Atheis

“Bunda, for muslim we believe that Allah is the God, yeah? And for Christian, their God is Jesus, yeah? What about in the judgment day then Jesus is the God?”

Hanya tinggal beberapa langkah masuk rumah, Amira melemparkan pertanyaan itu. Dalam perjalanan pulang sekolah ia memang sempat bercerita tentang pelajaran hari itu. Di awali dengan pernyataan: Bunda, do you know that A (temannya) is an atheist? Saya hanya menjawab: Hmmm….really? How do you know? Lalu, meluncurlah cerita bahwa hari itu sang guru meminta anak-anak di grade 5/6 berkelompok berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing. Dia sempat katakana: I can’t believe many people are atheist. Lalu diikuti dengan menyebutkan nama-nama temannya.

Ia mencoba bercerita tentang project baru di kelasnya, tapi sepertinya ia masih belum punya kata-kata yang pas untuk menjelaskan dengan tepat. Katanya sih tentang people in the world. Sepanjang jalan ia menyatakan rasa penasarannya mengapa orang bisa menjadi atheis dan bagaimana itu atheis. Hingga akhirnya, terlontarlah pertanyaan di atas.

Pertanyaan senada pernah dilontarkan juga: Bunda, why there are many religions in this world? I think it’s better if it’s only one religion.

Jujur, pertanyaan yang super duper sulit. Meski saya selalu menekankan bahwa setiap orang memiliki keyakinan atas kebenaran agamanya sendiri-sendiri. Yang terpenting adalah saling menghormati.

Bagaimana dengan jawaban pertanyaan di atas? Saya coba mengingatkan diskusi kami sebelumnya. Do you remember what we talked several months ago that Al Qur’an is the miracle? If you want to know that Allah is the God, see the Qur’an. If you learn the Qur’an you will know the answer.

Beberapa bulan yang lalu, kami sempat berdiskusi tentang kemukjizatan Al Quran. Berbeda dengan mukjizat nabi-nabi sebelumnya, Nabi Muhammad di berikan mukjizat berupa Al Qur’an oleh Allah. Saat itu Amira sempat saya minta untuk menghitung berapa usia Al Qur’an sejak diturunkan hingga saat ini. Sempat saya katakan bahwa Allahlah yang menjaga keasliannya. Berbeda dengan buku-buku biasa buatan manusia. Meski sudah sekian ribu tahun tidak ada perubahan dalam Al Qur’an. Saya katakan padanya bahwa Al Qur’an ini lah yang menjadi bukti kebenaran Islam.

Termasuk sempat juga kami diskusikan tentang kata “wasathan” yang ada dalam ayat 143 QS Al Baqarah. Kata tersebut berarti pertengahan, dan ayat 143 tepat setengah dari 286 jumlah keseluruhan surat Al Baqarah. Kalau untuk tulis menulis, dengan teknologi saat ini mudah saja menempatkan kata tersebut tepat ditengah-tengah sebuah artikel. Saya tanyakan padanya, apa mungkin bisa terjadi 1400 tahun yang lalu. Apalagi, AL Qur’an tidak diturunkan dalam lembaran-lembaran. Tapi dalam bentuk perkataan. Saya tanyakan padanya: Apa mungkin kamu bisa berpidato dan meletakkan kata ‘tengah’ tepat di tengah pidatomu.

Hasil diskusi sebelumnya, sepertinya cukup untuk menjadi dasar menjawab pertanyaan sulit Amira. Karena hanya beberapa langkah menuju pintu masuk rumah, saya hanya menekankan bahwa kalau ingin tahu bahwa Allah adalah Tuhan yang sebenarnya, the Qur’an is the answer. Saya katakan padanya: The more you learn the Qur’an the more you will know that the Qur’an is not created by human. But Allah. Dan, diakhiri, if you believe that the Qur’an is not created by human, then you will know that Allah is the God.

Meski sebenarnya ada banyak hal yang ingin saya sampaikan padanya. Tapi, rasanya cukup lah pelajaran hari itu. Tantangan mengajarkan Islam bagi anak yang tumbuh di lingkungan yang sangat-sangat heterogen dan mengedepankan berfikir kritis memang cukup berat. Parahnya, ilmu agama saya masih sangat kurang. Jadi, mau tidak mau harus banyak belajar untuk menjawab pertanyaan mendasar: apa buktinya kalau agamamu itu benar? Bagaimana cara membuktikannya? Selanjutnya, bagaimana menerjemahkannya dalam bahasa anak 12 tahun dan 8 tahun.

(Bersambung)

Belajar dari krisis Amerika

Usianya mungkin sudah menginjak 70an. Seperti lansia lain di negara ini, ia masih terlihat enerjik dan bersemangat. Pastilah itu karena pola hidup sehat yang ia jalani sejak kecil. Beberapa kali saya berpapasan. Seperti biasa ia selalu menyapa: Hi, how are you. Ya, kebetulan cucu wanita tersebut juga di prep (aration) sama dengan Ayla.

Suatu ketika saya mendapatinya sedang membaca buku sembari menunggu sang cucu keluar kelas. Segera saya hampiri. Jujur saja, saya penasaran dengan buku yang ia bawa. Segera saja saya tanyakan hal itu. Rupanya, ia sedang membaca novel yang menurutnya sangat menarik. Saya lupa judulnya apa. Yang jelas novel tersebut berlatar belakang Amerika di masa lampau. Tepatnya saat negara itu dilanda great depression.

Mendengar judul bukunya saya langsung bersemangat. Saya katakan padanya bahwa saya sangat tertarik untuk mengetahui sejarah Amerika. Terutama saat negara adidaya itu mengalami masa-masa suram. Ia katakan, buku itu sangat pas untuk saya baca. Buku itu bercerita tentang sulitnya menjalani hidup di masa itu. Saya sendiri tidak bisa membayangkab seberapa beratkah dampak great depression terhadap hidup masyarakat kala itu.

Continue reading “Belajar dari krisis Amerika”

Bagaimana mengatasi penumpang gelap?

Tanpa sengaja mata saya menangkap iklan layanan masyarakat di sudut halte bis yang akan mengantarkan saya ke kampus. Iklan yang sangat menarik. Hanya saja, karena bangku halte dipenuhi calon penumpang saya urungkan niat untuk mengambil gambar iklan tersebut. Barulah, usai menemui academic skill advisors saya sempatkan untuk memotretnya. Dan, foto di atas lah hasilnya.

Sebagaimana yang pernah saya sampaikan dalam tulisan sebelumnya dalam buku ‘pacuan gajah’, freeloader alias penumpang gelap masih terus menjadi perhatian pengelola transportasi di state Victoria (Public Transport Victoria atau PTV). Akibat ulah freeloader ini negara telah dirugikan sebesar $51M. Sebagai upaya penertiban tahun lalu diperkenalkanlah on the spot penalty, dimana para freeloader diberikan kesempatan membayar denda lebih rendah, $75 dibanding denda biasa $223, jika dia membayarnya saat itu juga. Inspeksi pun semakin sering dilakukan. Saya sendiri sering mendapati petugas PTV yang sedang melakukan tugas pengecekan kartu Myki atau kartu pas public transport.

Tentang iklan di atas? Ya, petugas PTV kini tak selalu menggunakan seragam. Beralasan memang. Bisa jadi para freeloader masih memiliki waktu untuk langsung turun begitu melihat petugas berseragam hendak menaiki moda transportasi. Lain halnya bila mereka berpakaian layaknya penumpang. Intensifnya inspeksi semacam ini diharapkan dapat menurunkan jumlah kerugian akibat ulah freeloader ini. Jika anda tertarik silakan lihat video ini https://www.youtube.com/watch?v=M-X-xv-FnOA.

Continue reading “Bagaimana mengatasi penumpang gelap?”

Bagaimana SD Australia mengajarkan literasi?

Rabu pagi 9 Agustus 2015 tak hanya menjadi hari yang menyenangkan untuk anak-anak prep di Moreland Primary School. Tapi, juga saya. Ada hal yang menarik dan mengesankan untuk diceritakan. Prep atau preparation, seperti yang pernah saya sampaikan dalam tulisan sebelumnya, setara dengan TK B. Namun, secara administratif pengelolaannya ada di tingkat primary school atau SD.

Apa yang terjadi hari itu? Ya, hari itu anak-anak prep belajar tentang ‘Tahu Isi’. Saya sendiri sekedar membantu mendokumentasikan kegiatan yang didukung dua orang tua murid dari Indonesia, mbak Windy Triana dan mbak Ratna Andini.

Begitu musik terdengar, jam 9.00, preppies segera masuk keruangan dan duduk bersila dengan teratur. Mereka terlihat begitau bersemangat melihat apa yang ada di hadapan mereka. Beberapa alat masak, seperti baskom, penggorengan, container berisi sayuran, tepung, dan tahu ada di atas meja.

Continue reading “Bagaimana SD Australia mengajarkan literasi?”

Bagaimana Australia mendorong anak menulis buku?

Sehari setelah posting tentang gerakan penerjemahan di masa the golden age of Islam, saya mendapatkan ‘oleh-oleh’ dari Ayla. Sore itu  saya menjemputnya pulang sekolah. Begitu ia melihat saya masuk kelasnya, ia langsung menghampiri dan menyodorkan tasnya. Dalam sekejap, ia pun menghilang setelah ia mengatakan ‘play at the playground’. Selain tas, ia menyodorkan beberapa lembar kertas ukuran sepertiga kwarto yang di strapler.

Mata saya langsung berbinar menatap kertas tersebut. Aha…rupanya tadi di sekolah dia diajarkan menulis ‘buku’. Sekilas sembari menyusul ke playground saya buka-buka. Lumayan. Selain beberapa kalimat yang ia buat, buku itu dilengkapi dengan ilustrasi gambar coretan ala anak enam tahun. Meski hanya sekedar coretan, tapi cukup jelas untuk menggambarkan maksud yang ingin dia sampaikan. Tak lupa ia pun menuliskan angka sebagai penanda halaman di setiap lembar kertas.

Di halaman pertama ia tulis begini: one day thar was a little grie she has a pat and her name is klora snd the baby name is gora”. Di halaman itu pula ia menggambar seorang gadis dan dua ekor binatang berwarna coklat. Saya tidak bisa mengidentifikasikannya hingga ia katakan bahwa binatang tersebut adalah kangguru.

Continue reading “Bagaimana Australia mendorong anak menulis buku?”

Social capital dan pendidikan anak

Setiap kali membuat tulisan tentang social capital, saya cenderung mengutip pendapat Robert Putnam. Mungkin karena selama ini saya lebih sering mengaitkannya dengan kebijakan publik sehingga gagasan Putnam terasa sangat pas. Atau, bisa jadi karena saya belum mendalami ide Bourdieu dan Coleman secara mendalam. Dan sepertinya, alasan kedua lah yang paling tepat.

Faktanya, setelah diperkenalkan kembali oleh mbak Pratiwi Retnaningdyah saya begitu tertarik dengan ide-ide Bourdieu tentang Field Theory atau teori arena. Padahal, delapan tahun lalu dosen saya juga sempat menyebut nama pemikir asal Perancis itu. Demikian halnya dengan Coleman. Baru setelah saya mulai berminat dengan literasi, pemikiran Coleman wajib dipahami.

Continue reading “Social capital dan pendidikan anak”

Bagaimana literasi di Australia

“Kenapa ini seperti home schooling?”.

Begitu protes Amira saat saya coba menuliskan rencana aktivitas hari itu. Terlihat senyum keberatan karena masih masanya school holiday. Sebaliknya, saya pun membalas kembali dengan senyuman sembari berlalu untuk kemudian menggantungkan whiteboard jadwal harian tersebut dikamarnya.

Terhitung sejak pertama datang,  hingga saat ini Amira sudah 2,5 tahun bersekolah di sini. Baru semester terakhir ini kami melakukan pengawasan yang lebih ketat dalam proses pembelajaran di rumah. Bukan tanpa alasan. Pertama, Amira  masuk grade 5 tahun ini. Jadi harus dibiasakan belajar tiap hari. Harapannya, ketika pulang ke Indonesia kebiasaan belajar di rumah sudah terbangun. Kedua, fokus dan teknik pembelajaran di sini berbeda. Jadi, apa yang diperoleh Amira di sini, sangat mungkin tidak akan diperoleh di Indonesia. Jadi, mumpung di sini hal-hal yang menarik sepertinya wajib dikuasai.

Continue reading “Bagaimana literasi di Australia”