Fiqh Media Sosial

“Coba deh, sekaliiii saja shalat selama 30 menit. Sekaliiii saja dalam shalat kita baca 1 juz amma”

Berani mencoba? Hmmm…sama saya juga sedang berfikir. Cuma masalahnya 1 juz amma pun belum hafal semua. Baiklah, kata mbak Nivi yang memberikan materi pengajian kemarin menurunkan tantangan: Ok kalau begitu baca semua yang kita hafal saat shalat. Bagaimana? berani mencoba?

Pengajian PAisyah kemarin bertemakan: introduction to fiqh social media. Mbak Nivi ini bukan hanya pemateri favorit saya, tapi juga ibu-ibu lain. Selama tiga tahun tinggal di sini tingkat kehadiran saya di pengajian masih bisa dihitung dengan jari. Alasan klasik. Karena kemarin pembicaranya mbak Nivi, saya usahakan hadir. Yang jelas saya sudah jatuh cinta dengan cara beliau menyampaikan materi sejak pertama kali saya hadir di Pengajian. Sayang, kemarin saya tak bisa hadir tepat waktu. Jadi, beberapa materi terlewatkan. Kutipan di atas adalah salah satu kalimat yang hingga kini terus terngiang-ngiang.

Tulisan ini sekedar menyarikan apa yang saya sempat saya dapatkan beberapa hari yang lalu. Sebagaimana judulnya, materi yang dibahas adalah tentang fiqih berinteraksi melalui media social. Termasuk bagaimana prinsip membuat status, berkomentar, posting di grup, dan unfriend-unfollow. Materi yang digunakan sebagai rujukan adalah fiqh social media (link: http://fiqhofsocial.media/40hadith/).

Kutipan di atas adalah salah satu bahasan dari sisi pemanfaatan waktu. Mengapa kita bisa betah berlama-lama dengan media social?  Bagi saya sendiri lebih sering waktu terasa begitu cepat. Padahal rasanya baru sebentar. Nah, sekarang coba dibandingkan. Mengapa membaca Al Qur’an setengah jam sudah terasa lama? Mengapa shalat sepuluh menit saja sudah terasa begitu lama? Padahal, banyak sekali hal-hal menarik tentang Islam yang belum di ketahui. Misal, ayat pertama yang diturunkan adalah ‘Iqra’, tapi mengapa dalam urutan surat justru ditempatkan di Juz 30? Apa dasar penyusunan surat-surat dalam AlQur’an. Yang lebih sederhana lagi, siapa istri-istri Rasulullah? Siapa nama-nama mereka? Bagaimana kehidupan mereka? Padahal mereka adalah para ummahatul mu’minin, ibu-ibu kita. Siapa saja nama anak Rasulullah? Siapa nama cucu-cucu Rasulullah? Bagaimana kehidupan mereka? Hmmm….untuk pertanyaan itu saja jujur saya juga belum tau. Soal nama paling hanya beberapa yang hafal.

Belum lagi berderet-deret pertanyaan yang lain seperti, mengapa ayat pertama yang turun adalah iqra’ (al alaq), kemudian Al Qalam (pena) , kemudian Al Muzzammil (orang yang berselimut), kemudian Al Muddatsir (orang yang berkemul – apa bedanya dengan berselimut ya?). Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari urutan-urutan tersebut? Termasuk dalam surat Al Baqarah (226-242) berisi tentang perceraian dari ayat 226-237, di ayat 238 dan 239 Allah memerintahkan untuk memelihara shalat, ayat berikutnya 240-241 tentang perceraian lagi, baru ditutup “demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya agar kamu mengetahui”. Mengapa urutannya: cerai…cerai…cerai..cerai..shalat.. cerai..cerai. Mengapa ditengah-tengah ayat yang mengatur perceraian Allah memerintahkan manusia untuk shalat?

Hal lain dalam berinteraksi di media social yang sangat penting juga diperhatikan dalam memahami diri sendiri. Kita yang paling tau diri kita sendiri. Kalau tau bahwa kita baper-an, ya tidak perlu memaksakan diri membaca status orang-orang yang membuat kita baper. Unfollow status bisa menjadi cara yang terbaik untuk kestabilan emosi. Dalam hal ini saya teringat kejadian di beberapa grup WA di mana beberapa anggota memutuskan untuk ‘left’. Mengambil pelajaran dari ‘pemahaman atas diri sendiri’ ini mungkin ‘left’ adalah keputusan terbaik bagi yang bersangkutan. Bisa jadi menghindari ‘baper’ yang berpengaruh terhadap kestabilan emosi. Sebaliknya, bagi yang ditinggalkan perlu juga untuk menghormati keputusan untuk ‘left’ para anggota.

Prinsip akuntabilitas rupanya juga berlaku dalam bermedia social. Artinya, apa yang kita tulis kelak akan dimintakan pertanggungjawaban. Jadi perhatikan efeknya terhadap diri sendiri, perhatikan efeknya terhadap orang lain. Link di atas tentang fiqh media social, menyebutkan bahwa If you don’t have anyting good to say…mending tidak usah membuat status atau berkomentar. Hadits yang menjadi rujukan adalah dari riwayat Bukhari Muslim: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam. Dalam beberapa hadits lain juga disebutkan bahwa: Jika seseorang hendak berbicara maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”

Bagaimana dengan debat? Tak hanya debat rasanya, bahkan saling caci maki sudah menjadi pemandangan yang mudah ditemui. Mengapa orang menjadi mudah tersinggung di media social? Jawabannya ternyata sederhana. Karena komunikasi dilakukan di ruang public di mana tidak hanya sepasang mata yang membaca, tapi beratus. Dalam memberikan nasehat pun secara etika yang kita pahami, nasehat sebaiknya disampaikan secara personal. Tidak diruang public dimana banyak orang menyaksikan. Sama halnya kita memarahi anak. Jangan dilakukan dihadapan teman-temannya. Di ruang public dengan banyaknya orang yang membaca komentar akan sangat mudah memancing ketersinggungan. Dalam fiqh media social disebutkan “This is one reason that people tend to get more easily offended and upset online, and become less forgiving of those that they perceive have wronged them.” Jadi, kalau ada postingan atau komentar yang membuat kita terganggu, apakah kita diamkan? Menurut pemateri, mbak nivi, sebaiknya di japri saja.

Terkait dengan pemanfaatan waktu, saya sempat ngeyel, karena sering membuat pembenaran bahwa apa yang kita lakukan adalah bagian dari upaya untuk sharing hal baik. Menarik ternyata jawaban pemateri. Sama halnya dengan prinsip sebelumnya, japri via email. Apa yang menjadi bahasan alangkah baiknya jika disusun dalam satu tulisan yang baik dilengkapi dengan argumentasi sehingga pesan yang akan disampaikan dapat diterima dengan baik. Berbeda dengan diskusi atau debat melalui WA secara langsung, lebih sering yang muncul adalah reaksi sesaat, belum lagi pesan yang terpotong-potong. Melalui email, kita memiliki waktu yang cukup untuk mendinginkan kepala dan merangkai argumentasi yang lebih terstruktur.

Terakhir yang menjadi catatan diantara 40 hadits dalam fiqh media social adalah alasan pertama: Why? Mengapa menulis status? Mengapa memberikan komentar? Pertanyaan ini terkait dengan niat. “actions are judged by their intentions” amalan itu tergantung pada niatnya. Jadi, ketika kita hendak mengetikkan sesuatu perlu kita periksa terlebih dahulu: apa niat kita yang seungguhnya? Semoga benar-benar hanya karena mencari keridlo-an Allah.

 

 

 

Mencari Sisi Baik

“Oh…come on…masak sih tidak ada satu hal positif pun yang kamu tau tentang negeriku?”

Saya masih mencoba berfikir keras mencari sisi baik negerinya. Sayang tak terlintas satu pun. Akhirnya, saya hanya tertawa dan mengatakan, “That’s all I know about your country”. Terselip rasa tidak enak, tapi apa daya. Saya hanya bisa menambahkan bahwa yang saya tau mayoritas penduduk beragama Islam.

Seperti biasa, setiap kali berkenalan dengan orang baru, topik utama yang dibahas adalah negara asal. Ia yang memulai percakapan dengan mananyakan saya berasal dari mana, apakah saya muslim, apa yang saya lakukan di sini. Pembicaraan pun mengalir. Sempat saya jelaskan tentang Indonesia yang memiliki beragam suku bangsa dengan berbagai ragam bahasa yang berbeda satu dengan yang lain.

Usai penjelasan singkat tentang Indonesia, tiba giliran saya bertanya balik. Rupanya ia berasal dari Pakistan. Baru tiga tahun ini tinggal di kota Melbourne. Saya coba memutar ingatan tentang apa yang saya tau tentang negara tersebut. Saya tanyakan, siapa perdana menteri saat ini. Jujur, cukup lama tidak saya ikuti perkembangan berita tentang negara tetangga India tersebut.

Bisa dipastikan saat ia jelaskan tentang sang perdana menteri, saya hanya bisa berkomentar singkat: ooo…ditambah: I just know about Benazir Butho. Ia ceritakan pula tentang pergantian kepemimpinan termasuk beberapa kudeta yang terjadi.

Langsung ingatan saya melayang pada pembicaraan dengan beberapa orang tua murid teman Ayla yang juga berasal dari negara yang sama. Kala itu, ia ceritakan carut marut perpolitikan dan polah tingkah para politikus di negara tersebut. Termasuk pertikaian-pertikaian antar kelompok yang sering terjadi. Belum lagi masalah listrik yang sering padam cukup lama. Sering dalam sehari listrik tidak menyala.

Cerita orang tua murid tersebut saya sampaikan kepadanya. Apa memang benar seperti itu kondisi negaranya. Ia akui. Namun, ia juga jelaskan bahwa saat ini sudah ada upaya-upaya perbaikan. Dari caranya menjelaskan saya bisa menangkap rasa optimismenya. Hingga akhirnya, ia lontarkan pertanyaan di atas yang hanya bisa saya jawab dengan senyuman.

Akhirnya, saya pun menyerah dan memintanya menjelaskan hal-hal positif tentang Pakistan. Ia pun menyebutkan sederet sisi baik negerinya, termasuk dalam hal IT dan militer. Aha…baru teringat bahwa selama ini sering mendapati komentar teman-teman, kalau mahasiswa China kebanyakan mendominasi fakultas ekonomi di banyak universitas di sini, maka mahasiswa Pakistan banyak yang mendalami IT. Sedikit demi sedikit mulai nampak hal positif tersebut. Ahli IT Australia banyak yang berdarah Pakistan. Ah…entah mengapa saya terlupa. Sebaliknya, justru lebih mengingat tentang mati lampu dan pertikaian dari pada IT expert.

Percakapan dengan warga Pakistan tersebut juga membuat saya ‘ngeh’ bahwa jumlah penduduk Pakistan sangat besar. Ia katakan, 200million atau dua ratus juta. Lagi-lagi saya hanya menjawab, really? Saya fikir hanya sekitar 60an juta. Ternyata hamper menyamai Indonesia. Dengan luas area yang jauh lebih kecil dari Indonesia, tentu kepadatan penduduknya sangat tinggi.

Usai pembicaraan baru terlintas: Aha…bukankah Nouman Ali Khan dan Yasir Qadhi juga dari Pakistan? Ya…dia memang layak bangga dengan negerinya. Sampai di rumah saya sempatkan menggoogling. Saya temukan nama Muhammad Iqbal, penyair terkenal yang salah satu judul bukunya menjadi nama komunitas MAKES (Al Markaz for Khudi Enlightening Studies) yang sering saya kunjungi tujuh belas tahun silam. Dari Wikipidia saya temukan juga Sadiq Khan, Mayor London yang pernah juga menjabat menjadi Menteri Transportasi Inggris. Dari situ pula saya dapati bahwa Pakistan menempati ranking enam sebagai negara dengan diaspora penduduk yang tinggi. Jumlah penduduk yang bertebaran di banyak negara tersebut berkontribusi terhadap perekonomian atas jumlah uang yang dikirimkan kepada sanak kerabat di Pakistan.

Masih ingat pelajaran sejarah jaman SMP tentang Mohenjo Daro dan Harappa? Lamat tapi pasti kedua nama tersebut cukup kuat terpatri dalam ingatan saya, meski sudah lupa benda apakah itu. Mohenjo Daro adalah situs sisa pemukiman terbesar kebudayaan Lembah Sungai Indus yang terletak di Sind, Pakistan. Pada masa puncak kejayaannya, Mohenjo Daro adalah kota yang sangat maju di era 3300-1700 sebelum masehi. Peradaban kota ini juga disebut dengan ‘Peradaban Harrapa”. Wikipidia menyebut: Mohenjo Daro was the most advanced city of its time, with remarkably sophisticated civil engineering and urban planning. Wow….

Tinggalah saya dalam keterpanaan. Adakah saya juga hanya mengenal sisi-sisi buruk Indonesia? Smoga saja tidak.  

Nikmatnya Tidur 8 Jam Sehari

Ternyata tidur 8 jam dalam sehari itu sangat nikmat. Baru saya sadari tentang hal ini kemarin. Malam sebelumnya kepala saya terasa berat. Jadilah jam delapan malam membaringkan kepala dengan harapan satu jam tidur cukup mengusir rasa sakit di kepala. Ternyata satu jam tidak lah cukup terpaksa dilanjutkan hingga jam 4 pagi.

Hasilnya? Cespleng. Serasa benar-benar fit. Entah kapan terakhir saya nikmati kemewahan tidur 8 jam dalam sehari. Saya juga tidak mendapati wajah saya yang sering terasa hangat atau kepala yang agak berat. Awalnya, atas gejala-gejala ringan tersebut saya mencurigai faktor umur. Mungkin begitlah kalau usia sudah memasuki waktu ashar.

Ternyata jawabannya sederhana. Tidur yang cukup. Efeknya terhadap kinerja juga luar biasa. Hari senin boleh dibilang saya sangat produktif. Konsentrasi juga terjaga. Terbukti dari jumlah kata yang sempat saya ketik. Lumayan.

Dampak lainnya, emosi juga lebih stabil. Malam hari menemani Amira dan Ayla mengerjakam project cukup efektif. Saat mereka enggan diajak saya bisa mengatasi dengan lebih tenang. Begitu juga saat mengajari Amira matematika. Emosi yang tenang rupanya juga menghasilkan bahasa yang lebih produktif. Lebih bisa dicerna karena otak bisa mengubahnya dengan bahasa yang lebih sederhana.

Meski begitu, sepertinya saya masih harus tawar menawar. Sebulan sekali, atau seminggu sekali bolehlah. Entah mengapa ada kekhawatiran kalau tidur terlalu bayak. Apa lagi kalau bukan target menulis serasa mengejar sampai di dapur. Jadi?

Enam jam adalah waktu yang paling realistis. Itupun, masih terasa mewah untuk jelang musim panas saat maghrib baru menjelang pukul 8 malam.

Mengenal Amateur celebrity dan Dental Tourism

Dari presentasi rekan-rekan yang saya ikuti, ada dua topik yang sangat menarik, dan ada dua cukup menarik. Kedua topik yang sangat menarik adalah, amateur celebrity dan dental tourism. Sedangkan kedua yang cukup menarik adalah corporate environmental disclosure dan Foreign Direct Investment (FDI) di Uganda.

Amateur Celebrity dan dental tourism dipresentasikan dengan sangat menarik. Dalam hal ini saya tidak hanya belajar tentang suatu hal yang baru, tapi juga teknik presentasi. Baik dari sisi alur maupun gesture dan suara. Sebagaimana tulisan saya tentang pronunciation, salah satu presenter asli native, yang satu lagi keturunan filipina yang besar di Australia. Jadi, secara bahasa tidak ada masalah.

Amateur celebrity menjadi begitu menarik buat saya karena kebetulan ada kaitannya dengan marketing. Ketertarikan saya dengan dunia marketing muncul setelah saya berdiskusi dengan rekan dari Dinas Pariwisata. Plus karena saat ini saya sedang dalam tahap menulis salah satu studi kasus yang tidak lain dan tidak bukan juga terkait Dinas tersebut.

Amateur celebrity menurut definisi presenter adalah selebriti yang tidak profesional, lha iya lah ya, sebagaimana layaknya selebriti yag sering muncul di media mainstream. Tapi mereka yang populer lewat media sosial. Kadang mereka tidak memiliki keahlian yang membuatnya layak untuk menjadi selebriti. Tapi, mereka memiliki follower yang cukup banyak di beberapa media sosial. Dalam hal ini kolega saya ini ingin melihat bagaimana para selebriti amatir ini menggunakan media sosial seperti facebook, instagram dan twitter untuk menarik para fans.

Katanya, literatur terkait masalah ini masih sangat kurang. Jadi salah satu tujuan risetnya adalah mengisi celah literatur yang masih menganga.

Dental tourism buat saya lebih menarik. Saya baru ngeh bahwa urusan pergigian pun bisa jadi penyumbang devisa negara. Perlu diketahui bahwa dental service di Australia suuangaat muahal. Pernah ada seorang kawan yang menkonsultasikan gigi anaknya dikenakan 200 dollar. Makanya, saya selalu berdoa smoga selama disini gigi saya bisa diajak bersahabat.

Di saat yang sama, saya sangat beruntung bertemu dengan seorang kawan dari Indonesia, sekaligus orang tua sahabat Amira, yang kebetulan area of research-nya juga marketing. Banyak hal menarik ternyata setelah saya tanyakan tentang dental marketing ini. Pada prinsipnya, dental tourism ini salah satu cabang dari health tourism. Kalau selama ini kita sering mendengar begitu banyak masyarakat Indonesia yang memilih ke Singapura untuk berobatat, maka itu adalah bagian dari yang dinamakan health tourism. Singapura, katanya, memang berinvestasi dalam bidang kesehatan sebagai bagian dari upaya menarik devisa.

Beberapa rumah sakit di Indonesia juga sudah mulai mengembangkan. Dalam hal ini, saya teringat cita-cita Kabupaten Bantaeng yang sedang membangun rumah sakit besar sebagai salah satu strategi pembangunan daerah. Rumah sakit Bantaeng tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan dari daerah sekitar. Atau malah menjangkau daerah-daerah lain dalam skala yang luas. Bantaeng sendiri cukup berhasil membranding dirinya sebagai Kabupaten penghasil benih unggul. Pengembangan benih unggulan yang saat ini sudah dieksport keluar Bantaeng sesungguhnya tak lepas dari keterbatasannya area pertanian dan kelautan yang dimiliki. Di sisi lain, hal ini oleh sang bupati justru menjadi ‘blessing in disguise’. Tidak berhasil menigkatkan produksi pertanian akibat keterbatasan lahan, justru memacu Bantaeng menjadi Kabupaten penghasil benih. Wah…bukankah ini bisa menjadi topik penelitian lain ya..agro tourism? Atau governance tourism? Menarik untuk ditindaklanjuti. Tapi, nanti sajalah ceritanya…

.

 

 

 

Mengapa perlu belajar bahasa Arab?

Pernah mengenal nama Al Walid Ibn Mughira? Beberapa bulan lalu saya sempat mendengar namanya. Tapi kemudian lupa. Nama itu kembali terngiang-ngiang usai menikmati kajian Nouman Ali Khan yang bertema the Miracle of Qur’an. Ada beberapa video dengam tema serupa, dengan intro yang berbeda. Yasir Qadhi sendiri sempat membahasnya dalam seri 13 Sirah Nabawiya: the opposition from the Quraisy.

Apa menariknya Al Walid ini ya? Apa hubungannya dengan the miracle atau mukjizat Alqur’an?

Nouman Ali Khan memang luar biasa. Ia mampu menjelaskan bagaimana ke-mu’jizatan AlQur’an dengan sangat-sangat baik. Sebagai expert Arabic Linguistic, Nouman mampu mengupas secara mendetail bagaimana buku yang selalu menghiasi rak buku disetiap keluarga muslim adalah mukjizat bagi siapa pun. Ya, siapa pun. Muslim dan non muslim.

Kajian tentang the miracle of the Quran oleh Nouman berfokus pada sisi linguistic-nya, bukan sisi ilmiah atau prediksi-prediksi di masa mendatang. Tapi, justru di sini lah sisi menariknya. Dan, belum banyak dikupas. Atau, saya saja yang kurang ng-google ya:)

Dari sisi penjagaan keasliannya saja sudab terlihat. Bagaimana mungkin AlQuran tetap terjaga keasliannya setelah 14 abad diturunkan. Biasanya buku-buku tua hanya menghiasi musium dan perpustakaan. Sementara, AlQur’an tetap hidup, dilantunkan, dan dipelajari hingga saat ini.

Belum lagi jika kita melihat bagamana AlQur’an, bersama Sang Pembawa Risalah, mampu mengubah tradisi masyarakat Quraisy begitu dahsyatnya. Bersama Al Qur’an, masyatakat jahiliyyah yang sama sekali tidak diperhitungkan oleh kedua peradaban besar, Romawi dan Persia, menjelma menjadi ummat yang kuat hingga mampu menakhlukkan kedua peradaban besar tetangganya.  Islam bahkan  menyebar keseluruh dunia. Termasuk Indonesia.

Dalam rentang waktu 23 tahun, kabiasaan hidup masyarakat arab berubah total. Tak hanya dari sisi politik, tapi juga ekonomi, sosial, bahkan dari cara makan dan ke kamar mandi. Kok bisa?

Revolusi industri saja hanya mengubah proses produksi. Meski pada akhirnya juga merubah pola perkonomian dan sosial kehidupan masyarakat menjadi lebih kapitalis dan individualistik, tapi tidak sampai pada perubahan kebiasaan hidup individu sehari-hari.

Lalu, bagaimana mukjizat AlQur’an dilihat dari sisi linguistic-nya. Ini yang justru sangat menarik. Semenjak SD, saya juga sudah tau kalau Al Qur’an itu mukjizat yang diberikan Allah kepada Muhammad, selain mukjizat membelah bulan. Cuma,  ya gitu deh. Mukjizatnya lebih sering disimpan di rak.

Ke-mukjizat-an Alqur’an ini sebenarnya menyatu dalam kisah-kisah yang sering kita (saya) dengar. Sayangnya, saya tidak pernah mampu memikirkan lebih jauh selain mengikuti alur kisah tanpa memikirkan hikmah yang lebih dalam.

Masih ingat kisah masuk Islamnya Umar bin Khatab? Atau kisah trio Abu Jahal, Abu Sofyan, dan Al Akhnas bin Shuraiq yang selama tiga hari berturut-turut mengendap-endap saat dini hari yang dingin mendengarkan Rasulullah SAW yang sedang melantunkan ayat suci Al Quran. Kekuatan apa, jika lah bukan suatu mukjizat, yang mampu menarik perhatian para musuh sekalipun?

Bagaimana dengan kisah Al Walid ibn Mughirah?

Walid ibn Mughira adalah tokoh Quraisy dari Banu Makzhum. Ia salah satu orang terkaya di Makkah. Sebelum Nabi Muhammad diutus menjadi Rasul, Walid selalu menyembelih sepuluh unta setiap harinya untuk diberikan kepada jamaah haji. Wikipidia menyebutkan pula bahwa ia membiayai seperempat dari keseluruhan biaya pembangunan kembali Ka’bah pada tahun 605. Jadi, bisa dibayangkan betapa kaya dan berpengaruhnya Al Walid Ibn Mughira.

Kisah Al Walid Ibn Mughira tercatat dalam Al Qur’an (QS AL Mudatsir 11). Dalam kajian seri 13 Sirah Nabawiyah, Dr. Yasir Qadhi menyebut Al Walid sebagai ‘the master of the Arabic language. The shakespear of Mecca. The best poet of Mecca. Ayah dari Khalid bin Walid.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwasanya Walid bin Mughirah datang ke tempat Rasulullah saw. Kala itu, beliau sedang melaksanakan shalat dan membaca Al Quran. Walid bin Mughirah mendengarkan dengan seksama kalimat-kalimat yang dibacakan oleh Rasulullah SAW.

Ketika kembali ke kaumnya dia berujar, “Demi Tuhan, aku baru saja mendengarkan perkataan-perkataan Muhammad. Menurutku itu bukan perkataan manusia biasa dan juga bukan dari jin. Demi Allah sungguh perataannya sangat manis, susunan katanya sangat indah, buahnya sangat lebat, dan akarnya sangat subur. Sungguh perkataan yang sangat agung dan tidak ada yang mampu menandingi keagungannya ”

Mendengar perkataan Al Walid, orang-orang pun mulai panik. Bagaimana tidak, sang penyair hebat saja sudah mengakui. Hingga akhirnya berita itu terdengar oleh Abu Jahal. Singkat cerita, Abu Jahal mengkonfirmasi berita tersebut kepadanya. Abu Jahal mengatakan bahwa orang-orang mulai kecewa dengan pengakuannya. Al Walid pun bertanya kepada Abu Jahal, Lalu apa yang harus aku katakan?  Abu Jahal mengatakan agar Al Walid mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah orang gila, tukang ramal, atau tukang sihir. Tapi kesemua itu dibantah oleh Al Walid, sifat-sifat Rasulullah tidak menunjukkan julukan yang diberikan oleh Abu Jahal. Ia akhirnya meminta waktu untuk berfikir menghadapi persoalan tersebut. Al Walid ibn Mughira pun berfikir dan terus berfikir hingga akhirnya ia mengatakan bahwa: Al Qur’an ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari dari orang-orang dahulu, ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.

Di saat yang sama, turunlah Surat Al Mudatsir 11 dimana Allah berbicara langsung kepada AL Walid ibn Mughirah:

“Biarlah Aku yang akan menindak orang yang telah Aku ciptakan. Sesungguhnya Aku telah memberikan kecukupan baginya dengan harta yang berlimpah dan tak putus-putusnya, serta anak keturunan yang selalu menyertainya. Aku berikan ia kedudukan dan kekuasaan yang tinggi. Tetapi ia tak merasa puas dan memohon kepada-Ku untuk menambah lagi hartanya, keturunannya dan kedudukannya tanpa rasa syukur sedikit pun”.

Menelusur lebih jauh, tentu saja dengan ng-googling, ternyata kesusastraan masyarakat Arab kala itu sangat maju. Penyair memiliki kedudukan yang amat tinggi dan sangat dibanggakan. Event-event perlombaan syair antar suku pun lazim dilakukan. Syai-syair yang terbaik akan digantungkan di dinding Ka’bah.

Tentang hal ini Nouman Ali Khan dalam video the Brilliance of the book menjelaskan mengapa bangsa Arab begitu maju dalam hal sastra. Dari sisi geografis, jazirah Arab hanyalah padang pasir dan tidak memiliki bangunan-bangunan megah. Kondisi inilah yang membuat Romawi dan Persia tidak tertarik untuk melakukan ekspansi.

Karena keterisolasian ini lah yang justru membuat kebudayaan mereka tidak banyak dipengaruhi dari luar. Bahasa mereka terjaga kemurniannya karena mereka hanya berdialog dengan sesama bangsa Arab. Satu-satunya yang mereka banggakan adalah bahasa karena hanya itulah yang layak untuk dibanggakan. Tak heran kalau kemudian kesusastraan berkembang, diantaranya syair-syair. Kehidupan padang pasir mengasah imajinasi mereka karena tidak banyak yang bisa mereka lihat.

Wajar jika kemudian mereka bereaksi keras saat Al Qur’an diturunkan. QS Al Haqqah 40-41 menunjukkan bantahan atas reaksi penduduk Arab yang menyebut bahwa Rasulullah adalah penyair. Dikatakan bahwa “sesungguhnya AlQur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, dan Al Qur’an bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Ayat ini tentu menggambarkan konteks kejadian saat itu dimana Al Qur’an dianggap sebagai syair-syair”.

Keindahan bahasa Al Qur’an membuat jiwa para penyair terguncang, sebagaimana Al Walid ibn Mughirah.  Utbah bin Rabi’ah bahkan sampai menutup mulut Rasulullah saat dilantunkan surat Al Fussilat 1-5: Hâ mîm. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang .Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam Bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. Yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata: ‘hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya.

Kala ‘Utbah mendengar bacaan Rasulullah SAW sampai pada ayat 13, “Jika mereka berpaling maka katakanlah, ‘Aku telah memperingatkan kamu akan bencana petir seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan kaum Tsamud” Utbah menutup mulut Rasulullah dengan tangannya sembari memohon supaya berhenti membaca karena takut ancaman yang terkandung di dalam ayat tersebut.

Dalam video Linguistic Miracles of Qur’an, Nouman Ali Khan mengambil beberapa contoh betapa memukaunya bahasa Al Qur’an (link: https://www.youtube.com/watch?v=j-ULa2JzPG0). Satu hal yang tak pernah saya bayangkan ada di surat Al Baqarah ayat 143 “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam); umat pertengahan (yang adil dan pilihan)…..”. Dalam surat tersebut terdapat kata wasathan yang berarti pertengahan. Jumlah ayat dalam surat Al Baqarah ada 286. Jika jumlah keseluruhan ayat dibagi dua akan mendapatkan 143. Jadi di pertengahan surat tersebut ada kata pertengahan atau wasathan.

Sekilas terlihat biasa. Bukannya mudah saja, jika kita menulis tinggal kita hitung dan letakkan kata tersebut di tengah-tengah. Tapi, mari kita lihat konteks bagaimana Qur’an diturunkan. Al Qur’an tidak diturunkan dalam bentuk tulisan, bukan dalam bentuk buku. Surat Al Baqarah pun tidak diturunkan langsung secara keseluruhan. Al Qur’an diturunkan dalam bahasa ‘spoken’ atau lisan. Mungkinah ada seorang orator hebat sekalipun yang mampu meletakkan kata ‘tengah’ tepat ditengah-tengah pidato tanpa teks-nya.

Video Mathematical Miracle of Qur’an (link https://www.youtube.com/watch?v=76PwAovAlEk) ini juga menakjubkan. Dari hasil perhitungan kata per kata, jumlah kata dunia dan akhirat masing-masing sebanyak 115 kali. Surga dan neraka masing-masing sebanyak 77 kali. Laki-laki dan perempuan masing-masing 23 kali. Matahari dan cahaya sebanyak 33 kali. Lagi-lagi, Al Qur’an tidak diturunkan dalam bentuk satu buku utuh, tapi berupa potongan ayat dan dalam bahasa lisan. Mungkinkah manusia membuatnya?

QS Al Baqarah disebutkan bahwa: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.

Dalam video Why and How to learn Arabic (Link: https://www.youtube.com/watch?v=yfflgF_H0kY), Nouman Ali Khan menggambarkan bagaimana para nabi sebelum Rasulullah pun diberikan Mukjizat untuk meyakinkan para umat bahwa mereka adalah utusan Allah. Berbeda dengan nabi lainnya, seperti nabi Musa dengan tongkat yang berubah menjadi ular, pesan yang dibawa Rasulullah adalah sekaligus mukjizat untuk menunjukkan kebenaran ajaran yang dibawanya. Jadi, pesan kenabian itu lah sekaligus sebagai mukjizat.

Dalam hal ini Nouman mengatakan bahwa ketika seseorang menerjemahkan Qur’an dalam bahasa lain, terjemahan bahasa Indonesia misalnya, ia akan dapat menangkap pesan tersebut. Tapi, sebagus apa pun terjemahannya, ia katakan: it is impossible to capture the miracle of Qur’an”.

Ia tambahkan lagi: the miracle of Qur’an is only in the words of Allah. His own choice of words what makes the miraculous. Jadi, ke-mu’jizat-an Al Qur’an hanya bisa dirasakan dalam bahasa sebagaimana ketika Qur’an diturunkan, bahasa Pemilik Pesan, yaitu Bahasa Allah SWT.

Kita tetap bisa menangkap pesan-pesan dalam Al Qur’an dengan membaca terjemahan. Tapi, sisi keindahan dan mukjizat Al Qur’at tidak dapat ditangkap dengan bahasa manusia.

Jadi? Mari mulai menancapkan niat untuk belajar bahasa Al Qur’an. Tentu, bukan agar dianggap ke-arab-araban, tapi agar mukjizat Qur’an bisa kita rasakan secara nyata.

Walllahu A’lam

Rat Park Experiment: membongkar mitos candu

rat-park-experiment
justplatform.com/stuart-mcmillen-cartoonist

Pernah mengunjungi taman tikus? Saya sendiri juga belum pernah. Ups…maaf maksud saya, pernah membaca tentang rat park experiment alias percobaan taman tikus?

Beberapa lalu saat mengikuti information session 3MT (three minutes thesis) competition, pembicara yang juga merupakan pemenang kompetisi presentasi thesis dalam waktu tiga menit tahun lalu bercerita tentang taman tersebut.

Saat itu ia, Gabi, mempresentasikan kembali thesisnya yang diinspirasi dari eksperimen rat park tersebut. Menarik, baik dari cara penyampaian maupun substansi. Dalam thesisnya, ia menggunakan logika eksperimen tersebut untuk membedah dampak judi. Ia mengambil topik tersebut karena dia juga ‘korban’ judi. Jeratan judi membuat hidupnya berantakan, kehilangan harta benda, nyaris bercerai, dan pernah mencoba bunuh diri. Kata bang Rhoma: Judi….meracuni kehidupan…

Pengalaman hidup itulah yang mendorongnya mendirikan yayasan freeyourself yang kegiatannya membantu para pecandu judi. Di negara bagian Victoria sendiri 200ribu orang telah menjadi korban judi. Menurut salah seorang supervisor saya yang juga suka berjudi, meski tidak sampai tahap ketagihan, para korban judi hidupnya sangat mengenaskan. Ia bisa mengenali dari sorot mata mereka yang kuyu seolah tak ada harapan.

Suatu ketika saya sempat sampaikan bahwa di Indonesia ada yang pernah mengusulkan dibangun kawasan perjudian. Tapi ditolak masyarakat. Lalu, kalau korbannya begitu banyak, mengapa Pemerintah Australia tidak melarang? It’s about money. Begitu katanya. Pemerintah mendapat banyak uang dari bisnis perjudian. Makanya judi tetap langgeng.

Gabi sendiri butuh waktu empat tahun keluar dari jeratan judi. Dari pengalaman pahitnnya menjadi korban judi, dia tergeraki membuat satu program yang membantu para pecandu untuk bebas. Nama programnya social connection program.

Program dan thesis Gabi diinspirasi oleh Bruce Alexander dengan risetnya yang sangat populer: Rat Experiment. Dalam eksperimennya dampak narkoba, tikus biasanya ditempatkan dalam sebuah ruangan sempit dan sendirian serta disediakan heroin dan air putih. Dari dua pilihan tersebut rupanya sang tikus memilih heroin. Tak berapa lama setelah mengkonsumsi heroin tikus pun mati akibat kelebihan dosis.

Sebagai alternatif, Bruce membangun rat park atau taman tikus untuk membuktikan bahwa heroin bukanlah candu. Luas rat park sekitar 200 kali sel yang biasa digunakan untuk percobaan sebelumnya. Di dalam taman tersebut ditempati 16-20 tikus, jantan dan betina. Taman tersebut juga dilengkapi dengan aneka permainan untuk tikus. Tak lupa, heroin dan air putih juga disediakan di taman tersebut.

Anda bisa menebak perubahan perilaku tikus yang terjadi? Tepat sekali. Ketika tikus ditempatkan di dalam taman yang dilengkapi aneka permainan dan ‘komunitas tikus’, ia lebih memilih air putih meski ada heroin disebelahnya. Tikus-tikus ini lebih suka bermain dengan teman-temannya. Berlarian, berkejaran, atau sekedar ‘bercengkrama’. Hingga akhirnya, tikus-tikus ini beranak pinak, damai tanpa kecanduan heroin. Tikus-tikus ini memang masih mengkonsumsi heroin, tapi sangat-sangat jarang mereka lakukan.

Bruce menyimpulkan bahwa kecanduan bukan disebabkan oleh heroin itu sendiri, tapi lebih kepada kondisi yang menyebabkan para tikus ini ‘terpaksa’ mengkonsumsi. Desain skinner box, kandang tikus, yang sempit, terisolasi, dan hanya ada dua pilihan ‘memaksa’ mereka menjadi pecandu. Sebaliknya kehidupan sosial dan keberagaman aktivitas yang ditawarkan oleh taman tikus dengan sendirinya menjauhkan mereka dari heroin (www.brucealexander.com).

Rat Park experiment ini tidak hanya digunakan untuk mengatasi kecanduan narkoba, tapi juga kecanduan judi, game, makanan, belanja, dan lain sebagainya. Kondisi psikologis seseorang lah yang, berdasarkan percobaan ini, menyebabkan seseorang kecanduan.

Terkait dengan judi, yang bisa dilakukan untuk mengatasi perjudian ini diantaranya dengan menjalankan program seperti yang dijalankan oleh Gabi, yaitu social connection program. Dalam program tersebut para pecandu judi diajak untuk bersosialisasi melakukan beraneka ragam kegiatan. Jika terisolasi akan mudah sekali bagi pecandu itu untuk terjerumus lebih dalam. Sebagaimana pernyataan Gabi, peran keluarga dan sahabat sangat penting dalam membebaskan para pecandu.

Bagaimana dalam dengan kecanduan gadget? Beberapa waktu lalu, saya sempat mendiskusikan soal ini dengan teman di salah satu grup. Kami mencoba mengkaitkan dengan jenis permainan yang digemari anak saat ini. Kebetulan saat itu ada salah satu teman yang memposting foto permainan anak era-90 an. Kami coba bandingkan dengan anak-anak sekarang yang lebih suka memegang gadget. Sepertinya generasi 70, 80, dan 90 adalah generasi yang beruntung karena bisa menikmati aneka permainan anak yang menyenangkan.

Mengambil pelajaran dari rat experiment ini, apakah memang gadget merupakan candu? Bisa jadi tidak. Alasan anak memilih gadget mungkin sama dengan tikus-tikus yang ditempatkan dalam skinner box yang sempit dengan hanya pilihan heroin dan air putih. Ketiadaan alternatif kegiatan dan teman-teman sebagaimana generasi yang lahir sebelum 90an mungkin penyebab utamanya. Bisa jadi….

 

 

Sinopsis Buku Peningkatan Kinerja ala Pacuan Gajah

cropped-buku-pacuan-gajah.jpg

Boleh jadi kepercayaan kita terhadap pemerintah sudah sampai pada titik nadir. Reformasi yang diharapkan dapat mengubah wajah bangsa ternyata tak jua membawa hasil yang dapat dinikmati oleh seluruh rakyat. Kasus korupsi tetap marak. Fasilitas pendidikan, kesehatan ataupun infrastruktur kota juga tak kunjung membaik. Urusan perijinan masih saja lekat dengan pungutan liar.

Padahal, berbagai upaya telah di lakukan. Pemerintah telah menerbitkan berbagai aturan perundangan. Dalam lingkup tata kelola pemerintahan, Grand  Design Reformasi Birokrasi telah disusun dengan harapan untuk mewujudkan pemerintahan kelas dunia.

Terlepas dari segala permasalahan di atas, dalam level pemerintah daerah kita mengenal Solo,  Bandung, Surabaya, dan Bantaeng sebagai kota yang memiliki masa depan. Semasa menjabat sebagai Walikota Solo, Joko Widodo dianggap telah sukses merubah wajah kota menjadi kota yang ramah lingkungan dengan taman-taman dan pasar yang tertata.

Di Bandung, Ridwan Kamil pun tak kalah inovatif. Ia telah memanjakan masyarakat dengan fasilitas publik yang membuat iri masyarakat dari daerah lain. Demikian halnya di Surabaya, Tri Rismaharini tidak hanya menata kota, tapi melakukan perubahan yang mendasar pada tata kelola pemerintahannya. Penerapan e-government di Surabaya terbukti meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan anggaran. Jauh di luar pulau Jawa, kita mengenal Nurdin Abdullah, Bupati Bantaeng yang mendapatkan berbagai penghargaan, diantaranya adalah program BSB atau Brigade Siaga Bencana BUMDes yang mampu memperbaiki taraf hidup masyarakat.

Kalau Solo, Bandung, Surabaya, dan Bantaeng mampu menjadi kota impian, mengapa daerah-daerah lain tidak terdengar gaungnya? Benarkah sosok pimpinan menjadi satu-satunya penentu keberhasilan suatu organisasi?

Continue reading “Sinopsis Buku Peningkatan Kinerja ala Pacuan Gajah”