Peningkatan Kinerja ala Pacuan Gajah

Pernahkah anda menyaksikan pacuan gajah? Saya sendiri sulit membayangkan. Sepertinya kurang seru. Atau malah membosankan. Karena sulit untuk dibayangkan ini pula barangkali yang membuat saya tidak begitu memahami teori pacuan gajah. Kali pertama saya abaca artikel galloping elephant yang ditulis oleh Rainey dan Stainbeurer terasa begitu memikat. Tak lain dan tak bukan ya karena judulnya: galloping elephant. Hanya saja, untuk memahami secara mendalam dan merasuk butuh beberapa hari merenung.

‘Petunjuk’ itu justru saya dapatkan saat harus berjalan sejauh satu kilo ditengah terik matahari 32 derajat celcius menjemput Amira pulang sekolah. Begitulah…tiba-tiba muncul saja di kepala. Kalau membayangkan pacuan gajah begitu sulit, mungkin bisa kita ubah saja gajah itu menjadi kuda. Memahami teory pacuan gajah atau galloping elephant dalam mencari penentu kinerja instansi pemerintah akan sangat mudah jika kita bayangkan sebuah pacuan kuda atau malah karapan sapi? Wah kalau seperti ini jadinya bisa teori karapan sapi ya. Hehehe…

Dalam pacuan, menurut anda, kuda seperti apakah yang bisa memenangkan pertandingan? Terus terang saya tidak mempunyai pemahaman yang baik tentang perkudaan. Baiklah, saya kutipkan saja ya dari http://epetani.pertanian.go.id/diskusi/cara-memelihara-kuda-7537. Begini katanya:

“Dalam perawatan kuda biaya yang diperlukan per bulannya sekitar 2 juta rupiah/ekor. Sedangkan untuk kuda pacu Juara bisa sampai 15 juta per bulannya. Ini karena perlu perawatan super intensif. Mulai dari makanannya yang khusus dibandingkan kuda yang lain, kemudian kunjungan dokter hewan dalam pemeriksaan kesehatan secara rutin dan berkala. Kemudian belum lagi untuk pelatihan tiap harinya untuk dijadikan kuda pacuan,” tandasnya.

Wow, ternyata biaya untuk satu kuda pacuan besarnya melebihi dua kali lipat penghasilan saya selam satu bulan. Kalau kita identifikasikan kebutuhan kuda tersebut maka hal-hal yang harus dipenuhi adalah: nutrisi, perawatan kesehatan, dan pelatihan. Ketiga hal tersebut pastilah kualitasnya harus di jamin. Untuk pelatihan, kuda pacuan tidak mungkin berlatih di jalanan. Ia membutuhkan arena balap yang menyediakan yang membuatnya bisa berlari bebas. Itu dari sisi kudanya.

Kuda pacuan tentu tidak bisa memenangkan pacuan tanpa joki yang handal. Menjadi joki membutuhkan keberanian karena pacuan kuda mengandung resiko yang tinggi. Resiko jatuh sangat memungkinkan sang joki meninggal atau cedera otak. Menurut informasi yang saya dapat dari sini: https://sandyputra.wordpress.com/2008/08/05/joki-kudapart-1/, untuk menjadi joki dibutuhkan pendidikan yang setingkat SMA selama tiga tahun. Hmmm…panjang juga ternyata ceritanya.

Kembali ke teori pacuan gajah. Untuk memudahkan memahaminya, kita tinggal mengubah kuda tersebut menjadi gajah. Ups rupanya di Vietnam ada pacuan gajah. Kalau penasaran silakan lihat di sini: http://www.portalkbr.com/asiacalling/indonesia/senibudaya/2979824_5025.html. Bahkan acara ini menjadi event kebanggaan masyarakat. Sebagaimana pacuan kuda, tipikal gajah-gajah pemenang juga mengikuti hukum alam yang sama. Nutrisi dan pelatihan yang berkualitas hingga membuatnya unggul disbanding yang lain.

Kalau Rainey dan Steinbeurer mengemukakan idenya tentang galloping elephant, maka elephant ini hanyalah digunakan untuk mengibaratkan sifat instansi pemerintah. Sebagaimana sifat elephant: besar, lamban dan tidak lincah, begitu pula lah instansi pemerintah. Hanya saja menurut kedua peneliti tersebut, diantara gajah-gajah dengan segenap atributnya tersebut, ada gajah-gajah yang menang dalam pacuan dan ada gajah  yang super lelet. Nah, apa yang membedakan antara gajah pemenang dan gajah pecundang? Atau kalau kita tarik ke pacuan kuda, apa yang membedakan kuda pemenang dan kuda pacuan? Bisakah kuda-kuda yang hanya makan rumput liar nan kering, tinggal dikandang yang sempit, dan tidak pernah dilatih berpacu?

Saya yakin jawaban anda tidak. Demikian halnya dengan saya. Begitu juga dengan instansi pemerintah. Kalau perbandingn dengan kuda ataupun gajah terlihat ekstrim, mungkin kita bisa bandingkan dengan rekan sebayanya, sector privat. Mengapa dalam banyak hal perusahaan sering dianggap lebih berkinerja disbanding instansi pemerintah? Mengapa pegawai swasta sering dipuji karena kerja kerasnya dibandingkan PNS?

Mungkinkah hal ini semata karena factor individu PNS yang memang dari sononya sudah malas, korup, dan lelet? Apakah memang dari sono nya pegawai swasta lebih cerdas, ulet, dan rajin?

Menurut anda, apa yang membedakan keduanya. Saya sendiri yakin bukan individunya. Hehehe…membela diri. Sebagaimana temuan Reiney dan Steinbeuer, kunci utamanya adalah:

“Supportive behaviors from external stakeholders such as political authorities; agency autonomy in refining and implementing its mission; high “mission valence” (an attractive mission), a strong mission-oriented culture; certain leadership behaviors; and task design”.

Jadi, produk perilaku para punggawa negara adalah hasil dari sekumpulan factor di atas. Dari sisi external stakeholders, anda pasti sepakat dengan saya bahwa birokrat sulit bergerak secara mandiri karena sering direcoki kepentingan politik. Sering saya dengar bagaimana para anggota dewan ‘menitipkan’ proyeknya pada SKPD. Terpaksa, demi persetujuan anggaran SKPD mengakomodasi meski tidak sejalan dengan tugas pokok dan fungsinya. Tentu hal ini beda dengan swasta di mana kepentingan politik tidak terlalu banyak terlibat. Belum lagi, kasus-kasus keberanian bendaharawan mengambil resiko mencairkan anggaran meski bukti pendukung kurang lengkap akibat tekanan dari atasan.

Kalau di runut lebih jauh akan berujung pada pertanyaan: apa yang menyebabkan para petinggi dan politikus melakukan tekanan-tekanan kepada birokrat. Aha, sepertinya teori planned behavior yang dikembangkan oleh Ajzen yang pernah saya baca beberapa minggu lalu bisa di terapkan di sini. Pada intinya, teori ini menyatakan bahwa perilaku seseorang sangat dipengaruhi pada kehendak seseorang. Untuk memahami teori ini dengan mudah, berdasarkan info yang saya dapat dari youtub, rumusnya begini CAN I Behave = C+A+N = I = Behave. C= perceived behavior Control, A= Attitude towards the behaviors, N= Subjective Norm, I= Intention. Jadi factor pendorong perilaku seseorang adalah control, attitude dan norm. Dengan mengetahui ketiga hal ini kita bisa memprediksikan apa yang akan dilakukan oleh seseorang.

Control atau perceived behavior control atau persepsi tentang control perilaku yang kuat akan mempengaruhi persepsi seseorang terhadap mampu atau tidaknya ia melakukan sesuatu.  Kalau anda perlu penjelasan lebih detail tentang hal ini silakan membaca blog berikut: http://wilyleo.wordpress.com/2012/03/05/planned-behavior-theoryplanned-behavior-theory/. Terus terang saya sendiri agak susah membahasakan kembali Bahasa Ajzen. Contoh sederhananya begini, liburan anak sekolah kali ini saya memutuskan untuk mengajak anak-anak jalan-jalan di sekitar kota saja, menjelajahi taman kota dan museum. Ingin sebenarnya melakukan treveling ke luar kota atau bahkan ke New Zealand. Hanya saja karena kesadaran bahwa saya tidak memiliki kendaraan, saya juga belum memiliki uang yang cukup, plus anak ketiga saya masih terlalu kecil untuk diajak jalan, keinginan saya untuk wisata ke luar Melbourne tidak sekuat city tour di wilayah Melbourne. Sebaliknya, keinginan saya menjelajah taman kota dan museum begitu kuat karena bisa dijangkau public transport, murah, plus sekaligus menjadi bahan tulisan saya tentang kebijakan public. Jadi, perceived behavior control lebih terkait pada bagaimana persepsi kita terhadap faktor-faktor yang memungkinkan kita melakukan sesuatu.

Kalau dikaitkan dengan pertanaan di atas tentang factor yang menyebabkan petinggi melakukan tekanan pada birokrat, ya karena mereka memiliki keyakinan kuat bahwa mereka bisa melakukannya. Mereka memiliki keyakinan atau persepsi bahwa otoritas yang mereka miliki, kedudukan yang mereka miliki, aturan undang-undang yang lemah memberikan mereka kesempatan untuk melakukan tekanan-tekanan. Kalau kita kaitkan dengan konsep pemberantasan korupsi yang diusung Robert Klitgaard dalam buku Corrupt Cities, kelemahan system lah yang mendorong seseorang melakukan korupsi. Dalam rumusan Klitgaard (baca: http://www.warungkopipemda.com/penuntun-pemberantasan-korupsi-dalam-pemerintahan-daerah/) C = M + D – A (Corruption = Monopoly Power plus Discretion by Officials minus  Accountability). Sehingga, saran yeng diberikan oleh Klitgaard adalah bagaimana mengurangi monopoly dan diskresi plus meningkatkan akuntabilitas.

Attitude toward behaviour lebih berfokus pada individu atau si pelaku. Attitude terkait dengan sikap yang dimiliki oleh individu terhadap perilaku, bisa positif atau negatif. Sikap seseorang terhadap sesuatu dipengaruhi oleh belief system-nya. Kalau diusut-usut lagi, belief ini dipengaruhi juga oleh banyak hal, pendidikan, pengasuhan, referensi, dan segala hal yang memungkinkan seseorang memiliki satu persepsi positif atau negative terhadap sesuatu hal. Kalau seseorang menganggap bahwa fesbukan pada jam kerja adalah hal yang baik dengan alasan membangun network, ya fesbukan lah dia (hehehe..nyindiri diri sendiri). Sama halnya dengan korupsi, kalau seseorang menganggap bahwa mark up adalah hal biasa, ya kehendak untuk melakukan mark-up semakin besar. Alhasil, jika ia memiliki kesempatan, dalam hal ini kaitannya dengan perceived control behaviour, kita bisa memprediksi tidakan apa yang akan ia lakukan. Sebaliknya, kalau seseorang menganggap parcel di hari raya bagi seorang pejabat adalah haram maka kita juga bisa memprediksi reaksinya jika ia diberikan parcel.

Elemen ketiga adalah subjective norms. Norms terkait dengan bagaimana norma yang dianut oleh suatu masyarakat, atau kelompok atau lingkungan mendorong seseorang berperilaku tertentu. Kita bisa lihat contohnya di negeri sendiri dengan berbagai ragam kasus. Di jalan raya, misalnya, apa norma yang berlaku? Kalau perilaku pelanggaran lalu lintas dianggap umum oleh masyarakat tertentu maka, seseorang akan terdorong untuk mengikutinya. Sebaliknya, di Australia, misalnya, lalu lintas sangat teratur. Karena hal itu lah orang yang ugal-ugalan di negeri sendiri akan dengan kesadaran mengikuti aturan atau norma umum yang berlaku. Sama halnya dengan adanya calon anggota dewan yang tetap terpilih meskipun ia tersangkut berbagai masalah. Mengapa? Karena norma masyarakat yang permisif mendorong seseorang untuk berani melakukan hal-hal yang secara prinsip tidak dibenarkan.

Jadi, kedua teori di atas galloping elephant maupun planned behavior menurut saya sangat terkait. Keduanya dapat digunakan untuk melihat secara jernih kinerja PNS yang selalu saja dianggap malas dan tak berkinerja. Tulisan ini pada prinsipnya hanya ingin menjelaskan bahwa membicarakan kinerja PNS secara instansi atau individu tidaklah terlepas dari berbagai factor yang melingkupinya. Sehingga, peningkatan kinerja tak bisa hanya diharapkan dari perubahan perilaku PNS secara individu tapi secara integral yang mencakup perubahan organisasi, individu dan stakeholder, termasuk masyarakatnya sendiri. Implikasinya, kebijakan yang diambil guna meningkatkan kinerja instansi pemerintah hendaknya tidak hanya sekedar ‘’memaksa dan menekan’’ para abdi masyarakat untuk ‘’prihatin namun berkinerja’’. Namun, bagaimana seharusnya instansi terkait mampu membuat kebijakan integrative yang mendukung terciptanya lingkungan mendukung PNS berkinerja hebat.

 

 

 

Bagaimana Australia membangun literasi (Bagian 2)?

Rabu pagi 9 Agustus 2015 tak hanya menjadi hari yang menyenangkan untuk anak-anak prep di Moreland Primary School. Tapi, juga saya. Ada hal yang menarik dan mengesankan untuk diceritakan. Prep atau preparation, seperti yang pernah saya sampaikan dalam tulisan sebelumnya, setara dengan TK B. Namun, secara administratif pengelolaannya ada di tingkat primary school atau SD.

Apa yang terjadi hari itu? Ya, hari itu anak-anak prep belajar tentang ‘Tahu Isi’. Saya sendiri sekedar membantu mendokumentasikan kegiatan yang didukung dua orang tua murid dari Indonesia, mbak Windy Triana dan mbak Ratna Andini.

Begitu musik terdengar, jam 9.00, preppies segera masuk keruangan dan duduk bersila dengan teratur. Mereka terlihat begitau bersemangat melihat apa yang ada di hadapan mereka. Beberapa alat masak, seperti baskom, penggorengan, container berisi sayuran, tepung, dan tahu ada di atas meja.

Guru pun memberitahukan bahwa mereka akan belajar bagaimana membuat tahu isi. Mereka kemudian mencoba melafalkan ‘tahu isi’. Kegiatan hari itu adalah bagian dari tema pelajaran term 3 ini tentang Indonesia. Salah satunya melalui makanan khas Indonesia.

Untuk mempersingkat proses, mbak Windy dan mbak Ratna sudah mempersiapkan bahan untuk isiannya. Yaitu, kol dan wortel yang sudah dipotong-potong halus. Untuk tahu juga sudah disiapkan, tinggal dipotong menjadi dua.

Segera saja, proses memasak langsung dimulai. Pertama, penggorengan di panaskan dan minyak goreng untuk menumis dituang. Kemudian bawang bombay. Hingga akhirnya, kol dan wortel pun di masukkan hingga aroma sedap pun menyebar. Setiap langkah disampaikan oleh mbak Windy dan teacher. Anak-anak juga diajak untuk menebak bahan-bahannya. Termasuk ketika tepung beras diaduk sebagai bahan untuk mencelupkan tahu, guru sempat menanyakan tepung apa yang digunakan. Anak-anak pun berlomba untuk menjawab.

Begitu isi sudah siap, satu per satu anak-anak di persilakan untuk mencoba meletakkannya di atas tahu yang sudah di potong menjadi dua. Terlihat jelas bagaimana mereka sangat ingin mencoba proses memasak tersebut. Di saat yang sama sebagian tahu sudah digoreng. Begitulah, hingga akhirnya semua anak mendapat kesempatan.

Sekilas kegiatan tersebut biasa-biasa saja. Bahkan, di sekolah anak saya dulu juga pernah dilakukan. Atau, jaman saya SD pada pertengahan tahun 80an sempat juga mendapat pengalaman memasak disekolah. Masih teringat begitu bersemangatnya kala itu.

Tapi, ada yang menarik untuk dicermati. Saat menunggu tahu masak, sang guru mengajak anak-anak mengingat kembali proses memasak tahu isi dari awal. Yaitu, saat minyak di tuangkan. Kemudian, bawang bombay dimasukkan, ditambahkan kol dan wortel, hingga tahu isi siap dimakan.

Keseluruhan proses tersebut ditulis di whiteboard. Di sinilah literasi mengejawantah. Guru tidak sekedar menulis. Tapi, memancing anak untuk memilih kata yang tepat untuk setiap proses. Misalnya, dip, pour, add, make dan stuffed. Untuk mendapatkan kata ‘pour’ guru memancing dengan mengatakan “what can we do with the oil when you put it in?” Termasuk nama-nama bahannya, seperti oil, cabbage, carrot, tofu, onion, dan flour.

Untuk setiap kata yang mereka sampaikan, anak-anak diminta untuk spelling. Perlu diingat bahwa spelling untuk bahasa inggris lumayan gampang-gampang susah. Atau memang susah. Yang jelas, Ayla sendiri masih belum bisa menulis ‘nakal’ dengan benar. Seharusnya naughty ditulis noti, atau friend ditulis fren.

Begitulah, hingga sebagian besar anak kebagian untuk spelling hingga sampai pada prosedur terakhir. “Eat the tahu isi”.

Usai menuliskan semua prosedur memasak tahu isi, anak-anak kembali dibagi menurut groupnya. Dari keseluruhan 57 anak dibagi kedalam tiga group, wombat, platypus dan cookaboora. Ups….saya jug tidak yakin spelling saya benar.

Di masing-masing group ini mereka dibagikan tahu isi dan disantaplah makanan khas Indonesia ini.

Lagi-lagi saya dibuat terpesona saat saya lihat layar monitor. Rupanya di group ini sang guru menampilkan kembali foto-foto yang sempat diambilnya dengan HP saat tahu isi dimasak. Anak-anak pun kembali diminta untuk menebak dan mengingat kembali proses memasak tersebut. Guru kemudian mengajak anak-anak melihat kembali langkah-langkah tersebut di whiteboard. Kemudian, anak-anak diminta untuk mengidentifikasi ingredient atau bahan tahu isi sesuai yang tertulis di whiteboard. Setelah itu, guru menghapus kalimat dalam whiteboard dan menyisakan kata benda seperti oil, carrot, dan cabbage.

Sampai di sini, saya yakin anda bisa menebak apa yang kemudian dilakukan anak-anak tersebut. Yup, mereka dibagikan kertas dan diminta untuk menulis kata benda yang ada dalam whiteboard tersebut.

Mungkin pola pembelajaran seperti ini pula yang diharapkan dari kurikulum 2013. Dengan model pembelajaran integratif anak belajar tentang bahan makanan, budaya (dalam hal ini Indonesia), bahasa, dan tentang rasa.

Jadi?

Proses belajar baca tulis di Australia sudah dimulai sejak anak usia 5 tahun atau setara dengan TK B. Kalau kemudian banyak orang tua murid di Indonesia yang mempertanyakan tentang test membaca sejak masuk SD, mungkin yang perlu diperdebatkan bukan sejak kapan anak diajar membaca. Tapi, lebih kepada bagaimana membuat baca tulis menjadi kegiatan yang menyenangkan.

 

 

Mengapa perlu belajar menggambar?

Beberapa hari ini muncul keinginan yang kuat untuk menjadi seorang kartunis. Setiap ada kesempatan, saya sempatkan berguru pada youtube. Sejak saat itu saya pun mulai menancapkan komitmen untuk meluangkan barang lima atau sepuluh menit setiap hari untuk menggambar. Hasilnya, beberapa bentuk wajah berhasil digambar.

Awalnya begini. Beberapa bulan lalu Amira dan Ayla sibuk sekali di depan laptop menyimak ‘how to draw’ dari youtube dengan selembar kertas dan sebatang pensil ada di hadapannya. Sesekali ia menggoreskan pensil ke kertas sembari tangan kirinya beberapa kali mem’pause’ agar mereka bisa menyempurnakan gambar sesuai instruksi guru virtualnya. Beberapa saat kemudian jadilah seekor kuda cantik bernama rainbow dash. Begitulah selama beberapa hari saat liburan mereka berhasil menggambar keluarga little pony dan gambar lainnya.

Saya sendiri cukup senang karena mereka punya kesibukan untuk mengisi liburan. Beberapa hari kemudian mulailah Ayla merengek meminta saya menemaninya menggambar. Dalam satu kertas yang cukup besar, kami menggambar berdua. Takjub juga melihat hasilnya. Ternyata saya yang biasanya hanya bisa menggambar dua gunung dengan matahari ditengahnya, bisa menggambar kuda cantik juga. Tak hanya kuda, hari berikutnya saya menggambar princess, mermaid atau putri duyung, serigala, serta burung merak.

Harus diakui bahwa tanpa bimbingan step by step dari youtube tak akan mungkin saya bisa. Seandainya laptop dimatikan dan saya diminta menggambar ulang, saya yakin tidak bisa. Terbukti juga setelah saya coba gambar hasilnya aneh. Kesimpulannya, saya bisanya hanya mengcopy.

Meski demikian, setelah beberapa kali menggambar kuda-kuda cantik, akhirnya saya bisa menggambar mata indah dan berkilat disertai dengan bulu mata yang lentik tanpa meniru. Aktivitas yang berulang ini rupanya sudah masuk ke brain memori dan telah diolah menjadi muscle memori (meminjam istilah Rhenald Kasali dalam buku Myelin). Tangan saya sudah mulai terampil menggambar mata berkilat ala kartun jepang. Hingga akhirnya saat mecoba menggambar makhluk hidup lain saya bisa menggunakan pola gambar mata si kuda tersebut.

Niat untuk menjadi kartunis muncul setelah kesasar menyaksikan video Tedx yang berjudul  Why people believe they can’t draw – and how to prove they can  yang disampaikan oleh  Graham Shaw. Untuk video Graham silakan klik linknya: https://www.youtube.com/watch?v=7TXEZ4tP06c. Dari judulnya mungkin anda bisa menebak apa yang akan di sampaikan Graham Shaw. Tepat sekali. Saya sendiri dibuat tersenyum-senyum saat menyaksikannya. Tepatnya senyum takjub karena dengan beberapa coretan jadilah kartun-kartun lucu. Menariknya, audience pun ternyata dengan mudah bisa menggambar sesuai dengan instruksi Graham.

Video tersebut pada prinsipnya ingin menyampaikan bahwa kita semua bisa menggambar. Selama ini kita sering mengklaim bahwa tidak bisa menggambar” atau tidak berbakat menggambar. Termasuk saya sendiri tentunya. Setiap kali diminta menggambar, hasilnya tak jauh berbeda dengan hasil karya anak TK. Dan ternyata, belief  semacam itu tidak hanya dimiliki oleh masyarakat kita. Audience Graham pun juga sama. Jika anda sempat membaca komentar video tersebut, ternyata banyak juga yang berfikir demikian.

Selama ini saya menganggap menggambar adalah masalah bakat. Hanya orang-orang yang berbakatlah yang bisa menggambar. Hanya orang-orang yang punya daya imajinasi yang kuatlah yang bisa menggambar. Misal, untuk menggambar singa ia harus tau bagaimana memiliki gambaran detail tentang figur singa dalam ingatannya. Termasuk bagaimana saat ia menoleh, mengaum, berlari, memakan mangsa, dan sebagainya. Nah, sayangnya saya tidak termasuk orang-orang yang memiliki ingatan dan imajinasi kuat.

Video Graham Shaw mengantarkan saya untuk menjelajah video tutorial menggambar lain. Ternyata buaaannyyyakkk tutorialnya. Dari video-video tersebut, ada beberapa yang bagus. Atau malah sangat bagus karena mereka menjelaskan teknik-teknik dasar. Bukan sekedar menggambar dan kita menirunya. Salah satunya adalah Jazza. Ia seorang animator yang tidak hanya profesional dalam menggambar, tapi juga mampu menyampaikan tutorial dengan sangat baik. Yang lebih penting lagi, Jazza memberikan teknik dasar-dasar yang bisa kita kembangkan sendiri.

Dari rasa penasaran tentang gambar menggambar ini, saya menemukan’ istilah-istilah Kawaii, Chibi, dan Manga. Ketiganya adalah konsep gambar menggambar ala Jepang. Kawaii dalam istilah modern menurut wikipidia berarti ‘cute. Kalau anda ketikan draw Kawaii di google image, maka akan bertaburan berbagai ekspresi wajah lucu-lucu sebagaimana yang sering kita temukan dalam kartun-kartun jepang. Dari teknis dasar menggambar ekspresi kawaii ini kita bisa menggambar berbagai bentuk karakter yang lucu-lucu, dari buah-buahan hingga alat-alat dapur. Atau bahkan bentuk yang kita buat secara asal.

Istilah Chibi, masih menurut wikipidia, berarti “small people” ataru “short people”. Contoh chibi ini yang saya kenal sailor moon dan candy candy, siapa lagi ya.. silakan dicari di google image. Yang jelas dalam tutorial tersebut anda bisa secara khusus belajar bagaimana menggambar berbagai bentuk mata, hidung, rambut, dan ekspresi wajah.

Nah, dari beberapa teknik dasar inilah yang jika dikombinasikan bisa menghasilkan banyak karakter. Untuk saat ini terus terang saya masih dalam tahap copying alias meniru. Tentang hal ini rupanya para komentator video Graham juga mengatakan hal yang sama: mereka cuma bisa meng-copy. Tapi, beberapa komentar lain mengatakan bahwa menggambar tidak melulu dihasilkan dari imajinasi. Tapi dari proses mengkombinasikan dari gambar-gambar dasar.

Mungkin anda penasaran mengapa saya begitu ‘maksa’ bisa menggambar? (….nggak tuh…wkwkwk)

Untuk tujuan jangka pendek, menggambar cukup ampuh untuk menghilangkan rasa kantuk, bosan, dan pusing saat menulis thesis. Lima menit menggambar dengan tutori dari youtube atau google image cukuplah menghalau jenuh. Setidaknya lumayan lah untuk mengurangi konsumsi kopi.

Kedua..ini yang ternyata setelah ditelusur sejalan dengan gagasan Graham. Tadi pagi, saat mencari info biografi Graham, baru saya tau bahwa Graham menulis buku berjudul ‘the art of businesss communication’. Pas sudah. Jadi Graham ini rupanya pakar seni komunikasi. Dalam buku tersebut ia mencoba memaparkan bagaimana berkomunikasi dengan menggunakan gambar. Tentang hal ini ia katakan dalam sebuah videonya: . The fact that we know about pictures is the brain has an almost limitless capacity to remember pictures. That will actually stay the memory long after you finished your talk..

Tentang hal ini rupanya Graham Shaw mengutip hasil penelitian yang dilakukan oleh Lionel Standing yang diterbitkan dalam Quarterly Journal of Experimental Psychology dengan judul Learning 10.000 picture. Lionel mengatakan bahwa: the capacity of recognition memory for pictures is almost limitless….picture memory also exceeds verbal memory in terms of verbal recall.

Artinya gambar memiliki daya yang sangat kuat untuk mampu diingat dalam jangka panjang. Dengan kata lain, komunikasi melalui gambar jauh lebih mengena dan mudah untuk dipahami. Kaitannya dengan tujuan saya kedua, tentu akan memudahkan saya menyampaikan materi-materi tentang konsep tata kelola pemerintaham jika saya bisa manggambar. Dan, sebagaimana menurut Graham, gambar juga mampu meng-hook alias memaku perhatian audience dalam sebuah presentasi. Ada satu kutipannya lagi dalam www.managers.org.uk dimana ia katakan: it is not the quality of the drawing that makes it memorable, rather it is the fact that you are using pictures ‘live’ and adding elements as you go along. Jadi, tak perlulah bagus-bagus, yang penting mampu menjadi alat komunikasi.

Lebih dari itu, gambar adalah alat komunikasi universal melintasi batas bahasa dan usia. Anda pasti tau kartun Tom and Jerry atau Donald Duck atau Shoun the Sheep. Tanpa kata-kata kita bisa menikmati ceritanya. Yang pasti disukai anak-anak. Tapi, apakah hanya anak-anak yang suka dengan gambar?

Aktivitas menggambar sampai sejauh ini bisa menjadi aktivitas bersama dengan Ayla dan Amira. Seminggu yang lalu sengaja saya membeli 3 Art Diary. Jadilah setiap malam meluangkan waktu menggambar bersama. Dalam hal ini saya teringat pendapat mbak Pratiwi Retnaningdyah terkait aktivitas membaca bersama anak. Katanya, meski anak sudah lancar membaca, aktivitas membaca bersama perlu dilakukan. Pentingnya membaca bersama bukan lagi untuk memahami text, tapi justru pada proses yang terjadi. Yaitu, komunikasi atau diskusi antara orang tua dan anak dari buku yang dibaca. Kalau buku bisa membangun bonding antara orang tua dan anak, sepertinya menggambar pun demikian. Dari proses memilih karakter yang akan digambar hingga menceritakan apa yang digambar bisa menjadi cara ampuh untuk membangun komunikasi yang baik dengan anak.

Lalu, apa lagi alasan saya. Saya sekedar ingin mematahkan mitos bahwa saya tidak bisa menggambar. Dari beberapa hari melatih jari jemari saya mulai mempercayai Graham Shaw bahwa ketidakbisaan kita menggambar lebih disebabkan adanya mitos bahwa menggambar adalah masalah bakat. Dalam hal ini sepertinya berlaku kaidah 10.000 jam yang dipaparkan oleh Gladwell dalam buku outlier. Sebagaimana yang pernah saya tulis dalam resensi buku tersebut bahwa Bethoven pun mulai berlatih piano sejak usia kanak-kanak. Karya terbaiknya baru diciptakan setelah usia dua puluh satu. Hmmm…berapa tahun waktu yang ia butuhkan untuk menciptakan suatu mahakarya..

Sama halnya dengan menggambar. Mungkin Leonardo Da Vinci, Michael Angelo, dan Affandi pun juga demikian. Kalau setiap hari saya menyisihkan 15 menit untuk menggambar, berapa tahun harus saya capai untuk mendapatkan latihan 10.000 jam ya. 30 tahun? Ah…tak perlu lah sehebat mereka, cukuplah kelak aktivitas menggambar bisa memikat cucu-cucu saya agar sering menengok embah-nya.

Mengapa perlu belajar menulis: Belajar dari NAPLAN

“Kenapa ini seperti home schooling?”.

Begitu protes Amira saat saya coba menuliskan rencana aktivitas hari itu. Terlihat senyum keberatan karena masih masanya school holiday. Sebaliknya, saya pun membalas kembali dengan senyuman sembari berlalu untuk kemudian menggantungkan whiteboard jadwal harian tersebut dikamarnya.

Terhitung sejak pertama datang,  hingga saat ini Amira sudah 2,5 tahun bersekolah di sini. Baru semester terakhir ini kami melakukan pengawasan yang lebih ketat dalam proses pembelajaran di rumah. Bukan tanpa alasan. Pertama, Amira  masuk grade 5 tahun ini. Jadi harus dibiasakan belajar tiap hari. Harapannya, ketika pulang ke Indonesia kebiasaan belajar di rumah sudah terbangun. Kedua, fokus dan teknik pembelajaran di sini berbeda. Jadi, apa yang diperoleh Amira di sini, sangat mungkin tidak akan diperoleh di Indonesia. Jadi, mumpung di sini hal-hal yang menarik sepertinya wajib dikuasai.

Sejak awal liburan, target yang akan dicapai adalah berkenalan dan mencoba berlatih NAPLAN atau the National Assessment Program – Literacy and Numeracy. Menurut website resmi penyelenggara, NAPLAN adalah test yang dilakukan untuk menilai kemampuan siswa dalam literasi dan numerasi setiap tahun untuk grade 3, 5, 7, dan 9. Literasi sendiri mencakup reading, writing, spelling. Sebagaimana namanya, test ini dilakukan secara nasional dan dilaksanakan pada minggu kedua bulan Mei.  Jika anda penasaran, silakan lihat langsung ke http://www.nap.edu.au.

Dua tahun lalu, saat grade 3, Amira mendapat pengecualian karena belun cukup satu tahun ia bersekolah di sini. Jadi, saya juga kurang memperhatikan seperti apa model test NAPLAN. Tahun ini, kembali ia akan menghadapi test tersebut.

Tidak seperti UN di negeri kita, NAPLAN tidak digunakan untuk menentukan kelulusan. Dalam website tersebut dinyatakan: NAPLAN provide the measure through which governments, education authorities and schools can determine whether or not young Australians are meeting important educational outcomes. Jadi, tujuannya adalah untuk mengukur sampai sejauh mana siswa telah mencapai tujuan pendidikan.

 

Menurut beberapa rekan, orang tua murid sempat di beritahu oleh guru untuk tidak mengkhawatirkan test tersebut. Just relax. Kata sang guru, anak-anak di sekolah sudah terbiasa dengan semua yang akan diujikan. Bahkan, ketika hasilnya tidak terlalu memuaskan menurut orang tua, guru masih menenangkan bahwa penilaian siswa tidak didasarkan atas hasil NAPLAN yang dilaksanakan tapi dari hasil pembelajaran sehari-hari.

Namun demikian, menurut berita dari abc.net.au (27 Nov 2012), hasil survey yang dilakukan pada 8.000 guru dan kepala sekolah oleh University of Western Sydney’s Whitlam Institue menunjukkan bahwa: lebih dari setengah dari seluruh guru yang dinilai mengatakan mereka mengalokasikan waktu khusus untuk test tersebut. Tiga puluh sembilan persen responden menyatakan bahwa mereka melakukan latihan test setiap minggunya untuk meningkatkan hasil NAPLAN. Mereka juga menyatakan bahwa tingkat stress siswa juga meningkat yang terlihat dari anak-anak yang menangis, mengalami sulit tidur, bahkan bersembunyi di mejanya saat test sudah hampir menjelang. Menanggapi hasil test tersebut Menteri Pendidikan saat itu Peter Garrett menegaskan kembali bahwa NAPLAN bukanlah test untuk menentukan kegagalan atau keberhasilan.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh John Polesel, Suzanne Rice dan Nicole Dulfer yang dimuat dalam Jurnal of Education Policy juga menyatakan hal yang tak jauh berbeda. NAPLAN memaksa guru untuk menekankan pembelajaran pada materi test. Menurut hasil survey yang dilaksanakan terhadap 8000 pendidik, NAPLAN telah mendistorsi proses pembelajaran, membatasi kurikulum, dan menyebabkan siswa hanya berfokus pada test tersebut.  

Saya sendiri sempat mendengar kontroversi NAPLAN ini. Hanya saja, mengingat tantangan yang dihadapi Amira jauh lebih berat ketika pulang ke Indonesia nanti, dengan adanya UN, rasanya tak ada salahnya kalau saya mulai membiasakannya dengan test seperti ini.

Buku NAPLAN pertama yang saya beli adalah writing. Dari hasil pengamatan terhadap tugas-tugas sekolah Amira, di mata pelajaran ini lah yang menurut saya perlu ditingkatkan selain numerasi. Mungkin juga karena persepsi dan harapan saya agar dia memiliki kemampuan menulis yang baik.

Wow….saya dibuat takjub saat membaca sekilas isi buku bimbingan writing NAPLAN. Canggih…mengingatkan saya pada peristiwa 11 tahun lalu saat saya menjalani masa EAP (English for Academic Purpose) di Bali selama 9 bulan. Atau ketika saya mengambil test IELTS. Persis sekali. Ternyata anak-anak SD sudah diajarkan test semacam ini. Namun demikian, buku tersebut justru membuat saya begitu bersemangat untuk mendorong Amira belajar menulis. Tentu juga untuk menambah pemahaman saya tentang teknik-teknik menulis.

Buku tersebut dibagi dalam empat bagian: persuasive writing, recount writing, narrative writing, discussion writing, dan procedural writing. Menurut buku tulisan Julienne Laidlaw, Persuasive writing tujuannya adalah untuk meyakinkan atau mengajak pembaca. Dalam tulisan jenis ini, penulis menyajikan argumen pro dan kontra terhadap sebuah topik atau tema. Recount writing  adalah tulisan yang menceritakan kembali kisah sang penulis. Narrative writing adalah jenis tulisan yang menceritakan sesuatu dengan tujuan untuk menghibur atau berbagi pengalaman kepada pembaca. Novels, cerpen, puisi, cerita rakyat, legenda, dan mitos masuk dalam kategori ini. Discussion writing lebih sering digunakan dalam menulis tugas-tugas essai. Masih menurut Julienne, discussion writing merupakan tulisan yang menyajikan dua sisi argumen atau issue, pro atau kontra terhadap suatu topik. Terakhir, procedural writing adalah tulisan yang menyajikan prosedur atau cara. Contoh sederhananya adalah resep, bagaimana membuat risoles, bagaimana membuat mie ayam, dll.

Pada prinsipnya, Amira sudah diajari menulis kelima jenis tulisan tersebut di sekolah. Saya sendiri masih ingat saat ia kelas dua Amira sempat menceritakan bahwa ia diminta untuk menulis tentang: which one do you choose, cat or dog? 

Untuk grade 4 ini tema tugas writing-nya: Should home learning be banned?; Books are better than TV; Seal Pup; If you won 1 Million Dollars, what will you do?; the mystery delivery (narrative writing-cerpen); My holidays (recount); Food Pyramid (Persuasive); dan How to swim (procedure).

Terlepas dari pro kontra NAPLAN, saya sendiri berkeyakinan bahwa anak-anak (saya) wajib memiliki kemampuan menulis. Tak harus menjadi penulis. Tapi, saya sendiri sudah merasakan manfaat yang begitu banyak dari proses menulis. Sebagaimana Ali bin Abi Thalib, r.a yang pernah mengatakan: Ikatlah ilmu dengan menuliskannya, menulis cukup ampuh untuk mempertahankan apa yang saya pelajari. Menulis juga memaksa saya untuk membaca-dan-membaca yang kemudian mengantarkan untuk menemukan hal-hal baru yang jauh lebih menarik. Menulis juga cukup membantu untuk lebih ‘menstrukturkan’ bahasa lisan. Hal ini sangat saya butuhkan ketika mendapatkan tugas-tugas kantor baik untuk menjelaskan sesuatu atau ‘membujuk’ seseorang. Yang terakhir dan paling penting, menulis cukup ampuh untuk menghilangkan rasa kantuk. Diantara teman-teman yang pernah satu kelas dengan saya, pasti tau kebiasaan saya: sering terkantuk-kantuk di kelas. Kegiatan menulis dalam arti yang sebenarnya benar-benar menyelamatkan saya dari rasa malu karena tertidur di kelas.

Kalau anda masih ingat tulisan yang lalu tentang alokasi waktu yang cukup banyak untuk reading, untuk writing juga demikian. Selama seminggu anak grade 5/6 di sekolah Amira mendapatkan alokasi waktu tiga jam selama seminggu khusus writing. Hanya writing. Berbeda lagi dengan reading, yang dalam tugas-tugasnya juga tak lepas dari tugas menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagaimana dalam tulisan tentang reader respond theory yang lalu.

Jadi?

Writing dan reading, yang merupakan bagian dari literasi, mendapatkan perhatian yang penting dalam pendidikan di Australia. Dengan adanya NAPLAN yang digunakan untuk mengetahui kemampuan dasar siswa menunjukkan besarnya perhatian pemerintah terhadap literasi. Ketidaksetujuan NAPLAN menurut saya bukan pada point ketidaksetujuan mata pelajaran literasi dan numerasi, tapi lebih kepada efek dari standarisasi atau pengukuran kinerja sekolah yang didasarkan pada test yang dilaksanakan selama beberapa hari saja.

Alokasi waktu yang cukup banyak untuk reading dan writing ini juga mengingatkan kembali kegiatan-kegiatan dalam the House of Wisdom pada masa the Golden Age of Islam.  Dimana di kala itu para ilmuan bersama sang Khalifah berkumpul di tempat tersebut membaca, berdiskusi, dan menulis menghasilkan maha karya yang masih bisa kita nikmati hasilnya hingga saat ini.

 

H.E.A.T strategy untuk meningkatkan kepuasan layanan

Entah kali yang keberapa Ayla harus mendatangi dokter gigi. Pagi ini alasannya gigi barunya ‘wobbly’ atau goyang atau oglak-aglik. Saya sendiri selalu bersemangan untuk datang ke health center tersebut. Alasannya: observasi pelayanan.

Sejak awal saya memang tertarik mengamati kinerja health center tersebut. Dalam tulisan sebelumnya saya sempat menyinggung tentang data kinerja mereka yang mengharuskan front office  memantau pertemuan pasien per enam bulan, keramahan dokter giginya juga menarik untuk diamati.

Dari sekian pertemuan itu Ayla sudah ditangani 3 dokter. Dilihat dari paras wajahnya, dokter gigi pertama asli bule. Dokternya super ramah. Selama menangani treatmen tambal maupun hanya sekedar membersihkan gigi, Ayla selalu dipuji. You’re doing a great job ran excellent entah berapa kali dia ucapkan. Dia juga selalu memberitahukan Ayla apa yang akan dia kerjakan. Usai treatment Ayla ditawari sticker. Begitulah..hingga bebapa pertemuan Ayla ditangani oleh dentist yang kira-kira usianya masih dibawah 30 tahun.

Dokter gigi kedua keturnan China. Saat pertama melihatnya, jujur tanpa bermaksud SARA, saya tidak bisa mengingkari hasrat untu membanding-bandingkan kinerja mereka berdua. Apakah yang bule lebih baik dari non-bule? Dentis kedua ini usianya sepantaran dengan yang pertama. Ternyata dokter gigi keturunan China ini sama ramahnya dengan yang pertama. Sepertinya ia adalah generasi kedua keturunan China yang dibesarkan dan menjalani pendidikan dasar di Australia. Hal ini terlihat dari pronunciationnya dan kalimat-kalimat yang ia ucapkan.

Dokter ketiga juga keturunan China. Juga sama-sama ramah dan informatif. Saat memasuki ruangan, Ayla ditanya nama dan kelas berapa. Kalimat-kalimat pujian, serta informasi yang ia sampaikan tak jauh beda dengan dokter kedua dan ketiga. Kesimpulan saya saat itu: Hmmm sepertinya pengaruh pendidikan di negeri ini sudah merubah sikap dan cara melayani.

Hal yang sama juga pernah saya amati pada pelayanan sebuah jasa printing dan fotokopi yang dikelola oleh warga asal China. Berbeda sekali cara pelayanan antara sang bapak yang masih kental logat negara asalnya, dengan anak yang sudah sangat fasih berbahasa Inggris. Termasuk ekspresi wajah ketika melayani juga sangat berbeda. Sang bapak cenderung menggunakan kalimat-kalimat standar.

Jadi, kesimpulan awal soal pelayanan dokter gigi adalah factor seberapa lama seseorang sudah mengecap pendidikan di negeri ini. Atribut individu lebih berpengaruh.

Rupanya ada hal menarik yang sempat saya dapati untuk bisa menjelaskan mengapa ketiga dokter gigi tersebut dapat memberikan pelayanan secara seragam. Jawabannya ada pada selembar kertas kecil ukuran seperempat kertas kwarto yang ditempel pada papan pengumuman di lorong ruang pemeriksaan: H.E.A.T . Strategi.

Dari hasil meng-google, H.E.A.T. Strategi adalah salah satu strategi dalam ilmu manajemen pengelolaan kepuasan pelanggan atau customer satisfaction. Lebih spesifik lagi, strategi ini digunakan untuk mengatasi complain pelanggan, seperti pelayanan yang kurang memuaskan, barang yang tidak sesuai dengan spesifikasi penjualan, dan sebagainya.

H.E.A.T. adalah singkatan dari Hear, Empathize, Apologize, dan Take action. H atau Hear adalah dengarkan….dengarkan apa yang dikeluhkan oleh pasien, atau oleh pelanggan anda apapun jenis barang atau layanan yang anda berikan. E atau Empathy..biarkan pasien tau bahwa anda mendengarkan keluhannya. Biarkan mereka memahami bahwa kita sangat memahami perasaan mereka atau kejengkelan mereka. A atau Apologize…Saying you are sorry this was his experience. Kata maaf sering menjadi kata yang ampuh untuk meredakan kemarahan atau rasa sakit seseorang. Terakhir, T atau take responsibility…intinya take solution. Soal ini saya teringat salah satu episode dalam meteor garden. Kata tomingse: kalau ada maaf, buat apa ada polisi? Senada dengan H.E.A.T. ini, apologize bukan akhir dari pelayanan. Apologize haruslah diiringi dengan T atau taking action. Cari atau berikan solusi agar bisa mengubah wajah murung pelanggan menjadi sumringah.

Dalam pendidikan kesehatan, H.E.A.T. strategi ini juga menjadi salah satu mata ajar bagi mahasiswa kedokteran. Di link ini: https://www.a4hi.org/symposium/2009/abstracts/8Early.pdf anda bisa menemukan detail penerapannya serta kalimat-kalimat yang digunakan untuk meningkatkan kepuasan pasien terhadap layanan kesehatan. Sebagai salah satu bagian dari strategi, tentu pengajaran tentang hal ini adalah salah satu proses penanaman nilai. Untuk medapatkan hasil yang diharapkan, juga perlu strategi untuk menerapkannya di tingkat health center agar semua dentist memiliki sikap dan perilaku yang seragam.

Di papan ruang tunggu ada satu lagi yang cukup menarik perhatian. Health center tersebut memasang hasil survey kepuasan pelanggan. Jadi saya yang suka kepo ini cukup memotrat-motret saja, tidak perlu banyak melakukan interview. Masyarakat mendapatkan akses atas kinerja.

Jika dihubungkan dengan system akuntabilitas kinerja instansi pemerintah, hasil survey kepuasan pelanggan adalah salah satu indikator kinerja utama (IKU) di tingkat organisasi. H.E.A.T strategi adalah bagian dari upaya yang dilakukan untuk mencapai target kepuasan pelanggan yang diharapkan. Tinggal, bagaimana proses internalisasi H.E.A.T. tersebut dalam diri para dokter gigi. Tak lupa juga, prosos monitoring dan evaluasi atas implementasi H.E.A.T. ini yang juga penting untuk memastikan bahwa para dokter gigi sudah melaksanakannya.

Hati-hati membaca Indeks Persepsi Korupsi (Bagian 2)

Saya pikir akuntansi itu ilmu yang sudah ‘mati’, sampai dunia berakhir ujungnya debet kredit. Masih teringat teori akuntansi yang saya dapatkan lima belas tahun lalu, pembahasannya seputar kapan diakui sebagai transaksi dan bagaimana pencatatannya. Makanya, saya lebih memilih topik akuntansi manajemen untuk riset saya. Titik beratnya pun justru lebih dekat ke area public administration dari pada akuntansi.

Ternyata ‘tuduhan’ saya salah. Workshop tentang good governance dan conference yang saya ikuti tiga hari lalu sepertinya telah men’shift paradigm’ yang selama ini bercokol di kepala. Baru sadar bahwa saya benar-benar kurang update dengan perkembangan akuntansi.

Yang pasti, selain membuka wawasan tentang perkembangan sistem pelaporan corporate, satu hal dari kegiatan tersebut yang merubah pandangan saya: korupsi tak hanya terjadi di pemerintah, kejahatan keuangan di swasta pun tidak kalah mengerikan.

Workshop corporate governance yang saya ikuti sebenarnya masih pada tingkat introductory saja. Kulit-kulitnya saja. Tapi cukup menjadi ‘hook’ untuk menggali, membandingkan, dan mengambil pelajaran dari apa yang terjadi di swasta yang, bisa jadi, cocok untuk di adaptasi (bukan adopsi) di pemerintahan.

Materi yang diberikan lebih banyak pada peran board members atau dewan komisaris dan direktur. Awalnya saya berfikir, waduh..kok begini..sepertinya gak cocok buat saya workshop-nya. Cuma saya pikir tidak ada salahnya. Hanya perlu sedikit men-swicth pikiran mengubah board members jadi DPRD dan direktur jadi kepala daerah untuk memudahkan pemahaman. Jadilah sudah.

Salah satu studi kasus yang dibahas dalam sesi itu adalah skandal traders forex tahun 2004. Skandal tersebut merugikan salah satu bank besar di Australia, NAB, hingga menjapai 360 juta dollar atau sekitar 3,6T rupiah. Menurut jaksa, kasus ini disebabkan oleh “the mixture of personal ambition, arrogance, and corporate culture” hingga membuat pelaku melalaikan kewajiban hukum terhadap bank, manajemen, dan pemegang saham.

Laporan PriceWaterhouseCoopers (PWC) menyatakan bahwa kejadian ini tak lepas dari pengawasan yang tidak memadai, kelemahan prosedur, kegagalan risk management system, dan ketiadaan financial control pada divisi terkait. PWC juga mengatakan bahwa “there was not a suitable compliance culture within the markets division of NAB and there was a tendency to suppress bad news rather than be open and transparent about problems”. Lagi-lagi culture disebut.

Kasus lain ternyata juga menimpa bank besar lainnya di Australia, diantaranya ANZ dan Commonwealth. Kasus ANZ setidaknya mempengaruhi reputasi dan kepercayaan masyarakat karena telah mengakibatkan kerugian sebesar 721,6 juta dollar atau sekitar 7,216T rupiah. Sama halnya dengan skandal commonwealth bank yang diduga telah menyebabkan kerugaian sebesar 76juta dollar.

Bagi saya yang begitu lugu, kasus-kasus tersebut membuat terperangah. Kok bisa? Bukannya tata kelola corporate jauh lebih canggih dibanding sektor publik? Bukankah pengelolaan SDM juga jauh lebih baik? Bukankah pegawainya jauh lebih professional dibanding PNS? Di Australia lagi?

Karena penasaran saya coba telusur melalui mbah google. Link ini: http://www.news.com.au/finance/business/asic-whitecollar-crime-data-tip-of-the-iceberg-in-australia/news-story/8be0680fa30f1aba4b8d982db22e2a96) memberitakan bahwa kasus kejahatan kerah putih di Australia ibarat gunung es yang hanya terlihat puncaknya saja. Kasus kasus yang muncul dipermukaan jauh lebih sedikit dibanding yang sebenarnya ada. Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Greg Medcraft, ketua Komisi Sekuritas dan Investasi Australia (ASIC). Ia mengatakan pula bahwa “Australia as a ‘paradise’ for white-collar criminals due to lax penalites”.

Menelusur lebih jauh tentang kejahatan kerah putih ini, saya menemukan grafik “countries with largest tax evasion amount yang bersumber dari Richard Murphy Tax Justice Network yang menempatkan Amerika Serikat sebagai ranking pertama dengan jumlah 337M dollar diikuti Brazil, Itali, Rusia, Jerman, Prancis, Jepang, Cina, Inggris, dan Spanyol. Untuk lengkapnya silakan langsung ke link http://www.taxresearch.org.uk/Blog/2013/09/28/how-gig-is-tax-evasion-the-guardians-visualisations-based-on-my-work/) . Hmm…semakin membuat dahi berkerut…begini rupanya….

Pengembangan dan perbaikan terus menerus atas implementasi good corporate governance pada dasarnya merupakan respon atas kasus-kasus tersebut. Termasuk, apa yang dipresentasikan oleh dua orang peserta conference atas penelitiannya tentang pelaporan ESG atau environment and sustainability governance. Hmm…saya baru tau sodara-sodara kalau di swasta pun ada pelaporan atas dampak lingkungan dan sustainability-nya.

Di saat yang sama, seorang kawan dari Indonesia menyatakan bahwa sebenarnya kita juga sudah menerapkan system pelaporan seperti itu. Proses alih kebijakan pelaporan sebenarnya sudah terjadi, hanya saja, katanya, ‘ruh’ nya belum dapet. Termasuk, hasil penelitian salah seorang peserta dari Malaysia dimana good corporate governance hanya sekedar men’tick’ dari serangkaian pemenuhan penilaian. Secara formal sudah. Esensinya…entahlah. Kok bisa? Tentu ini menjadi satu bahasan kajian tersendiri. Bisa jadi, penyebabnya sama halnya dengan kasus yang saya sebutkan di atas, budaya organisasi.

Kalau begitu, mengapa dalam setiap perankingan di tingkat internasional negara-negara maju tersebut tidak pernah ‘tersentuh’? Kenapa dalam banyak perankingan, semacam doing business dan dan survey corruption perception index (CPI) mereka selalu berada di papan atas?

Baiklah, mari kita telusuri CPI atau indeks persepsi korupsi. Menurut transparency.org dinyatakan: based on expert opinion, the Corruption Perception Index measures the perceived levels of public sector corruption worldwide. Saya geris bawahi, CPI hanya menyasar public sector dalam hal ini instansi pemerintah. Tidak ada hubungannya dengan private sector.

Karena yang di survey hanya persepsi terhadap korupsi di pemeritahan, maka kejahatan sektor corporate tidak akan pernah terjamah oleh CPI. Kagak ngaruh. Sebesar apapun para white collars ini melakukan penjarahan uang yang merugikan para investor maka kejahatan tersebut tidak akan berpengaruh terhadap CPI. Ya karena, CPI hanya menyasar instansi pemerintah. Hanya persepsi terhadap korupsi di lingkungan pemerintahan itu saja. Klo swasta? Bablas…blas..

Hal yang sama ternyata juga sudah dikemukakan oleh Dan Hough (lihat link https://www.washingtonpost.com/news/monkey-cage/wp/2016/01/27/how-do-you-measure-corruption-transparency-international-does-its-best-and-thats-useful/) yang juga mengkritisi indeks ini. CPI hanya mengukur korupsi di sektor public, instansi pemerintah saja. Dia katakan “It says nothing about corruption in private business – say, the Libor scandal in Britain, or the recent VW emissions scandal in the United States. These events involve private actors, but they have very real public impacts, whether on the interest rates that people pay on their mortgages or on public health”. Katanya…nothing about corruption in private business, meski dan meski have very real public impacts.

Hasil dari workshop dan conference yang saya ikuti kali ini setidaknya merubah secara frontal pandangan saya terhadap swasta dan barat. Ternyata, mereka juga punya masalah. Ternyata, mereka sama juga dengan kita yang bekerja di pemerintahan, sama saja dengan kita yang hidup di negara berkembang. Ketika celah dan kesempatan terbuka, niat buruk bisa menuntun siapa saja menuju jurang korupsi.

Jadi, tak perlu malu dan tak perlu minder menjadi orang Indonesia. Tak perlu minder menjadi PNS. Tentu, ini bukan berarti kita membiarkan praktik korupsi di lingkungan pemerintah. Kita tetap harus berupaya sekuat tenaga untuk terus berbenah. Hanya saja, perlu disadari pula bahwa negara-negara yang kita anggap maju pun juga memiliki masalah yang tidak jauh berbeda.

 

Atheis

“Bunda, for muslim we believe that Allah is the God, yeah? And for Christian, their God is Jesus, yeah? What about in the judgment day then Jesus is the God?”

Hanya tinggal beberapa langkah masuk rumah, Amira melemparkan pertanyaan itu. Dalam perjalanan pulang sekolah ia memang sempat bercerita tentang pelajaran hari itu. Di awali dengan pernyataan: Bunda, do you know that A (temannya) is an atheist? Saya hanya menjawab: Hmmm….really? How do you know? Lalu, meluncurlah cerita bahwa hari itu sang guru meminta anak-anak di grade 5/6 berkelompok berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing. Dia sempat katakana: I can’t believe many people are atheist. Lalu diikuti dengan menyebutkan nama-nama temannya.

Ia mencoba bercerita tentang project baru di kelasnya, tapi sepertinya ia masih belum punya kata-kata yang pas untuk menjelaskan dengan tepat. Katanya sih tentang people in the world. Sepanjang jalan ia menyatakan rasa penasarannya mengapa orang bisa menjadi atheis dan bagaimana itu atheis. Hingga akhirnya, terlontarlah pertanyaan di atas.

Pertanyaan senada pernah dilontarkan juga: Bunda, why there are many religions in this world? I think it’s better if it’s only one religion.

Jujur, pertanyaan yang super duper sulit. Meski saya selalu menekankan bahwa setiap orang memiliki keyakinan atas kebenaran agamanya sendiri-sendiri. Yang terpenting adalah saling menghormati.

Bagaimana dengan jawaban pertanyaan di atas? Saya coba mengingatkan diskusi kami sebelumnya. Do you remember what we talked several months ago that Al Qur’an is the miracle? If you want to know that Allah is the God, see the Qur’an. If you learn the Qur’an you will know the answer.

Beberapa bulan yang lalu, kami sempat berdiskusi tentang kemukjizatan Al Quran. Berbeda dengan mukjizat nabi-nabi sebelumnya, Nabi Muhammad di berikan mukjizat berupa Al Qur’an oleh Allah. Saat itu Amira sempat saya minta untuk menghitung berapa usia Al Qur’an sejak diturunkan hingga saat ini. Sempat saya katakan bahwa Allahlah yang menjaga keasliannya. Berbeda dengan buku-buku biasa buatan manusia. Meski sudah sekian ribu tahun tidak ada perubahan dalam Al Qur’an. Saya katakan padanya bahwa Al Qur’an ini lah yang menjadi bukti kebenaran Islam.

Termasuk sempat juga kami diskusikan tentang kata “wasathan” yang ada dalam ayat 143 QS Al Baqarah. Kata tersebut berarti pertengahan, dan ayat 143 tepat setengah dari 286 jumlah keseluruhan surat Al Baqarah. Kalau untuk tulis menulis, dengan teknologi saat ini mudah saja menempatkan kata tersebut tepat ditengah-tengah sebuah artikel. Saya tanyakan padanya, apa mungkin bisa terjadi 1400 tahun yang lalu. Apalagi, AL Qur’an tidak diturunkan dalam lembaran-lembaran. Tapi dalam bentuk perkataan. Saya tanyakan padanya: Apa mungkin kamu bisa berpidato dan meletakkan kata ‘tengah’ tepat di tengah pidatomu.

Hasil diskusi sebelumnya, sepertinya cukup untuk menjadi dasar menjawab pertanyaan sulit Amira. Karena hanya beberapa langkah menuju pintu masuk rumah, saya hanya menekankan bahwa kalau ingin tahu bahwa Allah adalah Tuhan yang sebenarnya, the Qur’an is the answer. Saya katakan padanya: The more you learn the Qur’an the more you will know that the Qur’an is not created by human. But Allah. Dan, diakhiri, if you believe that the Qur’an is not created by human, then you will know that Allah is the God.

Meski sebenarnya ada banyak hal yang ingin saya sampaikan padanya. Tapi, rasanya cukup lah pelajaran hari itu. Tantangan mengajarkan Islam bagi anak yang tumbuh di lingkungan yang sangat-sangat heterogen dan mengedepankan berfikir kritis memang cukup berat. Parahnya, ilmu agama saya masih sangat kurang. Jadi, mau tidak mau harus banyak belajar untuk menjawab pertanyaan mendasar: apa buktinya kalau agamamu itu benar? Bagaimana cara membuktikannya? Selanjutnya, bagaimana menerjemahkannya dalam bahasa anak 12 tahun dan 8 tahun.

(Bersambung)