelanjutan cerita atas subjek yang sama. Di ayat kedua hingga kelima, subjeknya masih sama, kuda perang. Hanya saja, kata kerja dan kata keterangannya berbeda. Tidak demikian dengan ayat kedua As Syam yang dimulai dengan ‘wa’, yang mengindikasikan subjek yang berbeda. Di ayat pertama As Syam bercerita tentang matahari, ayat kedua tentang bulan.

Jadi, ayat pertama hingga kelima Al Adiyat ini, sumpah tersebut menceritakan tentang subyek yang sama, yaitu tentang apa yang dilakukan oleh kuda perang. Dimulai dari kuda yang terengah-engah, memercikkan api, menyerang di pagi hari, menerbangkan debu, dan menyerbu di tengah-tengah. Keseluruh rangkaian cerita tentang kuda tersebut adalah qasam.

Sebagaimana sebuah sumpah selalu ada jawabul qasam atau inti yang akan kita katakana. Tidak mungkin kita hanya mengatakan demi Allah, misalnya, lalu stop, titik, berhenti. Tapi, kita akan menyertainya dengan jawaban pesan apa yang sebenarnya akan kita sampaikan. Sebagai contoh: demi Allah, aku tidak bohong.

Jawaban atas sumbah dari ayat 1-5 surat Al Adiyat ada di ayat ke-enam dan seterusnya.

Konteks

Tapi, sebelum masuk ke jawabul qasam, mari kita ulik, ada apa dengan kuda perang, apa pentingnya seekor kuda sehingga Allah perlu bersumpah dengan kuda?

Untuk memahami hal ini, yang perlu dilakukan adalah mengetahui konteks kejadian suatu peristiwa, termasuk dalam hal ini adalah budaya masyarakat setempat. Al Adiyat turun empat belas abad yang lalu, di mana masyarakat belum mengenal radio, televisi, mobil, hp, apalagi internet, listrik saja belum ada. Jadi, bagi masyarakat kala itu, hiburan sehari-harinya ya alam sekitar. Makanya, dalam banyak surat, Allah pun sering menggunakan benda-benda di alam sekitar, matahari, bulan, bintang, langit, laut, dsb untuk menyatakan sumpah.

Hal lain yang menjadi kegemaran masyarakat kala itu adalah syair. Masyarakat Arab kala itu sangat bangga dan menjaga bahasa mereka. Perlombaan syair pun sering digelar, hingga membuat para penyair  memiliki status sosial yang tinggi.

Sebagaimana kaidah yang berlaku: mukjizat itu diberikan oleh Allah sesuai dengan kondisi masyarakat. Nabi Musa diberikan tongkat karena pada masa itu sihir sangat popular. Nabi Isa diberikan mukjizat mampu menyembuhkan orang sakit, di saat ilmu kedokteran berkembang di masanya. Hal yang sama juga dengan Nabi Muhammad, Mukjizat Al Qurán turun pada masyarakat di mana keindahan bahasa dijunjung tinggi. Keindahan Bahasa itu pun terlihat dalam surat Al Adiyat ini.

Sebagaimana alam, kuda adalah juga salah satu hal yang disukai oleh masyarakat Arab kala itu. Tahukah Anda bahwa kuda yang dimaksud dalam surat ini adalah kuda betina? Ya, kuda betina ternyata lebih kuat dan lebih cepat larinya dibandingka kuda jantan.

Sama halnya dengan masyarakat modern masa kini yang suka dengan mobil, kuda adalah kendaraan yang memikat dan menarik perhatian masyarakat Arab kala itu. Apalagi, kuda yang digunakan sebagai obyek sumpah pun bukan kuda biasa, tapi kuda perang. Dengan suasana alam yang tidak banyak terpengaruh oleh media sosial dan hiburan-hiburan masa kini, imajinasi mereka terbangun.

Kekuatan Kata
Lima ayat pertama surat Al Adiyat menawarkan sebuah fragmen kuda perang yang begitu hidup. Kuda perang terengah-engah, memercikkan bunga api, menyerang di pagi hari, menerbangkan debu, lalu menyerbu di tengah-tengah tergambar secara jelas dalam kepala. Bagi kita, mungkin gambaran itu sulit muncul karena kita belum memahami Bahasa Arab. Berbeda dengan Bahasa Indonesia, tiap kata dalam Bahasa Arab dapat memberkan penggambarkan secara lebih detil makna yang ingin disampaikan.

Kata ‘dhob ha’, awalnya tidak digunakan untuk kuda, tapi untuk serigala. Jadi kalau kata tersebut dilekatkan dengan kuda, larinya pun begitu kencang sebagaimana lari serigala hingga engahannya dapat didengar jelas.

Scene berikutnya,kuda itu memercikkan bunga api (dengan pukulan kuku kakinya). Ingat, kuda tadi berlari dengan sangat kencang. Tak hanya itu, kuda itu juga memercikkan bunga api, yang terpercik akibat kuatnya gesekan antara ladam kuda yang terbuat dari logam dengan jalanan. Gambaran seperti ini terlihat dari kata al muuriyati yang memiliki kata dasar ‘wa’ ‘ra’ dan ‘ya’ yang bermakna suatu perbuatan yang menyebabkan keluarnya api. Kemudian, kata tersebut diikuti dengan ‘qad ha’ yang berarti pukulan yang amat kuat, yang dalam hal ini adalah hentakan kuda dengan bumi yang begitu kuat.

Penggambaran tentang kuda pun berlanjut, mereka menyerang di waktu pagi, hingga menyebabkan debu-debu beterbangan. Hingga akhirnya sampai ke klimaks, kuda itu pun menyerbu di tengah-tengah kumpulan musuh. Begitu hebatnya kuda tersebut, dengan berani menyerang langsung di tengah-tengah, bukan dari tepian lalu masuk ketengah-tengah.

Manusia Ingkar
Ayat pertama hingga keenam, Allah memberikan setting dan plot yang sempurna untuk menggambarkan tentang kuda perang dari awal hingga klimaks cerita. Di ayat berikutnya, imaji itu seolah-olah dihentikan secara mendadak begitu saja.

Bayangan kuda itu seketika terhapus dengan kalimat: sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya. Kalimat inilah yang merupakan jawabul qasam atas sumpah yang begitu memikat dari ayat 1-5.

Jadi, inilah pesan setral surat Al Adiyat, bukan sepak terjang sang kuda perang. Kuda perang dan sepak terjangnya hanyalah sebuah intro untuk menarik perhatian masyarakat Arab, sebelum akhirnya Allah ingin menyampaikan satu pesan yang begitu penting.

Lalu, mengapa Allah menggunakan kuda untuk menyampaikan bahwa manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih? Mengapa bukan gajah? mengapa bukan singa? mengapa bukan harimau?

Di banyak surat Allah sering menggunakan perumpamaan-perumpamaan. Sama halnya dalam surat ini. Kuda adalah hewan yang sangat taat pada tuannya. Begitu patuhnya sehingga bahkan untuk misi yang sangat berbahaya pun sang kuda mau melaksanakan tugasnya, termasuk sebagaimana gambaran dalam ayat 1-5. Bayangkan, kuda itu dengan beraninya menyerang musuh langsung ditengah-tengah sebagaimana instruksi sang pemilik.

Sebaliknya manusia, begitu banyak nikmat yang diberikan oleh Allah, masih saja manusia ingkar.

Begitu indah cara Allah memberikan pengajaran kepada manusia, bukan?

Matahari yang Digulung

At takwir sketsa 2

Sering saya meng-underestimate surat-surat dalam Al Qur’an.  Tanpa sadar setelah membaca terjemahan berlirih, oh..sama dengan surat ini. Hal ini terjadi ketika membaca terjemahan surat-surat di Juz 30 yang memiliki benyak pesan yang sama, terutama tentang hari kiamat.

At Takwir, Al Infithar, dan Al Insyiqaq adalah tiga surat yang didalamnya berkisah tentang apa yang terjadi di hari akhir. Ketiganya memberikan penggambaran bagaimana porak porandanya alam semesta jika hari yang sudah ditentukan itu tiba.  Matahari digulung, langit terbelah, bintang-bintang berjatuhan adalah tanda-tanda yang dijelaskan dala surat tersebut.

Karena kemiripannya itulah, saya pun melewatkannya untuk melihat apa perbedaan satu sama lainnya. Baru dua minggu yang lalu saya mencoba mencermati ketiganya. Menarik. Benar kata Nouman Ali Khan, surat-surat dalam Al Qur’an itu memiliki keunikan sendiri-sendiri. Meskipun tema sentralnya seolah sama, masing-masing memiliki karakter yang berbeda. Kalau tidak percaya, silakan dicermati ketiga surat tersebut.

Dalam tulisan ini saya hanya ingin membahas tentang keunikan dan ke-keren-an surat At Takwir. Untuk mendapatkan sense of amazing-nya surat ini memang tidak bisa didapat dari hasil membaca terjemahan begitu lalu. Tulisan ini merupakan hasil simakan kajian tafsir Nouman Ali Khan dan dari laman celiktafsir serta dari hasil memotrat surat ini secara keseluruhan.

Keindahan surat At Takwir, selain terletak pada bagaimana Allah mengemas suatu pesan dalam ayat-ayat yang disusun dengan baik, juga dapat dilihat dari pemakaian tenses, susunan dan pilihan katanya. Dari hasil sketsa surat dalam gambar di bawah/ di atas terlihat bagaimana surat tersebut disusun secara rapi. Secara ringkas penggambarannya adalah sebagai berikut: Sumpah, jawaban atas sumpah, sumpah, jawaban atas sumpah.

Di bagian pertama (Ayat 1-13) Allah memberikan gambaran apa yang terjadi ketika hari kiamat tiba. Mulai dari matahari digulung, bintang berjatuhan, gunung dihancurkan, hingga langit dilenyapkan, neraka dinyalakan dan surga didekatkan. Ingat, di awal kejadian tersebut Allah menyebutkan kata Idza yang berarti ketika. Artinya, dari ayat pertama hingga ke-tiga belas, pesan yang ingin disampaikan oleh Allah belum terlihat. Ayat 1-13 baru merupakan gambaran. Ketika, ketika, ketika…so what?

Di ayat ke 14 Allah baru ada jawabannya. Bahwa, setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakanya. Ya, inilah pesan sentralnya. Untuk mengatakan bahwa kelak kita akan mengetahui akibat dari apa yang kita lakukan, Allah memberikan penggambaran yang begitu dahsyat dar ayat pertama hinga ke-13.

Usai ayat ke 14, Allah kembali bersumpah, demi bintangbintang, demi malam, dan demi subuh (ayat 15-18). Sebagaimana ayat sebelumnya, jika ada sumpah atau qasam seperti ini, pasti akan ada jawabul qasam. Apakah itu? Kita bisa lihat di ayat berkutnya, Allah menekankan bahwa Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa) oleh utusan yang mulia (Jibril) (Ayat 19-21).

Tak hanya itu, Allah juga menekankan tentang Rasulullah dalam ayat ke 22-24, dan temanmu Muhammad bukanlah orang gila, bukan pula orang kikir. Di bagian akhir, Allah kembali menekankan bahwa Al Qur’an bukan perkataan setan, Al Qur’an adalah peringatan.

Menarik bukan?

Itu baru dari sisi susunan ayat-ayat. Dari sisi tenses dan pilihan katanya pun tak kalah menarik. Mari kita cermati. Dalam surat ini Allah menggunakan Idza yang diterjemahkan dengan apabila. Dalam Bahasa Indonesia, kita tidak bisa membedakan apakah itu idza atau in (alif nun). Padahal, arti dan filosofinya berbeda. Idza itu berarti ketika atau dalam Bahasa Inggris kita kenal dengan when.  Sementara in (alif nun) berarti jika atau if. Dalam Bahasa Inggris kita memahami perbedaan antara when dan if. When menunjukkan sesuatu yang pasti. Sedangkan if masih berupa pengandaian, alias kalau.

Jadi penggunaan Idza di sini menunjukkan sesuatu yang pasti. Hal kepastian ini pun dikuatkan dengan kata yang digunakan berikutnya, kuwwirat. Kata ini adalah bentuk past atau fiil madhi atau yang telah lampau. Dalam Bahasa Arab, ketika kita penggunaan kata bentuk lampau juga menunjukkan adanya suatu kepastian. Idzasy syamsyu kuwwirat. Ketika matahari digulung.

Itu baru dari sisi tenses, bagaimana dengan struktur kalimatnya? Lumrahnya, dalam Bahasa Arab, biasanya suatu kalimat itu tersusun sebagai kata, lalu diikuti dengan subjek. Bagaimana dengan ayat-ayat dalam surat  At Takwir ini? Terbalik. Susunan katanya tidak mengikuti kaidah umum. Justru dibalik, subjek, lalu diikuti dengan kata benda.

Hal sebaliknya justru kita dapati dalam ayat ke-14, “Setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya”. Atau ngalimat nafsun.. Susunannya, kata kerja (ngalimat), baru diikuti dengan subjek (nafs).

Super duper keren bukan?

Untuk mengikuti kajian detailnya silakan ke kajian Nouman Ali Khan atau Ustz Muhammad Yahya dengan link berikut:

https://www.youtube.com/watch?v=ohtuGXH_JWc

https://www.youtube.com/watch?v=ZfRJJkzvogM

 

Pengalaman dengan Jasa Pengiriman Murah Meriah

Akhirnya, saya putuskan untuk mendatangi kurir tersebut. Bagaimana tidak, dua hari ini saya sudah dibuat berharap-harap cemas membaca testimoni para pengirim. Hampir semua testimoni berisi keluhan, umpatan, dan ungkapan yang menyatakan ke-kapok-an mereka untuk tidak lagi menggunakan jasa pengirimannya. Dari keterlambatan, barang hilang, hingga agen yang tidak menjawab telfon tumpah ruah di internet.

Saya sendiri sudah mencoba menelepon berkali-kali. Hasilnya sama. Nomor tidak aktif, begitu kata mesin penjawab. Dari hasil googlingan, saya hanya mendapatkan dua lokasi, yang juga mengindikasikan bahwa jasa pengiriman ini belum banyak memiliki agen. Tentu, kondisinya tak seperti beberapa jasa pengiriman besar lain yang agennya ada di mana-mana.

Menyesal bukan kepalang karena saya tergiur oleh ongkir yang jauh dibawah harga agen terpercaya lainnya. Selisih harganya memang lumayan, tapi kalau harus digalaukan seperti itu, mungkin saya harus berpikir ulang. Sayangnya kok ya saya tidak nge-cek kredibilitas jasa pengiriman tersebut di Internet terlebih dahulu. Berbekal pengalaman beberapa orang yang kebetulan tinggal di Pulau Jawa, saya pun memutuskan untuk mempercayakan barang yang saya kirim ke kurir ini.

Siang ini saya putuskan untuk mendatangi kurir tersebut. Deg-degan menyelimuti dada selama perjalanan ke sana. Jangan-jangan, alamatnya fiktif, atau sudah pindah, begitu tuduh saya. Cukup lama saya menemukan lokasinya. Menatap truk tertutup bertulis nama jasa pengiriman tersebut dari kejauhan, ibarat menemukan segelas air ditengah padang tandus. Tak begitu berlebihan, tapi memang seperti itu gambaran kelegaan saya saat menemukan kantor operasionalnya.

Langsung saya masuk. Beberapa orang tengah membongkar barang-barang dari karung. Satu orang lagi, duduk di hadapan PC sembari merokok. Segera saya sampaikan maksud saya dengan menanyakan apakah barang yang saya kirim sudah sampai, sembari menunjukkan resi pengiriman. Tak seperti sangkaan dalam situs yang mengatakan bahwa petugasnya kasar. Petugas itu dengan ramah mempersilakan duduk dan meminta saya menunggu sejenak karena ia hendak melakukan pengecekan di komputer.

Katanya, barangnya baru datang, tapi belum sempat dibongkar. Bertambah legalah saya. Saya diminta menunggu. Baiklah, tidak masalah. Toh, paket saya sudah jelas. Tidak hilang. Sembari menunggu, saya coba amati ruangan seluas 5 x 6 yang penuh dengan paket. Untuk ukuran tempat bongkar muat barang, saya pikir kantor tersebut tidak terlalu berantakan.  Para pegawainya terlihat begitu sibuk membongkar-bongkar.

Lama saya menatap ruangan itu serta bagaimana para kru kurir tersebut bekerja. Dari sisi kemanusiaan, mungkin akan sulit bagi kita untuk melontarkan kritikan yang begitu tajam pada jasa pengiriman ini. Dari hasil googlingan, para pengantar barang tidak diperlakukan secara layak.  Bisa jadi, dengan ongkir yang begitu miring, biaya langsung mana yang bisa dipangkas kecuali upah pengantaran. Menatap para pegawai membongkar-bongkar, justru menimbulkan rasa iba di hati.

Tak cukup lima belas menit, saya pun mendapatkan paket yang dikirim rekan saya. Tak lupa, saya ucapkan terima kasih serta meminta nomor hape petugas yang ada di depan komputer.

Lalu, apakah saya akan menggunakan jasa pengiriman ini lagi. Mungkin, dengan melihat pola kerjanya, saya akan ngalahi untuk menjemput barang di kantornya. Selain untuk menghapus kegalauan, langkah ini juga akan mengurangi pekerjaan pengantar.